Friday, November 25, 2016

SERIAL FAN FICT: DenLiner dalam Kenangan - Part 1





[Ryoutaro]
Sudah lewat setahun sejak DenLiner pergi jauh-jauh dari hidupku. Aku senang berada di kereta itu. Impianku sejak kecil terkabul. Akhirnya aku bisa bertualang waktu. Dari jaman ini ke jaman itu, sudah kutempuh.

Namun, lebih daripada itu, aku kangen dengan suasananya. Terlebih para Imagin. Rasanya aku masih ingin mereka rasuki lagi. Tiap kali mereka merasukiku, rasanya... luar biasa. Aku sulit mendeskripsikannya. Hanya itu,... kata yang muncul di pikiranku.

Momotaros...


Imagin pertama yang merasukiku. Andai saja tampangnya tak semengerikan itu, andai dia bisa lebih ramah, pertemuan awal aku dengannya, pasti terasa sangat istimewa. Walau memiliki temperamen yang mudah meledak-ledak, Momotaros itu sebetulnya baik. Dari semua Imagin, hanya dia yang memiliki rasa keadilan yang sangat tinggi. Dia selalu begitu. Dia selalu tak tahan melihat seseorang tertindas. Begitu dia dapati ada yang tertindas, atau aku pun dalam keadaan tak berdaya, dia pasti akan langsung bereaksi.

Urataros...

Imagin berbentuk kura-kura ini membuatku merasakan indahnya menjadi seorang cassanova. Rasanya luar biasa saat beberapa perempuan mengelilingiku. Namun ada perasaan tak enak dengan perempuan-perempuan itu. Pada dasarnya aku bukan tipe laki-laki brengsek yang hobi mematahkan hati seorang perempuan. Bagaimanapun aku memiliki seorang kakak perempuan yang sempat amnesia gara-gara tunangannya (yang gila dunia perbintangan) pergi tanpa jejak. Tapi begitu-begitu Urataros mengajarkanku untuk tidak terlalu polos. Terkadang bohong itu perlu, bukan?

Kintaros...

Awalnya Kintaros ini Imagin yang harus kutumpas. Namun aku tahu dia tak tercipta menjadi sebuah monster. Dalam DenLiner, dia lebih banyak merenung... dan tidur. Jarang berbicara, tapi sekalinya berbicaranya, aku suka terkesan sendiri. Ketenangannya dalam bertarung juga sangat luar biasa. Tak heran, itu seringkali menyelamatkanku dan lainnya.

Ryuutaros...

Kelakuannya telah mengingatkanku akan aku versi kecil. Imagin ini suka sekali menari hip hop. Musik rap adalah yang sangat ia sukai. Aku tak masalah saat dia membuatku harus menari hip hop atau sekadar mengentak-entakan kaki. Jujur saja, itu membuatku jadi sangat menikmati hidup. Walau pola pikirnya masih seperti seorang anak kecil, Ryuutaros tahu bagaimana cara menikmati hidup. Bahkan tanpa harus mengeluarkan uang. Dia juga sangat menyukai binatang, khususnya anjing.

Naomi...

Pelayan yang murah senyum. Kopi buatannya sangat enak. Selalu memotivasi, juga menjadi penengah dalam pertengkaran antara para Imagin.

.....

Dia itu sang pemilik DenLiner. Keberadaannya sangat misterius. Dialah yang menentukan siapa yang berhak naik DenLiner. Aku sering beranggapan dia itu seperti seorang dewa saja. Atau mungkin kamisama--Tuhan? Jangankan nama, identitas Owner pun tak pernah ada yang mengetahui. Para penghuni DenLiner lebih sering memanggilnya dengan sebutan Owner. 

Hana...

