Tuesday, November 8, 2016

#TenJ: Terhambat




Diedit dari Sichuan Food
[Tiara]
Sssttt... jangan bilang-bilang yah. Ini rahasia antara aku dan kalian semua. Eh tapi kalau sudah aku tulis di dunia maya, biasanya kan cepat tersebar ke mana-mana kan yah. Haha. 

Tapi, bodoh amat.



Jadi begini, para pembaca budiman. Namaku Tiara. Tiara Miranda. Atau kepanjangannya, Isabel Tiara Miranda de Lourenco. Kalau baca namaku, kalian pasti mengira aku ini bule, keturunan Portugal. Tidak, tidak, kalian salah. Aku masih orang Indonesia, lahir di bulan Denpasar (haha, aku menyitir lagu yang hits di awal 90-an). Hanya saja...

...yah, hanya saja, aku punya dua paspor, dua kewarganegaraan: Indonesia dan Timor Leste. "Kok bisa?"  Pasti kalian akan bertanya-tanya seperti itu. Yah wajar, aku paham. Sebab Indonesia tidak mengijinkan dwikewarganegaraan. Sementara aku sudah berusia 28 tahun. 

Tapi itu ada alasan--atau ceritanya, Teman. Jadi awalnya itu aku dan keluarga tinggal di Timor Leste, di sebuah kota kecil bernama Los Palos. Di situ mayoritas penduduknya berbahasa Tetun bercampur dengan Portugis. Walau orang-orang berdialek Portugis itu banyak di sana. 

Aku lahir saat tahun baru 1988. Tak banyak manusia bisa lahir tepat lonceng pergantian tahun dibunyikan. Mâe melahirkannya secara caesar di sebuah rumah sakit mewah di Dili. Tadinya sih, Mâe tak ingin. Dia selalu bilang pada Pai kalau mau melahirkan secara normal saja. Namun itu dia. Masalahnya, aku versi bayi seperti menolak untuk keluar. Yang membidani saja sampai kewalahan. Empat jam tak bisa dikeluarkan. Karena itulah, karena kondisinya genting, Mâe langsung dilarikan ke rumah sakit menjelang pergantian tahun. Terbayang kan, bagaimana repotnya satu keluarga besar Miranda dan De Lourenco. Mereka sampai tak bisa menikmati misa pergantian tahun dengan tenang. Tak bisa pula menyaksikan pesta kembang api, juga sekadar pesta barbecue. 

Kok bisa repot begitu? Itu ada alasannya pula. Sebab Mâe itu anak tunggal dari seorang diplomat Indonesia berdarah Timor-Portugal, yang kini lebih memilih tinggal di Fatimah, Portugal. Opa Fernando dulu saja berat--katanya--melepas Mâe Christabelle ke pelukan Pai Paulo, yang datang dari satu keluarga beranak sembilan (walau Pai itu anak kesayangan di keluarganya). Kabarnya pula, keluarga Miranda dan De Lourenco sempat bersitegang. Opa Fernando tidak suka melihat keluarga menantunya yang hanya seorang perajin Tetun. Tapi akhirnya aku bisa ada juga setelah lima tahun pernikahan Pai dan Mâe (yang Mâe sempat diminta menceraikan Pai dengan tuduhan Pai mandul).

Lalu, singkat cerita, lompat saja yah, tahun 1998 kan Indonesia tengah mengalami kontemplasi politik parah. Banyak investor asing harus meninggalkan Indonesia akibat itu. Karena itulah, Opa Fernando bergegas meninggalkan Surabaya (saat itu keluargaku masih tinggal di sana, selain di Bali) menuju Dili. Hingga salah seorang presiden Indonesia melakukan kekeliruan fatal. Dia memberikan kesempatan referendum bagi rakyat Timor Leste. Itulah juga yang menyebabkan Opa Fernando bersitegang dengan Pai Paulo. Opa Fernando itu ternyata, baru aku tahu akhir-akhir ini, seorang pro Fretilin. Sementara keluarga Pai itu pro bersatunya Timor Leste ke pangkuan bumi pertiwi. 

