Monday, August 28, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Van Weiderveld (3)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk





** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **






Sumber: Kamen Rider Kiva.










Bukan lewat mimpi. Kali ini mendadak Sylvie kedatangan tamu. Tidak dalam arti gaib. Namun secara fisik, ada yang datang ke rumahnya. Sylvie sangat mengenalnya. Orang itu dulu pernah bekerja di rumahnya. Tuan Li Beng Beng, seorang China yang pernah bekerja di keluarga Van Weiderveld sebagai seorang juru masak dan pelayan pribadi Sylvie.

Sylvie kaget. Sudah lama sekali ia tak berjumpa dengan pelayan pribadinya tersebut. Sejak berusia sepuluh tahun, Li Beng Beng berhenti kerja. Alasannya, pensiun. Tepatnya dipensiunkan diri oleh Pak Robert dengan alasan Li Beng Beng sudah terlalu tua. Jujur saja, Sylvie sangat ingin Li Beng Beng terus menjadi pelayan pribadinya. Kepada pria China yang sekarang sudah sangat keriput itu, Sylvie sering bertanya ini dan itu. Jika ada masalah, Sylvie pasti mengadu langsung ke pelayannya yang dulu sering mengenakan topi kungfu. Tuan Li Beng Beng--sama seperti Maruap--tak pernah menganggap remeh apapun yang dilontarkan oleh Sylvie. Malah segala problematika Sylvie sering ada pemecahannya. Li Beng Beng bagaikan ayah untuk Sylvie, tak peduli kakek itu seorang China yang datang dari kasta kedua di jaman tersebut. Dikunjungi seperti itu, Sylvie sangat terkejut, haru, dan senang sekali. Dipeluknyalah Li Beng Beng.

Jika saja Li Beng Beng tak pernah bekerja di keluarga Van Weiderveld, mungkin saja pria China tersebut canggung dipeluk seperti itu. Bagaimanapun, memeluk seseorang memang tak ada dalam adat dan budaya ketimuran. Itu budaya Barat. Orang-orang Timur, khususnya China, lebih suka berjabat tangan. Yang semakin bertambah canggung karena yang memeluknya ialah seorang perempuan cantik dengan rambut pirang yang karena kecantikannya itu sempat beberapa kali didekati laki-laki (walau hatinya sudah dipesan dan dikunci oleh seorang pria Batak bernama Maruap).

"Lao Tze," Sylvie memanggil Li Beng Beng seperti itu karena kebiasaan. Bagi Sylvie, Li Beng Beng seperti seorang guru saja--selain sebagai seorang ayah. Apalagi Li Beng Beng seringkali membantu Sylvie dalam belajar; pernah juga mengajari Sylvie memasak dan beladiri wushu. "Ada apa kemari? Tahu dari mana juga tempat ini?"

Li Beng Beng hanya cengar-cengir. Tersenyum misterius penuh arti.

"Oh, mari masuk, Lao Tze," Sylvie mempersilahkan masuk. Li Beng Beng lalu masuk ke dalam dan duduk di ruang tengah. Sylvie lalu menuju dapur. Sekembalinya dari dapur, Li Beng Beng langsung bertanya seolah lupa kedua pertanyaan Sylvie belum ia jawab.

"Kamu bagaimana kabar, Sylvie?"

"Hao, Lao Tze." Sylvie mencoba mempraktekan bahasa Mandarin yang pernah diajarkan oleh Li Beng Beng. "I'm very fine, baik-baik saja. Lao Tze sendiri bagaimana kabar?"

Li Beng Beng mengangguk. "Kamu punya pacar, Sylvie?"

Sylvie ragu-ragu. Entah kenapa Sylvie malu menjawabnya. Masih terngiang segala peristiwa tak mengenakan yang ia alami. Ia trauma. Sangat trauma.

Malah Karina Singh yang menjawab. "Punya, Lao Tze. Pacarnya seorang pribumi. Batak. Hanya saja--" Karina yang dibantu Gouw Ai Thien, menjelaskan duduk permasalahannya. Lama sekali mereka menjelaskannya. Hampir sembilan puluh menit.

"Berarti benar isu tersebut." ujar Li Beng Beng mengangguk-angguk. "Oh iya, kamu sudah tahu tentang keluargamu?"

Sylvie menggeleng. Di saat itu, Karina berkata, "Oh iya, Lao Tze tahu dari mana rumah ini?"

Li Beng Beng tersenyum misterius. "Bapak tinggal di sini sebetulnya. Awalnya kamu tinggal bersama seorang pendeta, kan?"

Sylvie mengangguk.

"Mungkin kamu tengah ada masalah. Sampai-sampai kamu tidak memperhatikan ada Bapak di sekitar kamu. Tapi tak usah kamu ceritakan. Bapak sudah tahu. Pendeta itu teman Bapak juga. Dia orangnya baik. Dia juga yang meminta Bapak agar menjagai kamu. Masalah-masalah yang tengah kamu hadapi itu sudah diceritakan ke Bapak."

