Saturday, October 8, 2016

SERIAL #GGKT : Puncak Kekuatan







  Chapter-chapter sebelumnya:






Siluet Malaikat Agung Michael.
[Christoph]
Argh, damn! Brengsek! Orang-orang itu pakai acara datang pula. Aku sudah bisa menduga pasti cepat atau lambat, pasti orang-orang itu bakal tahu. Dari awal aku sudah takut bakal terbongkar sejak dua orang itu mulai aktif mencari tahu dan menyebarluaskannya. Sylvie selalu berusaha agar tenang saja dan membiarkan terjadi sebagaimana semestinya. Kuakui, Sylvie juga sama sekali tidak tahu orang-orang itu bakal menyerbu rumahnya. Terlebih laki-laki tak tahu diri itu juga ada di sana waktu itu. 

Sekarang aku di mana? Yang jelas bukan di rumah Sylvie lagi. Aku disekap di suatu tempat yang aku tidak tahu di mana. Tempat ini jauh lebih suram. Aku tidak suka sama sekali. Apalagi segala bau-bauan dan musik-musik aneh yang tiada henti menyerang tubuhku. Goddamn!



Aaaaargh! Damn! Apa ini? Kenapa badanku seperti ada yang menusuk-nusuk dari dalam? Seperti tusukan jarum. Malah lebih sakit dari jarum. Sakit! Sakit! Sakit! Sekarang apa lagi. Aduh! Mendadak sinar di atas kepalaku semakin terang saja. Panasnya membakar kepalaku, Sangat menusuk mata. Seperti matahari, panasnya itu.

Duh! Sekarang perutku lapar. Sepertinya nyaris seminggu aku tidak makan. Mereka hanya memberikanku minum saja. Aku harus sabar dengan segala cobaan ini. Sylvie benar, keadilan Tuhan pasti datang. Lebih baik berdoa dan biarlah kekuatan dalam diriku keluar untuk membebaskanku, juga untuk membalaskan apa yang mereka lakukan ke aku, keluargaku, Sylvie, dan keluarga Sylvie.

Hatsyi! Ganggu orang saja. Aku tengah coba khusyuk berdoa, tiba-tiba saja muncul asap ini. Baunya tak enak. Asapnya juga menusuk-nusuk mata. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka. Aku menoleh ke belakang. Segerombolan orang datang padaku. Pemimpinnya aku kenal. Dia itu anak dari ayah yang aku eksekusi waktu itu. Ayahnya sendiri mati karena stroke.

"Cih!" ujar anak itu lumayan kencang. "Si bule masih hidup ternyata. Haha. Superman kita ini benar-benar susah mati yah?!"

"Kita apain dia enaknya?" tanya salah satu dari gerombolan tersebut.

"Perintah dia sih, hajar aja sampe mati. Gue juga pengin lihat seberapa tangguh satria kita ini."

Begitu dia selesai berkata, langsung beberapa datang dan menghajarku dengan banyak alat. Godam,  nunchaku, rantai berujung bola besi, hingga kampak. Aku mengeluh kesakitan, sesekali meraung, kata "Scheiße!" dan Gottverdammte!" terucap berkali-kali dari mulutku. Aku coba sebisa mungkin untuk menahan rasa sakit. Mereka terus menerus menghajarku. Bahkan entah kenapa dipukul dengan tangan kosong pun, itu sudah terasa sakit sekali untukku. Darah mulai bercucuran. Kesadaranku perlahan menipis. Lebam di beberapa bagian tubuh. Tanpa bisa kucegah, mataku, kedua mata ini, perlahan mulai menutup. Samar-samar kudengar mereka tertawa puas dan bangga sekali. Tapi aku tahu ini bukan akhir segalanya. Bukankah sudah terbukti selama ini? Sekeras apa pun mereka menyakitiku, hasilnya selalu sama. Aku selalu menang.

Aku selalu ingat kata Sylvie, "Keadilan Tuhan pasti akan datang!"

*****

[Zafira]
"Mas Kira," 

"Gak beres kenapa, Zaf?"

