Tuesday, August 29, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Trik Jaman Baheula







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **















Berangsur-angsur situasi dan kondisi di keluarga Siagian mulai membaik. Maruap apalagi. Meskipun sama seperti kekasihnya--Sylvie, Maruap masih mendapatkan serangan dan gangguan. Setidaknya Maruap masih bisa menikmati hidup.

Sebulan kemudian, datanglah berita itu. Ibu Siti harus pergi menyusul Togar dan Binsar ke alam dan dimensi lain. Penyebab meninggalnya Ibu Siti memang penyakit. Tiba-tiba saja Ibu Siti mengeluh sakit di dada, lalu merembet ke bagian-bagian tubuh lainnya. Bahkan sempat mengeluh ada beberapa organ vitalnya yang seperti disayat-sayat. Juga, memang tidak pernah disampaikan, lewat Togar-lah Maruap tahu bahwa ada yang terus menerus mengganggu keutuhan dan keharmonisan keluarga Siagian dengan permainan klenik dan supranatural. Di sekeliling rumah Siagian terdapat kabut hitam yang sangat pekat dan tebal. Kabut itu bukanlah pula sesuatu yang bisa dilihat secara mata fisik atau mata telanjang. Walau bisa dilihat dengan mata batin, umumnya orang tidak memperhatikan keberadaan kabut itu. Selama tidak mengganggu, selama hidup mereka aman, damai, tentram, nyaman, dan sejahtera, mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Padahal itu damai semu, aman palsu pula.

Kemudian, sakit Ibu Siti makin parah. Lambungnya tak kuat lagi mengolah makanan menjadi energi. Perlahan perutnya jadi membuncit walau tidak hamil. Ibu Siti agak kesulitan juga dalam bergerak. Dirinya jadi sulit berpikir logis. Khawatir berlebihan menyerangnya. Cepat menuduh dan temperamennya sangat mudah naik. Puncaknya, sekonyong-konyong suhu tubuh Ibu Siti mulai terasa dingin seperti berada di kutub, padahal Hindia Belanda ialah negara tropis yang tengah musim kemarau pula. Napasnya mulai tersengal-sengal. Mulai terasa kerja paru-paru dan jantungnya jadi sangat melambat. Satu-dua tabib dan ahli medis yang memeriksanya, mulai merasakan denyut nadi Ibu Siti sangat terdengar ganjil. Mereka tahu, namun menolak berbicara.

Setelah bertahan hampir dua-tiga bulan, Ibu Siti akhirnya menyusul Togar dan Binsar menghadap para Debata. Duka menyelimuti keluarga inti dan keluarga besar Maruap. Pesta adat diadakan secara besar-besaran, walau pesta itu tidak bisa menutupi kebolongan hati Pak Ramli. Satu persatu anak-anak Pak Ramli juga sangat berduka. Walaupun yang paling merasakan dukanya ialah Maruap. Maruap sangat berhutang budi ke ibu kandungnya. Orang nomor dua yang sangat kehilangan ialah suami Ibu Siti sendiri. Itu Pak Ramli.

Perlahan-lahan kematian istri kesayangannya itu seperti menarik sesuatu berharga dalam diri Pak Ramli. Pak Ramli jadi seperti tak menikmati hidup. Terkadang otaknya jadi sulit diajak untuk fokus dan berkonsentrasi. Tak heran Pak Ramli dengan mudahnya menerima ajakan teman-teman dan orang-orang sekitarnya melakukan sesuatu yang seharusnya bisa ditolak. Berjudi dan memfoya-foyakan duit untuk segala kemewahan sering dilakukan Pak Ramli. Saat ditegur--yang salah satunya oleh Maruap, Pak Ramli malah cepat tersinggung dan balas membentak. Alasannya selalu sama: "Beginilah caraku menikmati hidup setelah kematian istriku. Daripada aku terus-terusan memikirkan seseorang yang telah menjadi tanah. Tak bagus juga kan. Aku menikah lagi pula pasti akan memperparah kondisi. Kalian pahamlah kondisi Bapak kau ini. Selama masih harmonis, jangan kalian permasalahkan."

