Thursday, October 6, 2016

SERIAL #GGKT : Pembalasan



Cuplikan film "Suicide Club". 
[Christoph]
Di mana ini? Seperti sebuah gudang. Gelap. Berdebu. Suram. Suara tikus bersahut-sahutan. Sudah berapa lama aku di sini? Dan, ah sialan, kakiku dipasung. Adakah cara untuk melepaskannya? Mana gelap lagi.





Aku terdiam. Kuamati sekitar. Dengan cahaya seadanya, aku melihat sepertinya aku berada di sebuah rumah orang kaya. Apa jangan-jangan masih di rumah dia? Toh, aku juga tidak seratus persen hapal kondisi rumahnya.

Hei, suara apa itu? Selain suara tikus, seperti ada suara orang tengah mengetik. Merencanakan apa bajingan tersebut? Aku geram!

PRAAAANG!!!

Sial! Hampir saja kepalaku kena piring mahal. Tapi aneh, bagaimana bisa jatuh? 

KROMPYAAANG!!!

Damn! Tadi piring, sekarang guci Cina hampir membunuh nyawaku. Untung hanya menimpa pasungan ini, juga kedua kakiku. Semoga cideranya tidak begitu parah. 

BRUUUK!!

Aduh duh duh! Apes sekali. Sekalinya sadar, belum sempat aku mengingat apa yang sudah terjadi, nyawaku sudah kembali terancam bahaya. Untung buku-buku itu tak terlalu tebal. Paling hanya pusing sedikit.

DUK!! DUK! DUK!

Hei, tenang dong, tikus-tikus nakal. Huss, huss, huss! Jangan keliaran terus di sekitarku. Aku geli!

Eh apa ini? Pasungannya tidak dikunci? Sejak kapan? Perasaan seingatku tadi kan terkunci. Aneh. Apa sebetulnya tidak terkunci, dan karena gelap, aku mengira terkunci?

Masa bodoh. Sebaiknya aku bergegas. Ingin rasanya menghajar 'tikus-tikus' sialan itu. Dengan hati-hati, aku bangkit. Susah sekali, plus gelap, jadi aku agak tergopoh-gopoh hanya untuk menuju pintunya. Ah itu dia!

Danke, Gott!

Scheiße! Pintunya terkunci. Kucoba mengobrak-abrik isi gudang. Siapa tahu saja ada kunci duplikatnya yang tertinggal. Keajaiban kan selalu ada buat yang mempercayai.

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!


DUK! DUK! DUK!

"HEY, SIAPA DI ATAS SANA? ANYBODY'S THERE? CAN YOU SPEAK ENGLISH?"


Hei, itu seperti suara seorang pemuda. Ternyata si tua bangka sialan itu punya anak laki-laki. Mungkin sebaya denganku. Atau sebaya dengan Sylvie yang aku tahu rimbanya di mana. 

"DIE TÜR ÖFFNENHEYSie hören können, ist es nicht?Sagte ich, OFFENE TÜR!!!" Kucoba menggertak. Aku harap dia mau membuka pintu. Namun sebelumnya, aku berujar, "Meine Güteist jemand hierIch denkeniemand in dem haus."

Tidak dengar yah? Kucoba gertak anak sialan itu sekali lagi  "OFFENE TÜR!!!"

Hey, buka pintunya! Kucoba teriak lagi, "GOTTVERDAMMTE! OFFENE TÜR!!!"


Puji Tuhan Allah semesta alam! Sejak kapan pula lagi ada kampak di sini? Bisa kugunakan untuk membuka pintu secara paksa. Kalau perlu, kugertak yang bersangkutan dengan kampak ini.

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!

"HEY, I CAN'T SPEAK GERMAN. PLEASE, SPEAK ENGLISH! COME ON!"

Iya, aku tahu kamu tak mungkin mengerti bahasa Jerman. Lebih baik kamu cepat naik dan buka sebelum aku benar-benar murka.

Hening.

Hening.

Brengsek! Tuli yah!

Aku terbahak. Lagi-lagi lumayan keras. "Okay, ich werde nicht sprechen Deutsch. I will speak English for you. And, please, open the door! Please, little boy!"

Lama sekali! Hei, anak muda, cepat buka pintunya! Aku tiada henti mendumel. Mulai habis kesabaranku. Sebentar lagi pintu terbuka.

DUK! DUK! DUK!

