Monday, November 7, 2016

Gonjang-ganjing Sebuah Pasangan Unik





Ini sebuah kisah yang terjadi di sebuah kota. Cerita tentang sepasang kekasih yang dipersadarkan, dipersatukan, dan dipertemukan oleh Sang Pencipta dengan jalan yang sangat tak biasa. Kalian bisa menyebutnya horor. Karena memang terasa menyeramkan untuk yang tak terbiasa mendengarnya. Untuk yang terbiasa, kisah ini bak sebuah fairy's tale.




Mereka berbeda usia sepuluh tahun. Yah aku tahu, cukup lebar jarak usianya. Namun kalau Sang Pencipta sudah berkehendak, jarak seperti itu, apalah artinya. Mereka memang berbeda. Dimulai dari beda generasi hingga beda-beda lainnya. Namun kalau kalian memiliki pengamatan yang jeli, akan ketahuan jika keduanya memang berjodoh. Dari bentuk wajahnya saja sudah sama. Juga tanggal dan bulan lahir keduanya, yang berdempetan angka-angkanya (yang pria lahir 26 November 1988, yang wanita pada 27 Desember 1998).  Karakter keduanya pun hampir sama jika ditelisik baik-baik. Baik pria maupun wanitanya, mereka sama-sama cenderung baik ke semua orang, ceroboh, suka bertindak gegabah, hingga kecenderungan keduanya yang sulit menghindar dari orang-orang yang akan menjatuhkan dan menyesatkan mereka berdua.

Awalnya sang pria sama sekali masa bodoh dengan yang namanya cinta. Dia lebih mengutamakan yang namanya persahabatan dan mimpi-mimpinya (yang semuanya lahir karena sering dianggap-remeh orang lain). Pria ini tipe pemuda yang ulet dan pekerja keras. Dia juga tipe yang selalu ingat Sang Pencipta. Walau kurang begitu religius, ibadahnya masih suka bolong-bolong, serta sering keluar di tengah-tengah kebaktian, setidaknya saat Sang Pencipta datang memanggilnya, dia patuh. Dia sangat percaya panggilan hati nurani itu datangnya dari Sang Pencipta. Alhasil, karena pandangan yang seperti itulah, dia berbuat nekat selepas lulus kuliah, yang menyebabkan dia sering bertengkar dengan almarhumah ibundanya yang sangat dicintainya. Mungkin kebiasaan ibadah yang buruk dan keyakinan pada hati nurani yang berasal dari Sang Pencipta itulah yang mendorong dirinya menjadi pribadi yang naif. Orang-orang sekitar banyak yang membohonginya. Tak terkecuali dari keluarganya sendiri. Hingga suatu kali, wanita yang dicintainya itu melecehkan prinsipnya.

Bagaimana bisa seperti itu? Pria itu, wanita itu, mereka sudah saling mengenal selama satu tahun sembilan bulan. Nyaris dua tahun hubungan unik itu berlangsung.

Usut punya usut, semuanya terjadi karena wanitanya sendiri. Dia seorang wanita yang lebih tidak religius dari prianya. Kurang begitu mempercayai bahwa cara prianya sadar akan keberadaannya itu murni karena campur tangan Sang Pencipta. Saat prianya datang menyapanya di sebuah aplikasi messenger, wanita itu seenaknya mempermainkannya. Si pria tak menyerah, dan terus menyapa wanita itu. Wanita itu hanya menganggap segala sapaannya sebagai angin lalu. Malah seenaknya wanita itu menganggap pria itu mengetahui akun pribadinya dengan cara-cara 'khusus' (padahal sang wanita yang mendatangi prianya secara roh). Buat kalian penggemar hal-hal tak kasatmata, pasti tahu maksudku.

