Sunday, November 13, 2016

SERIAL FAN FICT: Remi et Mattia




[Berdasarkan novel karangan Hector Malot]


Dari sebuah anime "Remi, Nobody's Boy'"
[Remi]
Kembali aku bermain harpa di jalan-jalan negeri Perancis. Entah apa nama kota yang kudatangi kali ini. Namun aku tak peduli. Sebab kali ini tidak ada Vitalis. Rasanya beda tak ada Vitalis di dekatku. Dia sungguh ayah terbaik. Aku bangga pernah mengenal seorang Vitalis yang dulunya seorang penyanyi terkenal bernama asli Carlo Bolzoni. Tapi aku harus belajar menerima kenyataan bahwa Vitalis sudah tidak ada lagi di dunia ini. Yah walau tetap saja, entah mengapa, tiap aku bermain harpa, aku seolah merasakan pundakku dipukul keras oleh Vitalis. Dulu Vitalis, ayah keduaku setelah Jerome, selalu memukulku begitu keras. Namun berbeda dengan Jerome, aku percaya Vitalis memukulku itu karena dia sangat menyayangiku. Itu karena Vitalis peduli juga sama diriku. Vitalis juga yang membuatku melek huruf dan mengajariku menyanyi dan bermain alat musik.



Harpa inilah alat musik favoritku. Sebab tiap kali aku bermain harpa, hatiku merasa tenang sekali. Lupa sudah segala masalah yang aku hadapi. Aku sadar pula bahwa aku memang bukan anak kandung Jerome. Meskipun istrinya sangat menyayangiku. Perempuan tua itu begitu berat melepaskanku ke tangan Vitalis. Juga, aku merasakan ibu kandungku tengah memelukku erat, entah siapa orangnya. 

"Remi, Remi,..." Aku kaget. Ternyata Mattia, yang menyenggolku agar fokus terhadap pertunjukan musik jalanan kami. Aku kembali fokus dengan harpaku, sementara Mattia dengan akordionnya (walau dia sebetulnya sangat jago bermain biola). Lalu Capi sibuk beratraksi untuk mengiringi permainan musik kami.

Bicara soal Capi. Kasihan dia. Teman-temannya mati tragis. Tiap kali mengingat bagaimana seekor serigala menghabisi Zerbino dan Dolce. Lalu monyet kecilku yang lucu, si Joli-Coueur mati karena pneumonia karena tak tahan dengan dinginnya kota Troyes. Heran aku, kenapa sebuah badai salju bisa seganas itu?

Begitulah aku. Tiap bermain harpa, kenangan demi kenangan bermunculan. Hingga tiba saatnya paling menyakitkan untukku. Salah seorang pengunjung memintaku untuk memainkan sebuah lagu. Ah tidak, jangan lagu ini. Lagu ini, yang orang itu minta, adalah kesukaannya Lise. Tiap kali aku memainkan lagu ini, Lise selalu asyik menggoyangkan kepalanya ke sana ke mari. Aku mendadak teringat Lise. Dia bagaimana kabarnya? Apa dia masih suka menulis beberapa sajak sejak aku mengajarinya membaca? Ah andai saja Lise bisa bicara. Pasti suara Lise seindah bidadari.

Setengah jam berlalu. Wah, bayarannya cukup besar. Hari ini para penontonnya memberikan kami uang sebesar 225 franc. Ini bayaran terbesar yang aku dan Mattia terima semenjak Vitalis meninggal. Lumayan buat aku dan Mattia makan di sebuah restoran.

"Eh, Remi," ujar Mattia. "Dari tadi aku lihat kamu sedang memikirkan sesuatu. Perempuan yah?"

Capi menggonggong nakal seolah tahu pikiranku. Aku hanya tersipu. "Ngawur kamu, Mattia. Tapi, tapi, tapi,..."

"Haha..." Mattia terbahak. "Tak usah malu. Itu kan perasaan wajar. Seorang laki-laki jatuh cinta dengan perempuan, kurasa bukan hal yang aneh. Aku pun pernah merasakannya. Mau dengar ceritaku, tidak?"

Aku tersenyum tipis dan mengangguk. Mattia kembali bercerocos seenak hatinya.

Mattia bercerita saat dirinya masih berada dalam asuhan buruk seorang padrone bernama Garofoli. Aku tahu bagaimana rasanya diasuh oleh seorang dewasa seperti Garofoli. Tapi aku memilih bungkam. Sakit rasanya tiap mengingat Jerome memukuliku kalau aku tak mau mendengarkanku. Tiap mabuk, Jerome pasti selalu memaksaku untuk bernyanyi. Kalau fals, Jerome pasti juga akan memukuliku. Tapi penderitaanku waktu itu tak sebanding dengan yang dialami Mattia.

