Sunday, July 2, 2017

ONE STORY ONE PHOTO: Juan & Stella







Genre: Romance






** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania! **














Laki-laki ini mungkin sangat tidak beruntung. Sungguh laki-laki pendiam yang nahas. Ibunya sudah pergi sejak melahirkan adik perempuannya, Martha. Ayahnya selalu saja sibuk dengan segala tetel bengek bisnis pribadinya. Konon, ada pula isu yang mengatakan bahwa ayahnya terlibat sebuah kartel narkoba di Borinquen ini. Namun Juan tak peduli.

Yah, Juan ialah nama lelaki itu. Juan, yang jika diterjemahkan secara harfiah, artinya John. Yohanes dalam bahasa Indonesia-nya. Yohanes ialah salah satu murid Isa yang konon seorang yang tak banyak cakap. Ada isu yang mengatakan bahwa Rasul Yohanes lebih banyak menjadi seorang pengamat dan pendengar daripada menjadi seorang rewel, yang meributkan hal-hal tak jelas, sampai-sampai sang rabinya pusing tujuh keliling. Bukannya membantu untuk meringankan beban, eh malah bikin kepala sang rabi tambah mumet. Kurang lebih seperti itulah yang dipikirkan seorang Juan Arevaldo de Monteiro.

Dia terkadang merasa malu untuk memegang klan Arevaldo. Bagaimana tidak, tiap pergi ke sekolah, selalu saja dia mendengarkan segala isu tak enak soal ayahnya, James Arevaldo. "Papa kamu itu gangster,"; "Tiap malam dia selalu meniduri tiap perempuan di Rio Piedras."; "Pernah dia ketahuan polisi tengah menyelundupkan kokain."; dan bla-bla-bla lainnya. Benarkah itu? Kenapa rasanya tiap kata-kata itu seperti menyayat kedua telinganya? Rasanya seperti ditusuk-tusuk tombak saja dada ini. 

Ah, tapi memang dia sudah jengkel sekali dengan sang ayah. Tiap pagi yang ia temui selalu saja para pelayannya. Salah satunya, yang tersetia, Henk Gian, dari Hongkong. Tiap kali ia ingin meminta sesuatu, selalu saja harus lewat perantara para pelayannya tersebut. "Papa sibuk. Bilang saja sama SeƱor Henk itu." Begitu ujar ayahnya saat dia utarakan. Selalu saja banyak sekali dalih ayahnya. Namun jika Juan terlibat suatu masalah sedikit saja, sang ayah langsung mencak-mencak. Padahal acap kali bukan Juan yang salah. Juan hanya korban. Di luar sana, tanpa sepengetahuan ayahnya, dia sering diprovokasi dan ditindas. Dirundung tiap detik si Juan itu. 

Itukah yang namanya ayah? Batin Juan menjerit kencang. Ingin rasanya Juan pergi ke atas bukit dan berteriak sekencang-kencangnya. Yang ia teriakkan selalu sama, " Papa brengsek!"

Anehnya, adiknya, Martha, enteng-enteng saja. Jawab adiknya selalu, "Calma, Juan. Santai saja. Relaks. Jangan berpikir aneh-aneh dulu. Mungkin Papa ada alasan tersendiri kenapa seperti ini. Toh, selama ini kebutuhan kita terpenuhi. Apa masalahnya? Kamu ini terlalu mendramatisir!"

Kesal luar biasa Juan itu kalau berhadapan dengan Martha. Bisakah setidaknya adiknya itu memandang dari kacamatanya? 

Juan kesal. Juan sedih. Dia sangat meradang melihat apa saja yang sudah terjadi selama ini dalam hidup ini. Nyaris tak ada perubahan signifikan. Begitu-begitu saja. Dari hari ke hari malah. Mungkinkah dia ini lelaki paling tak beruntung di Borinquen ini? 

