Friday, October 14, 2016

Tuhan Tidak Pernah Tinggal Diam




Kali ini aku berada di sebuah kota. Aku masih seorang musafir yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tempat yang aku datangi itu juga sebuah kota kecil. Lalu aku masuk ke sebuah perumahan dan berkunjung ke sebuah rumah.





Rumah yang aku datangi ini cukup besar. Ada lima orang yang tinggal di dalamnya. Dan, di dalamnya, kepala keluarganya itu tampak gamang wajahnya. Anak-anaknya yang lain pun sama. Rupanya beberapa minggu lalu, mereka baru saja kehilangan istri dan ibu mereka. Kehilangan orang yang sangat kita cintai itu memang berat. Hingga...

...seorang anak laki-laki, seorang pemuda, menarik perhatianku. Dia memang tampak kehilangan. Namun auranya sangat berbeda dengan ayah, kakak, adik, dan abang sepupunya. Kata adiknya, dia suka mengeluh dan lumayan manja. Kata kakaknya, sejak ibunya pergi, dia jadi terlihat lebih bebas. Wajar. Sejak ibunya masih ada, pemuda itu begitu dikekang. Pulang di atas jam delapan malam pun, ibunya pasti akan menelepon. Setelah pergi, dia bahkan berani keluyuran, tanpa permisi, dan di atas jam delapan. Kata ayahnya, dia anak yang sangat berbakat, namun pemalu dan minder. Sementara kata abang sepupunya, pemuda itu memiliki suatu kekuatan tersembunyi dan ada yang menjagainya. Ibunya pernah cerita ke abangnya itu, pemuda itu sepertinya sulit mati. Sebab pernah beberapa kali nyaris mati, namun masih bisa bertahan hidup. Pertahanan diri pemuda itu sangat kuat. Aku pun bisa melihatnya sendiri.

Yang aku lihat, dari dalam hatinya terlihat menyorotkan kesedihan yang amat mendalam. Tiap membaca cerita yang ia bikin, aku bisa merasakan cerita itu basah karena air mata yang datangnya dari hati. Buat yang memiliki kepekaan, pasti tahu yang aku maksud. Aku tahu dialah yang paling sangat kehilangan ibunya daripada yang lainnya. Terbukti benar. Kata abang sepupunya, pemuda itulah yang paling sering berziarah--dan selalu meraung di depan makam ibunya.

Setelah kudesak, pemuda itu baru mau mengakui bahwa rumahnya terasa sangat berbeda. Tak ada lagi yang bisa memahaminya sebaik ibunya. Semarah-marahnya dia pada ibunya, ibunya itu yang sangat peduli dan memahaminya. Walau menentang beberapa keputusannya, ternyaat ibunya malah mendukungnya diam-diam. "Yah aku tahu. Abangku itu pernah cerita seperti itu." tuturnya dengan wajah datar, menahan linangan air mata.

"Aku merasa janggal dengan kematian ibuku, Tuan Musafir,"

"Aneh bagaimana?"

"Aneh saja. Aku merasa kematiannya datang tiba-tiba."

"Bukankah kematian selalu seperti itu, selalu datang tiba-tiba?"

"Tapi ini tidak wajar, Tuan Musafir. Seperti dibuat-buat. Seperti ada yang sudah merencanakannya."

"Jangan sembarangan menuduh. Sang Pencipta tidak suka orang yang menuduh tanpa bukti. Apa kamu punya buktinya?"

"Memang tidak ada. Tapi, di sini--" Ia menunjuki letak hatinya. "--aku tahu ada yang ganjil. Sebab, Mama memang sudah sejak 2010, divonis mengidap kanker payudara. Tapi dengan beberapa kali terapi pengobatan, sudah sembuh. Lalu kambuh di pertengahan 2013."

"Bukankah kanker selalu seperti itu, selalu kambuhan?"

"Dengarkan dulu, jangan potong omongan saya!"

Tampak dia sangat sensitif. Kuduga, dia tipe orang yang mudah meledak. "Aku mendengarkan,"

"Tapi tetap sama. Dengan beberapa kali pengobatan, bahkan kepalanya jadi botak--hingga harus mengenakan penutup kepala atau wig, kankernya hilang. Yang kudengar, katanya sudah sembuh total. Dan memang benar, Mama terlihat lebih berenergik dan lebih sering tersenyum, juga bercanda. Bahkan, dirinya berani bepergian dua kali ke tempat-tempat yang harus menyeberangi lautan. Itulah kenapa aku percaya dia sudah sembuh total kata Papa."

