Tuesday, November 29, 2016

ANOTHER FICTION: Kesetiaan itu...



Ini kisahku sebelum berangkat ke Melbourne. Tak banyak pria seperti aku, yang masih remaja sudah harus dijodohkan, lalu dipertunangkan. Namun itulah aku.



Aku, Adam Nomvethe, lahir dan dibesarkan di Afrika Selatan. Aku datang dari sebuah suku yang ketat sekali jika berbicara soal pernikahan. Bahkan ayahku tak suka jika aku sembarangan memilih perempuan. Pokoknya harus berada dalam lingkar suku yang sama. Darah si perempuan harus diperhatikan. Tak boleh sembarangan. Ayahku kurang suka jika aku mendapati perempuan yang kastanya berbeda jauh dari keluargaku.

Renata. Itulah nama tunanganku. Nama lengkapnya Renata Zoyasha. Dia perempuan kulit hitam paling manis yang pernah ada di benua Afrika. Tak ada yang bisa menandingi kecantikan Renata. Gadis-gadis dari beragam negara pun, tak ada yang bisa menandingi kecantikan Renata-ku. Apalagi soal karakter dan kepribadian Renata yang luar biasa. Bahkan kurasa Miss South Africa harus belajar pada Renata. 

 Haha. Aku masih ingat saat Bill Carroll menawariku gadis dari Roma itu. Martina Lucarelli itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Renata Zoyasha. Senyuman Renata masih menang mutlak. Belum lagi soal kesopanan. Martina, kurasa, hanya menang di buah dada dan lingkar pinggul. Tak heran, tiap dia berjalan, gadis Italia itu seperti tengah ber-cat walk, yang memancing mata para mahasiswa, lalu bersiul-siul nakal. Kantin pun heboh; yang makin heboh saat Edu Garcia mengajak Martina untuk menari salsa. Aku memilih tak ikutan. Jujur, aku kurang menyukai Renata jadi bahan tontonan, apalagi sampai disiul-siuli. Renata terlalu istimewa soalnya.

"Jangan dengarkan dia, Gab. Dia itu gay. Dia nggak pernah godain cewek mana pun di kampus." kata Bill menyebalkan. Yang kemudian, Hidetoshi Aosato menimpali, "Bahkan matanya lebih tertuju pada sebuah buku." Aku hanya balas dengan galaknya, "Hey, aku sudah bertunangan, tahu!"
["Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" halaman 127]

Begitulah saat kuingat kejadian di Bali tempo lalu. Percakapan yang luar biasa menyebalkan. Padahal aku tengah berbicara pada Gabriel 'Gabi' Hutagalung. Kenapa mereka ikut menimbrung? Anyway, bagaimana kabar Gabi dan perempuannya yang bernama Mikha? Hubungan LDR itu kan berat sekali. Perlu komitmen maha tinggi supaya tidak sampai putus. Aku saja pernah merasakannya. Godaan untuk selingkuh itu akan selalu ada, apalagi saat pasangan kita tak ada di tempat. Semoga saja Gabi dan Mikha bisa bertahan. Haaaa...

.....

By the way, Renata juga tak bisa dibandingkan dengan Chen Wei Hue, gadis asal Shanghai. Miss Chen memang manis. Namun tetap Renata masih lebih baik. Pun, Renata tetap tak bisa dibandingkan dengan Aurelia Mendez yang dari Peru, Luna Morais (Brazil), Karina Singh (India), maupun Tia Baumchapon (Thailand). Renata adalah Renata. Ratu hatiku, penguasa tunggal hati dan pikiranku.

Karena itulah, anak-anak geng Change sempat meledekiku 'gay'. Hey, apa salahnya dengan menjaga komitmen pada seorang gadis? Aku sudah kadung mencintai seorang Renata. Bagiku, jika aku ikut-ikutan menggodai perempuan lain, pasti Renata bisa merasakan. Dulu saja pernah seperti itu.