*****

Walau sudah sadar, jangan disangka sudah aman. Maruap masih sering mendapatkan serangan. Kapanpun organ-organ vitalnya bisa diutak-atik oleh mereka yang entah siapa. Namun Maruap tetap bersyukur kepada Debata, dirinya masih bisa bernapas lebar  hingga sekarang ini.

*****

Dari Li Beng Beng, mengertilah Sylvie mengapa Pak Pendeta Simon melarang keras dirinya kembali ke keluarganya sendiri. Cukup berbahaya jika Sylvie kembali ke sana. Li Beng Beng dan Simon Westenbroek sepakat untuk menjagai kemurnian Sylvie dari pengaruh-pengaruh yang bukan-bukan. Malah Li Beng Beng sudah mengamati Sylvie sejak kecil dan merasa ada sesuatu takdir ilahi dalam diri anak semata wayang keluarga Van Weiderveld. "Harus dijaga, jangan sampai terkotori," begitu ucap Li Beng Beng pada Simon Westenbroek.

Tentang keluarga Van Weiderveld itu sendiri, sudah lama sekali terdengar banyak desas-desusnya. Konon, keluarga ini sangat dikenal di dunia supranatural. Ada yang bilang, beberapa anggota keluarga mereka itu bagian dari sebuah organisasi (yang dibenci Vatican). Ada juga yang bilang, keluarga Van Weiderveld ini bisa sebegitu besar pengaruhnya karena telah membuat perjanjian dengan setan. Memang sulit dibuktikan secara kasatmata, karena keluarga Van Weiderveld sangat lihai menyembunyikannya. Konon pula, yang menyelidikinya, pasti akan menderita (syukur-syukur bisa hidup).

Salah satu pamannya, Om Harrys, konon bukanlah pemimpin agama yang putih. Rumor mengatakan Om Harrys terlibat dalam sihir dan okultisme. Gosip lainnya mengatakan Om Harrys dan beberapa paman Sylvie sudah menjual jiwanya kepada setan. Imbalannya: uang, popularitas, hingga ilmu kebatinan yang di atas rata-rata (salah satunya yang sangat diinginkan ialah ilmu 'membaca' doa dan menciptakan mimpi di alam bawah sadar). Benar atau tidaknya, tak ada yang tahu pasti. Tapi kata Li Beng Beng, orang yang menjual jiwanya ke setan bisa dilihat dari sorot mata dan caranya berpikir; juga caranya dalam bersimpati dan berempati. Butuh kejelian yang sangat luar biasa untuk melihat orang-orang seperti itu. Umumnya pula, orang-orang seperti itu cukup berbahaya dan tak sungkan-sungkan 'menyiksa' sesamanya demi keuntungan pribadinya.

Sylvie dan kedua temannya sangat kaget mendengar fakta terbaru keluarga Van Weiderveld. Tak menyangka keluarganya bisa jatuh sedalam itu. Tak menyangka pula Om Harrys ternyata seorang kambing yang menyaru sebagai domba. Lihai sekali mereka memainkan topeng keduanya, geram Sylvie.

"Kalau mata batinmu sudah terbuka dan sering digunakan, kamu akan tahu bahwa paman-pamanmu--juga ayahmu--memiliki roh binatang di dalam raga mereka. Roh binatang itulah yang menjagai mereka dan memberikan kekuatan yang tak tertandingi, yang salah satunya kebal peluru dan kebal hukum. Secara fisik, memang kelihatan biasa saja. Namun tidak secara roh, yang mana keluargamu itu sangat kuat. Bahkan roh binatang itu sanggup membuat majikannya awet muda dan panjang umur." lanjut Li Beng Beng. "Bahkan, konon, bangkit dari kematian pun mereka bisa."

"Astaga!" seru Sylvie. "Lao Tze tidak sedang bercanda, kan?"

Li Beng Beng menggeleng. "Memalsukan kuasa Sang Pencipta pun, paman-paman kamu itu bisa. Konon, paman kamu yang bernama Harrys itu pernah Bapak pergoki tengah memasukan 'sesuatu' ke dalam sebuah minyak urapan. Katanya itu doa, tapi Bapak sangat meragukannya. Sebab, Bapak merasa kuasa yang berada di dalam minyak urapan tersebut bukan berasal dari Sang Pencipta langsung. Auranya aneh dan sangat ganjil."

Sylvie mulai percaya. Dalam batinnya, Li Beng Beng tak seperti tengah bercanda apalagi mengarang cerita. Jika berteman pula dengan Pak Pendeta Simon, kemungkinan besar memang benar segala ceritanya dan pasti ada alasannya. Segala cerita Li Beng Beng itu Sylvie simpan dalam sanubarinya. Biarkan waktu yang akan menjawab.








Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^