Hening.

"Hingga, akhir April 2014, berita itu datang. Papa bilang Mama kena kanker lagi. Kanker kelenjar getah bening yang pernah menyerangnya. Padahal sebelumnya Mama terlihat sangat bugar. Saking bugarnya, dia pernah berencana ziarah ke Holy Land bersama beberapa tante dari pihaknya. Kan itu terasa aneh saja buatku."

"Terus keanehan lainnya?"

"Akhir Juni 2014, aku dan dia sempat bersitegang. Masalah sepele. Dan, dia sempat berniat pindah rumah. Kata Mama, akulah penyebabnya. Beberapa tetangga mempergunjingkanku diam-diam, dan ketahuan Mama. Mama kelihatan tidak suka aku dibicarakan yang bukan-bukan. Tapi kata Papa, mungkin itu firasat Mama bakal meninggal."

"Loh, benar kata Papa-mu kan? Yang namanya firasat kan selalu ada? Apalagi pasti Papa-mu sangat mengenal Mama kamu lebih dari kamu."

Pemuda itu menggeleng mantap. "Tidak! Dari raut wajah Papa, aku tahu dia bohong. Papa seperti menyembunyikan sesuatu dari aku. Dan aku merasa sesuatu itu penting."

"Juga mungkin berbahaya, Nak," ujarku tersenyum. "Ada kalanya sesuatu disembunyikan karena terlalu berbahaya untuk diketahui."

"Iya sih, anda benar, Tuan Musafir," kata pemuda itu mengangguk pelan. "Tapi tetap saja kan, aku merasa ada yang aneh dan janggal. Aku merasa Mama ada yang menyakiti. Kematiannya itu karena pasti ada orang yang mengapa-apakan. Apalagi saat menjenguk Mama, kondisi tubuh Mama itu rada aneh. Setahuku, pengidap kanker tidak seperti itu. Perutnya tidak harus menggelembung, apalagi tubuhnya harus dingin terus menerus, sedingin es. Bicara pun susah."

Sontak sekujur tubuhku merasa bergidik. Aku pun merasakan hal aneh memang. Seperti ada yang mengatakan keluarga ini dibayang-bayangi suatu aura hitam. Ada beberapa kekuatan mistik nan berbahaya yang terus menerus merongrong keluarga dan rumah ini.

"Aku benar kan, Tuan Musafir?" Mungkin dirinya menangkap gelagat setuju dariku.

"Yang saya lihat, sepertinya keluarga kamu ini tipe yang kurang dekat dengan Sang Pencipta. Itu terlihat dari sikap kalian. Memang ada beberapa lukisan suci, namun yang esensial itu malah tidak berani dipertunjukan. Cara pandang Papa dan Kakak kamu saja terhadap doa juga terasa menggelitik aku."

"Memangnya ada hubungannya, Tuan Musafir?"

"Jelas ada. Kedekatan seseorang dengan Sang Pencipta, juga keyakinannya kalau Sang Pencipta akan menjagainya, itu akan menjauhkan yang bersangkutan dari siapa pun yang mengganggu, terlebih jika gangguan itu datang dari cara yang--" Aku tersenyum memberikan kode. "--kamu tahu kan maksudku apa?"

Dia menggeleng. Sepertinya dia kurang mengetahui beberapa hal yang selayaknya sudah dia tahu di usianya yang ke-28 sekarang. Masuk akal. Dia tipe anak mama, bukan?

"Kamu perbanyak teman dan perluas wawasan kamu. Nanti kamu juga tahu apa maksud dari kata-kata saya. Yang jelas, sepertinya Papa kamu tengah melindungi kamu, Nak. Pasti Papa kamu tak ingin kamu bersinggungan dengan hal-hal seperti itu. Apalagi pelakunya juga bukan manusia yang pernah aku ketahui. Selidiki saja diam-diam, lalu ampuni pelakunya, dan biarkan Sang Pencipta yang membalas."

Dia termangu.

*****

Setahun berikutnya, setelah bepergian ke beberapa tempat, aku datang lagi ke tempat yang sama. Auranya sudah berbeda. Rumah dan keluarga itu sudah tidak dinaungi awan hitam. Kekuatan mistik nan berbahaya yang menekan mereka pun sudah sirna. Rumahnya juga terlihat seolah Sang Pencipta pernah singgah.

"Aku benar, Tuan Musafir!" serunya berbinar-binar seperti menang lotere saja.

"Benar kenapa?"

