Tuesday, July 25, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Mimpi & Penglihatan








Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan:
Hunter








** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania ** 















Bekasi, Maret 2017

"Pada akhirnya, setelah beberapa kali aral,  dia,... maksudku, kakek buyut kau... itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya bersama perempuan yang dikasihinya." tandas Taria.

Taria adalah nama nenek dari Nuel. Yah, dia itu ompung boru dari Nuel. Taria juga  salah satu menantu perempuan dari Maruap, seseorang di cerita-cerita sebelumnya, yang sudah harus melewati hal-hal sukar hanya karena cinta agung nan mulia yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Tak hanya itu saja, Maruap juga harus nyaris beberapa kali mengalami sakaratul maut hanya karena segala idealisme yang ia pegang. Idealisme-idealisme Maruap memang pada akhirnya hanya bisa berlaku di keluarga besarnya. Segenap keluarga besarnya hingga anak cucu berikutnya bersikukuh memegang nilai-nilai idealisme Maruap sebagai suatu kebiasaan turun temurun.

Jangan heran, hal seperti itu jamak terjadi di Indonesia dan mungkin beberapa negara lainnya yang mana masih mempraktekan segala sesuatu yang bersifat mistis, klenik, supranatural, atau apapun kalian mau menyebutnya.

Hari ini, jam delapan pagi, matahari sangat bersinar lumayan terik. Jauh-jauh Nuel pergi ke rumah salah satu kerabat yang ada di Bekasi. Itu semua demi cintanya kepada kekasihnya, Nia. Tiba-tiba saja Nia meminta Nuel untuk mengajaknya segera menemui Ompung Taria tersebut. Kata Nia, "Aku kangen aja sama nenek kamu, Man. Terus, kayaknya ada yang pengin aku tanya. Kan waktu itu nenek kamu itu pernah cerita soal keluarganya. Nah, selain ceritanya belum selesai, aku juga ada yang mau ditanya sama beliau."

Begitulah caranya Nia memanggil Nuel. Nama lengkap Nuel memang Immanuel Siagian. 'Man' dari Iman, yang merupakan penggalan awal dari nama Immanuel tersebut. Tidak tahu kenapa Nia selalu merasa sangat nyaman memanggil Nuel sebagai Iman ketimbang Nuel, layaknya eks teman-teman kuliahnya memanggil Nuel. Menurut pengakuan Nia, nama Iman itu terasa istimewa di hatinya. Nama 'iman' seperti menjadi semacam pengingat untuk selalu rutin dengan ibadahnya akan Tuhan. Sebelum bersama Nuel, Nia itu bisa dibilang bukanlah seorang perempuan yang religius. Terkadang demi sesuatu yang sifatnya sekuler, Nia bisa alfa berminggu-minggu datang ke gereja. Demi rasa kantuk yang sulit ditahan, Nia bahkan main tidur begitu saja dengan tidak berdoa dulu (alhasil dirinya suka bermimpi yang bukan-bukan). Tak hanya itu saja, lewat nama kekasihnya tersebut, natal Nia selalu berkesan. Beberapa lagu natal selalu mengingatkan Nia dengan sang kekasih.

"Eeeeh..." Nia agak kesulitan untuk mengucapkannya. "...o-o-o-op-op-op--"

"Nenek saja kalau kau kesulitan untuk melafalkannya. Aku tak pernah paksa kau untuk terburu-buru. Lagian ada pepatah yang mengatakan 'alah bisa karena biasa'. Santai sajalah sama aku." ujar Ompung Taria dengan senyum sangat bijak.

"I-i-i-iya, Nek," respon Nia dengan malu-malu.

"Iya, Nia, santai aja yang aku bilang. Nggak usah terlalu dipaksa. Kalau emang masih kesulitan dan belum terbiasa, panggil nenek aja. Mungkin bahasa dan adat Batak belum familier sama kamu. Segalanya kan perlu waktu." sahut Nuel yang menyemangati kekasihnya sambil merangkul bahu Nia.