Benarkah harmonis? Maruap malah beranggapan tidak. Perlahan-lahan dirinya seperti mendengar suara ledakan besar dalam keluarganya, lalu ada teriakan marah-marah Ibu Siti yang: "Kenapa keluargaku seperti ini?" Perlahan namun pasti juga, ketidakpercayaan, saling curiga, saling tuduh, saling tak mendengarkan, hingga saling ejek dan saling hantam--itu semua sudah menjadi bagian dalam keseharian keluarga Siagian. Itu semua pun menyertai pula segala serangan dan gangguan dari alam supranatural. Maruap makin sering diganggu. Dirinya makin sering mencium aroma misterius, suara tak jelas, insomnia dadakan, suka bangun di waktu yang tak semestinya, hingga tak terhitung banyak kejadian ganjil yang sudah dialaminya. Raganya pun seperti bukan punya Maruap saja. Seperti ada beberapa pihak yang sudah mengambil alih raga, jiwa, roh, dan pikiran Maruap. Itu seperti diikat oleh sesuatu.

Tak hanya itu, lewat tiga orang yang sudah berpulang, Maruap diberitahukan supaya berhati-hati dalam menghadapi keluarganya. Keluarganya bukanlah seperti keluarganya yang dahulu. Seperti sudah direservasi beberapa pihak, sehingga  mereka mudah dikendalikan seenak perut. Bahkan satu-dua kakak Maruap, menurut Togar, sering kesulitan tidur. Bukan sekadar kesulitan, namun seperti takut untuk tidur dan terlelap. Seperti menyimpan rasa takut saat jiwanya terjun bebas ke alam mimpi.  Adik Maruap mulai merasa tertekan di rumah dan keluarganya sendiri. Pertengkaran-pertengkaran konyol  (yang seharusnya bisa dihindari) mulai mewarnai segala hari keluarga Siagian.

*****

"Sylvie," sapa Karina Singh pada Sylvie yang baru saja bangun dan tiba di ruang tengah.

Mata Sylvie masih agak kusut. Masih ada beberapa kotoran pula di pelupuk matanya. Walaupun demikian, siap atau tidak, Sylvie harus mendengarnya sendiri. Seharusnya gadis Belanda itu sudah terbiasa. Sama seperti Maruap, hari-harinya selalu dipenuhi oleh banyak kejadian aneh nan mistis bin horor.

"Ada apa?" sapa Sylvie agak lesu kedengarannya. Dia mulai menangkap akan menerima hal-hal tak enak dari kedua temannya di pagi hari yang bahkan mataharinya belum terlalu terik.

"Ibunya Maruap, Sylvie,..." Karina buang napas sebentar. "...beliau meninggal. Enam hari lalu Lao Tze memberitahukan kami kabar tersebut. Kami juga tak tahu benar atau tidak. Itulah kenapa kami tidak langsung menyampaikannya ke kamu. Dua hari lalu malah Gouw Ai Thien coba mendatangi lagi kampung itu untuk mengkroscek. Dan, ternyata memang benar, Sylvie. Berita itu memang benar."

Sylvie tersentak. Dirinya agak mencelos. Rasanya tak percaya kabar yang baru didengarnya. "Kalian serius?"

Gouw Ai Thien yang agak pendek itu mengangguk. Gadis China yang sangat pintar menjaga perasaan orang lain ini lalu angkat bicara juga. "Sebaiknya kamu jangan coba ke sana juga. Terakhir ke sana, aku mendapati suasananya tak lagi bagus-bagusnya. Seperti ada sesuatu buruk yang menyelimuti kampung dan rumah Maruap. Aku saja baru bisa tiba di rumahnya setelah mondar-mandir tak jelas selama 2-3 jam lebih. Seperti diletakan sesuatu saja."

Karina Singh mengangguk untuk membenarkan. "Gouw benar, Sylvie. Kalau kamu mau menunjukan belasungkawa saja. Nanti titip saja surat ke Lao Tze. Lao Tze ternyata punya banyak kenalan di kampung Maruap itu. Yah semoga saja sampai ke Maruap-nya."