Kejadiannya saat aku masih di Cape Town. Aku iseng saja menggodai gadis Boer yang lewat di hadapanku. Waktu itu Renata tak ada di dekatku. Renata masih berada di sekolah. Aku bolos sekolah, dan asyik berkeliling-keliling Cape Town dengan motor gede pemberian ayah. Gadis itu lewat di hadapan mata. Rambutnya emas, matanya lebar sekali, dan sangat seksi. Si gadis membalas. Kemudian berujung pada tukar-tukaran identitas. Namanya ternyata Adeline Fontaine. Aku dan Adeline sempat akan berlanjut pada kencan di sebuah restoran mahal di Pretoria. Sayang urung.

Sorenya, keluarga Renata meneleponku. Katanya, Renata mendadak sakit, sehingga harus pulang lebih cepat. Belum lagi satu keluarga harus mengunjungi sanak mereka di Polokwane. Waktunya pas sekali dengan janji kencanku dengan Adeline. Aku kira hanya kebetulan. Tapi ternyata itu selalu terjadi beberapa kali dan lumayan sering. Selalu terjadi sesuatu pada Renata ketika aku kepikiran buat selingkuh. Kata seorang tua-tua, mungkin antara aku dan Renata ada semacam garis atau apalah yang aku kurang mengerti (Kak Alan lebih paham, sebab dia sering mengunjungi acara-acara yang berhubungan dengan suku keluarga kami). Dan, kata tua-tua itu juga, itulah yang menyebabkan Renata sering mengalami sesuatu tiap aku punya niat selingkuh.

Tapi, di luar segala yang berhubungan dengan sukuku, lama-lama tiap melihat Renata, aduh hati ini. Rasanya tak tega untuk menduakan Renata lagi. Renata itu sungguh perempuan yang terlalu baik. Polos kurasa. Pernah aku menceritakan dengan jujur (nekat saja!) bahwa aku pernah iseng mengajak perempuan lain kencan, bukannya marah, Renata hanya terdiam. Tampak matanya berkaca-kaca. Beberapa menit kemudian, dia melengos begitu saja. Tadinya aku ingin minta maaf dan membujuknya dengan segala rayuan dan gombalan. Tapi jadinya aku malah bergeming cukup lama. Esoknya, Renata kembali baik dan manis padaku seolah-olah kemarin itu tak ada apa-apa. Hanya saja, ia terlihat sangat cantik, yang memintaku menemaninya pergi nonton. Aduh, rasanya sangat tertohok. Ya ampun, Renata tak marah, namun mungkin hatinya sedih.

Lalu aku berpikir. Kalau kupikir, bodoh sekali jika perempuan seperti Renata itu kusia-siakan. Dia perempuan kulit hitam paling manis di seluruh Afrika Selatan. Belum lagi dia jago bikin roti goreng (penganan khas Afrika Selatan) se-Cape Town. Renata juga sangat sabar menghadapi temperamenku (maklum saja sukuku memang terkenal sangar, galak, pemarah, sehingga terlihat menyeramkan). Aku sungguh merasa sangat berdosa sekali. Apalagi saat kudengar Renata tak pernah mau didekati lelaki mana pun. Hah? Padahal tunanganya saja sudah main gila dengan beberapa perempuan. Itu sakit sekali untukku.

Sejak itulah, aku janji untuk tidak menduakan (apalagi meratuskan) seorang Renata Zoyasha. Walau ditawari banyak perempuan paling cantik dan seksi, aku sudah berkaul dalam sebuah gereja di kampung halamanku (juga pernah di hadapan tua-tua kampung) untuk selalu setia pada Renata. Renata saja sudah berani untuk memulai duluan tidak main mata, kenapa aku harus main mata duluan?

.....

Karena Renata,...

Karena anak-anak Change,...

Juga teman-teman lainnya di Melbourne,...

Aku jadi banyak belajar. Lama kurenungkan semuanya. Sekonyong-konyong ide (nakal) melintas di pikiran: apakah di jaman sekarang kesetiaan itu barang langka nan supermahal? Sampai-sampai seorang pria yang tetap menjaga agar tidak menduakan wanitanya (yang berada jauh darinya), dan tidak ikut-ikutan tebar pesona dan genit-genitan, disangka seorang gay. Apakah sudah seperti itu jaman sekarang ini dalam memandang sebuah hubungan? 



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^