Kenyataannya, si wanita salah total. Si pria malah tidak tahu apa-apa soal yang dimaksud oleh si wanita. Yang pria itu tahu, pria itu hanya seenaknya saja melakukan pencarian dengan kata kunci tertentu di sebuah messenger. Hanya itu. Lagipula pria itu pria polos, kan. Pria itu begitu yakin semua yang berhubungan dengan wanitanya karena kehendak Sang Pencipta. Tanpa pernah menyadari bahwa banyak hal yang tidak pernah diketahui pria itu hingga usianya yang kedua puluh lima tahun. Pria itu bahkan tidak tahu soal rahasia alam semesta, masalah alam sadar-alam bawah sadar, dan mrogo sukmo. Pria itu juga tidak tahu jika yang namanya mimpi, penglihatan, maupun pertanda itu bisa diciptakan oleh manusia. Beda dengan si wanita yang sudah terbiasa dengan semua hal tersebut. Oleh karena itulah, si wanita seenaknya 'memantau' kehidupan si pria di saat si pria tidak bisa melakukannya. Sampai di situ, saya merasa kasihan dengan si pria polos tersebut. Wanitanya sangat egois. Dia sungguh tak pernah membiarkan kehidupannya diketahui si pria, termasuk masa lalu si wanita.

Namun begitu anggapan saya awalnya. Hingga saya akhirnya bisa mengetahui bahwa wanitanya juga awalnya sudah buka diri selebar-lebarnya soal siapa dirinya. Sang wanita tahu prianya memantau hidupnya lewat segala akunnya. Makanya si wanita sesekali membuka diri jika memang dialah yang selama ini terus menempel si pria dua puluh empat jam nonstop; dan setia mendatangi si pria dalam mimpi.

Hanya saja si pria--karena kurang begitu mengetahui soal hal-hal tersebut--kurang yakin dan terus minta diyakini Sang Pencipta apakah wanita itu orangnya. Dia terus minta diyakinkan apakah wanita itu memang mencintainya, di saat wanita itu terus menerus menunjukan rasa cintanya, juga buka diri selebar-lebarnya. Begitu terus hingga akhirnya satu alam semesta mengetahui hubungan unik mereka berdua. Apalagi setelah kepergian ibunya, pria itu seperti liar. Dia berani ke sana ke mari menceritakan segala keluhannya tentang seorang wanita aneh yang mendekatinya dengan cara aneh pula. Keputusan yang sangat blunder. Sebab seringkali orang yang dimintai saran oleh pria itu juga orang yang salah, yang kurang begitu mengetahui kasusnya (apalagi kasus keduanya terhubung dengan kasus unik lainnya, yang terhubung secara kesengajaan oleh ego maha tinggi seseorang).

Si wanita tetap sabar dengan segala perlakuan prianya. Dia selalu meyakinkan prianya bahwa dirinya sangat mencintainya. Hingga tibalah saatnya orang-orang di sekitar wanita itu menjadi penyesat, yang membuat jarak si wanita dengan si pria jadi perlahan menjauh. Para penyesat itu juga berkeliaran di sekitar si pria.

Lalu apa yang terjadi dengan pasangan yang keduanya kurang memiliki hubungan harmonis dengan Sang Pencipta?

Hubungan keduanya mulai renggang. Dimulai dari kefrustrasian si pria yang merasa wanita itu kurang memberikan perhatian.  Si pria merasa wanita itu terlalu berekspektasi berlebihan; terlalu memaksakan kehendak wanita itu yang sangat ingin prianya memperlakukannya seperti seorang ratu sungguhan. Gara-gara itu, si pria terpikir untuk selingkuh saja dengan teman dekatnya. Si wanita tahu, lalu ganti meneror si pria dengan menyebarkan hal-hal tak enak soal si pria. Si pria itu sudah minta maaf dan memilih menjauh dari si wanita. Ternyata si wanita keberatan. Si wanita mendatangi si pria dalam mimpi untuk minta maaf (Aneh kan. Padahal si wanita punya akun si pria. Kenapa tidak minta maaf lewat situ saja?). Si pria luluh dan kembali memperjuangkan si wanita. Si wanita kembali membuka diri lagi. Segalanya berjalan baik-baik saja.

