Monday, October 3, 2016

SERIAL #GGKT : Perjalanan Awal Sang Kamen Rider



Kelanjutan dari sini




Kamen Rider Den-O dan para Imagin-nya.
Bangun-bangun aku sudah berada di sebuah bangsal rumah sakit. Zafira, kekasihku yang paling cantik sedunia, sudah berdiri di sampingku. Belaian tangannya di kepalaku sungguh luar biasa. Tak tergambarkan dalam kata-kata dan bahasa mana pun. 

"Zaf," lirihku. "Mas lagi di mana?"

Pertanyaan bodoh. Wajar saja dia hampir cekikikan. Sembari menahan tawa, Zafira menjawab, "Mas lagi di rumah sakit. Mas itu koma selama hampir semingguan."

"Kok bisa?" Aku mengernyitkan dahi. Masa hanya gara-gara kejadian itu, aku koma hampir seminggu? Memangnya si bule cantik dan pacarnya itu berbuat apa? 





"Mas lupa yah? Kamu kan pingsan waktu kita menyelidiki rumah itu. Yang kata kita menyelidiki mesin tik itu loh, Mas. Kamu itu iseng mengetikan beberapa kalimat di sana, dan..."

"...dan apa?" Memang aku pernah menggunakan mesin tik itu? Perasaan aku dan Zafira hanya berada di teras rumah itu saja. Kami berdua tidak pernah masuk sampai langit berubah menyeramkan. 

"Benar kata Mas. Mesin tik itu memang aneh. Gaib pula. Hiiiy!" Zafira bergidik, yang lalu perlahan duduk di dekat kakiku. Ia memijat-mijat kedua kakiku. 

"Gaib gimana? Emang aku nulis apa di sana?" 

Zafira berdecak-decak gemas, menggeleng-geleng pula. "Wah, kamu itu kayak orang amnesia, Mas. Masa lupa sih? Aku sih masih ingat sebetulnya, tapi nggak mau ingat-ingat lagi. Soalnya tiap kali aku ingat lagi, aku jadi merinding ketakutan."

"Cerita dong, Zaf. Aku benar-benar nggak tahu. Soalnya setahuku yah, kita nggak pernah masuk sampai ke dalam. Cuma di teras rumahnya saja, kan. Kamu masih ingat kan, kita udah disambut duluan sama cewek bule itu. Namanya Sylvie kalau nggak salah."

"Cewek bule?" Zafira makin mengernyit bingung. "Cewek bule apaan? Wong di rumah itu nggak ada siapa-siapa selain bau darah di mana-mana. Rumah itu benar-benar kayak rumah yang udah seratus tahunan nggak pernah ditempati lagi loh. Jadi mana ada cewek bule, Mas. Mas lagi ngelindur yah?"

"Ngelindur?" Aku menggeleng cepat. "Nggak, nggak. Aku sama sekali nggak ngelindur, Zaf. Emang ada cewek bule yang ngomong bahasa Belanda di sana. Juga pacarnya yang orang Jerman. Kamu tuh yang ngelindur."

Belum sempat Zafira membantah, Bos-ku, Pak Iman, masuk. Ia tersenyum bangga. Segera ia mengacungkan jempol padaku. Katanya, "Great job, Akira! Kerja bagus. Oplah kita sejak artikel itu diturunkan, naik pesat. Banyak iklan berdatangan. E-mail kita kebanjiran. Banyak yang makin penasaran sama rumah itu. Juga si Anton. Oh yah, gimana kabar si cewek bule itu? Kata pacarmu ini, nggak ada. Tapi pas aku lihat dari balik pintu, ekspresimu itu tak terkesan dibuat-buat."

"Entahlah, Pak." Aku mengangkat bahu pelan. "Aku sendiri juga bingung kenapa bisa ada dua versi cerita. Ceritaku sama cerita Zafira. Emang terjadi apa sih sampai aku harus dirawat di rumah sakit selama hampir seminggu."

Pak Iman langsung melemparkan cetakan majalah itu--yang sudah dipegangnya saat masuk tadi. Pastinya yang ada ceritaku saat bertandang ke rumah tersebut. Aku segera menangkap dan membuka halaman sesuai yang diarahkan Zafira dan Pak Iman. Kubaca cepat dan langsung merinding seketika.