Mâe sempat diminta pindah dan menjadi warga negara Timor Leste. Tapi Mâe tak mau dengan alasan sudah kadung cinta Indonesia. Walaupun demikian, demi menyenangkan Opa Paulo, kewarganegaraan itu diambil diam-diam bersama aku dan kedua adik kembarku. Hanya saja kedua adikku sudah melepasnya. Timon melepasnya setelah menikahi seorang gadis Rusia bernama Anastasia. Sekarang Timon tengah tinggal di sebuah kota kecil dekat Moskow. Sementara adik satunya lagi, Tito, melepaskannya demi sebuah green card dari negeri Maple. Maksudku, Kanada. Tito kini tinggal di daerah francophone. Akhir tahun ini, Tito akan menikahi Marie, gadis kelahiran Quebec. 

Kompleks yah keluarga besar aku. Ada orang Indonesia, Timor Leste, Portugal, Kanada, dan Rusia. Bahkan menelisik lebih jauh lagi, aku memiliki paman berkewarganegaraan Italia dan Spanyol. Itu dari keluarga besar De Lourenco, tentunya. Saking kompleks dan multikultural-nya, aku sempat menggalau. Bingung apakah sebaiknya kulepaskan kewarganegaraan Timor Leste ini, karena takut pasti akan bermasalah. Tapi Pai melarang. Selain menjaga respek keluarga De Lourenco, pasti suatu saat akan berguna. Yah seperti saat hendak ke Los Palos. Aku tak perlu repot mengurus visa dan segala tetek bengeknya. 

Repotnya, sekarang ini, saat akan menikahi Januar, lelaki Indonesia keturunan Tionghoa. Dari situlah, saat keceplosan curhat, salah satu romo mengingatkan bahwa di Indonesia untuk menikah itu, tidak boleh ada yang berdwikewarganegaraan. Aku disuruh memilih untuk ikut Indonesia atau Timor Leste. Keluarga De Lourenco atau Januar Hastabrata. Itu pilihan yang amat sulit. 

Aku sudah berjanji, setelah kedua adikku melepasnya lebih dulu, untuk tidak ikut-ikutan. Apalagi aku anak kesayangan Opa Fernando. Oma Mariana dulu sering membuatkanku egg tart ala Lisbon. Wuih, rasanya tak ada yang bisa menandingi. 

Tapi aku sangat menyayangi Januar. Dia pria yang sangat spesial. Tak ada pria mana pun yang sanggup mengalahkan jiwa humorisnya. Walau jauh lebih muda dariku, aku banyak belajar dari dia. Seperti dia sering mengajariku bahasa Jepang, yang dipelajarinya saat kuliah kedokteran di sana. Istilah-istilah medis juga sering ia terangkan padaku. Meskipun kami sering bertengkar, tak butuh lama buat kami cepat rujuk. Mau dicari sampai Pulau Api di ujung benua Amerika pun, pria seperti Januar--menurutku--sulit ditemukan. 

Aku bingung harus memilih. De Lourenco atau Januar Hastabrata? Indonesia atau Timor Leste? 

*****

[Januar]
Kali pertama mengenalnya, aku sama sekali tak menyangka perempuanku ini sungguh absurd. Iya, Tiara itu sungguh seperti sebuah lukisan abstrak. Dia mirip seperti salah satu fresko Leonardo Da Vinci. Berantakan, tapi terlihat indah. Aneh. Absurd. Itulah Tiara-ku, si gadis aneh nan absurd nan mempesona.

Kenapa kubilang absurd? Pertama, latar belakang keluarga besarnya. Ada yang berkewarganegaraan Portugal, ada juga yang orang Timor Leste, Kanada, hingga Rusia. Bahkan kelahiran Tiara itu, loh. Bagaikan Tuhan sudah memiliki rancangan tersendiri terhadap dirinya. Bayangkan  saja, tak semua orang bisa lahir tepat pada saat bel pergantian tahun berbunyi. Satu keluarga besar ibunya ketar-ketir karena Tiara bayi ogah keluar dari rahim Mâe-nya. Sampai harus pindah rumah sakit pula.