Sampai akhirnya, ada orang-orang yang membenci pasangan tersebut. Si pria dihasut dan termakan sehingga menyakiti hati si wanita. Si wanita terkompori oleh orang-orang di sekitarnya untuk menjauhi si pria. Banyak isu tak enak yang diembuskan ke si wanita tentang prianya. Dasar wanita itu masih remaja dan kurang taat pada sang penciptanya, wanita itu--tanpa sepengetahuan pria itu--menjelek-jelekan pria tersebut. Padahal wanita itu tahu prianya pria pemalu nan polos nan minder nan penakut, yang seorang anak rumahan sejati. Wanita itu juga sudah diberitahukan almarhumah ibunda pria itu bahwa selama ini pria itu begitu diproteksi hidupnya. Harusnya wanita itu bisa lebih memahami dan menerima prianya, sebagaimana pria itu selalu coba menerima wanita itu apa adanya. Di saat banyak isu tak enak soal si wanita, si pria selalu coba berpikiran positif seperti kata teman-temannya. "Pasti ada alasannya," begitu kata si pria yang terus mendoktrin dirinya.

Namun wanita itu masih remaja. Dia masih SMA dan mau lulus. Wajar saja jika termakan hasutan demi hasutan yang kebanyakan tak benar. Apalagi jika dilihat dari gaya hidup si wanita, tak heran wanita itu kembali jatuh. Wanita itu tak bisa mengontrol segala perilakunya. Sepertinya wanita itu tipe wanita yang enggan dikucilkan. Atau mungkin hasutan yang menghampiri si wanita itu jauh lebih banyak. Konon, keluarga si wanita digertak sekelompok orang. Kalau tidak seperti itu, apalah alasannya seorang wanita mendadak berubah drastis dari awalnya begitu memuja si pria, lalu balik mencaci pria tersebut. Padahal pria itu butuh wanita itu di saat hidup pria itu berubah seratus delapan puluh derajat (yang wanita itu ikut memberikan andil pula). Banyak musuh menyerang pria tersebut; mengganggu pria itu di alam sadar dan alam bawah sadar. Ke mana si wanita saat prianya membutuhkannya?

Memang salah si pria yang telat menunjukan rasa cintanya. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Belum lagi si pria nekat menceritakan rahasia keluarga besarnya ke wanitanya, padahal kakak si pria sudah melarangnya. Yang ternyata kakak si pria memang benar. Wanita itu memang bermasalah. Diam-diam wanita itu menceritakan segala informasi pria itu ke beberapa orang, yang seperti mengulangi kesalahan si pria, itu orang-orang berbahaya. Tapi wanita itu masih remaja, kan. Seperti remaja kebanyakan, apalagi berada di lingkungan yang serba mewah, mulut si wanita seenaknya membeberkan informasi tentang si pria.

Saat tahu, si pria jadi dongkol. Di tengah kedongkolannya, si pria itu sadar bahwa wanita itu masih bikin batasan. Wanita itu bahkan belum memberikan ijin si pria untuk masuk ke zona pribadinya. Entahlah, tak ada yang tahu hati seorang wanita, apalagi yang masih di bawah dua puluh tahun. Di situlah letak kebodohan si pria. Wanitanya belum memberikan ijin masuk ke zona pribadinya, kok bisa membeberkan segala rahasianya dan rahasia keluarganya?

Mungkin itu semua dilakukan si pria saking cintanya. Rasa cinta si pria yang begitu besar itulah yang mendorong si pria nekat mengumumkan hubungan unik dirinya dengan si wanita. Padahal si pria tidak tahu bahwa si wanita dan keluarganya tengah diawasi habis-habisan oleh sekelompok orang. Keluarga wanita itu diintimidasi. Memang si wanita tengah berusaha mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Tapi itu semua bakal sia-sia jika wanita itu tak bisa mengontrol perilaku dan pergaulannya. Belum lagi si wanita yang masih menuntut banyak pada si pria. Si wanita juga takut untuk menghubungi si pria dengan jalan semestinya. Ada yang namanya ponsel dan internet, kenapa pula harus lewat mimpi dan pikiran? Tidak tahukah si wanita bahwa dari awal si pria sudah terganggu dengan kemunculan si wanita dengan cara mistis?

