Monday, July 31, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Rekayasa Dunia, Realita Buatan







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea




** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania ** 






Iman tanpa ilmu akan lambat tumbuh, sebab ilmu adalah kunci pembuka rahasia alam semesta tentang kebesaran Allah. Ilmu tanpa iman riskan bagi kemanusiaan. 










Yerusalem, 1290
Sebulan-dua bulan kemudian, segenap masyarakat Yerusalem (atau Palestina) turut bergembira. Perang akhirnya usai. Tak ada lagi darah berceceran di mana-mana. Bayangan demi bayangan nan menyeramkan tunai sudah. Mereka memuja Saladin yang akhirnya menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

"Syukran ya Akhi," Ahmed memeluk temannya yang seorang Yahudi, Gerson. "Akhirnya damai kembali datang juga ke tanah terjanji ini."

Gerson mengangguk, balas tersenyum pula. "Memang sudah seharusnya damai, bukan? Adonai sangat menginginkan perdamaian pastinya."

"Akhi benar. Ana setuju dengan anta. Allah di surga tingkat ketujuh sana sangat ingin sesamanya itu saling berdamai; bukannya saling mengganggu, apalagi saling menzalimi." ujar Ahmed seraya mengelus-elus jenggot superpanjangnya.

"Tapi konon perang ini berakhir, kesepakatan itu bisa muncul karena menghindarkan diri dari beberapa orang radikal yang datang sambil membawa isu Messiah mau datang. Perang salib itu juga bisa muncul karena isu itu, bukan?"

Mendadak obrolan antara pedagang kain dan kurma itu berlanjut dengan suara bisik-bisik di tengah bisingnya pasar. Mungkin karena takut diciduk beberapa tentara rahasia yang disuruh pemimpinnya untuk menciduk langsung si biang onar, si tukang hasut, hingga mereka yang ditakuti bakal membuat situasi di tanah terjanji tersebut makin campur aduk. Itu juga kehendak dari Saladin dan beberapa pemimpin Kristen.

"Tak tahulah ana. Ana tahunya hanya berdagang kurma, yang akhir-akhir ini sepi pembeli. Kalau Imam Mahdi datang besok pun, ana seratus persen siap. Ana rasa ana tak buat banyak dosa juga. Haha." Dari bisikan, Ahmed tergelak-gelak.

"Ssst... pelankan suaramu, Kawan," Gerson memperingati. Sebab pengawasannya tengah ketat-ketatnya.

Yah memang benar obrolan sesama pedagang tersebut. Jaman itu, tengah ramai isu soal kedatangan Messiah atau Imam Mahdi tersebut. Selain kisruh karena perang, ramai diperbincangkan bahwa mungkin saat itulah hari di mana dunia akan kiamat. Ada yang bergosip pula bahwa perang itu bagian dari rencana kedatangan sang Imam Mahdi. Mana yang benar, entahlah. Namanya juga isu. Mereka cepat diterbangkan oleh angin yang tengah berhembus. Cara menghindarinya: jangan biarkan dirimu terbawa arus angin bernama isu tersebut. Pijakanmu harus kokoh sekokoh batu karang.

Walau demikian, banyak cendekiawan yang mencurigai berakhirnya perang tersebut sebagai bagian dari konspirasi. Ada yang tak beres, kata salah satu dari mereka. Rasanya aneh saja, pasukan dari Eropa mendadak melemah. Yang mana, di satu titik, ada gosip yang mengatakan bahwa satu barak kehilangan perlengkapan senjata dalam jumlah banyak. Di sisi Saladin juga aneh bukan main. Beberapa meragukan kecerdasan Saladin dalam meramu strategi perang.

Namun kecurigaan tetaplah kecurigaan. Begitu orang itu melampiaskan kecurigaannya, orang itu mati misterius. Ada yang dibuat seolah-olah gantung diri. Padahal, beberapa hari kemudian, ada desas-desus yang mengatakan bahwa orang itu didatangi secara diam-diam, diracuni, dan dibuat seolah bunuh diri. Lalu, ada pula yang mati saat bepergian. Konon orang itu dihampiri tukang jagal misterius. Sudah tak ada kuburannya, tak ada pula jenazahnya. Mereka yang ditinggalkan hanya bisa menyimpan dendam dalam sukma, yang sembari berharap Allah atau Yahweh akan membalaskan dendam mereka.