"Iya, gak beres. Aku udah pernah cerita belum, temanku ada yang pernah kerja di sana. Belum ada sebulan, dia udah disuruh ngeliput di tempat-tempat bahaya; dan gak dapet asuransi pula. Seminggu kemudian, sepulang ngeliput, dia langsung masuk ICU. Trombositnya turun mendadak."

"Ngeliput apa sih? Setahuku, RedemIllumination itu selalu peduli sama keselamatan awak medianya. Mereka selalu menjaga kode etik pers."

"Itu kan yang Mas Kira tahu. Temanku cerita juga, terserah Mas Kira mau percaya atau gak, tempat Mas kerja itu suka ngadain ritual-ritual khusus di malam-malam tertentu. Konon sih, majalah Mas itu udah jadi corong sejumlah mafia dan cukong buat melawan pemerintah."

"Terserah Mas kalo gak percaya. Aku ngomong gini karena aku sayang sama Mas Kira. Aku gak mau Mas kenapa-napa."

Tadi itu apa? Kapan aku berbicara seperti itu sama Mas Kira? Sepertinya bagian itu sempat hilang dari pikiranku, lalu datang lagi. Sejak Mas Kira sering cerita kalau ada lagi yang meninggal diakibatkan dari aksi superhero dalam tubuhnya, aku sering kedatangan bayangan-bayangan peristiwa. Seperti tadi, telingaku menangkap suatu dialog antara aku dan Mas Kira. Aku menyarankannya untuk mengundurkan diri dari RedemIllumination karena majalah itu majalah tak beres untukku. Dan itu selalu hanya berupa potongan-potongan. Tidak utuh. Tiap kali aku berusaha memeras otak, sia-sia saja. Tetap saja aku tak bisa mengingat kapan persisnya dialog itu. Dan...

...datang lagi.

"Zaf, Mas minta maaf yah, yang tadi. Mas lagi ada tekanan, jadi marah-marah gitu ke kamu."

"Gak papa, aku ngerti. Tapi apa gak sebaiknya kita pulang? Aura rumah ini bikin aku merinding, Mas."

"Mas-mu ini juga,"

"Balik aja yuk, Mas. Mas mendingan berhenti aja dari sana. Bahaya, Mas, kalo diterusin. Aku dengar dari Papa aku, pemerintah lagi nyelidikin soal keanehan yang terjadi di sana. Ada desas-desus yang mengatakan majalah Mas itu sering melindungi para pengemplang pajak. Bahkan jadi corong buat para kepala daerah bermasalah."

"Iya, sih. Sempat Mas pikir-pikir, kamu benar juga, Zaf. Pernah pas lagi ngeliput, Mas dengar hal-hal itu juga. Tapi kalo Mas keluar, cari kerja kan gak gampang. Apalagi buat yang kakinya kayak Mas ini." 

"Gak usah minder gitu. Mas-ku ini kan jurnalis paling cerdas se-Indonesia. Kalo gak ada yang nerima, bikin media sendiri aja, yang gak aneh-aneh. Gak susah, kok. Apalagi Papa punya kenalan yang bisa mengurus perijinannya."

Sekonyong-konyong pintu depan terbuka. Seorang perempuan bule--bayangannya--muncul di kepalaku. Beserta suaranya.

"Mij Liefde, morgen. How are you? I have waited for you so long time. Miss you so much, Mij Liefde. 

"Sumpah, Zaf. Aku gak kenal-kenal amat sama cewek ini. Cuma ketemu sekali waktu kunjungan pertama. Udah gitu dia langsung ngilang abis--"

Saat bayangan perempuan bule itu muncul, berikut suaranya, entah kenapa hatiku panas. Aku kesal. Masih terbayang sewaktu Mas Kira menyalahgunakan kepercayaanku. Aku takut kali ini dia betulan nekat. Yah aku tahu perempuan bule itu Sylvie Van Huis, anak Arie Van Huis, pemilik rumah mewah nan tua nan bermasalah itu. Sylvie juga sudah punya pacar. Namanya Christopher Brahm yang lebih tinggi, besar, dan gagah dari Mas Kira.

