Thursday, July 6, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru






** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **

















Sylvie selalu terkesan dengan pernikahan adat Batak yang dilihatnya tepat di depan bulu hidungnya. Meriah sekali. Seperti sebuah acara karnaval saja. Sangat berbeda dengan pernikahan ala Barat, yang hanya pemberkatan dan resepsi seadanya. Walau ada beberapa bagian yang ia tak mengerti, tetap saja sangat terkesan.

"Sylvie," desis Maruap di tengah keramaian acara pernikahan anggina yang bernama Butet. Saking ramainya, Sylvie sampai minta Maruap mengulangi beberapa kali kata-katanya.

"Ada apa?" tanya Sylvie dengan suara naik beberapa oktaf. Sontak beberapa pengunjung menengok agak tersinggung. Maruap langsung minta maaf.

"Kamu ini,--" tegur Maruap.

"--yah, maaf, sorry," Sylvie membenamkan kepalanya.

Maruap hanya tersenyum. Mereka kemudian hening dalam keramaian pesta pernikahan, tepat di bagian seonggok daging babi akan dihidangkan di hadapan kedua mempelai. Sylvie sangat tergiur dengan aroma sangsang-nya. Tapi Sylvie sedikit jijik saat tahu ada campuran darahnya. Maruap tergelak mendengar pertanyaan tersebut: "Enakkah darah babi itu?"

"Sangat enak dan berkhasiat. Kamu tidak tahu, darah babi bisa digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit tertentu. Bahkan, konon salah satu ompung-ku berkata cukup oleskan darah babi di bagian yang luka, luka itu akan hilang." terang Maruap, yang di mata Sylvie jadi seperti tabib saja.

"Benarkah?" sangsi Sylvie sembari tertawa.

"Aku tidak tahu juga. Itu hanya mitos barangkali, yang disampaikan secara turun temurun. Walau aku merasa sebagian mitos itu benar." jawab Maruap dengan kepala berjengit.

"Bisa jadi. Seperti kasus makhluk dalam cermin itu, kan?" ungkit Sylvie.

Baik Maruap dan Sylvie sama-sama tertawa. Lagi-lagi beberapa pengunjung menengok. Salah seseorang malah emosi, "Sip babami-tutup mulutmu!"

"Maaf," Keduanya sama-sama saling minta maaf. Lalu menyingkir dari jamuan pesta pernikahan. Mereka mencari tempat sepi. Lalu keheningan muncul di tengah bebunyian serangga.

"Sylvie,"

"Apa?"

"Katamu, aku ingat, kamu pernah diperlihatkan satu mimpi kan? Soal kelak kamu akan berjumpa denganku, lalu suara itu berkata kalau akulah orangnya."

"Iya, aku sama sekali tidak berbohong."

"Lantas, apa kamu waktu itu langsung percaya?"

"Maksudnya?"

"Iya, maksudku..." Maruap berhenti bicara. Mungkin ia bingung bagaimana mengutarakannya. Bagaimanapun baik Sylvie dan Maruap berasal dari dua kebudayaan berbeda. Sylvie ibarat berasal dari kutub utara, sedangkan Maruap berasal dari kutub selatan. Di pikiran Maruap, bisakah Sylvie paham dengan penjelasannya?

Hening sebentar.

"...maksudku itu, yah kalau di sini, yang namanya mimpi, siapapun bisa menciptakan. Makin tinggi ilmunya, makin lihai pula dia bisa menciptakan mimpi. Kadang mimpi bisa digunakan untuk menekan lawannya memberikan yang mereka mau."

"Masakan? Aku baru pernah dengar mengenai itu." Sylvie mengernyitkan dahi.

"Iya, aku serius sekali. Di sini memang tak mirip dengan kampung halamanmu." Maruap mengangguk mantap sekali.

"Lantas, kamu mau bilang bisa saja mimpiku bukan berasal dari Tuhan?" terka Sylvie.

Maruap mengangguk. "Yah, tapi maaf kalau menyinggung. Aku hanya mengatakan dari sudut pandangku, dari kebudayaanku."

"Tidak apa-apa," Sylvie tersenyum.

"Aku hanya takut kalau kamu salah. Sampai sekarang pun, aku tak pernah tahu wajah Debata itu seperti apa. Yang ada, pernah aku menyangka itu Debata, yang ada malah begu ganjang yang menyuruhku menggali di sebelah timur Sungai Asahan. Katanya, ada harta karun. Eh tahunya tulang belulang salah satu raja-raja Batak yang aku temukan. Dan, ternyata begu ganjang itu kiriman dari dukunnya desa tetangga untuk menakut-nakuti aku dan keluarga."

