Saturday, August 19, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Manipulasi (1)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)






** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **



Sumber: Pretty Guardian Sailor Moon.










Akhirnya Sylvie berhasil mendobrak labirin setan tersebut. Entah mengapa suasana dan auranya sedikit berbeda. Tak seperti waktu itu, waktu Sylvie pergi ke sana bersama Pak Pendeta Simon, nuansa mistis dan angkernya mulai berkurang. Hanya saja, beberapa warga agak sedikit ketakutan. Satu-dua warga yang ditanyai oleh Sylvie, seperti terintimidasi dari arah dalam. Seperti sudah disogok agar menolak bicara apalagi memberitahukan Sylvie yang sebenarnya.

Untungnya di tengah perjalanan (dalam mencari mencari rumah Maruap yang belum ketemu-ketemu), Sylvie berjumpa dengan Ibu Siti. Itu ibunda dari Maruap. Ekspresi Ibu Siti sangat gembira berselimutkan haru. Langsung dipeluklah Sylvie dengan sangat erat sekali.

"Tante, sebetulnya apa yang tengah terjadi di sini?" tanya Sylvie mulai gelisah. Kedua temannya, Gouw Ai Thien dan Karina Singh, berada di sisi kiri dan kanannya. "Kenapa tempo hari aku ke sini suasananya bikin aku bergidik? Sekarang pun sama saja. Belum sampai-sampai aku di rumah Maruap. Kenapa?"

Mau tertawa Ibu Siti, namun ditahankan saja. Ia prihatin. Spontan Ibu Siti yang mengenakan konde itu menunjuk ke arah sebuah rumah yang tak jauh dari mereka. "Itu, itu rumah kami. Barusan kalian lewati."

Sekonyong-konyong Sylvie, Gouw, dan Karina menengok ke belakang. Gouw kaget. Karina dan Sylvie menyusul. "ASTAGA! Ternyata selama ini..." pekik Sylvie.

Ibu Siti mengangguk. "Begitulah, Nak Sylvie. Semenjak kau dipulangkan itu, lalu muncul kabar kau minggat, banyak hal sudah terjadi. Maruap terpaksa mengungsi ke rumah pamannya. Ia dituduh membunuh saudaranya."

"Ya ampun!" jerit Sylvie. "Yang benar, Tante? Maaf, Tante, aku baru bisa ke sini. Yang tadi aku cerita itu benar. Tempo hari aku ke sini. Tapi belum kunjung--"

"Iya, aku percaya." Ibu Siti mengangguk. "Aku lihat kau datang waktu itu. Aku heran, kenapa kau tak mampir begitu lewat. Aku pikir kau mulai sombong dan melupakan Maruap. Bahkan ada isu hati kau mulai berpaling."

Karina menyenggol Sylvie. Sylvie memerah sembari berujar, "Maaf,"

"Sylvie juga sering mengalami banyak kejadian aneh, Tante." Gouw yang angkat bicara. "Gara-gara itu,..."

"Iya, aku mengerti," ujar Ibu Siti yang seperti bisa membaca pikiran Sylvie. "Setelah berdiskusi diam-diam dengan keluarga besar aku, kami sepakat ada yang tak beres. Salah satu pamannya malah pernah bilang bahwa rumah kami--ada yang menjampi-jampi. Sehingga kau jadi tak bisa melihat, padahal sudah lewat. Aku panggil, kau tak dengar."

"Maaf, Tante," Sylvie menundukan kepala.

"Aku sudah maafkan. Lagipula dilihat dari ekspresi kau, kau tentu juga melewati hari-hari yang berat. Menurut kabar, kau tinggal bersama seorang pendeta yah?"

"Tapi orangnya sudah pergi ke tanah seberang." jawab Sylvie. "Itu pun gelagatnya aneh sekali. Seperti mau dijauhkan dari aku saja. Masa hanya karena aku bertanya satu hal, beberapa hari kemudian Meneer Westenbroek pindah? Seperti ada pula yang mengatur kepindahan Meneer Westenbroek ke Malaka."

Lalu, dengan dibantu Gouw Ai Thien dan Karina Singh, Sylvie menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentunya, Ibu Siti--yang setelah mendengar beberapa kata yang seolah tabu--segera membawa Sylvie dan kedua temannya ke tempat yang agak aman, di sebuah warung kecil dekat pematang sawah. Tenang saja, si empunya warung itu sangat bersahabat dengan Ibu Siti. Bisa dibilang dia itu pro hubungan Sylvie dan Maruap. Si empunya warung juga terlalu sibuk di sawah, yang mungkin paham bahwa pembicaraannya sangat genting dan rahasia sekali.

Dari segala penjelasan Sylvie dan teman-temannya, juga dari apa yang menimpa keluarga Siagian, Ibu Siti jadi mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ternyata memang banyak yang tengah beres. Seperti ada intrik-intrik di dalamnya. Penuh konspirasi untuk memisahkan sepasang kekasih dengan segala isu yang bukan-bukan. Sylvie pun sama menderitanya dengan Maruap; malah jauh lebih menderita. Selain guru spiritualnya dipaksa pindah, gadis berambut pirang itu harus sering diejek, dihina, dipermainkan, hingga dibuat sibuk yang terlalu dilebih-lebihkan. Bahkan Sylvie sempat didatangi satu peleton prajurit Hindia Belanda yang memaksanya untuk pulang. Karena itulah, Sylvie harus kabur lagi sampai situasi di kampung Pak Pendeta Simon mulai membaik. Di tengah kabur dari para prajurit Hindia Belanda itulah, mungkin karena kabur ke tempat yang salah (seperti sudah diketahui pula), ada yang bilang ke telinga Sylvie bahwa Maruap sudah tak mencintai Sylvie, cinta mereka hanya cinta monyet, dan Maruap akan dinikahkan dengan perempuan lain. Hampir saja Sylvie terseret arus. Sebelum akhirnya, malaikat yang pernah mendatangi kala kanak-kanak di Amsterdam, mengingatkan Sylvie bahwa itu semuanya bohong.

