Friday, July 14, 2017

ANOTHER FICTION: Mikhail, Sosok Misterius Kepunyaanku







* Terimakasih untuk Girl's Generation atas "Galaxy Supernova" serta "Gee" yang mereka populerkan beberapa tahun silam.














Halo, para pembaca! Seperti janjiku yang sudah-sudah, aku mau menceritakan kisah asmaraku dengan 'dia'. Yah, si 'dia'. 

Namanya Mikhail. Dia itu malaikat kesayanganku. Laki-laki yang amat sangat kucintai di alam semesta ini. Aku sangat mencintainya. Dada ini selalu berkecamuk. Rasa-rasanya jantung ini mau copot saja. Sampai-sampai aku tak bisa bernapas. Semuanya karena pemuda bernama Mikhail tersebut. 

Aku sungguh dibutakan oleh pesonanya. Walaupun aku tak tahu kenapa Mikhail jadi terlihat tampan di mataku. Beberapa temanku mengejekku karena keyakinan yang aku miliki. Kata mereka: "Yang lebih ganteng kan banyak?" Aku tak bisa menjawab. Bahkan, beberapa perempuan yang pernah mengenal dan masuk ke dalam hidup Mikhail pun sama. Kata salah satu dari mereka: "Entahlah, aku juga nggak tahu yah. Cowokmu itu kayaknya memiliki sesuatu yang nggak dimiliki cowok-cowok lainnya. Tiap dia lagi duduk di pojok kelas, nggak tahu kenapa aku penasaran aja sama isi pikirannya. Cowok itu, menurutku, kayak sebuah misteri ilahi aja."

Jangan tanyakan aku panas atau tidak. Yang jelas, aku sangat panas mendengar perempuan lain memuji-muji Mikhail sampai sebegitunya. Jujur,... (si penulis berhenti menulis dan memerah wajahnya) hanya aku yang boleh memuji-mujinya. Siapa juga perempuan bernama Amelia itu. Dia kan hanya bagian dari masa lalu Mikhail. 

Mikhail Natalius. Pemuda itu sungguh bagikan sebuah matahari terbit untukku secara pribadi. Hati ini mendadak memompa tiap aliran darah dengan cepatnya. Pernah karena memikirkannya, aku tak bisa tidur di malam harinya. Aku merasa juga aku ini seorang yang bodoh. Yah hanya karena aku hanya memandanginya di mata, hati, dan pikiranku. Aku juga sangat malu waktu Mikhail mendapatiku tengah memandangi dirinya sangat lama; juga sewaktu aku terus menerus menyebut namanya secara refleks.

Aku tertangkap olehnya pada pandangan pertama. Masih terngiang sewaktu aku mengenalnya. Rasanya.... pertemuan... terasa begitu cepat saja. Sampai aku tak bisa menangkap betapa sempurna parasnya. Aroma tubuhnya, kerlingan matanya, caranya bertutur, kemisteriusan dirinya, gerak-geriknya,... semua itu membuatku tak bisa berkata-kata. Aku ingat, aku sangat malu, bahkan untuk sekadar menyapa sapaannya balik. Aku malah main pergi begitu saja. Kenapa saat itu aku tak memiliki cukup keberanian untuk berkomunikasi secara baik-baik dan penuh kesopanan dengannya? Kenapa, Ya Tuhan? 

Aku ini bodoh! 

Yah, aku ini hanyalah seorang bodoh. Pertemuan pertama yang kusia-siakan begitu saja. Aku lebih memilih untuk larut dalam kata 'gengsi' dan 'malu'. Semenjak itu, beberapa hari kemudian, foto-foto Mikhail selalu kupandangi. Tak menyangka aku, dirinya begitu memujaku. Mikhail sangat antusias dengan segala masa laluku. Keingintahuannya sangat luar biasa. Walau aku merasa dia pasti suka mengejekku karena beberapa hal tak enak yang pernah kualami. 

Pernah tanpa sengaja aku kedapatan tengah memelototi tiap fotomu yang kusimpan di ponselku. Langsung saja tiap orang di sekolah waktu itu membicarakanku. Kamu itu sebetulnya siapa, Mikhail? Tak bolehkah aku jatuh cinta sama kamu; seolah-olah kamu itu seseorang di muka bumi ini yang tak boleh disukai? Bunda sampai heran kenapa tiada henti aku menyebut-nyebut nama 'Mikhail'. Goda ibu, "Cie, anak Bunda yang lagi kasmaran,"

Karena itulah aku merasa kamu itu lelaki ajaib, yang melancarkan segala triknya padaku, sehingga aku perlahan jadi selalu memikirkan, membayangkan, dan mengkhawatirkanmu. Kalau bukan karena itulah, aku dan kamu tidaklah mungkin jadi pusat perhatian banyak orang. Sepertinya segenap mata di alam semesta mendadak teralih ke kita berdua. Mungkin di mata mereka, aku dan kamu, Anisah dan Mikhail, seperti sebuah komet Halley yang jatuh tiap 76 tahun sekali. 

