Friday, October 7, 2016

SERIAL #GGKT : Terbongkar



    Chapter-chapter sebelumnya:
Keadilan Tuhan Sedang Bekerja
Sang Penghasut
Pembalasan
Pembalasan Bagian Kedua
Masa Lalu yang Sama



Orihime dan Hikoboshi.
Terkadang kita suka menyamakan antara pikiran kita dan pikiran Tuhan. Terutama kalau kita bicara soal jodoh. Bicara soal jodoh, yah aku percaya Tuhan sudah menetapkannya, bahkan saat kita masih berupa janin. Hanya saja bayangan kita soal jodoh itu suka tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan Tuhan. Oh, tak semua orang yang sudah sejak kecil dibukakan soal jodohnya siapa. Seperti yang dialami Zafira. Dalam satu kesempatan ngobrol ngalor ngidul di sebuah foodcourt, Zafira pernah cerita padaku bahwa dirinya sejak usia empat tahun sudah diperlihatkan siapa jodohnya. Hanya saja Tuhan hanya memberikan beberapa kepingan saja, yang tidak utuh. Itulah kenapa Zafira bisa salah mengenali.






Aku pun sama. Aku merasakan hal sama dengan Zafira. Hanya saja, tiap kali aku mencoba ingat, kepalaku terasa sakit sekali. Sudah sejak kecil, aku sama seperti Zafira. Bedanya, saat kecil, pikiranku teralihkan ke hal-hal duniawi. Aku begitu dimanjakan dengan banyak fasilitas. Tak heran bayangan soal jodoh langsung sirna. Namun adikku, Harmoni pernah mengatakan padaku bahwa sejak kecil diriku suka kepergok oleh dirinya tengah berbicara dengan seseorang. Yang Harmoni lihat itu, sosok yang tengah bicara padaku itu seorang bidadari cantik yang berambut panjang. Harmoni pernah bertanya, "Bang, cewek itu siapa? Itu loh, yang sering Abang ajak ngobrol. Cantik, Bang." Aku jawab, "Cewek apaan? Nggak ada kok." Adikku langsung terdiam waktu itu, selain bergidik. Beberapa waktu berselang, lama sekali sebetulnya, adikku kembali bercerita, "Abang itu kadang aku lihat kayak orang amnesia. Suka ngelakuin apa-apa yang berikutnya Abang lupa udah ngelakuin." Aku terdiam.

Soal jodoh--atau cinta umumnya, aku tidak terlalu ngotot tak seperti kebanyakan orang. Biasa saja. Memang aku pernah jatuh cinta berkali-kali. Pernah juga menembak lawan jenis. Dan bla-bla-bla. Kadang aku malas bicara soal cinta. Aku lebih memilih topik lain selain cinta. Hingga akhirnya, setelah berjumpa dengan Zafira, berkenalan, dan saling tahu kehidupan masing-masing, sepertinya aku harus selalu mengisi hari-hariku dengan cinta dan asmara. Aku sontak berubah jadi seorang cassanova yang jago menggombal, bikin kata-kata puitis nan romantis, serta  beberapa kali nekat demi Zafira. Apa orang yang jatuh hati memang seperti itu?

Suatu kali, kepalaku pusing lagi. Mendadak aku seperti berada di sebuah istana langit. Aku mengenakan pakaian khas istana langit. Posturku gagah sekali. Lalu, di sampingku, berdirilah sebuah perempuan berambut panjang yang cantik sekali. Kata hatiku bilang itu Zafira sebelum turun ke dunia. Sosokku dan sosok Zafira asyik bercakap-cakap. Sosokku itu mendapatkan suatu penugasan untuk turun ke dunia. Si sosok Zafira sepertinya berat ditinggal pergi Arjuna-nya. Apalagi kalau harus berpisah selama sepuluh tahun. Namun sosokku itu berusaha menenangkan dengan kata-kata lembutnya, "Tuan Putri jangan takut. Nanti di bumi kita pasti ketemu. Nanti pasti Tuhan memberikan padamu segala tanda bahwa itu aku. Sampai bertemu Tuan Putri nanti, aku janji tidak akan pernah menjalin hubungan dengan perempuan mana pun."