Kasihan Mattia. Dia harus menjadi pencopet gara-gara Garofoli. Kalau hasil copetan tidak sesuai ekspektasi, Mattia pasti dipukul. Parahnya lagi, bisa seharian Mattia tak diberikan makan. Anak-anak lain pun sama. Anehnya, Mattia tetap bisa nyengir nakal. Ternyata aku tahu alasannya.

"Waktu itu, aku ingat aku tengah berada di stasiun kota Paris. Aku kembali dengan aksiku. Saat itu kulihat satu keluarga kaya. Salah satunya seorang nenek tua yang berada di atas kursi roda. Nenek tua itu membawa tas yang kuduga berisi uang banyak. Kupikir, kalau kuambil, Garofoli pasti senang. Aku mulai memikirkan rencana untuk mengambil sebelum cucu perempuan nenek tua itu berhasil menghalangi aksiku. Harusnya aku marah, tapi tak bisa. Yang ada aku malah terpana melihat betapa cantiknya cucu nenek perempuan itu."

Aku berusaha menahan tawa. Capi juga.

"Hey, jangan tertawa. Itu bukan sesuatu yang harus ditertawakan, tahu! Kau ini makin lama makin menyebalkan sejak dari rumah si bisu itu."

Aku nyalang. Kutegur Mattia keras-keras, "Perempuan bisu itu namanya Lise!!! Jangan sembarangan kalau bicara!!!"

Refleks aku meninggalkan Mattia. Capi begitu setia mengikuti walau anjing putih kesayanganku ini seperti berusaha memperingatkanku agar jangan meninggalkan Mattia. Yah aku tahu, walau sering menyebalkan, Mattia tetap seorang sahabat terbaik yang pernah aku punya. Seumur hidupku baru kali ini aku memiliki seorang sahabat yang begitu perhatian padaku.

*****

[Mattia]
Remi kenapa sih? Aneh. Kenapa dia marah saat aku mengejek gadis bisu itu? Apa bagusnya gadis bisu itu? Banyak gadis Perancis yang jauh lebih cantik dari... siapa namanya? Ah, Lise, anak seorang tukang kebun bernama Pierre Acquine. Masih jauh lebih baik lagi Vivienne, cucu perempuan nenek tua yang hendak kucopet itu.

Bersyukur aku berjumpa dengan Vivienne. Padahal Vivienne itu sebaya, namun dengan polosnya malah berkata, "Hey, kamu sedang apa? Mau membantukan nenekku bawa tasnyakah?" Haha. Aku tergelak paling keras tiap mengingatnya. Masa Vivienne tidak tahu jika aku hendak mencopet neneknya? Aku mau saja mengakui kalau seorang pencopet. Tapi pasti aku akan dijebloskan ke penjara anak-anak. Jadi aku lebih memilih untuk mengiyakan saja. Sampai akhirnya aku diajak ke rumah Vivienne yang bak istana. Di sana aku kali pertamanya membaca banyak buku ceritera. Vivienne selalu membetulkan pelafalanku. Selain itu, aku dan Vivienne bermain musik sepuasnya. Aku bisa main biola karena peran Vivienne.

Lalu sepulang dari sana, nenek tua itu memberikanku uang yang sangat banyak. Keesokan harinya, saat ke rumah itu lagi, ternyata Vivienne dan keluarga besarnya sudah pindah ke daerah Bavaria. Mereka hanya sebentar saja. Katanya sih, hanya mengurus penjualan rumah mewah yang uangnya digunakan untuk membeli rumah mewah lainnya.

Haha. Andai aku orang kaya, aku akan membelikan Vivienne sebuah kastil lengkap dengan segala prajuritnya.

Eh sebentar, kenapa aku malah memikirkan Vivienne? Harusnya yang kupikirkan itu Remi, lalu segera mencarinya. Yang paling Remi tengah berada di kedai itu lagi.

Sebentar, sebentar. Sepertinya aku tahu kenapa Remi seperti itu. Apa mungkin...

...

Aku cekikikan sendirian. Jangan-jangan Remi naksir Lise? Kata Jean, biasanya kalau orang tengah jatuh cinta, orang itu tak suka jika pujaan hatinya diejek orang. Ah pasti Remi naksir Lise. Kuledeki habis-habisan dia nanti. Walau sebelumnya aku akan meminta maaf terlebih dahulu.

Haha. Ternyata Remi yang pendiam nan misterius itu bisa juga jatuh cinta dengan seorang perempuan. Aku kira dia hanya seorang bocah yang gila bermain harpa seperti dewa-dewi Yunani.



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^