Mikhail itu juga sangat misterius. Konon, kaum lelaki itu memang sudah terkenal misterius bagi kaum perempuan. Namun, Mikhail yang paling sangat misterius. Aku tak tahu alasannya kenapa mendadak menutup akun Twitter kepunyaannya. Padahal setahuku--untuk kaum laki-laki--main Twitter itu sangat perlu. Apalagi kamu itu kan pendiam; lebih pendiam daripada para lelaki pendiam. Aku pancing pun, jawabmu bisa seabad. Eh tapi kamu itu pendiam atau pemalu sih, Mikhail?

Eh maaf, para pembaca. Aku jadi merasa tulisanku ini ditujukan buat Mikhail. Padahal kan bukan hanya buat Mikhail. Tapi bukankah rasa cinta itu bisa membuat kita jadi seperti itu? Apapun yang kita perbuat itu selalu saja buat seseorang yang sangat kita cintai. 

Hufft! Mikhail sungguh lelaki pendiam yang tak bisa aku duga sama sekali. Dia sama sekali tak terduga. Pikirannya kadang suka aneh-aneh, walau sebagian besar memang benar. Lelaki paling manis dan imut yang aku pernah temui sepanjang hidupku. Matanya seperti sebongkah permata. Bersama dirinya, aku yakin aku bisa mengubah dunia ini. Mikhail itu bagaikan sesosok mafia yang sangat berkharisma, yang membuat orang-orang sulit mengabaikan setiap pesonanya. 

Mikhail... kalau kamu baca tulisanku ini, percayakah kamu terhadap situasi ini? Inilah yang terjadi pada kita sekarang ini. Aku merasa kita berdua seperti tengah menjadi bahan pergunjingan dan gosip sealam-semesta ini. Apa-apa,--selalu kita yang dibicarakan. Aku--Anisah, kamu--Mikhail. 

***** 

Tengah malam Anisah ditelepon. Lelaki yang meneleponnya sangat kesal karena segala pesannya seringkali pending. Ini pun panggilan yang kedua puluh lima kali, baru diangkat oleh Anisah. Raung si lelaki: "Apa maksudmu dengan tulisanmu tersebut? Kamu lagi nyindir aku? Dasar kamu, selalu aja kayak gitu! Aku kan pernah bilang, tolong rahasiakan, kenapa malah ditulis di internet?"

Dasar Mikhail! Sudah anak gadis orang ditelepon di tengah malam, lalu  mengirimkannya banyak pesan elektronik (yang membuat beberapa orang ikut membombardir Anisah dengan pesan juga), eh Anisah malah disemprot. Tak bisakah Mikhail belajar bagaimana memperlakukan perempuan dengan sangat anggun? Tidak diajarkah soal sopan santun dan etika dari orangtuanya? Tak bisakah Mikhail tahu bagaimana perasaan Anisah saat disemprot dan diberikan pesan-pesan seperti itu (dan betapa mengganggunya pesan-pesan yang datang setelah pesan-pesan si lelaki itu)? Saat itu, karena itulah, Anisah bertanya-tanya, kalau betulan cinta, kenapa bertingkah seperti itu? 

"I-i-iya, aku minta maaf," kata Anisah gelagapan. Beberapa menit kemudian Anisah tersentak dan berujar, "Kamu tahu dari mana soal tulisanku itu, Mikhail? Kan aku gembok dan cuma orang-orang tertentu aja yang bisa baca."

Skak mat. Mikhail mati kutu. Bingung ia, harus jawab seperti apa.

"Halo... halo... halo... kok diam, Mikhail?" tanya Anisah di seberang sana dengan mimik bingung. 

Jawab Mikhail: "Ah nggak kenapa-napa. Bukan apa-apa. Maaf yah. Ya udah, kamu tidur yang nyenyak yah. Mimpi indah, Anisah!" 

Anisah jadi semakin bingung saja. Benar kata Amelia, Mikhail memang sebuah misteri ilahi. 






No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^