Suatu ketika, di malam yang dinginnya sampai tulang sumsum, tokoh utama kita, Bima tengah bersama kekasihnya yang cantik jelita, Srikandi. Mereka janjian untuk mengunjungi rumah tua itu lagi. Semuanya gara-gara perintah atasan di kantornya, yang meminta keduanya untuk menyelidiki banyak keanehan di rumah tua itu. Awalnya Bima menolak. Baginya, pengalaman itu cukup dirasakan sekali saja. Tak perlu sampai dua kali. Namun ancaman SP itu sungguh menakutkan. Mau tak mau ia harus mengunjungi rumah tua itu untuk sekali lagi. 

Sungguh kusam rumah itu. Ah, Bima mulai jengah.  Bau darah menyeruak ke mana-mana. Debu bertebaran pula. Tambah jengah lagi, Srikandi memeluk erat dirinya sampai dia tak bisa napas. Dasar perempuan, rasa takutnya sungguh tak masuk di akal. Sampai berada di depan mesin tik tua itu saja, masih saja Srikandi memeluk erat Bima-nya yang gagah perkasa. Bima--dengan kejengahannya--mulai mengetikan kembali beberapa paragraf. Tulisnya begini:

Sebuah golok terbang menghantam kepala Bima. Tak sampai sedetik, seorang kepala Bima buntung terkena hantaman belati yang dibeli si pengusaha edan dari perkampungan Baduy.  Srikandi menjerit sekencang-kencangnya. 

Aku berhenti membacanya. Bulu kuduk langsung berdiri. Zafira--mungkin bisa merasakan aura keteganganku--juga merinding. Hanya Pak Iman yang tampak antusias. Rasa-rasanya tak percaya aku yang menuliskannya.

"Ini benar aku yang nulis?" tanyaku bingung, yang langsung dijawab dengan anggukan Pak Iman. "Yah memang kamu yang menuliskannya. Kata pacarmu ini, sehabis menulis seperti itu, bufet di dalam rumah itu hampir menimpa kalian berdua. Sampai kamu akhirnya tertimpa beberapa balok yang entah sejak kapan ada di sana. Padahal berdasarkan catatan kepolisian, balok-balok itu tidak ada."

"Padahal aku nggak pernah mengetikan ini. Bahkan waktu itu nggak sampai masuk ke rumah, kok. Cuma di teras. Dan harusnya di artikel ini, ada diceritakan soal cewek bule itu. Tapi kok nggak ada yah?" Berkali-kali aku mencari bagian tentang cewek bule itu, hasilnya nihil.

"Menarik," Pak Iman tersenyum. "Jujur saja artikel itu yang menuliskannya itu pacar kamu. Kamu itu siuman dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Dan kalau dilihat-lihat, sepertinya kamu memang ada benarnya. Sepertinya memang ada dua versi cerita. Setelah baikan dan keluar nanti, langsung tulis cerita versi kamu yah."

Aku spontan menggeleng. "Nggak, Pak. Aku nggak mau lagi menyelidiki rumah itu. Bahkan aku berniat resign saja dari RedemIllumination."

Zafira masih memasang tampang datar. Pak Iman langsung terbahak. lalu beringsut ke arahku. Ia membisikan sesuatu ke telingaku. Warna-warna di sekelilingku langsung berubah gelap. Alunan biola paling mengerikan terdengar. Suara-suara mantra pun sama. Entah siapa pula yang melantunkan mantra-mantra itu.

"...kayak kamu bisa saja keluar dari RedemIllumination, Akira. Hahaha...."

Belum sempat aku membantah, Pak Iman langsung melanjutkan sambil merenggut daguku, "Mari kita lihat sampai sejauh mana pahlawan super kita beraksi. Aku ingin lihat sejauh mana naluri detektif kamu itu membongkar kedok kami."