Itulah yang dilakukan Sylvie. Walau ingin sekali coba ke sana lagi, beberapa peristiwa ganjil itu mengajarkan Sylvie untuk lebih menanggapi serius segala kata-kata kedua temannya. Terpaksa Sylvie melakukan saran Karina Singh yang berkulit agak gelap.

Ajaibnya, surat itu sampai juga di rumah Maruap, walau telat hampir sebulan. Ucapan belasungkawa Sylvie disampaikan pula oleh Pak Ramli (dengan sangat kacaunya) ke Maruap. Sempat dirundung pertengkaran konyol lagi, namun Maruap sangat senang sekali hatinya mendapati ucapan belasungkawa dari Sylvie.

*****

Kali ini ada tiga orang meninggal dalam mimpi Maruap. Ada Togar, Binsar, dan Ibu Siti. Dimulai dari Togar yang memberitahukan bahwa saat ini rumah dan keluarga Maruap tengah ada kabut tebal. Satu persatu anggota keluarganya seperti tengah dibelenggu oleh tali-tali tebal yang tak kelihatan. Maruap diminta pula oleh Ibu Siti untuk lebih bersabar dalam menghadapi keluarganya sendiri. Saat-saat seperti ini sudah selayaknya tidaklah boleh menggunakan kepala yang telah panas. Tensi tak boleh lagi ditegangkan. Saran Binsar, "Coba kau lebih sering berdoa pada Debata baru kau itu. Siapa tahu sang Debata baru itu memberikan petunjuk dan solusi."

Togar lalu menyela. "Oh iya, Maruap. Kudengar di pulau yang ada di ujung selatan Sumatera ini, ada kerajaan yang lumayan besar. Katanya, ada sebuah kerajaan yang mana rajanya melakukan trik licik yang juga sering digunakan oleh raja-raja di Sumatera ini. Trik itu seperti mencari tahu kelemahan lawan, lalu memanfaatkannya untuk menekan lawannya semata-mata agar lawannya tak berkutik dan tunduk begitu saja pada sang raja. Nah, mungkin orang-orang yang sering mengganggu kau itu menggunakan trik licik tersebut. Hati-hati kau, Maruap!"

Kemudian Ibu Siti ikut serta menyarankan Maruap untuk segera menemui Sylvie. Pada saat itulah, muncul pria dengan tudung hitam yang bersuara agak menggelagar. Wajahnya tak kelihatan itu siapa. Fisiknya agak sedikit besar. Maruap menengarai sepertinya pria itu berusia di atas 40 tahun. Pria itu lalu begitu berangnya mendengar tiga orang kerabat Maruap yang menurutnya seenaknya saja memberikan informasi. Dicambuknyalah tiga roh mereka yang sudah meninggal tersebut sampai berdarah-darah. Perlahan Togar, Binsar, dan Ibu Siti langsung diikat oleh pria yang tak jelas identitasnya tersebut (yang samar-samar Maruap mendapati ada sebuah jenggot di dagu pria itu). Lalu pria itu menatap nyalang Maruap, katanya: "Jangan kamu berani temui perempuan itu. Dasar biang kerok! Kalau kamu masih berani, keluargamu kami buat mampus. Tiga arwah ini juga akan kami sekap. Hahahaha."

Pria itu tertawa begitu menggelegarnya. Sampai-sampai Maruap bergidik. Namun satu hal yang pasti, secara batin, Maruap tak takut dan akan terus melawan. Maruap tahu itu bukan dari Sang Pencipta. Tentunya harus dilawan sampai ke akar-akarnya.

Begitu terbangun, kini Maruap tahu mengapa keluarganya seperti itu selama hampir sebulan setengah ini. Ada kuasa-kuasa dari banua toru yang tengah mengusik keluarganya. Lewat sebuah suara misterius (juga lewat mimpi), Maruap tahu pula bahwa ada yang mengusik hubungannya dengan Sylvie. Semuanya itu  saling berhubungan. Antara keluarga Van Weiderveld, para tetua kampungnya, keluarga Porsea, hingga mungkin beberapa pihak lagi yang kelak akan diketahui Maruap. Suara yang bernada bijaksana itu dengan lantang mengatakan, "Jangan takut dengan kuasa iblis. Itu salah, kamu yang benar. Yakini itu, Maruap."





Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^