Tak hanya sekali, tapi juga beberapa kali. Lumayan sering. pernah sosok itu berkata, "Nanti saat kita akan bersatu, banyak yang tidak suka. Bahkan ada satu-dua orang yang aku duga akan terus berusaha menghalangi dengan bikin banyak gangguan. Kalau saat itu tiba, seekor anjing akan menjagai Tuan Putri sampai aku sungguh masuk dalam hidup Tuan Putri." Kemudian sosokku itu mencium sosok Zafira. Di bibir. Dan mesra sekali.

Begitulah.

Aku terdiam sebentar, kembali menyesap kapucino-ku. Mirip juga dengan bagaimana Christoph disadarkan akan Sylvie-nya.

Hmmm...

Awalnya saat berjumpa dengan Zafira, bisa dibilang itu 'love at first sight'. Saat itu, aku belum terlalu begitu mengenal pribadi Zafira yang sesungguhnya. Yang aku tahu, saat melihat parasnya, aku serasa seorang cupid menembakan panah cintanya padaku. Sehari-dua hari kemudian, saat muncul isu tak enak soal Zafira, entah kenapa itu menggangguku. Aku seperti kesal ada yang bicara buruk soal Zafira; juga ada sedikit rasa tak suka pada Zafira. Waktu itu beredar kabar bahwa Zafira kepergok menggunakan rokok elektrik. Dari remaja, aku tidak begitu menyukai perempuan yang merokok, minum minuman alkohol, apalagi pemakai. Oke, mungkin aku terlalu perfeksionis sampai isu itu terus menggangguku selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Padahal Zafira sendiri pun sudah mengatakan bahwa dirinya bukan seorang perokok. Rokok yang dia hirup itu bukan rokok konvensional, namun rokok elektrik. Apalagi dia punya riwayat asma (sama sepertiku) dan anemia. Saat kali pertama menggunakannya itu, Zafira tengah dijebak oleh beberapa orang temannya. Katanya, waktu itu dia lagi bersama beberapa teman yang suka merokok. Mereka dan Zafira tengah mengobrol ngalor ngidul hingga salah seorang mengeluarkan rokok elektrik. Yang lain pun mengikuti. Mereka saling lempar asap ke wajah masing-masing. Sesekali mereka menggodai Zafira dengan buang asap ke wajah Zafira. Seseorang malah berujar, "Coba deh, Zaf," Zafira beberapa kali menolak. Namun karena terus menerus didesak, apalagi terus dibilang "Nggak gaul", pertahanan Zafira jebol juga. Zafira jadi mencoba rokok elektrik kepunyaan salah satu dari teman-temannya. Karena memang bukan perokok dan belum pernah merokok sama sekali sebelumnya, Zafira pun terbatuk-batuk, giginya sempat nyut-nyutan, dan besoknya dia langsung sariawan parah.

Tidak sampai di situ saja. Teman-temannya, tiap kali ngobrol ngalor ngidul, selalu tak hentinya mendesak Zafira untuk menggunakannya lagi dan lagi. Bahkan salah seorang rela membelikannya satu buah rokok elektrik buat Zafira. Kata temannya itu, "Belajar, Zaf. Di rumah coba-coba isap. Biar kalau ngobrol sama gue dan yang lainnya, dan pas kita lagi make, lu nggak kayak orang cengo. Solider-lah. Yang lain make, lu juga harus. Nggak gaul lu ah, kalau nggak ikutan make." Zafira sering menolak. Beberapa kali lagi mengobrol dan ada yang menggunakannya, Zafira harus menahan napas. Hingga, yah akhirnya jebol juga. Zafira kembali mencobanya lagi dan lagi. Hasilnya selalu sama. Terbatuk-batuk dan gigi nyut-nyutan. Namun karena mendapatkan motivasi yang salah, di rumah pun Zafira mencoba benda itu beberapa kali. Dalam hatinya, apa enaknya sih. Sampai Zafira pun terpergok oleh Mama dan Papa-nya. Ia dimarahi habis-habisan. Rokok elektrik itu pun dikembalikan. Sayang yang punya menolak untuk menerima. Katanya nyengir, "Itu hadiah kali buat lu," Terpaksa Zafira buang ke tong sampah. Semenjak saat itu, Zafira benar-benar berhenti dan tak mau coba-coba lagi. Saat tengah berkumpul dengan orang yang sama, biarlah dikatakan tidak gaul. Kan yang namanya bergaul dengan seseorang, tidak harus mengikuti gaya hidupnya juga, apalagi yang jelas-jelas bertentangan prinsipnya dengan kita.

