Monday, November 21, 2016

SERIAL FAN FICT: Remi et Mattia - part 2



Pendahulu dari cerita yang ini: REMI ET MATTIA 1 



Yang manusia, (ki-ka) Vitalis dan Remi. Yang binatang, Capi (anjing putih dan bertopi), Dolce (pudel), Zerbino (berbulu gelap), dan Joli-Coueur (di pundak Vitalis).






[Berdasarkan novel Hector Malot]





[Remi]
Aku kira Vitalis sejahat Jerome. Nyatanya aku salah. Vitalis sungguh baiiiiiiiiiik......... sekali. Baru kali ini juga, aku bermain alat musik. Harpa, akordion, gitar, hingga piano. Seumur-umur aku baru menyentuh benda ini. Awalnya juga, aku takut Vitalis marah alat-alat musiknya aku mainkan seenaknya hingga rusak. Vitalis sama sekali tak marah. Dia malah tersenyum, lalu memangku dan mengajariku cara memainkan itu semua.

Oh ya, Vitalis memiliki empat hewan peliharaan. Itu tiga ekor anjing dan satu ekor monyet. Aku sempat takut melihat anjing-anjingnya. Takut menggigit. Habis yang satunya itu menyalak kencang sekali. Bagai mau menggigitku saja. Aku kan jadi takut. Untungnya Vitalis menenangkan anjing-anjingnya itu. Dia bilang mereka bukan peliharaan. Mereka itu sahabat sekaligus rekan mengamen Vitalis. Memangnya bisa anjing dan monyet jadi sahabat?

"Bisa, Remi," jawab Vitalis tersenyum. "Selama kita memberikan mereka perhatian, mereka akan jadi begitu memperhatikan kita. Mereka--Capi, Zerbino, Dolce--jauh lebih bersahabat daripada manusia-manusia itu." Kuperhatikan ke mana Vitalis memandang. Tampak beberapa orang berpakaian bagus-bagus tengah duduk di sebuah restoran mahal. Mereka asyik mengisap cerutunya seraya sesekali menciumi gadis muda nan cantik.  Aku balik memandang Vitalis. Dia menghela napas dan berkata, "Gadis-gadis itu perempuan-perempuan..."

Vitalis berhenti bicara. "...ah sudahlah. Kau tak perlu tahu. Kau masih terlalu kecil untuk mengetahuinya. Ayo, kita pergi dari sini. Kita cari tempat buat menginap."

(Tapi aku tetap penasaran dengan pria-pria paruh baya dan gadis-gadis muda tadi. Sepertinya bukan ayah-anak yah. Gadis-gadis itu juga berpakaian tak sewajarnya)

Aku hanya mengangguk. Joli-Couer, monyet kecil berwarna coklat tua yang berpakaian layaknya tentara, langsung loncat ke pundakku. Dia tersenyum seraya mencubit hidung. Auw, sakit. Vitalis tertawa. Capi, Zerbino, dan Dolce ikutan tertawa. Baru kali ini aku mendengar suara gonggongan anjing yang seperti orang tertawa. Aku pun ikutan tertawa.

"Oh yah, Remi, bagaimana pelajaran membacanya? Sudah bisa membaca huruf-huruf itu?" ujar Vitalis nyengir. Vitalis memang senang menggodaiku.

"Aduuuuh.... apa yah?" Aku mengerutkan kening. Rambutku mendadak jadi keriting. Aduh, itu huruf apa? A, bukan? Itu U, kan? Terus B, E, G,... satu lagi apa yah?

"Aubege..." Aku kesulitan membacanya.

"Auberge--losmen. Itu losmen, tempat orang menginap." ralat Vitalis sambil mengacak-acak rambutku. "Kau teruskan belajarnya. Membaca itu sangat penting. Kau tidak akan bisa ke mana-mana jika tidak bisa membaca. Dengan membiarkan dirimu tak bisa membaca, kau membiarkan dirimu terus dipermainkan oleh orang-orang sekitar. Kita boleh miskin, Remi. Tapi kita harus tetap pandai."

Omongan Vitalis sungguh berat sekali. Tapi itu terdengar sangat keren.