Mas Kira tidak bohong. Kata-katanya sewaktu masih dirawat itu benar. Sylvie Van Huis itu betulan ada. Juga perempuan itu sudah punya pacar. Tapi kenapa bagian-bagian itu sempat begitu lama tak ada dalam memoriku? Yang aku ingat aku dan Mas Kira memang pergi ke rumah itu. Di dalam mobil, kami lebih banyak diam. Suara musik tetap mengalun sebagai pengiring kesunyian. Samar-samar aku berusaha ingat kenapa aku diam-diaman sama Mas Kira waktu itu. Seperti tengah bertengkar saja. Padahal seingatku aku dan Mas Kira saat itu tidak sedang bertengkar.

Selanjutnya, kami sampai di rumah itu. Kata Mas Kira, sempat gelagat mau hujan. Padahal yang kuingat cuaca cerah. Rumah itu tak ada siapa-siapa. Gelap. Kusam. Bau darah di mana-mana. Banyak sarang laba-laba. Sama sekali tidak ada Sylvie maupun Christoph. Yang ada, di dalam rumah itu, aku membantu Mas Kira menyelidiki rumah itu sebisa aku. Tak ada komputer, yang ada hanyalah mesin tik tua yang waktu itu Mas Kira mengetikan beberapa kata di sana, lalu terjadi apa yang ditulis. Satu bufet runtuh. Mas Kira selamat. Balok-balok terjatuh. Mas Kira pingsan dan koma selama hampir semingguan.

Kata Mas Kira, sewaktu di bangsal, aku sempat membeku. Yang kuingat Mas Kira sempat heboh sendiri. Sampai-sampai bosnya itu memanggil perawat untuk menenangkan Mas Kira dengan suntikan obat bius. Jadi mana yang benar? Versiku atau versi Mas Kira? Sylvie pernah bilang kedua-duanya mungkin benar dan saat itu kami berdua kan juga lagi diganggu. Jadi bisa jadi masing-masing dari kami sama-sama kehilangan memori. Mungkin ada sebagian memoriku yang ada di kepala Mas Kira. Lalu sebagian memori Mas Kira ada di kepalaku.

Jika bicara soal Christoph dan Sylvie, sepertinya keduanya bukan orang sembarangan. Aku pun merasakan hal sama dengan apa yang dirasakan Mas Kira. Tatapan Sylvie begitu anehnya. Sepertinya hanya dengan menatapku, dia bisa membaca pikiranku dan pikiran Mas Kira. Kemunculan mereka berdua pun, benar pula kata Mas Kira, selalu tanpa direncanakan. Karena itulah, aku beranggapan dua bule itu bukan manusia. Aku sering merasa--tiap tidur mendadak--tengah berada di rumah itu dan bercakap-cakap dengan Sylvie dan Christoph.

Christoph luar biasa kuat. Aku menyaksikan sendiri bagaimana dia bisa mendorong bufet tanpa dibantu. Sedikit-sedikit aku mengerti bahasa Jerman. Kata-katanya selalu bijak, walau temperamennya suka meledak-ledak. Dia agak tertutup kalau kulihat. Sepertinya banyak yang dia rahasiakan. Bahkan menurutku dari pacarnya sendiri, dia masih suka menyembunyikan sesuatu. Satu hal lagi yang membuatku yakin Christoph ini jelas bukan manusia, aku bisa merasakan ada aura aneh terpancar dari dalam tubuhnya. (By the way, tak salah kan dulu semasa kecil aku memiliki kegemaran akan hal-hal yang bersifat supranatural dan yang tak kasatmata. Sebab aku jadi bisa merasakan adanya banyak kejanggalan dari apa yang aku alami hingga detik ini) suatu kali saat tengah berkunjung ke sana, samar-samar kulihat ada pancaran cahaya berwarna biru muda keluar dari tubuhnya. Sontak matanya menyorotkan sinar terang benderang. Sepertinya yang aku bisa rasakan ada sesosok malaikat agung bersemayam di dalam tubuhnya.

