Wednesday, January 11, 2017

Satria & Supernova



Bagi yang memiliki pengamatan jeli, ada sesosok wajah raksasa nan misterius di balik ledakan supernova tersebut. Mungkinkah itu Sang Pencipta?








Supernova adalah ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak daripada nova, yang mulai terjadi sejak 1987. Konon itu benar-benar berakhir di tahun 1998, yang ditandai dengan kemunculan gerhana, komet/meteor, dan petir mahadahsyat di Bumi. Ada yang bilang juga, supernova ialah kondisi di mana sesuatu yang sangat agung tengah datang ke alam semesta, khususnya Bumi. Beberapa orang bahkan berani menengarai bahwa beberapa orang tengah dikirim Sang Pencipta untuk mempersiapkan rencana-Nya. Segala pewahyuan (revelation) dan nubuatan (propechy) dari Sang Pencipta harus tergenapi. Tidak bisa tidak. Dan, dari beberapa orang itulah, ada sepasang kekasih yang turun pula. 

Seorang pria dan seorang wanita turun dari surga menuju Bumi yang tandus. Banyak legenda seputar pasangan tersebut di beberapa kawasan, wilayah, maupun negara. Sepasang kekasih yang (mungkin) jadi sang pembuka jalan.

Tapi bukan itu intinya. Bukan di sepasang kekasih itu, melainkan di dalam diri seorang satria yang tengah ditunggu-tunggu oleh seluruh warga alam semesta setelah sekian lama. Satria itu konon lahir di saat peristiwa supernova terjadi di alam semesta. Kemunculannya sangat tidak disukai juga. Beberapa orang ingin menghabisi nyawa sang satria malah saat sang satria masih kanak-kanak.

Sang Satria
[Terimakasih untuk Tetra Fang atas segala steganos/kode dalam lagunya yang berjudul "Supernova"]
Emosi sang satria bergulung-gulung dahsyat dalam tubuhnya. Tak sabar rasanya untuk menyingkap tirai itu. Dia sendiri--yang memiliki rasa keadilan maha tinggi--yang harus memulai babak baru alam semesta dalam mempersiapkan kedatangan Sang Pencipta. Baginya, mundur itu bukan alasan. Yah walaupun dia pernah tersirat untuk menyerah. Namun dalam dirinya, dia tak boleh menyerah. Ada satu misi khusus yang dipegangnya dari Sang Pencipta. 

Banyak yang menyangkanya pembunuh. Tapi dia memilih mengabaikannya. "Tutup kuping aja," begitu katanya. Sekelebat bayangan muncul di pikirannya. Dia sangat terganggu. Sebab bayangan itu kadang muncul, kadang meredup. Yang dia tahu, rasa keadilan itu, juga rasa ingin melindungi mereka yang tertindas. 

"Beritahu aku tentang takdir kehidupan ini," katanya dengan penuh kepercayaan diri. Kobaran dalam raga tak bisa dicegah. Semangat bertempurnya tak pernah surut, mau bagaimanapun musuh-musuhnya menyerangnya. Daya tahan dan daya semangatnya sangat luar biasa. Tak ada ksatria yang seperti dia di muka bumi ini. Bahka  seorang samurai yang katanya berani mati pun bukan tandingannya. Itulah yang membakar segala keraguan dalam hatinya. 

Satria itu mulai melupakan segala ketakutan yang dikirimkan musuh-musuhnya. Sensasi adalah hal biasa dalam hidupnya. Dia sangat luar biasa. Seorang satria  yang tak seorang pun pernah mengetahuinya, bahwa dirinya sudah sangat berevolusi menjadi sosok satria tak ada tandingannya. Kekuatan sangat besar dalam dirinya tengah dan sudah sadar--yang menunggu saatnya tiba. Bisa dibilang itu hari penghakiman (temporer).

Dalam menghadapi hari-hari ke depan, satria itu tak pernah takut. Demi sesuatu, segala penyesalan ia tinggalkan. Hasrat ingin melindunginya sangat tinggi, khususnya melindungi masa depan orang-orang yang sangat ia cintai. Hidupnya sudah sepenuhnya berubah sejak saat itu. Dan, lihatlah, takdir sangat berpacu cepat.

Dampak luar biasa di kala kemunculannya. Banyak keajaiban terjadi. Mukjizat bukan hal aneh. Nama Sang Pencipta makin didengungkan dan dipuji. Di saat itulah, tak ada seorang pun yang bisa mengubah dan melawannya. Larinya sangat kencang; kekuatan tiada tara. Transformasi dunia terjadi (walau untuk beberapa orang, itu pemberontakan). Bintang kecil dunia telah lahir. Sang pangeran matahari, sang satria maha dahsyat! Yah sepertinya sudah tak mungkin lagi untuk satria itu mengelak, menyangkal, apalagi kabur dari takdir yang seharusnya. 

Di dalam kegelapan yang tak dapat dimasuki, seolah menciptakan terang (yang masih lumpuh), satria itu sudah hadir di tengah-tengah kita semua.