Thursday, November 17, 2016

#TenJ Kebimbangan


[Tiara]
Hei, para pembaca. Kita lanjutkan lagi ceritanya. Kalian pasti penasaran dengan kelanjutannya, kan. Walau aku... agak jengah. Aku sedih. Itu sangat menyayat hati.



Aku kesal dengan Januar. Kok dia tidak bisa menghargai keputusanku? Lalu, aku harus mengapakan janjiku dengan Opa-ku? Aku tidak mau dianggap anak durhaka. Apalagi kedua adikku sebelumnya tidak bisa memenuhi janjinya.

Saking stressnya dengan Januar, Mâe menyarankanku untuk jalan-jalan ke tempat Tito. Ke Kanada, dong.

Di Kanada, masalahku juga tak kelar-kelar. Iya, aku tahu. Kalau mau menyelesaikan masalah, yah harus mendekati inti masalah, bukan menjauhinya. Di beberapa kota, tak ada solusinya. Yang ada Tito malah bikin aku jengkel. Masa dia menyarankanku untuk meninggalkan saja Januar?

"Sudahlah, Kak, tinggalkan saja kalau begitu. Lagian Kak Tiara kan anak kesayangan Opa. Apa Opa mau mendapati keputusan Kakak untuk melepaskan kewarganegaraan Timor Leste? Terus, sebelum bertemu Januar, sepertinya semua tak ada masalah. Memang pernah Kakak mendapat masalah dengan dwikewarganegaraan itu?"

Saat itu, aku hanya mengangguk.

"Lebih baik Kakak cari laki-laki lain saja. Banyak kok, yang bisa menggantikan Januar. Apalagi di Kanada ini. Kakak mau pilih yang mana?" Tito lalu menjejerkan padaku beberapa kenalannya padaku. "Ini, lihat. Ada Jean, Louie, Yves, atau yang ini, Henry."

Di kepalaku mendadak segala kepalanya berubah menjadi kepala Januar. Aduh, mau pusing aku rasanya. Aku sudah kadung cinta Januar. Tapi aku sayang Opa. Aku selalu berusaha menjaga respek Lourenco.

Ah, kenapa juga Opa harus memaksakan kehendaknya padaku? Dari awal aku juga sebetulnya berat hidup di bawah tekanan karena dwikewarganegaraan yang aku miliki. Memang orang-orang suruhan Opa selalu bisa mengatasi segala ketakutanku. Tapi sampai kapan? Tanpa melibatkan Januar pun, kelak bakal ketahuan pemerintah Indonesia jika aku memiliki dua kewarganegaraan: Indonesia dan Timor Leste.

Duh, kepalaku jadi pusing? Bingung juga untuk memilih. Di sana Januar butuh kepastian. Kuakui, selama menjalin hubungan khusus dengan Januar, tak ada masalah dengan dwikewarganegaraan tersebut. Segalanya baik-baik saja. Hingga...

...yah hingga saat hari H-nya tiba. Untuk menikah, harus punya satu kewarganegaraan. Tidak boleh dua. Itu haram hukumnya di Indonesia. Ilegal.

"Leave that boy. Kak Tiara itu anak kesayangan Opa, ingat itu. Belum lagi satu keluarga besar Lourenco berharap banyak Kak Tiara bisa mengembangkan segala usaha Lourenco yang sempat jatuh. Kakak kan juga sangat disayang anggota keluarga Lourenco lainnya. Pasti banyak yang tidak suka jika Kak Tiara melepaskan kewarganegaraan Timor Leste itu. Nanti pasti ada yang ngomong 'Tiara, kenapa? Apa Tiara tidak sayang lagi?'" Adikku langsung tertawa.

Jadi tambah jengkel aku mendengarnya. Ini semua kan gara-gara kalian berdua. Andai saja kalian tidak melangkahiku. Kalau saja tak ada satu pun dari kalian berdua yang melepas kewarganegaraan Timor Leste sebelum aku, pasti masalahku tidak seserius ini. Lagipula Opa ada-ada saja. Memang kenapa dengan melepas kewarganegaraan Timor Leste? Toh walau aku hanya berkewarganegaraan Indonesia saja, aku kan bisa tetap mengusahakan menjaga nama baik Lourenco di Timor Leste sana. Bagiku, tak apa-apa juga untuk bepergian ke sana seperti warga-warga lainnya. Yah walau itu akan sangat tidak efisien dan melelahkan jika melihat birokrasi yang ada. Apalagi segala sesuatunya sudah diurus orang-orangnya Opa selama ini.

Tapi aku kasihan dengan Januar. Aku jadi tambah tak enak hati sudah membohonginya. Banyak sekali yang aku rahasiakan darinya. Padahal dia sudah sangat terbuka denganku. Akulah juga yang mengangkat semangatnya sewaktu mendapatkan cibiran dari banyak orang karena latar belakang keluarga Papi-nya.

*****

[Januar]
Aduh. Beginikah cara wanita dewasa menyelesaikan persoalan? Sekarang dia pergi meninggalkanku. Asyik begitu saja berpelesiran ke Kanada sementara masalah serius masih menunggu untuk diselesaikan. Enak sekali caranya itu. 