Tak usah heran dengan fenomena tersebut. Sampai sekarang pun, kejadian-kejadian tersebut selalu ada. Dunia ini selalu memiliki banyak misteri yang sangat sulit untuk dipecahkan (yang salah satunya, misteri menebak hati seorang perempuan yang sangat dicintai). Justru karena keberadaan misteri-misteri itulah yang membuat planet Bumi ini menjadi suatu tempat yang sangat luar biasa menarik untuk dinikmati. Karena itulah, mungkin itulah penyebab banyak alien senang berkunjung ke Bumi.

Omong-omong, sampai sekarang mitos-mitos tentang berakhirnya perang salib masih terus hidup. Secara sejarah, perang salib memang berakhir karena kalahnya segenap pasukan Templar oleh pasukan Saladin. Itulah yang kita kenal lewat sejumlah literatur sejarah. Namun isu-isu itu akan terus ada,--yang sulit ditangkis sekaligus dilenyapkan. Apa mungkin isu-isu itu yang benar?

Isu-isu itu berkata bahwa ada kesepakatan maha rahasia antara pasukan Saladin dan pasukan Templar. Konon, kedua kubu sepakat berdamai dan menjaga dunia damai dari kemungkinan adanya perang di tanah maha suci. Kedua kubu juga sepakat untuk mencari dan melenyapkan para pembuat nubuatan tentang kiamat atau akhir jaman. Mungkin kedua kubu mulai merasa perang itu pun disulut oleh segala isu tentang akhir jaman tersebut (walau ada yang bilang perang itu muncul karena pasukan Islam mematok pajak tinggi hanya untuk masuk ke tanah terjanji).

Apakah dugaan itu benar? Entahlah. Tak ada yang pernah tahu. Banyak para ahli sejarah gagal mendapatkan bukti-bukti pasti nan kuat soal itu. Namun beberapa perkumpulan sepakat bahwa memang ada yang tak beres. Banyak kejanggalan dalam perang salib yang terjadi antara tahun 1100-1290. Seperti ada yang tengah menyamarkan penyebab sesungguhnya. Seperti ada pula yang tengah menciptakan rekayasa-rekayasa tertentu demi sebuah misi, tujuan, atau propaganda. Yang keseluruhannya itu bermuara pada kedatangan Yesus, Messiah, atau Imam Mahdi.

Satu lagi, jaman itu memang tak seperti jaman sekarang yang sangat serba teknologi. Jaman itu belum ada yang namanya mesin. Konon pula, jaman itu praktek sihir dan okultisme sangat jamak terjadi dan dipraktekan secara blak-blakan. Orang tidak malu mengakui dirinya bisa menyihir, meramal, apalagi bisa memanggil bisa arwah (walau yang terakhir harus dilakukan secara rahasia). Jika di jaman sekarang, ada beberapa topik seolah tabu (yang jika dilontarkan akan membuat yang bersangkutan dituduh yang bukan-bukan), maka di jaman itu malah berbeda. Beberapa topik malah berani diperbincangkan di khalayak ramai. Salah satunya, obrolan Gerson dan Ahmed barusan.

******

Tapanuli, 1875

"Benarkah itu, Meneer?" tanya Sylvie pada Pak Pendeta Simon di salah satu ruang baca yang ada di perpustakaan gereja.

Pak Pendeta Simon mengangkat bahu. "Entahlah. Bapak juga tak tahu. Namun itu cerita yang sangat bagus, yang datang dari tanah suci, menurut Bapak. Kebenarannya memang masih diragukan, walau harus dipercayai dengan menggunakan iman. Tapi dari lubuk hati, Bapak sebetulnya percaya-percaya saja. Bukankah cerita-cerita dalam masyarakat sering tidak tercatat dalam sejarah? Sejarah hanya mencatat yang ada bukti pasti, kuat, dan akurat; bukannya yang malah tidak bisa dipegang dengan segenggam tangan."

