Friday, July 14, 2017

FAN FICTION: Ray Naksir Rena (?)







Genre: Misteri, Romance






*  Terimakasih untuk grup band, Ungu dan juga segenap kru "Bima Satria Garuda" dan "Satria Bima Garuda X"















Sampai sekarang pun, Ray tak akan pernah bisa melupakan kejadian tersebut. Untung saja Ray tak patuh pada ibunya. Kalau saja patuh, Ray ikut serta pula dalam serangan para monster tersebut. Namun sekarang Ray sangat menyesali kenapa tidak patuh. Andai kata patuh, Ray pasti sudah berada di surga bersama ayah, ibu, dan adiknya. Tak perlu Ray tinggal bersama keluarga angkatnya. Ray selalu memikirkan, mungkin hidup di dunia ini tanpa sepasang orangtua adalah hukuman Tuhan akibat ketidakpatuhannya terhadap ibunya sendiri.

"Kak Ray," seru Rena. "Kok melamun, Kak? Melamunkan apa sih? Aku yah?!"

"Dih, kamu ini apa-apaan, Rena?" ujar Ray nyengir. Lalu Ray mengacak-acak rambut panjang Rena yang seperti telinga kelinci saja. "Ge-er sekali kamu ini. Siapa juga yang lagi lamunin kamu. Masih banyak yang harus aku pikirkan selain kamu, Rena."

"Ih, Kak Ray jahat,..." Bibir Rena jadi maju beberapa centimeter. Rena balas dengan memukul pundak Ray.  Rena agak kaget setelah menyadari mata Ray bengkak.

"Kak Ray kenapa? Kok nangis?" kata Rena yang sangat iba. "Teringat Ayah sama Ibu Kakak lagi yah, Kak?

"Iya, Rena," kata Ray tersenyum agak getir. "Sampai sekarang pun, Kakak nggak bisa melupakan para pembunuh itu. Kalau saja mereka tidak muncul, pasti orangtua dan adik Kakak masih ada."

"Jangan nangis dong, kakakku yang ganteng banget. Ayo dong, jangan nangis. Kan masih ada aku sama Kak Randy. Ayahku juga sangat memanjakan Kak Ray. Sampai-sampai aku agak cemburu loh, sama Kak Ray. Terus, Kak Ray udah diberi kesempatan bertemu dengan keluarga Kakak Ray. Kak Reza juga udah terus bersama Kak Ray."

Ray terkesima mendapati ekspresi Rena tersebut. Senyuman Rena itu... ah, rasa-rasanya ada yang lain dari setiap senyuman para gadis yang pernah ia jumpai. Senyuman Rena sangat meneduhkan jiwa Ray yang penuh hujan dan kabut. Hilang sudah kegundahan Ray tiap akibat dari mengingat kenangan masa lalu Ray yang payah itu. Ray sangat berterimakasih atas segala senyuman Rena.

"Kamu ini bisa saja, Rena." ucap Ray nyengir lagi. "Ya udah yuk, makan. Nanti si Randy bisa marah-marah lagi."

"Gitu dong, Kak. Kakak senyum gitu, gantengnya ningkat loh. Aku lebih suka kalau Kak Ray nyengir juga." ucap Rena terkekeh.

"Dasar kamu itu!" Mendadak Ray melotot galak, lalu berusaha menjitak kepala Rena. Sayang, bagai sudah menebak pikiran Ray, Rena sudah kabur duluan.

"Weeey... Kak Ray payah! Nggak bisa lagi kan jitak kepala aku?!" jerit Rena.

"Dasar kamu itu! Jahil banget sama Kakak. Udah gitu, pake acara kabur lagi." Ray agak kesal, namun selama yang mengisengi itu Rena, Ray tak bisa berkutik. Lagi-lagi karena senyuman Rena yang sangat menawan untuk seorang Ray Bramasakti.

Rena Iskandar, bagi seorang Ray Bramasakti, bukanlah sekadar adik biasa. Bahkan ketimbang adik kandungnya yang sudah pergi itu pun, Ray jauh lebih menyayangi Rena. Terkadang Ray berpikir bahwa apa mungkin Ray sungguh jatuh hati pada adik Randy tersebut. Pernah beberapa kali, di saat tengah merindukan keluarga lamanya, sontak bayangan Rena yang malah muncul di pikiran Ray. Aneh memang ini.  