Hana itu gadis yang luar biasa. Aku belum pernah melihat gadis setangguh Hana sepanjang hidupku. Dia sama misteriusnya dengan Owner (walau seluruh penghuni DenLiner juga sama). Namun kemisteriusan Hana itu jauh lebih menarik. Dia banyak menolongku. Dia nyaris selalu ada tiap aku membutuhkannya. Hana juga gadis yang cerdas. Rasa-rasanya tak ada gadis secerdas Hana (apalagi sepemberani Hana yang tak takut menantang bahaya). Dia juga yang paling mengerti aku. Tiap Imagin itu meributkan ideku, juga Owner dan Naomi, hanya Hana yang mendukung. Terlebih lagi Hana kecil yang sangat memahamiku. 
Hana kecil selalu membantuku, bahkan jauh lebih banyak membantu daripada Hana yang dewasa. Haha. Bisa dibilang, aku jatuh cinta dengan Hana. Aku jatuh cinta dengan wajahnya, fisiknya, hingga segala perlakuannya padaku. Entah Hana kecil, entah Hana dewasa, dua-duanya aku suka. Mereka sudah membuatku jadi sangat berani dan tangguh.

...

Dari seluruh penghuni DenLiner, aku sangat merindukan Hana. Eh tapi aku juga merindukan Owner, Naomi, Momotaros, Urataros, Kintaros, hingga Ryuutaros. Juga Yuuto Sakurai, sang pemilik Zeronos, yang ternyata tunangan Kak Airi.

Tapi tetap saja, yang sangat kurindukan adalah Hana. Aku rindu Hana selalu berada di tiap pertempuranku. Hana yang selalu memberikan solusi. Hana yang selalu menyemangati. Hana yang selalu memberikan kekuatan terpendam. Hana, Hana, Hana.

...


Eh sebentar. Aku ini nanti memiliki keturunan, kan. Cucuku, kalau tak salah, bernama Kotaro Nogami. Apa jangan-jangan...

...haha. Mungkinkah seperti itu? Mungkinkah Hana itu bakal calon pasanganku? Tapi mana mungkin. Semenjak aku sudah lama meninggalkan sepenuhnya DenLiner, sudah lama pula Hana--perempuan misterius yang pelit senyum itu--meninggalkan hidupku.

Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengan Hana. Mendadak saja ada seorang gadis misterius menghampiriku dari sebuah kereta supercepat yang melebihi shinkansen. Ia mengatakan sesuatu yang aku tak paham (saat itu). Dia juga yang menjelaskan bahwa aku ini manusia yang tidak biasa. Aku sang terpilih, tokuiten, sama seperti Hana (dan Yuuto). Tak banyak, kata Hana, yang bisa mengendalikan Imagin dalam tubuh. Karena itulah, aku menjelma menjadi Kamen Rider Den-O, pahlawan super yang mengendalikan para Imagin demi tujuan mulia; juga yang menjaga agar tidak ada pelanggaran waktu lagi. Serta agar para Imagin tidak mengacau di Bumi. 

Hmmm...

Aku menatap ke bawah Rainbow Bridge. Kumenekuri apa yang ada di bawah. Bagaimanapun jembatan ini pernah jadi arena bertempurku dulu selama beberapa kali. Aku dan Hana sempat lama berada di sana. Waktu itu, ia sangat menyemangatiku. 

Astaga, Ryoutaro! Kenapa aku jadi memikirkan Hana melulu? Ada apa dengan aku? Bukankah masih ada Naomi, Owner, para Imagin (terlebih Momotaros yang begitu mirip denganku, sebab dia itu dulu tokoh ciptaanku waktu kecil)? Mereka sangat layak dikenang. Namun...

...otak ini sepertinya ingin lebih mengingat seorang Hana, gadis misterius yang galak, dingin, namun sangat perhatian. 

Apa aku tengah jatuh cinta dengan seorang Hana? Rasa-rasanya aku jauh lebih menyukai perempuan feminin yang keibuan. Kenapa aku jadi bisa menyukai seorang perempuan tomboy yang galak? Tapi jujur saja, aku sangat menyukai bagaimana Hana memperlakukanku. Baru kali ini ada seorang perempuan yang menganggap keberadaanku. Hana membuat aku menjadi seorang laki-laki istimewa yang sangat beruntung. Mungkin karena itulah aku sangat mencintai Hana , sampai-sampai aku tak bisa melupakannya, sehingga selalu terbayang wajah judesnya yang entah kenapa begitu terlihat manis sekali di mataku.

Sekarang aku harus bagaimana? Bagaimana aku harus kembali ke DenLiner (yang sebetulnya hanya untuk menemui Hana; lain-lainnya tidak)? Aku tak tahu kapan kereta waktu itu datang. DenLiner selalu datang tiba-tiba. Stasiunnya pun aku tak tahu di mana. 



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^