Kejadian itu mulai terlupakan. Zafira mulai bisa mengendalikan diri dan belajar menolak yang salah. Hanya saja, kejadian saat Zafira menggunakan rokok elektrik itu akhirnya tersebar luas di kalangan mahasiswa di kampusnya. Itu tersulut karena ada salah seorang teman Zafira yang tidak suka Zafira menang Putri Kampus.  Temannya itu gugur di babak penyisihan. Zafira bilang temannya itu cemburu. Terlebih lagi Zafira itu favorit dosen-dosen, juga disenangi banyak mahasiswa-mahasiswi. Temannya itu sepertinya tak pernah lelah untuk menjatuhkan Zafira dengan banyak isu negatif. Sesekali Zafira diajak datang ke sebuah acara pernikahan di sebuah kafe. Bukan resepsi, namun pesta tambahan di luar acara resmi dan itu diadakan seminggu setelah pernikahan yang bersangkutan. Yah bisa dibilang pesta lajang yang terlambat. Mereka di sana asyik ngobrol dan juga berfoto-foto. Nah salah satu fotonya itu diambil pula sama orang itu, yang kemudian diedit, sehingga terlihat Zafira tengah menggunakan rokok elektrik. Padahal aslinya itu pegangan tongsis. Foto-foto itu tersebar luas dan sempat bikin Zafira malu untuk pergi ke kampus. Tiap ke kampus, Zafira menutupi diri dengan topi dan kaca mata hitam.

Saat awal jadian pun, ponselku sempat kedatangan foto Zafira tengah menggunakan rokok elektrik, lengkap dengan asapnya. Untung saja, temanku, Dave yang lumayan jago IT dan photo editing, langsung menyadari dan memberitahuku bahwa foto itu editan. Dia langsung menunjukan titik-titik mana saja yang diedit. Juga dia berpesan, "Kalau lu beneran sayang sama dia, terima dia apa adanya. Mungkin ada banyak sifat jelek dia yang lu ga suka, dan lu harus terima. Lu kan baru awal jadian, siapa tahu aja lu bakal tahu kebiasaan-kebiasaan jelek dia kayak suka ngupil sembarangan, suka ngorok, suka bersendawa, atau kekurangtahuan dia akan beberapa hal. Dia juga jauh lebih muda dari lu. Terima dia sepenuh hati."

Tapi ada-ada saja ulah beberapa orang untuk merusak hubunganku dan Zafira. Banyak sekali isu negatif soal Zafira yang ditujukan kepadaku. Pada saat ini, mendadak aku teringat kata-kata Sylvie waktu itu, "Biasanya yang memang berjodoh, memang suka banyak ada yang menghalangi mereka bersatu. Cobaan dan godaannya jauh lebih banyak."

Suatu kali, ponselku berdering. Ada yang mengirimiku foto Zafira tengah memeluk mesra laki-laki lain. Hampir berciuman bibir pula. Dan, di dekatnya ada satu dua botol minuman beralkohol--juga gelas-gelasnya. Aku panas. Kesal. Beberapa hari kemudian, Zafira baru mulai berani cerita kalau memang benar. Tapi saat itu dia dijebak oleh orang yang sama--atau yang masih berhubungan dengan orang yang sama. Saat itu, Zafira lagi stress sekali. Masalah di keluarganya, masalah di UKM itu, belum lagi saat tengah UTS. Di saat itulah, datang orang brengsek yang mengajak Zafira masuk ke klub malam untuk kali pertama, hingga memperkenalkannya dengan beberapa laki-laki. Yang kudengar, ada perempuan yang cemburu Zafira bisa berpacaran denganku yang begitu terkenal sebagai seorang jurnalis. Entah benar, entah tidak.