Oh, hari ini penghasilan Vitalis (dan aku) cukup banyak. Sehingga kami semua bisa menginap di sebuah losmen. Biasanya kami hanya tidur di luar dengan berselimutkan bulan dan bintang. Walau begitu, aku tetap senang sekali. Aku bisa menyaksikan banyak bintang, yang Vitalis akan memberitahukan padaku bintang apa saja. Ada orion maupun cassiopeia.

Untungnya juga, losmen ini memperbolehkan binatang masuk. Capi, Zerbino, Dolce, dan Joli-Coueur senang sekali. Suara gonggongan dan kikikan riuh sekali di telingaku. Mata Joli-Coueur sangat berbinar. Berkali-kali si cantik Dolce menggesek-gesekan ekornya ke kakiku. Itu tandanya dia tengah gembira sekali. Gantinya aku mengelus-elus lembut bulu-bulu keriting Dolce.

"Untung yah, Dolce," kataku tersenyum. "Oh yah, buang airnya di tempat-tempat yang sudah diberitahukan yah. Jangan sembarangan. Kasihan pengelola losmennya."

Vitalis tersenyum. Dia lalu membuka pintu kamar. Kami semua masuk. Aku dan Joli-Coueur langsung loncat ke atas salah satu tempat tidur. Sambil berebahan (yang Joli-Couer juga ikut memejamkan mata), mendadak kuteringat pada istri Jerome itu. Jerome memang jahat. Namun istrinya sungguh ibu sejati yang memperlakukanku seolah aku anak kandungnya. Sayang aku tak diberi kesempatan untuk pamitan padanya. Aku yakin suatu saat aku pasti bertemu lagi, lalu membuktikan padanya bahwa aku bukan Remi yang dulu, yang buta huruf dan lemah. Nanti aku akan kutunjukan keahlianku bermain harpa padanya. 






[Mattia]
Brengsek! Brengsek! Brengsek Garofoli itu! Seenaknya saja main pukul. Bukan salahku kalau aku hanya bisa mendapatkan segitu. Aku sudah melakukan sebaikku, tapi memang hari ini orang-orang sudah sangat waspada.

Saking kesalnya, aku menendang sepatu tepat ke arah lampu. Hampir saja.

"Hey, Frère. Hati-hati. Bisa kena marah si tua bangka sialan itu." semprot Louis nyalang. Louis ini adalah pimpinan kami. Serta merta aku menunduk. Tak ada yang berani melawannya. Bagi kami semua, Louis adalah seorang vice padrone, wakilnya Garofoli yang brengsek itu. Walau demikian, Louis yang sudah 17 ini tetap tak suka. Ketidaksukaan Louis semata ingin merebut posisi padrone dari Garofoli.

"Sekali lagi, kau berulah, kulaporkan kau pada Garofoli, biar diusir kau dari sini. Mau kau?" teriak Louis. Serta merta aku dan lainnya tenggelam dalam keheningan.

Setelah Louis pergi, kembali aku dan lainnya hiruk pikuk sama seperti ombak-ombak di perairan Mediterania. Rupanya kesenangan hari ini karena sebuah koran yang menampilkan seorang gadis kecil bermata kecil pula. Gadis kecil itu manis juga.

"Cantik juga," desisku sepelan mungkin. Ternyata Ferdinand, rekan setiaku ini mendengarnya. Dia tertawa beserta lainnya. Ferdinand yang paling pintar di antara lainnya. Konon, Ferdinand diculik Garofoli dari sebuah keluarga kaya di Monako. Tak heran, Ferdinand ialah satu dari sekian anak yang bisa baca-tulis.

"Haha... bisa juga kau menilai seorang gadis, Mattia. Namanya Ami Furushi. Dia datang dari timur jauh. China pastinya. Kau tahu China?"

Aku menggeleng. Yang kutahu itu hanyalah kota-kota di sekitarku. Entah itu Toulouse, Paris, Reims, Bordeaux, Monako, atau Korsika. China itu di mana lagian? Nama gadis itu juga aneh. Ami Furu... furu apa? Susah sekali menyebutnya.