Ah, tapi Tiara memang seperti itu. Ada masalah, tapi dia seperti ogah untuk menyelesaikannya. Buntut-buntutnya, kalau bukan aku, yah saudara-saudara atau teman-temannya, yang menyelesaikannya. Bagaimanapun aku masih ingat sewaktu dia bermasalah dengan utang pembelian mobil mewah. Kalau bukan karena aku dan teman-temannya, tak tahulah jadi apa dia. 

Ingin rasanya aku bilang seperti ini. Hey Tiara, masalah itu bukan untuk dihindari, tapi untuk diselesaikan. Kalau menghindar terus, kapan pikiranmu itu dewasa? Kamu itu lebih tua dariku. Mau sampai kapan berpikiran anak-anak melulu? 

Tapi percuma. Orangnya saja asyik berpelesiran ke Kanada. Katanya, "Mau ngilangin stress dulu. Nanti sepulang dari Kanada, pasti deh." Benarkah itu? Dulu dia beberapa kali pernah berjanji, tapi tak ditepati. Lalu aku hanya bisa gigit jari. Walau lebih muda, aku kan laki-lakinya. Banyak yang bilang, pihak laki-lakinya harus lebih memahami pihak perempuannya. Malu juga dilihat orang, aku--sebagai pihak laki-laki--malah yang memulai gontok-gontokan dengan perempuan. Lagipula dalam tiap pertengkaran, pihak lelakilah yang selalu disalahkan. Padahal jelas-jelas wanitanya yang bersalah. 

Sekarang aku yang harus menanggung malu semua ini. Tiara pergi dan tak tahu kapan balik ke Indonesia. Sudah semingguan ini, tiap Papi atau Mami, aku selalu jawab, "Lagi diurus," Entah apa lagi alasan yang aku harus keluarkan. Aku malas harus berbohong lagi. Apa sebaiknya aku jujur saja. Kukatakan saja, ada masalah serius. Ternyata Tiara merahasiakan sesuatu amat penting dariku. Sudah begitu, bukannya segera diselesaikan, dia malah pergi ke Kanada. Sehingga soal itu, harus ditunda dulu. 

Hmmm, aku bergeming. Jam dinding yang oleh-oleh dari Singapore, lama ku terpekur ke arahnya. Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Papi dan Mami ingin sekali melihat seperti apa rupa Tiara. Ingin melihat langsung seperti apa kepribadian Tiara. Benarkah Tiara cocok denganku? Maklum saja aku dan Tiara lebih banyak berhubungan di luar rumah. Hampir tak pernah aku membawa Tiara ke rumah, khususnya ke hadapan kedua orangtuaku. 

Tiap ku-BBM, balasannya selalu tak enak di hati. Yah seperti "Nanti ya, aku lagi ngobrol sama seseorang."; Kamu tuh jangan banyak gaya dulu-lah. Masalahnya ini juga lagi aku pikirin. Nggak segampang itu. Ini juga lagi didiskusiin sama adik aku."; atau "Pusing aku ngadepin kamu, Januar. Ngertiin aku juga, dong." 

Lah, bukankah tiap ada permasalahan di antara kami berdua, aku yang selalu coba memahami Tiara? Tiap ada permasalahan di antara kami berdua, selalu aku yang dipaksa melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tiara. Tiara, Tiara, Tiara. Kapan dia pernah bisa memahamiku, melihat dari sudut pandangku, mengerti situasi dan kondisiku, maupun sungguh-sungguh mendengarkanku? 

Apa susahnya memutuskan seperti yang aku mau? Melanggar janji ke seorang kakek juga tak membuat kita jadi seorang pendosa yang lalu harus dilemparkan ke dalam api neraka. Aku rasa Opa-nya bakal mengerti kalau dijelaskan baik-baik. Demi kebahagiaan cucu kesayangannya, pasti dia bakal menerima keputusan Tiara melepaskan kewarganegaraan Timor Leste. Soal-soal lainnya, sebelum dia berangkat ke Kanada, aku sudah bilang ke Tiara, itu urusan aku dan keluargaku. Bagiannya hanya melepaskan kewarganegaraan itu. Eh Tiara malah mencak-mencak. Katanya, tak segampang itu. Tiara juga bilang keberlangsungan aset keluarga Lourenco itu bagaimana. Untuk itu, aku juga sudah bilang untuk tenang saja. Kalau Tiara mau, aku punya banyak kenalan yang bisa mengurus segalanya itu, setidaknya agar bisa balik nama dan sah hukumnya. Tapi Tiara seolah tak mempercayai segala saran dan masukanku. Pokoknya segalanya harus datang dari kepala Tiara. 

Entahlah. Aku bingung sekarang harus bagaimana. Untuk yang satu itu, harus tertunda. Mau tak mau, aku harus jujur bilang saja segala permasalahannya, detail demi detail. Biarkan orangtua dan keluargaku yang menilai sendiri. Tak enak juga harus bohong terus menerus. 

Andai Tiara tahu bagaimana rasanya jadi seorang Januar. Aku ingin dia merasakan sehari saja jadi aku, yang terus menerus ditanyai kapan kubawa dirinya ke rumah (namun selalu urung karena segala kesibukan Tiara yang katanya tak bisa diganggu gugat). 

Sekarang aku harus bagaimana dengan pernikahan yang harus ditunda ini? 





No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^