Haha. Aku mau tergelak selebar-lebarnya tiap mengingat peristiwa hidup yang diceritakannya. Yah tapi aku juga sama seperti dia. Bedanya, aku lahir tepat pada saat lonceng natal berbunyi. Alias aku lahir pada 25 Desember 1995. Kata Mami-ku, saat aku lahir, Papi tengah berada di luar ruang persalinan. Tengah menonton acara natal di televisi, yang mengalun irama lagu "Selamat-Selamat Datang". Lagu itulah yang samar-samar didengar Mami saat merintih kesakitan untuk mengeluarkanku dari rahimnya.

Itulah saat aku lahir berdasarkan penuturan kedua orangtuaku.

Kalau secara garis besar keluarga, aku pun tak kalah kompleks. Aku juga dari keluarga multikultural. Bedanya masih dalam tahap nasional, belum sampai pada tahap internasional macam Tiara.

Papiku itu orang Lasem, yang sejak era Hindu-Buddha, sudah dikenal sebagai center-spot-nya etnis Tionghoa. Mamiku orang Batak. Tidak Batak murni sih. Sebab selain Batak, Mami juga ada darah Melayu. Lalu, adik Mami--ada yang menikahi perempuan Bali. Aku juga punya Om asal Ambon dan Papua. Tak kalah, bukan?

Oh, kalau sempat ada gonjang-ganjing politik di keluarga besar Tiara, aku pun sama. Keluarga besar Papi sempat dituduh pengikut paham komunisme, alias PKI. Kata Papi, itu tak benar. Opa Buyut hanya difitnah. Jadi ceritanya begini. Opa Buyut itu kan seorang pedagang kain yang dagangannya laris hingga Bombay. Lalu, suatu ketika, dia menerima orderan secara intens dari orang-orang beraliran kiri. Kan wajar pedagang menjalin hubungan baik dengan pembelinya. Eh yang ada malah saat komunis tengah diberantas, Opa Buyut dituduh komunis gara-gara sering berdagang dengan orang-orang yang benar-benar beraliran kiri. Fitnahan itulah yang membuat beberapa keturunan dikucilkan masyarakat. Opa Buyut ditangkap secara diam-diam, lalu dipenjarakan di tempat tersembunyi. Kabarnya Opa Buyut mati dalam eksekusi.

Ah sudahlah. Kalau ingat itu, aku jadi geram sendiri sama orang-orang yang seenaknya menghasut. Karena ternyata hasutan mereka hanya berdasarkan yang kelihatan oleh mata. Aslinya, Opa Buyut malah jauh dari kesan seorang komunis. Dia itu cukup religius. Ibadah minggunya tidak pernah bolong-bolong. Juga sangat menghargai leluhur dengan cara bakar hio khusus di sebuah klenteng. Yang begitu seorang komunis? Bukankah komunis itu hampir sama dengan ateis?

Aku terdiam. Kembali aku menatap sang romo dan Tiara. Si romo terlalu bawel. Sampai-sampai aku jadi terkenang soal keluarga besar Papi-ku.

Yang jelas aku kecewa karena pernikahanku dengan Tiara harus tertunda sampai Tiara bisa memutuskan. Yah dia harus bisa memutuskan mau ikut kewarganegaraan mana: Indonesia atau Timor Leste. Benar kata romo, dalam satu bahtera pernikahan, tidak boleh ada dua nahkoda sekaligus. Bukankah akan memiliki banyak kesulitan jika pasangan kita memiliki dua kewarganegaraan di saat negara yang bersangkutan tidak mengijinkan hal tersebut? Bagaimana dengan calon anak aku dan Tiara nanti? Atau saat mengurus surat-surat penting?

Dan, kenapa juga Tiara merahasiakan semua ini dari aku? Katanya sayang, tapi rahasia-rahasiaan? Mana yang dirahasiakan itu, sesuatu yang cukup vital.

Tapi aku tidak boleh egois. Memang Tiara yang lebih tua. Namun aku kan yang akan jadi imam dan nahkoda kapalnya. Sebagai laki-laki, aku juga harus mementingkan perasaan perempuanku. Pasti ada alasannya kenapa dia selama ini menyembunyikan hal sepenting itu. Pasti.


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^