Sunday, October 2, 2016

SERIAL #MATIKE : Kelinci Omelette




Kelanjutan dari sini




Kurebahkan tubuh mungil ini ke atas spring bed. Mataku tertuju pada sosok Luna, boneka kelinci berwarna abu-abu. Sepeninggal Luna yang asli, aku selalu coba mencari kelinci pengganti. Namun tak kutemukan. Yang ada, malah Luna ini, yang kubeli di sebuah toko suvenir sepulang dari Australia. Aneh yah, replika Luna malah kutemukan bertahun-tahun dan bermil-mil dari lokasi aku berada.

Bukan soal Luna yang aku bicarakan. Luna hanya benda mati. Dia tak bernyawa. Yang ingin aku.....

.....




Matias.

Hari ini Matias ribut lagi sama Kak Thalia yang sok paham fashion (padahal aku yang paling mengerti). Lagi-lagi Kak Thalia masih terus menyalahkan Matias atas meninggalnya Daddy. Padahal itu bukan soal Matias. Matias tak bersalah. Semuanya terjadi begitu saja. Kita tak bisa mengontrol apa yang seharusnya terjadi. Mungkin ini memang jalan terbaik: Daddy harus pergi dengan jalan seperti itu.

"Luna... aku sayang sama Matias... tapi aku juga sayang sama Kak Thalia. Aku harus gimana? Kayaknya mereka susah banget didamaikan. Ini udah sepuluh kali mereka ribut, kayak anjing dan kucing." lirihku sambil membelai-belai salah satu kuping panjangnya.

Masih terngiang di benak bayangan kejadian tadi sore.

Selepas mengantarku ke rumah--sehabis menemaniku berbelanja kebutuhan sehari-hari, belum sampai pintu depan rumah, Matias sudah mendapatkan semprotan dari Kak Thalia. Mungkin ini yang paling dahsyat.

"MAU APA LO KE SINI? UDAH GUE BILANG JANGAN PERNAH KE RUMAH INI LAGI!"

Matias menabrakan sebelah tangan ke sebelah mata. "Apaan sih, kakak kenapa sih, Om juga udah lama meninggal kan? Udah tiga bulan lalu, dan bukan gue yang bikin. Itu murni kecelakaan."

"Kecelakaan, katanya? Kalo lu gak ganggu konsen Daddy, Daddy pasti masih hidup. Dan lu pasti sengaja gak perbaiki persnelingnya gara-gara lu dendam, kan, Daddy marah-marahin lu yang bikin lecet sepulang lu sama Kezia jalan-jalan ke Bali."

Kupejamkan mata. Kubiarkan peluh jatuh membasahi kedua pipi ini. Aku masih kesal dengan sikap Kak Thalia. Matias kan sudah mencoba beragam cara untuk menebus rasa bersalahnya. Lagian bukan salah Matias juga jika seorang tukang tambal ban bikin satu kekeliruan, yang awalnya katanya baik-baik saja.

Dari Luna, aku beralih ke Dipo, sebuah boneka beruang pemberian Matias. Kupeluk Dipo erat-erat seraya tengah memeluk Matias.

*****

"Ah, shit!" makiku sambil melumat telunjuk yang kecipratan minyak panas.

Dalam hati, aku mengumpat. Kenapa sih Kak Thalia harus begitu sama Matias? Padahal Matias itu baik banget.

Ah, semoga saja omelette ini rasanya tak keruan. Tanpa sadar sebutir darah dan sebulir air mata jatuh ke penggorengan, membumbui omelette-nya. Kalau pun rasanya berantakan, toh nanti Kak Thalia yang akan memakannya. Dia yang meminta. Aku sudah menolaknya dengan alasan.....

Di keluarga ini, orang yang paling jago bikin omelette itu Daddy. Memang Mommy yang paling jago masak. Tapi urusan omelette, Daddy yang paling jago. Setelah Daddy pergi, aku rasa aku tak mau berurusan lagi dengan yang namanya omelette. Aku sebagai penerus resep rahasianya, tak sudi bikin omelette. Sebab itu akan semakin membuat pedih hati, tambah runyam suasana, dan--sudahlah, Daddy sudah pergi, ikhlaskan saja. Itu memang murni kecelakaan. Kalau memang ada yang harus disalahkan, biarkan Tuhan yang membalas.

Kasihan Matias!

Aku kasihan sama adik kelasku yang sangat otaku, yang kini jadi kekasihku. Kuakui, terkadang Matias bisa jadi paling anak-anak dari seorang anak kecil. Namun kalau sudah salah, Matias bisa menjadi seorang ksatria, kok. Sangat ksatria malah.

Benar katanya dulu--waktu aku dan dia kencan kali pertama di mal itu. Dia pernah bilang, apa yang terjadi di dunia 2 dimensi, bisa terjadi pula di dunia 3 dimensi. Apa saja mungkin terjadi. Dan, Matias sungguh mengingatkanku akan sebuah tokoh fiksi yang... aduh Kezia, dari dulu kalau urusan mengingat, kamu memang paling payah!

Ya ampun! Omelette-nya gosong! Gimana nih?

Tapi masa bodoh-lah, Kak Thalia ini yang akan memakannya. Biar tahu rasa dia. Hahaha.

"Ya ampun, Kezia!" raung Kak Thalia yang sekonyong-konyong tampak. "Kamu ini gimana sih, Zia? Bisa sampai gosong gini? Tuh tangan kamu kenapa lagi? Pasti mikirin si Biang Sial itu lagi, kan?"

Biang sial? Enak saja Matias-ku dibilang si Biang Sial! Matias-ku itu orang paling istimewa dalam hidupku, tahu!




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^