Pahlawan super? Naluri detektif? Kedok? Apa maksudnya? Dan kenapa dari tadi Zafira diam saja. Kekasihku ini biasanya aktif membantu menjawab kalau aku tak bisa. Oh, kepalaku jadi berdenyut-denyut kencang. Mataku berkunang-kunang. Lidahku terasa pahit. Aku mau ambruk dan sepertinya tak ada yang menolongku. Pak Iman tak berniat memapahku, apalagi memanggil pihak yang berwenang. Zafira mendadak sekujur tubuhnya kaku bagaikan patung.

"Tuliskan saja hasil penyelidikanmu, Akira. Tetap selidiki soal rumah itu, si Anton, dan keluarga Anton. Jangan lupa pula sama Sylvie yang cantik itu. Awas kalau kamu berani keluar dari RedemIllumination. Keluargamu, pacarmu, dan keluarga pacarmu akan kami apa-apakan. Seperti kataku tadi, aku dan lainnya ingin melihat sampai sejauh mana sosok di dalam diri kamu itu bermain. Hahaha."

Oh iya, apa maksudnya juga dengan kami? Memangnya Pak Iman dan lainnya berhubungan dengan siapa? Apa jangan-jangan benar yang dikatakan Zafira jika RedemIllumination itu bermasalah, yang sering berhubungan dengan beberapa tokoh bermasalah pula; dan jangan lupakan soal ritual-ritual aneh yang sering mereka lakukan diam-diam?

Sepertinya tanpa sadar aku tak sengaja masuk ke dalam sebuah permainan detektif-detektifan nan berbahaya. Kenapa berbahaya? Karena sepertinya sosok detektif dalam diriku ingin mengupas habis misteri, terutama membongkar kedok sebuah rahasia besar yang ditutup sedemikian rapat oleh sekelompok orang, yang salah satunya ada di depan mataku: Pak Iman, sang pemimpin redaksi RedemIllumination. 

*****

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Sekonyong-konyong Sylvie langsung balas teriak, "Honey, please, don't go mad. Verzoeken, Honey, I didn't do anything with that man."

Hah? Aku bingung yang bercampur ketakutan. Mungkin Zafira merasakan hal sama. Begitu melihat kondisi langit yang gelap tak wajar, juga suhunya yang dingin kelewatan, dan ranting-ranting yang saling bertabrakan, dedaunan yang berjatuhan dahsyat (bak diserang topan), suara gemuruh yang tiada henti, hingga pagarnya yang buka-tutup berkali-kali (suara decitannya itu bikin ngilu, pun ngeri), aku teringat akan tulisanku di mesin tik sebelum aku pergi. Tulisan sebanyak sepuluh paragraf. Semuanya menjadi nyata.

Yup, semuanya. Langitnya, suhunya, kondisi lingkungannya, pakaian si Sylvie-nya, dialog si Sylvie,... semuanya menjadi nyata.

Bulu kudukku berdiri serentak. Namun Sylvie langsung menenangkanku dengan belaiannya, juga ciumannya di pipi. Zafira langsung cemburu dan ikutan menciumku; bukan di pipi, namun di bibir langsung.

"Mas, pulang aja yuk," rengek Zafira.

"Eh jangan dulu, sebentar lagi mau hujan loh. Lihat tuh," Sylvie menunjuk ke arah langit yang mulai gelap. Bunyi guruh makin sering terdengar. Satu rintik, dua rintik mulai turun. Kepalang basah. Mau tak mau, aku dan Zafira harus masuk ke dalam rumah bermasalah itu lagi.

Aneh. Kenapa kondisi rumah ini jadi berubah drastis? Kenapa jadi rapi dan terawat? Tak ada debu, tak ada darah pula. Dan di dalamnya penuh dengan barang-barang mahal, juga barang-barang seni nan langka. Masa di dalam rumah ini ada lukisan Picasso yang asli? Bahkan Sylvie memperdengarkanku alunan simfoni Goethe. Aku dan Zafira sekarang tengah duduk di sebuah sofa ala kesultanan.

"Jangan bingung begitu. Aku dan pacarku yang habis-habisan membersihkan rumah ini. Soalnya kami tahu kamu pasti akan datang lagi. Tak sopan dong, menyambut tamu dengan suasana rumah yang kotor." kata Sylvie seolah bisa membaca pikiranku. "Oh yah, siapa nama pacar kamu ini? Cantik juga untuk ukuran orang Asia. Dilihat dari tampangnya juga, pasti dia ada darah India yah?!" tebak Sylvie dengan senyum misterius.