Sekarang, yang saya dengar, keduanya masih berada dalam sebuah hubungan yang kurang harmonis. Si wanita--yang dari awal--kurang begitu mempercayai prianya. Jika percaya sepenuhnya, harusnya dari awal si wanita berani menanggapi sapaan si pria. Lagipula si pria juga bukan tipe orang yang seenaknya membeberkan rahasia orang. Kini akibat ulah wanita itu, pria itu jadi sulit mempercayai wanita tersebut.

Si pria memang salah karena terlalu peragu. Namun dia selalu coba memperbaiki kesalahannya. Dia tipe pria ulet dan pekerja keras, kan. Apa yang dia lakukan akhir-akhir ini karena rasa cintanya yang begitu besar pada wanitanya. Hanya saja, entah karena apa, wanita itu beranggapan segala hal itu sebagai suatu usaha yang menyerangnya secara ofensif. Padahal pria itu sama sekali tak bermaksud seperti itu. Lagi-lagi dia hanya seorang pria naif.

Sekarang, saya rasa sudah saatnya wanitanya yang berjuang. Kasihan si pria yang sudah mati-matian menunjukan rasa cintanya. Demi si wanita yang hanya duduk anteng nan manis, pria itu sudah melakukan segalanya. Pria itu rela pergi ke tempat yang jaraknya lebih jauh dari yang pernah ditempuhnya, demi wanita itu. Bahkan si pria rela menghamburkan uang demi wanita. Banyak rahasia dirinya dan keluarganya yang meluber ke mana-mana hanya karena kecerobohan si wanita.

Saya tidak tahu pasti apa penyebab perubahan drastis sikap wanita itu terhadap prianya. Apa benar isunya bahwa pikiran wanita itu sudah dicuci? Benarkah pula bahwa si wanita dan keluarganya ditekan?

Yang jelas si pria itu jadi memiliki rasa trauma untuk berhubungan dengan wanita itu lagi. Walau rasa cinta itu masih tetap ada di balik sebuah selimut tebal bernama kebencian. Hati si pria itu begitu meraung saat wanita yang amat dicintainya itu sontak mencacinya, menghasutnya, menghina, hingga melanggar kepercayaannya. Padahal di balik segala serangan pada pria itu, dukungan moral dari wanita yang sangat dicintainya itu sangat berarti.

Semoga saja mereka cepat akur. Tapi saya percaya jika hubungan keduanya memang direstui Sang Pencipta. Segala sesuatu yang sudah direstui Sang Pencipta biasanya akan kembali harmonis dengan sendirinya. Sang Pencipta selalu memiliki cara sendiri untuk mempertemukan dan mempersatukan dua insan.

Kalau sudah akur, sudah saatnya si wanita mengontrol perilaku dan pergaulannya. Wanita itu harus lebih berani memilih. Dia harus berani berkata tidak untuk yang tidak sesuai kata hatinya; juga belajar meyakini bahwa prianya memang pilihan Sang Pencipta untuk dirinya. Ingat pula bagaimana perjuangan si pria untuk si wanita. Juga seharusnya si wanita belajar membuat skala prioritas.

Jangan pernah dilupakan bahwa dalam satu hubungan (yang sehat), tak hanya pihak pria saja yang harus berjuang dan berkorban. Wanitanya juga harus melakukan hal sama.

Mungkin yang jadi persoalan: keduanya belum satu pikiran. Mereka belum satu visi dan misi. Itu saja. Dan mungkin si wanita terlalu enggan menyatakan isi pikirannya pada prianya. Prianya yang malah begitu berani membagikan isi pikirannya dengan si wanita. Padahal itu sangat fatal.

Hubungan keduanya, kalau saja tidak ada yang mengganggu, juga si pria dan wanita sama-sama yakin dan percaya, bisa menjadi kesaksian bagaimana Sang Pencipta mempertemukan dan mempersatukan dua anak manusia. Yang kudengar pula, si pria berjumpa wanitanya dengan cara yang luar biasa mukjizat sekali. Itu saja sudah menjadi bukti bahwa tangan Sang Pencipta tengah bekerja.

Saya harap gonjang-ganjing terhadap keduanya cepat berakhir. Sang wanita bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya pada prianya. Pun dengan sebaliknya.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^