Sementara Sylvie itu perempuan jahil (walau aku juga sama sih!). Genit. Seperti punya banyak kepribadian saja. Sebab kadang dia bersikap menyebalkan, kadang bisa sebijak pacarnya itu. Tapi tiap kali dia berbicara, kata-katanya selalu menohok aku. Selalu bermakna untukku sendiri. Wajahnya juga, terkadang, bisa tak seperti wajah seorang anak manusia. Aku bisa merasakan kelembutan seorang penghuni kahyangan. Cara Sylvie menyikapi suatu permasalahan pun seperti perempuan itu sudah hidup selama ratusan tahun saja. Begitu tenang, tak terburu-buru, dan sangat penyabar. Kekanak-kanakan, namun pula bisa menjadi sangat bijaksana layaknya seorang filsuf. 

Mereka berdua itu korban dari sekelompok orang culas. Awalnya kukira kasus rumah itu--dari sudut pandang Sylvie--bohong. Pas kuselidiki sendiri, perlahan demi perlahan memang benar. Penyelidikan itu sendiri pun berlangsung lama. Sampai bikin mataku bengkak karena terlalu lama di depan komputer.  Terlihat seperti ada yang menutupi kebenarannya. Tapi tetap saja, jika bersabar, yang ditutupi itu lambat laun terbuka. Pasti ada orang-orang yang akan memberitahukan pada kita yang sebenarnya. Asal selama kita berpikiran positif, pasti akan dibukakan yang sesungguhnya.

Sekarang mereka berdua dalam bahaya. Karena keterlibatan aku dan Mas Kira yang terlalu jauh, lambat laun banyak orang tahu yang sebenarnya. Tudingan-tudingan miring menerpa Supandi Tjokrobukara. Mungkin itulah yang menyebabkan orang-orangnya datang dan menyakiti Sylvie serta Christoph. Ah, andai saja Mas Kira mau percaya kalau saat kami berkunjung ke rumah itu, ada beberapa yang membuntuti, bahkan sempat mengambil gambar pula. Mungkin kami bisa jadi lebih waspada. Tapi Mas Kira selalu menganggap remeh dan terus berkata, "Udah, kamu tenang aja, nggak usah takut,"

Semoga saja Sylvie dan Christoph tak apa-apa. Cepat keluar dari jeratan masalah. Aku banyak berhutang pada mereka berdua. Kalau bukan karena mereka berdua, hubungan kami sudah lama retak. Mereka jugalah yang makin mempererat kami berdua. Sylvie sering membantu aku menjelaskan hal-hal buruk apa yang aku alami ke Mas Kira, yang aku memang tak pernah merencanakan itu semua dari awal. Christoph pun, yang membantu aku dalam meyakinkan Mas Kira kalau perasaan aku ke dia selalu sama. Rasa cintaku ke Mas Kira sangat besar dan tak pernah berkurang sedikit pun.

Di mana pasangan bule itu sekarang? Sungguh tak ada kabar. Rumah itu selalu dijagai. Sekarang jadi agak susah dimasuki. Apalagi sudah banyak yang tahu aku dan Mas Kira cukup sering berhubungan dengan Sylvie dan Christoph. Sehingga mereka terus menerus menghalangiku untuk masuk ke dalam rumah. Bahkan kami sempat diteror. Semuanya hanya karena aku dan Mas Kira tahu dan lumayan sering berhubungan dengan pasangan bule yang misterius itu.

*****

[Akira]
DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

Si superhero itu kembali beraksi. Dia melakukan beberapa kali penembakan (yang kali ini jauh lebih hebat) terhadap orang lain. Darah banyak berceceran. Kali ini aku tak kaget lagi. Terlebih aku pun tak kaget saat latarnya berubah menjadi kamarku dan ayahku heboh berkata bahwa barusan ada tetangga mati misterius. Bapak itu ditemukan tak berdaya di dalam kamarnya sendiri. Jantungnya berhenti berdetak. Urat nadinya tak menunjukan adanya aliran darah. Tubuhnya begitu mendingin. Kelopak matanya begitu melebar seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. Sehabis mendengarkan beberapa berita kematian dari ayahku, aku kembali berpusing ria.