Walau masih terbakar api kecemburuan, Zafira terkejut juga. "Kamu tahu dari mana?" Dia langsung meliriknya juga. Dikiranya aku yang memberitahukan rahasianya. Sebelum bertanya, aku langsung menggeleng.

"Tenang saja. Be calm, sister. Pacarmu ini sama sekali tak pernah cerita soal kamu. Dia begitu asyik--" Melihat Zafira yang mulai panas, Sylvie memilih tak meneruskan. Ia sambung saja dengan yang lain sembari berusaha menahan tawa. "...bagaimana, Tuan Jurnalis? Sudah dapat bahan buat artikelmu? Kamu disuruh Bos-mu kan menyelidiki soal rumah ini? Juga kematian si Anton itu?"

"Kamu tahu dari mana?" tanyaku penasaran. Makin lama rumah ini makin sangat misterius yang membuatku ingin membuka tiap selubungnya.

"Kan kamu yang menceritakannya waktu itu. Dan tas kamu itu pasti ada kamera dan notes kan?"

Aku mengangguk untuk mengiyakan.

"Jadi," Sylvie mulai bercerita, padahal belum diminta. Dari senyuman, aura wajahnya langsung memancarkan sebuah ketegangan. "rumah ini memang kepunyaan keluarga Anton. Tapi sebelumnya rumah ini punya Van Huis, nama keluarga aku. Harusnya seperti itu, sebelum ayah si Anton sialan itu membeli rumah ini dengan cara curang. Notaris keluarga kami didekati untuk membeli rumah ini dengan cara paling legal, walau sebetulnya tetap ilegal juga. Kamu pasti bingung kan? No need to think it very serious. Di negara ini, hal-hal seperti itu sering terjadi. Hukum dipermainkan. Keluargaku sudah berusaha membawanya ke pengadilan. Namun brengsek semua! Ayahnya Anton tetap menang. Yang kudengar, selain sudah menyuap hakim dan jaksanya, kabarnya hakim dan jaksanya sudah dijampi-jampi."

"Aku baru dengar cerita seperti itu. Kamu nggak bohong kan?"

Sylvie menggeleng. "Sama sekali tidak. Dan yang terjadi sama Anton, kurasa keadilan dari Tuhan. Itu hukuman buat keluarganya, khususnya ayahnya itu yang hobi dengan hal-hal berbau mistis. Kamu pasti pernah dengar kalau ayahnya itu hobi membeli benda-benda aneh, kan? Tuh lihat saja sekeliling rumah ini. Masih banyak barang-barang aneh peninggalan mereka. Khususnya salib-salib aneh itu." Sylvie menunjuk beberapa salib yang terpajang. "Salib kok seperti itu? Tiap sudutnya seperti pedang abad pertengahan saja."

"Iya sih. Katanya sih ayahnya memang punya hobi seperti itu."

"Oh yah, namamu Akira, apa kamu ada darah Jepang?"

Aku menggeleng. "Sama sekali tidak ada kok. Ayah dan ibuku orang Jawa. Akira itu singkatan dari nama mereka berdua: Agus Kencana dan Irawati Sri Rahayu."

"Masa? Aku sama sekali tidak percaya. Bentuk matamu sudah menyiratkannya. Kulitmu juga putih, seputih orang Jepang. Apalagi kalau dilihat-lihat, cara bicaramu mirip orang Jepang. Cara kamu mengucapkan 'r' dan 'n'-nya itu loh. Dan waktu itu, kamu pasti tidak sadar kamu berulang kali mengucapkan kata 'kimochi'. Kamu pasti tidak tahu artinya kan?"