"OKAY, LITTLE  BOY! I'LL BREAK THE DOOR BY MYSELF. WAIT FOR ME IN THERE. I AM GOING TO CHOP YOU, LITTLE BASTARD!"

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!

DUK! DUK! DUK!

"Hello, little boy, I'm coming. As I said, wait for me. I'm going to chop you."

Lihat nanti pembalasanku, Supandi! Anakmu ini yang aku apa-apakan. Yang terkasih ganti yang terkasih. 

*****

"Tapi menurut rumor yang beredar, anda ini cukup sering bertengkar dengan pelaku. Bahkan pertengkaran terakhir terjadi dua minggu sebelum kejadian."

"Demi Tuhan, bukan saya pelakunya, Pak. Bapak bisa tanya sama satpam komplek sini. Kalau pas kejadian, saya ada di tempat, mereka pasti akan bilang ya. Apalagi saya dan satpam-satpam komplek juga cukup akrab. Kalau saya ada di tempat, mereka pasti tahu."

"Hmm, kita lihat saja nanti setelah hasil otopsinya keluar."

Haha, di sini aku mau tertawa. Kenapa jadi anaknya yang lain yang disalahkan? Apa anak-anaknya tak diberitahukan bahwa ayahnya itu telah menyekapku di sebuah ruangan rahasia?

Tapi tunggu.

Kurasa sudah tahu. Samar-samar kudengar ada satu-dua polisi yang hampir menghampiriku. Katanya, mereka pernah dengar isu soal Supandi yang menyekap seseorang di sebuah ruangan rahasia. Mereka pernah dengar pula Supandi membeli rumah ini dengan cara ilegal, lalu menghabisi satu persatu keluarga pacarku. Itulah sebabnya, aku memilih bungkam. Aku bisa saja bersuara. Namun kalau aku bersuara, bisa saja nanti terbongkar dan Supandi sialan itu dapat berbuat nekat. Ingat pula, aku sudah menyaksikan juga, Supandi dan pihak kepolisian sudah bekerja sama.

Diam dan mengamati itu jauh lebih baik. Siapa tahu ada jalan nantinya. Apalagi rasanya aku masih ingin balik meneror Supandi dan keluarganya. Bedebah sialan itu pantas menerimanya atas apa yang mereka sudah lakukan kepadaku, Sylvie, keluarga Van Huis, dan juga keluargaku.

Eh sebentar, boleh juga aku mengerjai dua orang polisi ini. Ada golok juga. Haha, dasar orang aneh! Sakit jiwa! Golok ini memang langka, tapi juga keramat. Tak sembarangan orang boleh memilikinya. Salah-salah yang memiliki bisa sial tujuh turunan. Bodoh! Ternyata benar isunya. Supandi suka membeli barang tanpa menyelidiki lebih dahulu.

Pelan-pelan aku mengendap. Kubuntuti dua polisi itu. Golok sudah kugenggam. Mereka tahu, aku segera bersembunyi. Hingga, ya waktunya, saatnya kuuji kesaktian golok ini. Kuarahkan golok ini pada polisi-polisi bodoh itu. Dan, golok itu melesat cepat menuju kepala salah satu polisi.

Aku terperanjat dalam persembunyianku. Golok itu hebat juga. Padahal aku asal saja melemparnya. Tapi dia langsung tepat memilih bagian leher dan kepalanya langsung buntung.

*****

Malam berikutnya, aku pelan-pelan turun. Aku haus. Aku ingin minum. Tapi sial, ada yang datang. Tergesa-gesa aku balik lagi. Anaknya yang lain turun. Terdengar suara dispenser menyala. Hampir saja aku ketahuan. Lengah sedikit saja, aku bisa ketahuan dan Supandi itu bisa makin gila menyiksaku.

Tapi aku rasa dia tahu. Aku tak sengaja berisik soalnya. Pasti jika peka, ia bisa dengar. Ah mungkin saja ia mengira itu salah satu anggota keluarganya. Santai saja.

Hening.

"Hey, ada orang yah di atas?"

Damn! Dia tahu pula. Aku merinding. Tapi bukan karena aku. Ada suara yang menyerupaiku yang berkata sama pula, "DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!" Spontan saja ia berteriak, "HEI, SIAPA DI ATAS?" Setelah itu, yang di bawah langsung panik. Ya Tuhan, jangan bikin aku ketahuan!