Kali ini aku kembali berhubungan dengan pasangan bule itu. Yang cowoknya saja. Aku melihat Christoph disekap di suatu tempat dan bukan di rumah itu lagi. Tubuhnya menunjukan dia disiksa sedemikian rupa dan tak manusiawi. Kebinatangan sekali orang-orang yang menyiksanya. Anehnya, dia seperti tak menyadari ada aku di sekitarnya yang melihatnya diperlakukan seperti bukan manusia saja. Dia sungguh tak sadarkan diri. Sampai-sampai tak menyadari ada sosok bersayap emas datang padanya. Sosok itu menengok padaku dan memintaku untuk diam serta mengamati saja. Dengan hati-hati sekali, sosok itu melepaskan ikatan tersebut. Christoph terbebas. Lalu sosok itu menggendong Christoph di atas pundaknya, menghampiriku, dan sebelah tangannya memegangi tangan kananku. Aku dan Christoph dibawanya terbang menuju langit lepas yang diiringi sebuah alunan doa dalam bahasa asing yang kuduga bahasa itu berasal dari jaman Raja Salomo. Yang kudengar, "..abwoon d'bashmaya nethqadas shmakh teytey malkuthakh neywey yzevyanach aykanna d'bwashmaya aph b'arha,..." Saat berada di ketinggian tertentu, sosok itu langsung melempar aku dan Christoph. Aku dilemparnya menuju rumahku, sementara Christoph diarahkan menuju rumah itu lagi. Sosok itu lalu berujar, "Waktunya sungguh sebentar lagi. Bersiaplah ikut serta kami menghadapi pertempuran dalam mempersiapkan kedatangan-Nya. Saat penghakiman akan tiba!"

Setelah itu, barisan sosok yang sama (maksudku, sama-sama bersayap) berkerumun dan bersuara nyaring, "Kudus, kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah Pencipta alam semesta dan seluruh isinya!" Mendengar itu, sekujur tubuhku sontak merinding.

Beberapa hari ke depan, sosok superhero dalam tubuhku kembali beraksi. Kali ini tiap kali beraksi, di atasnya selalu ada bintang Daud. Samar-samar kulihat ada Christoph dengan jubah biru muda. Ada pula beberapa pemuda dengan ditemani sosok mereka masing-masing. Total ada 12 orang. Jumlahnya sama persis dengan jumlah murid Yesus Kristus. Itu pun sudah termasuk Christoph. Kami bersama-sama melemparkan benda yang mirip sebuah panah dart ke bawah. Yah, kami mengapung di cakrawala. Panah kecil itu menerpa tubuh banyak orang yang bukan manusia lagi. Sebab ada sosok monster ganas dalam tubuh mereka. Itulah kenapa mereka seringkali bertingkah seperti tak punya hati. Sosok monster itulah yang mematikan nurani, sehingga berpikiran dan bertindak semena-mena dengan sesamanya. Semuanya tak ada yang luput dari panah itu. Dan, tewas. Jumlah yang tewas, mungkin bisa jutaan. Aku tak terlalu menghitung. Sebab banyak sekali yang kami panahi. Semuanya juga menyimpan sosok monster dalam raga mereka.

Setelah berakhir, aku merasakan aura kemenangan. Euforia. Aku merasa tak akan ada lagi yang berani menggangguku, pacarku, dan keluarga kami berdua. Tak ada lagi suara-suara aneh yang mengganggu. Tak ada lagi bau-bauan yang suka datang mendadak. Tak ada lagi para penghasut dan pengintimidasi. Tak ada pula kaki seribu, kecoa, hingga benda-benda misterius yang suka muncul di area-area tertentu dari tubuhku. Setelah aku dan sebelas orang itu turun, dua belas orang perempuan datang menghampiri--yang salah satunya itu Zafira. Dua belas orang pemuda langsung memeluk erat dan mesra pasangannya masing-masing.

Saatnya pesta kemenangan, seru sosok superhero dalam tubuhku.