"Memang aku pernah mengucapkan kata itu? Tapi kamu benar sih, teman-teman di kantor sering bilang aku sering tak sengaja mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jepang kalau lagi marah. Anehnya--"

"--itu buktinya kalau kamu ada darah Jepang. Terkadang alam bawah sadar kita suka bekerja di saat-saat yang tak kita sadari. Contohnya saat lagi marah, panik, frustrasi, atau mabuk. Aku juga sering begitu. Memang kamu kira aku dari awal bisa bahasa Belanda? Tidak sama sekali. Kata Daddy, aku sejak kecil--kalau lagi marah--suka mengucapkan 'godverdomme'. Kata Daddy, itu kata umpatan yang tidak boleh disebut. Terus Daddy sering cerita aku suka mengerti kalau ia lagi bicara sama Om, apalagi yang datang dari Belanda. Makanya Daddy bingung, soalnya belum pernah mengajariku dan adik-adikku bahasa Belanda. Ia lebih suka anak-anaknya belajar bahasa Indonesia atau Inggris. Dan sampai akhirnya, waktu SMA, ada semacam ketertarikan yang membuatku mempelajari bahasa ibuku tersebut. Unik ya, cara kerja alam bawah sadar itu?"

Sylvie tertawa sendiri, yang perlahan diikuti oleh aku dan Zafira. Tampak Zafira masih menaruh rasa tak suka pada Sylvie. Apa dirinya kira aku benar-benar berhubungan badan dengan Sylvie? Ya ampun, aku bukan tipe cowok brengsek kali. Aku terlalu mencintai Zafira. Tak mungkin aku menyakiti Zafira dengan berbuat tak senonoh dengan perempuan lain, walau perempuannya seaduhai Sylvie ini.

"Dan kamu pasti benar-benar berdarah India. Tak hanya wajah, tadi juga sewaktu masih di luar, kamu tak sengaja mengumpatku dengan bahasa India. Aku bisa loh bahasa India sedikit-sedikit. Soalnya semasa SMP dulu pernah punya banyak teman orang India yang beberapa di antaranya masih fasih berbahasa Hindi. Dan kamu pasti tidak tahu artinya juga."

"Tahu kok. Jangan menghina yah. Aku tahu kok artinya." Zafira mulai marah. Sampai-sampai dirinya meminum hot americano latte itu dengan tergesa-gesa. Mau tertawa aku melihat ekspresinya.

"Oh memang kamu tahu artinya 'buniyaadee paturiya'" pancing Sylvie dengan senyum nakal.

"Tahu!" sembur Zafira panas. Tak biasanya Zafira secemburu dan semarah ini. "Dan itu memang buat kamu!"

"Bukannya kamu yah si 'buniyaadee paturiya' itu? Kamu terlihat seperti perempuan penggoda loh." Tergesa-gesa Sylvie langsung membelokan kata-katanya. "Eh tapi waktu kamu mengucapkan 'buniyaadee paturiya' itu, pengucapannya nyaris menyerupai orang India yang tinggal di India-nya loh. Padahal kamu lebih mirip orang Jawa keturunan India. Oh iya, nama kamu siapa?"

"Zafira Jupriantono." jawab Zafira ketus. Bersamaan dengan itu, si pria Jerman keluar dari salah satu kamar seraya berucap, "Scheint es ein gast zu sein. Wie is het, Honey? Your friend?" Suaranya terdengar begitu parau. Mungkin pacarnya itu sudah berusia tiga puluhan akhir. Dan wajahnya yang sisi satunya lagi begitu rusak sekali. Selain penuh jerawat, juga ada bisul, memar, dan bekas bakaran. Seperti zombie saja.

"Anyway, Akira, aku bisa melihat loh," Aku jadi mengernyitkan dahi mendengar kata-katanya. Namun masih tetap penasaran pula. Sylvie sungguh sosok perempuan misterius yang berselimutkan kabut. "aku bisa melihat ada sosok superhero di dalam tubuh kamu. Sosok itu sepertinya ingin keluar deh. Oh iya, kamu pernah nonton Kamen Rider kan? Ksatria Baja Hitam loh maksudku."

Melihat? Sosok superhero? Kamen Rider? Apa maksudnya? Memang dia kira aku ini apa? Sylvie ini sungguh sosok misterius nan menyeramkan.



Catatan kaki:
Verzoeken: tenang.
Scheint es ein gast zu sein: ada tamu rupanya.
Wie is het: siapa itu?  



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^