Saturday, November 12, 2016

ANOTHER FICTION: Penyesalan Seorang Songwriter




Oh, shit! Deadline sudah hampir di depan mata. Kenapa tak ada satu pun yang keluar dari otakku, sesuatu yang bisa menjadi lagu? Padahal Pak Welly sudah terus-terusan menanyakan padaku, "Mana lagu barunya?" Memang dikira gampang apa?



Oh iya, namaku Ongky. Aku seorang songwriter. Sudah tahu, kan, itu profesi apa? Song itu lagu. Writer itu penulis. Aku memang penulis lagu, juga seorang arranger, yang menggubah; bahasa kasarnya itu yang menciptakan solmisasinya sebelum diberikan sentuhan akhir berupa lirik. Terbayang betapa repotnya aku. Harus bikin nada, bikin lirik pula. Tapi aku menyenangi apa yang tengah kukerjakan. Segala napasku ada di sana.

Bayangkan, sudah lima tahun berkecimpung, aku sudah menciptakan dua puluh lagu. Dengan hitungannya itu, lima belas itu hanya mengaransemen. Dua itu menciptakan solmisasi beserta lirik. Sisanya hanya menciptakan lirik saja.

Pekerjaan ini tak mudah, Kawan. Salah-salah, banyak penikmat musik akan menuduhku melakukan plagiarisme. Aku harus selalu up-to-date soal dunia musik dari banyak negara dan banyak genre. Apalagi aku juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Aku menciptakan satu lagu, ceritanya. Lagu cinta, tentang seorang laki-laki yang mana perempuannya itu suka menutup diri (aku mengambilnya dari sepasang kekasih yang aku temui di Denpasar). Liriknya oke. Pak Welly mengacungkan jempol. Hanya saja, brengsek, nada-nadanya mirip dengan satu lagu dari Denmark yang kebetulan lagi hits. Pak Welly langsung ngamuk-ngamuk. Katanya, "Nggak bisa gitu, Ongky. Walau dari negara yang musiknya kurang dikenal, plagiat tetap plagiat. Penikmat musik sejati tak akan pernah bisa dibohongi. Label ini bisa jatuh reputasinya."

Pak Welly benar. Plagiat memang tetap plagiat. Suatu saat pasti akan bermasalah. Tapi tetap saja. Seharusnya Pak Welly bisa menanggung resiko. Lagipula aku kan tidak sengaja. Sewaktu aku menciptakan "Rahasia Gadis-ku" itu, aku dalam keadaan berada di kamar, mengutak-atik synthesizer, mixer, dan lain-lain. Alunan itu tiba-tiba saja datang di kepalaku seperti hendak ditulis. Pun dengan kata-katanya. Sumpah, aku tidak dalam kondisi mendengarkan beberapa lagu, lalu menjiplak solmisasi dan liriknya.

Seperti itulah.

Kata Momo, dari kecil aku memang sangat berbakat di dunia musik. Aku sangat menikmati bermain mengutak-atik nada. Kalian tahu Wolfgang Amadeus Mozart? Musisi klasik kelahiran Salzburg itu pernah langsung menuliskan gubahan irama dari simfoni yang didengarnya. Kurang lebih aku seperti dia. Popo bilang aku pernah ketahuan menuliskan kembali nada-nada dari lagu yang aku pernah dengar. Waktu itu, aku mendengarkan "My Way"-nya Frank Sinatra.

Semasa SMA, nilai-nilai pelajaran Seni Musik-ku selalu bagus-bagus. Bu Hayu memuji aku yang bahkan bisa menebak alat musik apa saja yang ada dalam satu penampilan satu grup band. Aku baru tahu, saat itu, kalau itu namanya naluri titi nada mutlak. Banyak arranger kelas dunia, para penggubah musik, yang memiliki naluri titi nada mutlak di atas rata-rata. Berkat Bu Hayu dan suaminya, aku pun bisa berkenalan dengan Pak Welly, seorang bos sebuah label rekaman, yang walau tak begitu ternama, namun tetap bisa diperhitungkan.

Hanya saja aku buntu. Pikiranku buntu. Belum ada solmisasi dan lirik yang masuk ke kepalaku. Sedikit pun tak ada.