"Memangnya ada yang kau tanya, Shania?" Ompung Taria langsung mengarahkan ke sana tanpa babibu lagi. Mungkin karena darah Belanda dalam tubuhnya itulah yang membuat Ompung Taria jadi anti basa-basi. Memang benar apa kata orang. Darah sungguh tak bisa berbohong. Mau ditutupi seperti apapun, jika memang generasi atas seseorang memiliki ciri khas tertentu, makan generasi bawahnya akan tertular pula. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kecil sekali kemungkinannya jika ada buah yang tidak jatuh dari pohon induknya. Seperti mau berkata, segala sesuatu pasti memiliki alasan.

"Nggak, Nek," kata Nia tersenyum kecil. "Aku cuma salut sama keduanya. Walau banyak ditentang dengan alasan ini dan itu, mereka akhirnya bisa membuktikan kalau segala prinsip yang mereka pegang ternyata memang benar. Mereka juga bisa membuktikan bahwa memang tak ada yang salah dengan hubungan mereka. Semuanya hanya butuh waktu."

Nuel tersenyum membenarkan seraya kepalanya berjengit. Sementara Ompung Taria-lah yang membalas, "Kalian juga harus seperti itu. Terutama untuk kau, Nuel. Walau si Aden itu kurang begitu suka sama Shania, jangan langsung patah semangat begitu. Kau sendiri yang bilang ke aku, memang Shania-lah orangnya. Shania juga mengaku ke aku, memang kau orangnya."

Nuel memandang Nia dengan menyipitkan kedua belah mata. Ia nyengir. "Kapan kamu ngomong gitu ke Ompung aku, Nia? Kok aku baru tahu?"

Nia menunduk malu dan ikut nyengir. "Udah lama sih, Man. Tapi nggak ketemu langsung di sini. Beberapa bulan lalu aku SMS nenek kamu. Iseng aja curhat soal masalah hubungan kita. Eh si nenek langsung bentak aku lewat telepon. Ya udah sama nenek kamu, aku dicurhatin hampir dua jam. Pulsaku habis, deh."

Ganti Ompung Taria yang terkekeh-kekeh mendapati sepasang kekasih yang terjebak dalam momen bernama salah tingkah.

*****

Tapanuli, 1875

Wahyu 12:1-6 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

"Bagaimana saat kamu membacanya?" kata Pak Pendeta Simon seraya tersenyum lenuh arti setelah Sylvie menandaskan pembacaan nats tersebut. 

"Agak ngeri," jawab Sylvie dengan mata masih tertumbuk ke kitab suci berbahasa Belanda. "Belum lagi, bagi saya, ini seperti sebuah khayalan saja. Walaupun saya sering mengalami banyak kejadian aneh yang melebihi kata khayalan."

"Well, Sylvie," Pak Pendeta Simon bangkit berdiri. Mata Sylvie pun mengikuti. "Sampai sekarang pun, banyak pakar masih menebak-nebak kapan waktunya tersebut. Namun yang ada hanyalah beberapa orang yang salah mengartikan arti sebenarnya dari kitab suci. Terkadang salah mengartikan itu bisa fatal akibatnya. Itulah kenapa kitab suci ini--" 

Pak Pendeta Simon mengangkat perlahan-lahan kitab suci yang dibaca oleh Sylvie barusan. "--sebaiknya dibaca dengan cara direnungi dan diresapi. Tiap katanya, menurut Bapak, sungguh terilhami dari Allah. Inilah buku kode terbesar di dunia, Sylvie, yang tak seorang pun sangat sulit memahami tiap katanya. Tiap orang bebas menafsirkan sesuai kehendaknya, namun hanya Dia-lah yang tahu arti sebenarnya. Siapa yang bisa menebak pikiran Allah yang sebenarnya."

Sylvie mengangguk-angguk saat mendengarkan khotbah singkat Pak Pendeta Simon di sebuah perpustakaan gereja. 