Tak sampai itu saja, muncul foto Zafira tengah tidur dengan laki-laki lain. Zafira lalu menjelaskan padaku, walau aku masih marah, bahwa itu kejadiannya sama. Dia waktu itu lagi dijebak oleh orang-orang yang sama karena ketidaksukaan mereka terhadap Zafira yang punya pesona luar biasa. Tak heran, sampai sekarang pun, Zafira terus berusaha digodai dan dijatuhkan. Dan, foto itu pun memang benar. Tapi Zafira tidak sampai berbuat sebegitu jauhnya dengan laki-laki itu. Hanya tidur bersebelah-sebelahan. Di kemudian hari, Zafira mengaku dirinya sudah memiliki kekasih ke lelaki-lelaki itu, juga yang tengah mendekatinya.

Saat aku curhat pada Sylvie, Sylvie terbahak. Katanya nyengir lebar, "Kan sudah kubilang, kalian itu sama, kalian kurang mendekatkan diri ke Tuhan. Belum lagi, satu lagi, baik kamu sama Zafira itu punya kecenderungan untuk baik sama semua orang tanpa terkecuali. Kalian sulit menolak sesuatu yang sudah tahu itu salah. Pengendalian diri kalian itu masih lemah. Masih gampang dipengaruhi juga. Itu kelemahan-kelemahan kalian yang kulihat. Baik ke semua orang, bagus. Tapi tetap harus hati-hati. Jaman sekarang banyak musang berbulu domba. Anyway, lain kali kalau ada isu tak enak, walau itu benar, tetap jaga perasaan pasangan kamu. Tetap percaya sama dia, percaya juga pasti itu ada alasannya. Belajar menerima dia sepenuhnya."

*****

Aku dan Zafira kembali akur. Kami berdua sudah tidak bertengkar. Kami juga berjanji sebisa mungkin untuk bisa saling menjaga perasaan, saling menguatkan, saling mempercayai, dan saling mendengarkan. Hanya saja, setelah kami berdua bisa tetap bertahan di saat-saat sulit, masalah menimpa Christoph dan Zafira.

Zafira mengirimiku SMS, "Mas, Mas udah dengar, belum, akhirnya rumah itu ketahuan juga sama orang-orangnya Supandi? Yang aku dengar dari Sylvie sih, Christoph sempat ditangkap dan dibuang ke mana gitu. Sylvie juga bilang mendadak dirinya kaget ada beberapa mobil mendatangi rumahnya. Dia kira itu kita. Ternyata dari orang-orangnya Supandi, yang salah satunya itu ada Bona. Sempat berantem antara Bona dan Christoph, Mas. Bahkan sempat adu pukul juga. Sampai Christoph dibikin pingsan dan Sylvie dibawa paksa ke kediaman Bona. Rumah itu juga, yang terakhir kulihat, makin dijagai, Mas. Selalu ada penjaganya. Aku pernah lihat Supandi beberapa kali mengunjungi rumah itu. Dari tampangnya, emang benar Supandi itu bukan orang baik-baik. Matanya itu kayak mata pembunuh berdarah dingin. Seram aku ngelihatnya."

Ya ampun, pantas aku sekarang sudah sulit berhubungan dengan Christoph dan Sylvie. Ternyata ada sesuatu berbahaya yang menimpa mereka. Semoga saja mereka berdua bisa cepat menemukan keadilan Tuhan. Semoga musuh-musuh mereka--juga musuh-musuh aku dan Zafira--segera mendapatkan ganjaran dari Tuhan. Mereka sungguh bukan manusia!