Ah ini apa? Sepertinya bisa jadi sebuah lagu. Haha. Tak menyangka hanya mengetuk-ngetukan meja dan memainkan botol minuman mineral, satu lagu hinggap di kepala. Seru juga kalau ada lagu yang prelude-nya itu berirama rap, di tengah-tengah lalu berirama pop ringan, yang sesekali berirama jazz. Lalu di akhir berirama rock. Haha. Langsung aku ambil buku notes-ku dan menuliskan iramanya. Bes ke G. Tapi enaknya lagu tentang apa? Kadang bosan juga menciptakan lagu cinta. Aku yakin para pendengar musik sejati juga mengalami perasaan sama. Kalau lagu rohani, jangan dulu, aku belum siap. Aku masih lebih ingin menciptakan lagu yang jelas-jelas untuk khalayak ramai. Ada nilai gunanya dan itu tidak hanya untuk sekelompok orang.

Idealis? Bukankah seniman memang harus seperti itu? Jangan sebut dirimu idealis jika selalu menuruti pasar. Untungnya Pak Welly, walau galak, dirinya tetap merespeki prinsipku itu.

*****

Kembali pikiranku buntu. Setelah "Pelangi Dunia" melejit di tangga musik, sudah enam bulan aku kering inspirasi. Tak ada lagu yang tercipta, baik itu irama maupun liriknya. Lagi-lagi Pak Welly mendesakku. Katanya, "Ayolah, kamu kan berbakat, masa tak ada lagu yang kamu ciptakan? Cuma kamu harapannya. Para songwriter lainnya lagi krisis ide."

Yah mau bagaimana lagi. Aku miskin ilham beberapa minggu terakhir ini. Mungkin Yang Di Atas ingin aku berlibur kali. Soalnya aku memang sangat sibuk. Atau...

...

Tiba-tiba Pak Welly mendatangi Accord-ku. Dia menawariku satu botol minuman alkohol. Red Label. Dia mengedipkan mata sembari berbisik nakal, "Hey, gimana kalau kamu coba minum? Ayolah, jangan polos-polos! Banyak arranger seperti itu kalau lagi stuck. Larinya ke alkohol. Dijamin lagu-lagu baru akan terus berdatangan. Kamu juga nggak usah takut. Yang lain juga ikutan minum, kok."

Kutepis, namun Pak Welly terus-terusan memintaku menerima Red Label tersebut. Sungguh itu mengkhianati idealisme-ku. Biasanya ide yang datang, bukannya aku yang mencari. Aku tipe seniman seperti itu. Tapi rayuan Pak Welly sungguh tak bisa ditolak. Apalagi Pak Welly juga yang menaikan namaku. Dia juga lebih tua dariku. Aku sungguh tak enak hati. Mau tak mau aku membawa Red Label itu pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, tiba-tiba muncul pikiran nakal. Ingin kubuktikan mitos itu. Katanya, kalau mau produktif, sering-sering minum minuman beralkohol atau menggunakan obat-obatan. Kali ini sebotol Red Label sudah di depan mata, beserta satu gelas ukuran medium. Coba, tidak, coba, tidak. Rasa ingin tahu dan rayuan Pak Welly menguasai diriku.

Setan menang. Kutuangkan beberapa tetes dan kucoba rasanya. Hiy, rasanya mengerikan! Apa karena ini pengalaman pertama? Tapi beberapa tetes itu seperti terus menggoda iman untuk coba lagi dan lagi. Aku minum hingga setengah gelas. Dan...

...voila!

Kepalaku berkunang-kunang. Pusing dan berat sekali. Aku seperti berhalusinasi melihat sebuah pertengkaran kekasih.  Pihak lelakinya marah-marah hanya karena pihak perempuannya main gila dengan sahabat lelaki itu. Berjuta kata kotor keluar dari mulut si lelaki. Hingga, yah akhirnya si lelaki lebih memilih menjauh untuk memberikan ruang sendiri ke perempuan yang amat dicintainya melebihi keluarganya sendiri.

Haha. Apa yang ada di depan itu sepertinya cukup bagus untuk dijadikan sebuah lagu. Gilanya lagi, bayangan peristiwa itu datang ke kepala beserta solmisasi dan liriknya. Ini paket komplet namanya. Benar juga mitos itu yang bilang kalau mau ilham datang, paksalah itu dengan minuman beralkohol. Aku sudah membuktikannya sendiri.

*****

Sejak kejadian itu, malam itu, aku jadi seorang alcoholic. Aku sangat menikmati minum dulu, lalu baru menulis. Beratus lagu tercipta lewat cara baru yang aku temukan berkat Pak Welly. Selain itu, aku juga jadi pecandu obat-obatan. Semuanya demi lagu baru tercipta. Haha.