*****

[Sylvie]
Sialan! Aku kembali berada di rumah orang itu. Maksudku, laki-laki yang sudah mengerjaiku habis-habis, yang menambahkan satu malapetaka dalam hidupku. Aku dalam keadaan terikat dalam sebuah kamar. Mulutku disumpal. Lalu pintu kamar terbuka. Orang itu datang. Bona. Dia beringsut sembari menggendong bayi laki-laki manis.

Katanya yang terdengar menyebalkan, "Hai, istriku yang paling cantik! Kok baru nongol lagi? Ke mana aja selama ini? Ini, anakmu kangen sama kamu. Masih ingat kan sama buah hati sendiri? Nggak ada hentinya Rancak terus nangis tiap kutunjukan foto kamu. Kok kamu bisa sih mengkhianati janji suci kita dengan berduaan sama laki-laki lain? Kan aku udah bilang jangan ke rumah itu lagi. Bandel banget dibilangin. Ckckck."

Godverdomme! Brengsek! Aku kan dijebak. Dari awal memang tak ada rekan bisnis kan. Kamu menipuku, kamu membohongiku. Kamu tak jauh beda sama Om kamu itu yang tak berperikemanusiaan, si Supandi sialan itu. Kalian semua manusia-manusia munafik. Kebaikan kalian semu. Muka dua. Brengsek. Brengsek. Brengsek.

Dan, itu juga bukan anakku. Dari awal kamu membuatku seolah-olah tengah mengandung, lalu melahirkan. Itu anak orang lain--yang mungkin saja dari perempuan lain yang sudah kamu tiduri; bukan anak dari rahimku sendiri.

Sialan! Dia malah duduk di sampingku dan mengelus-elus rambutku. Jijik aku. Bawa pergi anak itu. Tak sudi aku melihatnya. Aku memang penyayang anak. Tapi melihat yang bukan darah dagingku dan dibikin seolah itu hasil dari hubungan kita berdua, rasanya seperti mau memuntahkan sesuatu ke wajahmu itu. Kamu, Om kamu itu, keluargamu,... sudah bikin susah keluarga besarmu, juga keluarga besar Christoph.

"Aduh, jangan pasang tampang galak gitu dong, Istri-ku Tersayang! Ini, anakmu jadi makin takut. Uwuwuwu,... ada Papa, Sayang. Mama kamu lagi stress, Rancak Sayang."

Cih!  Lebih baik kamu katakan di mana Christoph dan segera bebaskan aku. Juga segera buka yang sebenarnya soal pernikahan pura-pura kita sebelum semuanya terlambat. Cepat atau lambat, kamu dan keluarga besar sialanmu itu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.

*****

[Christoph]
Danke, Gott! Aku dalam keadaan paling bugar. Tidak dalam keadaan terikat juga. Juga tidak dalam tempat terkutuk itu lagi. Aku kembali di rumah itu lagi--rumah kekasihku. Aku berada dalam kamarnya, tepatnya. Kulihat ada banyak foto keluarganya, juga foto selfie-nya. Bukti meyakinkan lagi, Sylvie-ku yang manis tekah tidur di sampingku. Ia mengenakan gaun tidur terusan warna putih layaknya baju para nabi jaman Raja Daud masih memerintah. 

Hanya saja, ada yang aneh. Tak seperti rumah Sylvie. Aku seperti tengah berada di sebuah kuil. Ah, ini seperti sebuah bait Allah. Mirip kuil Salomo. Begitulah setelah aku mengamati sekelilingku. Aku terus berjalan, celingak-celinguk, lalu kembali rebahan di samping Sylvie. Sylvie terbangun dan tersenyum. Dia mau mengatakan sesuatu, namun urung. Sebab, mendadak sekelilingku berubah lagi. Di hadapanku telah berdiri sesosok malaikat dengan sayap amat besar. Dadanya berjubahkan emas. Matanya bersinar keemasan. Dia tersenyum bangga padaku. Ujarnya, "Kerja bagus, Satria! Hari ini juga Sang Pencipa alam semesta ini akan memberikan kebahagiaan paling agung untuk kamu dan teman-teman kamu. Juga sudah saatnya kamu tahu siapa kamu dan memperkenalkan diri kamu secara luas ke hadapan khalayak ramai. Waktunya sudah tiba!"







No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^