*****

Sepertinya sudah hampir semingguan, banyak polisi berdatangan. Dua anaknya sudah mati pula. Kadang aku merasa inilah keadilan Tuhan. Walau ngeri juga takut ketahuan sama si Supandi sialan. Karena pernah Supandi dan beberapa petinggi masuk ke ruangan di mana aku disekap. Mereka takut aku bisa melepaskan diri, lalu perlahan menebarkan teror. Nah di situ letak anehnya. Saat itu, aku tak sedang berada di posisi dalam pasungan itu. Aku mengamati mereka dari tempat persembunyianku. Yang kudengar, Supandi bilang aku masih terpasung, sehingga mereka pergi begitu saja. Aneh kan. Aku di sini loh. Tapi siapa yang dipasung menggantikanku itu? Dan siapa juga suara itu--yang mirip denganku?

Tapi biarlah. Tak usah ambil pusing. Mungkin itu pertolongan dari Tuhan. Yang kudengar, Supandi beserta keluarganya mati semua. Benarkah? Sebab aku kan terus terkurung. Sudah lama sekali aku tak mengakses informasi. Oh yah, yang kudengar dari beberapa opsir yang berjaga, salah satu anaknya itu novelis yah. Namanya Anton dan merupakan seorang novelis yang novel perdananya cukup laris di pasaran. Katanya sih begitu.

Kini aku hanya berharap aku bisa segera lepas dari sini. Lalu aku segera menemukan Sylvie. Aku bisa merasakan ia dan keluarganya sebetulnya masih hidup; juga dengan keluargaku.

*****

[Sylvie]
Akhirnya aku bisa juga keluar dari tempat itu. Walau lebih sering aku bepergian dengan mobil pribadi, aku masih bisa ingat jalan menuju rumahku. Dengan susah payah, aku kembali ke sini. Tak enak, tahu, dilihati sebegitu rupa oleh mata-mata tersebut. Dipicingi, dicibir, bahkan diludahi pun pernah. Bahkan aku pernah ditolak naik kendaraan umum karena penampilanku. Alhasil aku lebih sering berjalan kaki menuju ke rumahku dengan mengandalkan petunjuk orang-orang yang kutemui. Sesekali ada juga orang baik yang mau memberikanku tumpangan. 

Butuh waktu seminggu lebih untuk bisa kembali. Tak heran rumahku jadi banyak berubah. Apa yang terjadi sesungguhnya? Kenapa ada garis kuning yanh mengelilingi rumahku? Dan, saat coba masuk ke dalam, banyak darah berceceran di mana-mana. Apa keluarga iti sudah mendapatkan balasannya? Semoga saja begitu.

"DIE TÜR ÖFFNENHEYSie hören können, ist es nicht?Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Hey, itu suara Christoph! Masih hidup ternyata dia. Tapi di mana dia berada? Oh iya, kata Daddy, rumah ini banyak ruangan tersembunyinya. Pasti ia berada di salah satu ruangannya. Pasti Supandi itu sudah berhasil menemukannya. Yang kudengar, Supandi itu begitu ngotot membeli rumahku karena ada satu ruangan misterius. Kata Daddy, ruangan itu punya akses khusus menuju rahasia alam semesta. Tak heran Supandi ingin memiliki rumah ini. Orang itu sudah lama kukenal gemar mengoleksi benda-benda aneh nan langka nan keramat.

Ah lebih baik segera kutemukan Christoph. Intuisiku mengatakan ia masih hidup dan berada di salah satu ruangan dalam rumah ini. Aku harus cepat menemukannya, lalu kabur ke tempat yang aman jauh sebelum polisi datang. Bisa berabe kalau ketahuan. Eh Supandi itu sudah benar-benar mati kan?

Tapi biarlah. Biar Tuhan yang membalas. Lebih baik kucari Christoph. Christoph, di mana kamu? Aku begitu merindukan kamu. Aku sangat menyayangi kamu. Sampai-sampai aku tak sudi menikah dengan salah satu kerabat dari Supandi itu. Pria itu tak ada apa-apanya ketimbang kamu. Kamulah pangeran yang kucari.

Teriakanku berhasil. Tak apa-apa sih berteriak seperti itu. Toh sudah mendekati tengah malam juga. Dilihat dari penampilan rumah ini, mereka pasti mengira itu hantu. Haha. 

Itu dia! 

Christoph-ku! 

Aku dan dia langsung berpelukan untuk melepaskan kangen.




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^