Gila! Tak terasa aku sudah menciptakan 225 lagu, entah itu liriknya saja, entah itu solmisasinya, entah itu beserta keduanya. Lagu-laguku banyak disukai khalayak. Bahkan Pak Welly pernah menawariku untuk menjadi penyanyi pula. Katanya, songwriter sekaligus penyanyi itu banyak digemari di era ini. Suaraku bagus pula, kata Pak Welly. Haha, itu boleh juga. Aku langsung mengiyakan.

Dan, jadilah namaku--Ongky Djojosutjipto--makin dikenal. Aku makin kaya pula. Banyak gadis berdatangan ke pelukanku. Mereka bergiliran untuk menjadi kekasihku. Semuanya kuembat. Tua, muda, remaja, dewasa, yang putih, yang gelap, pendek, tinggi, dari segala jenis suku,... sudah kucicipi. Inilah mungkin yang namanya berada di puncak. Sungguh nikmat!

*****

Lima tahun berselang. Aku terbaring lemas di sebuah bangsal. Kepalaku dibebat. Infus mengikat tangan. Tubuhku kering kerontang. Dokter memvonisku menderita stroke stadium yang lumayan tinggi. Usiaku, kata Dokter Wono, hanya beberapa bulan.

Dengan mata sayu, aku memperhatikan beberapa rekan terdekatku menjengukku. Mereka rutin mengunjungiku, yang tak hentinya menyemangati agar tidak menyerah. Salah satunya, seorang perempuan yang selalu ada di saat kubutuhkan (walau aku berkali-kali menyelingkuhinya). Namanya Mimi. Di tengah kondisiku yang supersekarat ini, senyumannya bagaikan senyuman malaikat.

Mimi tak hentinya mengingatkanku. "Ky, ini mungkin teguran Tuhan. Kamu sudah berubah sekali dari awal kamu jadi songwriter. Juga, kamu menyalahi sumpahmu sendiri di dalam gereja. Aku ingat loh, waktu kamu bukan siapa-siapa, kamu janji tak akan pernah menyentuh obat-obatan dan minuman beralkohol. Kamu tahu itu salah. Kamu selalu menyindir seniman yang seperti itu. Tapi kenapa kamu malah melakukannya?"

Iya, aku tahu aku salah.

"Dan, kayaknya ini azab kamu. Mau kuingatkan nazarmu itu dulu?"

Memang aku pernah bernazar apa?

"Katamu, kalau kamu makin sukses, kamu mau mempersembahkan satu lagu khusus dari keahlianmu itu. Sebelum kamu menyentuh itu semua, kan kamu sudah sukses. Bayaranmu naik, kan? Ayo, kapan kamu pernah menepati nazar itu?"

Jleb! Mimi benar. Kenapa aku selalu enggan untuk dipakai Tuhan sebagai balasannya sudah memberikanku talenta istimewa ini? Aku selalu menolak untuk bikin satu lagu rohani. Aku selalu beranggapan lagu-laguku haruslah dinikmati semua golongan. Juga, aku menciptakan banyak lagu dengan cara yang tidak disukai Tuhan. Talentaku--banyak yang bilang luar biasa, tapi kenapa harus menggunakan minuman alkohol dan obat-obatan? Tuhan pasti amat marah padaku. Dosaku terlalu banyak.

Kalau stroke ini berhasil lenyap, ingin kutinggal satu gaya hidup yang sudah merusak hidupku. Lebih baik kutinggalkan juga label itu. Terimakasih untuk Pak Welly yang sudah menaikan namaku. Oh yah, mana dia? Kok aku belum pernah melihat Pak Welly datang menjengukku? Yang ada malah seorang perempuan yang selama ini kusia-siakan. Waktu awal meniti karir, Mimi-lah yang terus menyemangatiku untuk jangan minder. Katanya, "Kirim dulu saja ke sana. Belum dicoba, kok sudah takut?" Dia juga yang menjadi pengkomentar pertama sebelum sebuah lagu kuberikan ke Pak Welly.

Kuraih tangan Mimi. Mimi langsung memeluk erat diriku. Mimi memang tidak secantik gadis-gadis yang hilir mudik datang ke pelukanku. Tapi baru kusadari, segala perhatiannya padaku itu luar biasa. Menaikan semangatku. Memberikan komentar dan masukan untuk lagu-lagu baruku. Mengingatkanku kalau aku berbuat salah. Saat aku dikritik para penikmat, Mimi selalu berdiri di dekat untuk membelaku mati-matian. Bahkan saat aku jatuh sakit, dialah orang yang kuingat langsung membopongku ke rumah sakit.

Ah, ini lagi satu dosaku pada Yang Di Atas. Aku telah menyia-nyiakan seseorang demi berjuta gadis menawan.





No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^