"Itulah sebabnya, sebaiknya kamu berhati-hati dalam menanggapi tiap mimpi dan penglihatan yang kamu dapatkan. Saran Bapak, sebaiknya kamu simpan saja dalam hatimu persis yang Bunda Maria lakukan sewaktu mendapati kanak-kanak Yesus berdebat dengan para ahli taurat. Salah-salah kamu akan berada di jalan yang salah. Hal-hal seperti itu memang bukanlah sesuatu yang bisa sembarangan diceritakan ke orang-orang."

"Lantas, saya harus bagaimana? Belum lagi dengan bagaimana saya menghadapi keluarga saya yang makin rasa makin terasa aneh dan janggal." Sylvie mengeluarkan pertanyaan yang mengusik kepala kecilnya tersebut. 

"Ujilah." kata Pak Pendeta Simon mantap. "Tidak semua mimpi dan penglihatan berasal dari Allah. Juga, seringkali kita suka salah menafsirkannya. Nabi-nabi di kitab suci pun pernah salah dalam menafsirkan kata-kata Allah. Ingat, waktu Nabi Musa malah melemparkan tongkat, padahal Allah hanya memintanya untuk menunjuki batu dengan tongkat?"

"Iya, Meneer. Malah itulah cerita yang saya sukai dari kitab suci." jawab Sylvie sambil tersenyum berbinar-binar. Tampak luar biasa bangga dan bahagia Pak Pendeta Simon mendengar pengakuan sepele nan polos Sylvie barusan. 

"Oh iya, Sylvie," ujar Pak Pendeta Simon. "sebaiknya kamu tinggal di sini saja bersama Bapak. Keluargamu itu jelas bukan keluarga baik-baik, khususnya Daddy kamu. Bapak bisa tahu waktu saban hari ke rumahmu itu. Selain auranya tak enak, ada beberapa kejanggalan. Feeling Bapak, entah kenapa terasa kuat sekali, Daddy kamu itu bukan orang biasa-biasa saja. Mungkin dia semacam hunter yang pernah Bapak ceritakan; dan mungkin saja tergabung dalam sebuah organisasi yang masuk dalam daftar hitam Vatican."

Kali ini Sylvie kembali terperangah. Perempuan Belanda ini pun bingung. Apa pula maksud Pak Pendeta Simon dengan 'sebuah organisasi yang masuk dalam daftar hitam Vatican'. Segalanya masih berselimutkan misteri yang membuat gatal Sylvie untuk menyelidiki lebih lanjut. Meskipun  dalam dirinya yang lain, Sylvie terlalu takut dengan segala keanehan yang dia rasa sudah cukup mengerikan dan mengganggu.

Di tempat lain, Maruap sebentar menengok ke belakang. Di kejauhan, tampak rumah Bang Togar yang kusam dan agak gelap. Yah mirip rumah-rumah seorang pintar,--yang pintar di sini tentunya dalam tanda kutip. Maksudnya, mereka yang lihai memainkan tenaga dalam dan segala ilmu kebatinan.

Maruap seharusnya tak perlu heran. Memang di sekitar rumah Bang Togar itu tak ada siapa-siapa. Belakangnya hutan belantara. Sampingnya, peternakan babi. Depannya, hanyalah sebuah jalan kecil yang tak terlalu kelihatan. Alhasil, keributan itu pasti tak akan ada yang mendengar. Namun, hati kecil Maruap berkata lain. Ia seperti merasakan bahwa kejadian tersebut disaksikan oleh puluhan mata. Bahkan salah satu dari pasang mata itu mata yang sangat mengerikan. Apa ini maksud kata-kata Bang Togar dengan 'mata-mata Bapak Tua', batin Maruap. 

Belum berapa lama kemudian, terdengar raungan Bang Togar. Makin terheran-heranlah Maruap. Ditambah lagi, gendang telinganya seperti menangkap suara-suara yang makin lama makin mengganggu. Suara ini datang dari mana? Seperti suara dari acara-acara adat, namun  di sekitar Maruap itu sangatlah sepi. Suara-suara itu bikin kepala Maruap sakit saja. 



Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^