"Kasihan kau, Sylvie," ujar Ibu Siti prihatin. "Tapi kau belum menyerah kan sama Maruap? Kasihan Maruap. Yang dipikirkannya--di tengah kondisi nelangsanya--hanya kau."

Sylvie bergeming dan menundukan kepala. Karina yang menjawab, "Sempat hampir, Tante. Ada satu-dua orang yang seperti memanas-manasi Sylvie untuk melupakan Maruap. Tapi aku dan Ai menyemangatinya supaya jangan. Kami ke sini pun awalnya Sylvie agak berat. Dia sudah agak pesimis. Katanya: 'Takut menemui hal-hal aneh dan mengerikan lagi aku,' Begitu kan, Sylvie, katamu?"

Sylvie mengangguk.

"Kalau kau mau, aku bisa antar sendiri kau ke rumah pamannya itu. Maruap pasti sangat senang berjumpa dengan pujaan hatinya." sahut Ibu Siti dengan mata berbinar.

"See," Gouw Ai Thien nyengir. "Kami benar kan? Hanya jangan dengarkan segala isu tersebut. Maruap masih tetap mencintai kamu. Tak ada yang salah pula dengan hubungan kalian. Itu anugerah. Sungguh karunia Allah, Sylvie."

"Teman kau itu benar. Beberapa hari lalu, aku mimpi dan mengertilah aku tentang kau itu siapa dan mengapa kalian berdua itu harus bersatu. Kalian sungguh sepasang kekasih yang sudah dipersatukan para Debata sebelum kalian lahir. Banyak yang membencinya, yang aku tak mengerti kenapa. Kau bukan penyembah setan, kan? Ada yang bilang, kau mengguna-gunai Maruap. Tapi aku dan keluargaku percaya kau itu gadis baik-baik. Sangat santun sekali kau ini. Aku percaya pula, para Debata pasti punya rencana sangat indah terhadap hubungan kalian."

Sylvie sangat sumringah, yang diikuti cengiran Gouw dan Karina.

"Jangan menyerah dengan Maruap, Sylvie. Maruap pun mengalami hal sama yang kau alami. Di rumah pamannya, ada isu yang mengatakan kau itu perempuan nakal yang hobi gonta-ganti laki-laki. Lalu, ada yang bilang pula, kau hanya menjadikan Maruap bahan permainan kau terkait latar belakang keluarga kau. Memang ada apa dengan keluarga Van Weiderveld?"

Gouw melirik Sylvie sembari berbisik, "Kita beritahukan, tidak?"

"Ya sudah, aku mengerti. Mungkin belum saatnya aku tahu. Lagipula aku percaya kau tak seperti yang dibilang segala isu tersebut." ujar Ibu Siti tertawa lebar. "Nanti biar kutanya Maruap saja. Dia pasti tahu. Dilihat dari hubungan kalian selama ini, kalian pasti saling berbagi rahasia masing-masing. Aku benar, kan?"

Sylvie menundukan kepala dan memerah lagi kedua pipinya.

"Tante benar, kok." Karina yang menjawab. "Mereka berdua memang saling berbagi rahasia hidup masing-masing. Aku dan lainnya menengarai, mungkin karena itulah hubungan mereka banyak dijegal."

Giliran Gouw yang angkat bicara. "Dan, Sylvie tak seperti itu juga. Dia tak pernah main mata dengan laki-laki lain. Sama seperti Maruap, sepengetahuan saya, Sylvie terus menerus menyebut nama Maruap. Saat tidur, saat bangun, saat makan, dan saat-saat lainnya. Tak pernah berhenti dia bercerita panjang lebar tentang Maruap kepada kami semua. Yang ada di hatinya, bisa saya bilang, hanya ada Maruap. Sama seperti Maruap yang selalu merindukan Sylvie."

Dibicarakan seperti itu, Sylvie jadi memerah kedua pipinya.

"Soal keluarga Van Weiderveld itu, Tante benar. Banyak yang tak beres. Sama juga--maaf, Tante--dengan keluarga Maruap. Itu setelah aku dan teman-teman lainnya selidiki."

"Tak apa." Ibu Siti tersenyum. "Aku paham. Aku pun sebetulnya tak suka dengan beberapa kebiasaan dan adat sukuku sendiri. Banyak yang tak beres dan harus dihilangkan, menurutku. Lagipula menurutku, hubungan kau dan Maruap itu seperti tengah dikutuk oleh banyak orang. Sebab, baru kali ini, aku melihat sebuah hubungan yang banyak mendapat serangan dan gangguan dari dunia supranatural."

Dikutuk? 

Pikiran random Sylvie mulai berkecamuk.





Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^