*****

Tak jauh dari sana, ada seorang perempuan cantik yang begitu intens mengamati Juan yang sibuk mencorat-coreti buku catatannya di sebuah kafe. Perempuan ini sudah lama mengamati gerak gerik Juan. Dia sesekali tertawa melihat Juan yang tiba-tiba menangis sendiri. Namun memang seperti itulah manusia. Bereaksi hanya pada permukaannya saja. Tidak mau menyelami lebih lanjut. 

Perempuan itu adik kelas Juan. Namanya Stella. Dalam bahasa Italia, itu artinya bintang. Wajahnya memang seperti bintang yang bergemerlapan di langit malam. Matanya indah berseri-seri. Teman-temannya bilang, Stella ini sebetulnya menyukai Juan sejak lama. Namun seperti kebanyakan perempuan, selalu saja gengsi.

Pernahkah dengar bahwa jika kalian tengah dipelototi sekian lama, kalian pasti akan tersadar pula? Juan pun demikian. Dia berhenti menulis, lalu melihat ke arah sebelasnya. Juan sewot. Laki-laki ini langsung beringsut pada perempuan yang menurut gosip memiliki lidah tak bertulang. Omongnya suka seenaknya saja. Bagai tak punya rem saja. Sampai-sampai ada teman si perempuan yang menyindir, "Apa perlu aku olesi bibirmu dengan oli, Stella?"

"Apa?" rengut Juan. 

Stella malah cengar-cengir. 

"Kenapa? Ada yang lucukah?"

"Tidak." Stella berdiri. "Hanya saja aku merasa lucu. Lelaki kok menangis?"

"Tak bolehkah?" balas sengit Juan. "Tiap manusia bisa menangis. Saat sesuatu mengganggu jiwanya, aku rasa dia pasti menangis. Bayi laki-laki pun akan menangis saat ada bahaya mengancam."

"Tapi kamu bukan bayi, kan?" Stella yang bernama lengkap Stella Melendez da Silva ini cekikikan. 

"Hey, mulut kamu itu disekolahkan, tidak?" Juan makin meradang. Ingin rasanya dirinya menampar perempuan bernama Stella ini. Juan bosan dengan kebiasaan perempuan ini berbicara seenaknya. Jaga perasaan orang kenapa? Kalau Stella yang di posisi Juan, mau tidak? 

"Tak usah marah-marah begitu, Juanito tercinta," ujar Stella nyengir. "Aku kan hanya bercanda. Menggodaimu itu seperti hiburan saja untukku, tahu."

Juan mengertakan gigi. Matanya nyalang. Namun sepertinya  Stella sudah menyiapkan ancang-ancang. Tergesa-gesa perempuan itu mencium bibir Juan di depan umum, lalu melipir pergi. 

Marahnya Juan mereda. Ganti jantungnya yang berdetak-detak kencang. Dia memang sudah naksir sejak lama juga dengan perempuan tersebut. Namun Juan agak senewen dengan bibir pedas perempuan tersebut. Lidah tak bertulangnya itu bikin Juan geregetan setengah mampus. Gemas luar biasa. Kapan perempuan itu bakal berubah dari cara bicaranya yang suka seenaknya itu? 

Ingin rasanya Juan melihat sisi lebih baik dari Stella. Memang tak harus feminin. Setidaknya Stella bisa menjaga perasaan orang lain. Belajar berempatilah. Stella tidak tahukah apa saja yang sudah dilalui Juan? 

Namun sepertinya butuh waktu lama agar terwujud. Sejak saat itu, Juan tak pernah lagi mendengar kabar soal Stella. Stella kabarnya pindah bersama keluarganya ke Miami. Tak meninggalkan apa-apa sama sekali. 

Tambah sedih Juan. Baru kali ini ada perempuam yang sangat antusias akan hidupnya. Sampai sebegitunya terus menerus mengomentari apa saja yang dilakukan Juan. Walau bermulut tajam, Stella setia pula mendengarkan segala kelu kesah seorang Juan Arevaldo de Monteiro, lelaki paling sial di San Juan. 






No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^