"Tapi yang seperti Ami ini bukan seleraku, Mattia. Dia terlalu kurus. Matanya cekung sekali. Aku lebih suka yang pinggulnya besar, atau dadanya besar. Apalagi tahi lalat di pipi si Ami itu sungguh bikin Ami terlihat menakutkan."

"Tapi itu yang bikin Ami jadi manis sekali. Ditambah lagi, kedua lesung pipitnya itu. Comme joli!" seru Alain, yang paling pendek.

Aku setuju, namun hanya nyengir saja. Ada-ada saja. Wajar dong, Ami FuruFuru ini kan sebaya dengan aku dan lainnya. Jelas dadanya belum tumbuh. Aku saja yang buta huruf tahu soal itu. Dan, yang lainnya pun sepakat Ami FuruFuru ini sangat cantik. Aku saja senang melihatnya.

"Ami ini katanya tinggal tak jauh dari daerah sini. Ayahnya seorang pelaut, juga pedagang. Kalau mau berkenalan, aku bisa mengantar kalian semua ke sana. Tapi hati-hati yah." ujar Ferdinand.

"Kenapa, Frère? Kau ketahuan lagi yah?" Salah seorang anak bernama Jean-Marie meledek, yang langsung dibalas jitakan oleh Ferdinand dengan cengar-cengir.

Aku pun terbahak. Ferdinand memang paling cerdas. Tapi soal mencopet, dia kurang lihai dan lincah. Kaku sekali gerakannya. Walau demikian, dia sangat solider dan peduli dengan kami semua. Ferdinand pula yang menghibur dan menyemangatiku saat Garofoli atau Louis menghajarku. Dia pernah diam-diam memberiku makan saat aku disekap Garofoli di gudang.

Mataku terpejam. Kubuka mataku. Ternyata aku hanya terbuai masa lalu. Ferdinand Civac sudah pergi. Tempat tidurnya kosong. Lalu aku menatap ke luar jendela sembari berurai air mata. Kenapa satu persatu sahabatku harus pergi?

Dulu sekali Damien Lebrac yang meninggal akibat dipukuli terus menerus oleh Garofoli. Atau Tony, yang meninggal akibat peluru nyasar karena kepergok. Masih ada juga Antoine, Henry, Oumar, Valentine, Christoph, dan Leroy. Semuanya pergi setelah menjalin persahabatan denganku. Sekarang Ferdinand Civac, si cerdas itu, kini ikut-ikutan pergi meninggalkanku sendiri di rumah setan ini. Bedanya, Ferdinand dan tiga anak pergi karena tertangkap polisi. Sialnya, Garofoli ogah menebus karena tak mau berurusan dengan polisi.

Andai saja aku dan lainnya tidak memaksanya untuk mengantar ke kediaman Ami itu, mungkin Ferdinand masih ada. Walau sering menyebalkan, dia yang paling peduli dan cukup dewasa di antara kami semua. Dia juga yang mengajariku beragam hal yang aku tak pernah tahu sebelumnya. Bahkan mengajariku bahasa-bahasa aneh. Katanya, "Itu bahasa Teuton. Leluhurku dulu berbahasa itu." Atau, "Orang-orang di utara kita, berbahasa seperti itu, Mattia,"

Yang lain pun sama. Anak-anak itu juga sama kehilangannya denganku. Melihat mereka menangis, rasanya nyeri sekali. Aku seperti tak boleh menangis. Bagaimanapun, sekarang ini, aku yang paling tua. Aku tak boleh menangis. Aku harus menyemangati mereka semua. Mereka semua lebih muda dariku dan butuh 'seseorang'. Di saat Garofoli dan Louis datang mengamuk, harus ada pahlawannya. Aku harus bisa jadi pahlawan buat mereka semua.

Kuseka air mata dengan lengan bajuku. Kutelan sesenggukan. Lalu...

"DIAM!!!" teriakku. Mereka semua kaget dan terdiam. "Kalian semua mau dihajar Garofoli atau Louis? Daripada cengeng begitu, lebih baik kalian tidur. Nanti telat, Garofoli bakal marah besar ke kalian semua. Je l' ai?"




Catatan kaki:
Jel'ai: paham?
Comme joli: wah cantiknya!


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^