"Dan anda juga benar. Memang ada kekuatan mistik berbahaya yang mengganggu rumah dan keluargaku. Setelah kuusut dari beberapa tetangga, Mama diganggu sama beberapa orang. Rapi sekali permainannya. Yang aku heran, sejak kapan Mama bisa bersinggungan dengan para monster tersebut."

"Banyak yang kamu tidak tahu, Nak. Yang jelas, dengan lingkungan tempat tinggal yang seperti itu, tak heran jika Mama kamu bersinggungan dengan orang-orang yang kamu sebut monster. Biasanya, yang aku tahu, cara kerjanya memang rapi dan tak terdeteksi ke permukaan. Pelakunya biasanya hobi mengenakan topeng. Setelah selesai menyakiti korban, dia lantas mengenakan topeng bernama iba. Seolah-olah bukan dia pelakunya. Omong-omong, apa kamu sudah tahu bagaimana caranya?"

"Kata satu-dua orang saksi sih, pernah kepergok ada beberapa orang yang mendekati rumah kami saat tengah malam dan meletakan sesuatu di dekat rumah. Kata mereka, sesuatu itu hal yang biasanya digunakan untuk membunuh secara tak terdeteksi. Juga, kata mereka, saat Mama lagi sendirian, Mama pernah didekati dan digertak mau dibunuh. Begitu kata mereka, Tuan Musafir."

Aku memeluknya erat. "Yang sabar. Seiring dengan hati keluarga kamu yang sudah condong ke Sang Pencipta, mereka pasti dapat balasannya."

"Memang sudah, Tuan Musafir. Beberapa minggu ini, di sini terasa horor. Ada beberapa yang meninggal dengan cara tak wajar."

"Lalu, kamu coba ampuni mereka. Sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka hanya melakukan apa yang menurut mereka bisa memuaskan nafsu kedagingan mereka. Juga, ampuni keluarga mereka."

"Sulit, Tuan Musafir. Sulit mengampuni para pembunuh tersebut. Apalagi mereka melakukannya bukan dengan cara normal. Mereka melakukannya dengan cara iblis!!!" Emosinya langsung naik seketika.

"Sabar. Tidak baik seperti itu. Itu akan membuat hatimu semakin gelap, sehingga jauh lagi dari Sang Pencipta."

Ia tak menjawab, hanya menundukan kepala dan terpekur.

Hening.

"Lalu, apa kamu melihat keanehan lainnya? Ingat, tidak, apa yang janggal dari kematian Mama kamu? Kamu yang saya lihat itu tipe pengamat yang bagus."

Dia menggeleng. "Tidak. Tapi setelah kudesak, adikku itu baru mau cerita, dua bulan sebelum Mama meninggal, suka ada bau-bauan aneh. Seperti bau gosong, yang setelah diselidiki, tak ada yang gosong."

Benar dugaanku. Saat itu, memang ada yang mengganggu keluarga ini.

"Terus, adikku bilang suka ada satu-orang misterius yang datang dengan gelagat mencurigakan. Adikku kan juga beberapa kali suka bareng Mama. Dia bilang Mama suka mengigau. Mama suka menjerit-jerit minta tolong dan minta beberapa orang langsung menjauh dari keluarga kami."

"Terus reaksi adik kamu dan keluarga yang lain?"

"Adikku ketakutan. Dia cerita ke Papa dan kedua kakakku. Mereka sepakat untuk diam saja. Mama bilang sebaiknya dirahasiakan dari aku. Katanya, aku suka panik dan khawatir. Takut aku jadi tidak menikmati hidup juga. Tapi kakak nomor dua berpendapat lain. Dia ingin memberitahukan, tapi selalu dicegah Mama. Apalagi hubunganku dengan dia juga, sebelum Mama meninggal, juga kurang begitu harmonis."

"Benar kan yang kubilang? Pasti Papa kamu ada alasan kenapa merahasiakannya dari kamu. Biasanya juga memang seperti itu, Nak. Kalau menyangkut hal-hal seperti itu, para korbannya tak berani mengaku. Semakin berani buka, para pelakunya bisa kalap. Mereka memang bukan manusia lagi. Tak ada manusia seperti mereka yang bisa menyakiti sambil tertawa lebar. Yang bisa dilakukan, serahkan kepada Sang Pencipta. Biar DIA yang membalas. Juga, lebih mendekatkan diri lagi ke Sang Pencipta. Pertebal iman juga. Selalu kamu ingat juga, Tuhan tidak pernah tinggal diam."





No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^