Sylvie hanya mengangguk-angguk. Dia sebetulnya juga percaya. Dalam hidupnya pun, dia sering mengalami kejadian-kejadian aneh yang sangat enggan ia ceritakan. Salah-salah bercerita, ia akan dituduh dan diejek sebagai orang gila, penderita sakit jiwa, kerasukan, penderita cacat mental, dan sekumpulan julukan yang sangat menyakitkan kita. Baginya yang sudah sangat lama memendam, biarlah ia sendiri yang menyimpan segala keanehan dalam sanubarinya. Bersyukurlah pula dirinya telah bertemu dengan Maruap. Maruap sama sekali tak pernah mengejeknya gila apalagi aneh.

Oh iya, Maruap bagaimana kabarnya, batin Sylvie yang sekonyong-konyong mulai merasa khawatir.

*****

Di saat banyak yang mencaci dan memusuhimu, percayalah bahwa hanya seorang ibu yang selamanya akan berada di belakangmu. Seorang ibu akan terus menerus mati-matian membelaimu walau hilang nyawanya demi kamu.

Itulah yang terjadi pada Maruap. Maruap dituduh telah membunuh Togar. Alangkah kagetnya Maruap saat dituduh tersebut. Mau berbusa-busa Maruap menjelaskan, hasilnya tetap sama saja. Pembunuh Togar ialah Maruap.

"Mak, Mamak percaya kan, aku bukan pembunuh Bang Togar. Segalanya persis yang aku ceritakan itu, Mak. Aku disuruh Bang Togar datang. Kami lalu mengobrol-ngobrol. Lalu, Bang Togar histeris dan hendak membunuhku. Aku melawan dan terjadilah peristiwa aneh tersebut. Lagipula saat itu, aku sudah mengecek berkali-kali, tak ada saksi mata. Orang-orang itu berdusta, Mak."

Maruap kini berada di pelariannya. Oleh Ibu Siti, ia langsung disembunyikan di rumah Tulang-nya yang bernama Hinsa. Saat ini, Ibu Siti tengah menjenguknya dan mendengarkan segala keluh kesah dan kegundah-gulananya yang sudah disimpan selama berhari-hari.

"Iya, Mamak percaya sama kau, Maruap. Kau tenang saja. Walau Bapak-mu sulit diyakinkan, ada Mamak yang berada di pihakmu. Kau juga sebaiknya berhati-hati. Jangankan karena meninggalnya si Togar, terkait hubungan kau dengan cewek bule itu pun, banyak yang tak suka dan menuduh yang bukan-bukan. Cewek bule itu pacar kau, bukan?"

Maruap tersipu malu dan mengangguk. Sehabis itu, setengah jam kemudian, Ibu Siti pamit. Maruap diingatkannya untuk selalu hati-hati dan memasrahkan semuanya pada para Debata di banua ginjang. Satu lagi, Ibu Siti juga menceritakan sebuah kisah menarik tentang sepasang kekasih yang  telah dipersatukan oleh para Debata. Namun hubungan mereka disalip oleh seseorang licik. Si pemudi dibawa lari dan dikawin-paksakan. Banyak desas-desus yang mengatakan pernikahan itu palsu, termasuk soal kehamilan dan kelahiran si jabang bayi (ada yang bilang bahwa bayi itu bukan hasil hubungan intim antara si pemudi dengan si lelaki bajingan perebut istri orang, melainkan anak dari salah satu saudara sepupu si pemudi). Si pemuda percaya. Sebab memang banyak yang janggal dalam pernikahan yang berlangsung selama hampir empat tahun tersebut. Acara-acara adatnya, tempat tinggal kedua mempelai yang ternyata terpisah, hingga bagaimana si jabang bayi memandang lelaki tersebut. Kemudian, lewat kesabaran, ketabahan, dan kegigihan si pemuda, cinta sejatinya itu berhasil didapatkannya kembali. Lelaki yang memaksa nikah itu akhirnya mendapatkan balasannya dari para Debata.

"Begitulah, Maruap," tandas Ibu Siti. "kalau kau memang benar-benar sangat sayang sama cewek bule itu, tunjukkanlah kesetiaan, kesungguhan, dan ketulusanmu. Bersabarlah. Yang Di Atas pasti juga tidak tinggal diam mendapati salah satu umat-Nya terzalimi. Seperti pemuda itu, lihatlah. Dia sabar, dia gigih, dan bersatulah dia dengan perempuan yang sangat dicintainya. "





Bersambung.....