Mendadak pula Ray teringat kejadian saat itu. Itu saat Ray kali pertama berubah menjadi sosok pahlawan super yang bertarung mati-matian melawan pasukan Vudo. Waktu itu Ray menemani Rena dan Randy ke Monumen Nasional. Rena yang jahil itu terus menerus merengek minta ditemani ke sana. Di Monumen Nasional itulah, Ray mengalami peristiwa gaib. Ray tiba-tiba dalam pikirannya mendengar sebuah permintaan tolong. Lalu, yang mungkin hanya di pikiran Ray saja, ada dua kilatan cahaya aneh yang jatuh di atap sebuah gedung. Padahal ada Randy, namun tetap saja Ray meminta Rena untuk tetap di tempat tersebut. Lagipula Rena sudah dewasa. Rena bukan lagi seorang anak SD yang dahulu Ray kenal. Terkadang Ray berpikir, segala perhatian Ray itu melebihi perhatian seorang kakak ke Rena. Apa jangan-jangan Ray menganggap Rena itu lebih dari sekadar adik?

Belum lagi, saat Rena diculik oleh para combatant, utusan kaum Vudo. Ray langsung mengejar dan menghabisi para combatant tersebut. Beberapa kali Rena coba disakiti oleh makhluk dunia lain, terutama oleh Rasputin, Ray selalu saja begitu sigap menyelamatkan Rena.  

"Rena..." desis Ray tersenyum. "Kamu itu sangat cantik, Ren. Kayaknya Kak Ray suka sama kamu." Napas Ray mendadak jadi sangat panjang. Selalu begitu tiap Ray memikirkan Rena. 

Kembali Ray memutar kenangan itu lagi. Kenangan yang mengubahnya menjadi Bima Satria Garuda. Saat Ray meninggalkan Rena  sendirian dan memintanya tak ke mana-mana, Ray berlari berdasarkan suara yang menuntunnya. Sampailah Ray di atap sebuah gedung. Di atap gedung tersebut, ternyata ada sosok misterius yang dikelilingi para makhluk jahat yang berwujud aneh nan mengerikan. Tak tahu kenapa, Ray memilih untuk membantu sosok tersebut hingga Ray sampai nyaris sekarat. Di ambang kematian itulah, sosok misterius tersebut memberikan batu misterius berwarna merah ke tubuh Ray. Awalnya Ray sangat kesakitan. Namun berikutnya Ray merasa dirinya sudah berubah menjadi sangat kuat. Sosok itu pun memperkenalkan diri sebagai Mikhail. Mikhail lalu menjelaskan bahwa Ray telah terpilih untuk menjadi bagian dari pasukan yang melawan pasukan Vudo. Sosok bernama Mikhail juga mengajarkan Ray untuk berubah menjadi Bima Satria Garuda, yang lalu menjelaskan apa saja misi yang harus diemban oleh Ray sebagai seorang Bima. 

"Eh, Kak," Kali ini Reza yang mengagetkan Ray. "Kok melamun? Lihat Rena, kok sampai sebegitunya? Jangan bilang ke aku, kakakku ini naksir Rena?"

Ray terbangun. Wajahnya memerah. Selain oleh karena Reza, itu juga karena ada suara yang melantunkan lagu aneh.

... 
Hadirmu membawa hati yang rapuh
Hangatkan jiwa yang beku
Untuk kembali bertahan lagi
Diriku hampir lelah 'tuk mencari
Di mana cinta itu berarti
Untuk jiwa yang sendiri
Hooo...
Berharap takdirmu kan menuntunku
Temani jasad yang layu raga yang terkikis oleh waktu
...
Hatiku kini dambakan kehadiranmu
Dan aku yang terbelenggu
Tak lagi berhenti mencari
Kembali tuk bertahan lagi
...

"Apa sih kamu ini, Reza? Aku cuma teringat sama Ayah dan Ibu saja kok."

"Ingat Ayah sama Ibu, kok sampai merah tuh pipi-pipinya?" sindir Reza terkekeh.

"Kalau misalnya aku naksir Rena, kamu mau apa, Reza?" tantang Ray sambil nyengir.

Dari balik dinding, ternyata Rena belum pergi begitu jauh. Tanpa sepengetahuan Ray dan Reza, Rena tersenyum dan menundukan kepala seraya berusaha agar wajahnya tidak semakin merah lagi. Rena pun tenggelam dalam suatu rasa aneh. Saking tenggelamnya, Rena tak sadar tengah diamati oleh Randy yang juga mengamati kelakuan Ray dan Reza. Dalam alam pikiran Randy, seperti ada cinta terbit di dalam rumahnya. Harus Randy akui, sejak ada Ray, Rena sangat jauh berubah. Walau tetap saja usil, Rena tak lagi sosok yang suka bermuram durja. Senyum selalu menghiasi wajah manis Rena. 






No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^