Sylvie cekikikan, Maruap terkekeh. Mereka larut dalam tawa selama beberapa menit.

"Itulah aku takut mungkin begu yang menghampirimu saat itu. Dan, seberapa kuat kamu yakin itu suara Debata? Apakah kamu yakin aku memang orang yang dimaksud suara yang kamu kira Debata itu?"

Sylvie menelan ludah. Maruap benar. Tapi dari sanubarinya, Sylvie sudah yakin memang Maruap orang yang dimaksud suara tersebut. Lalu suara itu--Sylvie yakin--memang suara Tuhan. Memang sempat Sylvie agak gamang. Apalagi Paman Harrys yang seorang imam katolik pernah berkata, "Yakin itu suara Tuhan? Apa Tuhan mengijinkan pernikahan bangsa Eropa dengan yang tidak sederajat?" Agak kesal Sylvie mendengarnya. Kenapa Paman Harrys berkata seperti itu? Bukankah Yesus lewat titahnya pada Rasul Petrus mengingatkan agar tidak membeda-bedakan?

"Bagaimana dengan pertanyaanku tadi, Sylvie? Yakinkah kamu--memang aku orangnya? Bisa saja kamu salah? Apa kamu sungguh menyukai seorang pemuda bukan Eropa yang berkulit tidak putih, lalu matanya tidak berwarna? Kurasa, dilihat dari penampilan cantikmu ini, aku yakin pasti ada keraguan untuk memantapkan hatimu. Pasti kamu malu untuk mengenalkan teman-temanmu yang berdarah Eropa, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan aku yang pemuda pribumi ini."

Bibir Sylvie kelu. Hampir saja dia menggigit bibirnya hingga berdarah. Keraguan itu memang sempat ada. Sempat Sylvie melihat beberapa teman perempuannya yang memiliki kekasih. Rata-rata kekasihnya mereka sangat tampan rupawan, tinggi di atas rata-rata, dan berkulit putih. Pastinya sama-sama berdarah Eropa. Sylvie juga sempat nyaris terpengaruh waktu mendengar kata-kata Paman Harrys. Namun perlahan dirinya sadar bahwa imam katolik pun juga seorang manusia. Bisa saja Paman Harrys yang salah dan dirinya yang benar.

Perlahan Sylvie memegang erat tangan Maruap. Ia dan kekasihnya yang seorang pemuda pribumi dari tepi Sungai Asahan bersirobok mata.

"Aku yakin, Maruap. Aku yakin memang kamu orangnya. Aku yakin suara itu memang berasal dari Tuhan,--atau Debata menurut bahasa sukumu. Aku seratus persen sangat yakin. Ada banyak kejadian yang membuktikan segala hipotesaku tersebut."

Maruap sebetulnya sangat senang mendengarnya. Meskipun sebelah hatinya masih berusaha terus membantah.

"Benarkah?" tanya Maruap lagi. "Pernahkah kamu terpikirkan bahwa bisa saja ada kemungkinan itu hanya imajinasimu? Bisa saja kan, suara itu berkata lelaki itu sebetulnya orang Eropa, namun kamu mengira orangnya itu aku."

"Kamu meragukan cintaku padamu?" Sylvie jadi meradang.

"Bukan begitu, Sylvie. Aku hanya takut hatimu jadi berpindah. Jujur saja, aku pun sering salah mengartikan mimpi. Salah satunya yang kuceritakan itu. Dan masih banyak lain pengalaman-pengalaman lainnya. Di daerah ini, mimpi bisa dimanipulasi."

"Aku yakin, Maruap" Suara Sylvie jadi meninggi. "Aku yakin kamu orang yang dimaksud suara tersebut. Tidak keliru lagi."

"Yah, baguslah kalau begitu." Maruap hanya tersenyum. Lalu, ia menatap Sylvie lumayan lama. Di barat sana, matahari mulai menunjukan tanda-tanda akan diisap oleh gelapnya malam.

Memang, hingga sekarang, tak ada yang pernah mengetahui seperti apa wujud dan rupa Tuhan Allah. Manusia bisa melihat jin; malaikat pun manusia bisa lihat. Namun wujud asli Tuhan, tak seorang pun manusia pernah melihat. Apalagi suara Tuhan. Tak ayal Maruap ragu. Keraguan yang patut diacungi jempol untuk seseorang yang memiliki gaya hidup lama, yang hobi melakukan sesembahan ke roh-roh leluhur, yang adatnya tidak mentabukan untuk memiliki jimat, juga yang praktek-praktek sihir gencar dilakukan.

Wajar pula Sylvie marah. Sylvie itu datang dari kebudayaan Eropa. Suatu kebudayaan yang dewa penguasanya hanya satu, yang tak seperti dewa penguasa sukunya Maruap. Sylvie pun berasal dari keluarga religius. Ayah dan ibunya lumayan rutin mengajaknya ikut misa tiap minggu.  Baca kitab suci dan doa-doa harian selalu rutin dilakukan. Tak pernah terbersit di pikirannya, bisa saja dugaan Maruap itu benar. Tak pernah terpikirkan mimpinya itu bukan berasal dari Tuhan Allah. Sylvie lupa bahwa ia tinggal di satu kawasan di mana praktek sihir dan okultisme acap digunakan untuk banyak kepentingan. Sylvie lupa pula bagaimana munafiknya keluarga Van Weiderveld.

Namun seringkali manusia bisa berencana, Tuhan yang berkehendak. Dunia ini, alam semesta ini, bisa saja memainkan segala trik-triknya. Tapi pikiran Tuhan sama sekali sukar ditebak. Tak ada yang pernah tahu sekalipun bagaimana Tuhan bekerja pastinya. Segalanya misterius.

Siapa sangka Pak Robert tiba-tiba ingin berbisnis kelapa sawit, lalu menyuruh bawahannya untuk mencari perkebunan kelapa sawit terbaik di tanah Batak. Akibatnya, mendaratlah Pak Robert di perkebunan kelapa sawit milik Pak Ramli. Keluarga Weiderveld tiba di sana saat Maruap tengah berada di kebun dan sibuk mencabuti beberapa kelapa sawit. Bukan kebetulan saat Sylvie yang turun dari kereta kuda duluan untuk menemui Maruap. Sylvie yang sejak kecil akrab dengan mimpi dan penglihatan berjumpa dengan Maruap yang berasal dari keluarga yang dekat dengan hal-hal 'aneh' di mana Sylvie baru tahu itu ternyata sudah terjadi lama sekali di keluarganya. Keanehan-keanehan yang didapati Sylvie dari keluarganya itu sering terjawab oleh tiap tutur kata Maruap.

Perlahan Sylvie merenungi tiap kata-kata Maruap di kamar yang ada dalam rumah Pak Pendeta Simon yang terbuat dari kayu seperti kebanyakan rumah yang ada di sekitar Danau Toba. Mungkin Maruap benar? Tapi jujur saja, Sylvie belum sempat menanyakan kenapa Maruap dan hatinya itu memilih Sylvie. Apa jangan-jangan Maruap mengalami pengalaman serupa, yang malah lebih banyak daripada Sylvie?

Esok paginya, tanpa sepengetahuan Maruap, Sylvie mendatangi Pak Pendeta Simon yang sibuk beternak babi. Kebetulan Maruap tengah tidur lumayan pulas. Saat itulah, tak disia-siakan lagi oleh Sylvie, untung Maruap tidur bak kerbau. Lama sekali, hingga matahari berada tepat di atas kepala, Maruap baru bangun. Dengan senang hati pula, Pak Pendeta Simon mendengarkan curahan hati seorang Sylvie Van Weiderveld.

Lalu, jawab Pak Pendeta Simon, "Itu hal wajar. Sampai sekarang pun, Bapak juga tak begitu yakin saat Bapak mendapat mimpi atau penglihatan. Jangankan saat Bapak berada di daerah ini, semasa di Utrecht pun, Bapak sering ragu-ragu. Bahkan kitab suci pun pernah mencatat keragu-raguanmu itu, Sylvie. Ingatkah saat Yusuf ragu ingin mengambil Maria sebagai istrinya, padahal malaikat Tuhan sudah nemerintahkannya? Bisa saja Yusuf mengalami pergolakan batin seperti yang tengah kamu rasakan. Mungkin Yusuf kira yang datang padanya itu bukan malaikat Tuhan."

Sylvie tertegun agak lama. Lama juga kounseling itu terjadi antara Pak Pendeta Simon dan Sylvie di ruang tengah. Tanpa sepengetahuan Sylvie pula, ternyata Maruap sudah bangun dan tengah menguping pembicaraan.





Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^