Thursday, October 6, 2016

SERIAL #GGKT : Pembalasan Bagian Kedua





      Chapter-chapter sebelumnya:




Namanya Yoga Maktiaditya Pravisnu. Yah itulah nama orang yang selama ini menerorku dengan mantra-mantra anehnya. Tiap subuh aku mendengarkan suara alunan mantranya itu. Sylvie pernah bilang sebisa mungkin aku harus menghindarkan diriku dari suara jampi-jampinya. Christoph pun, menurut Sylvie, pernah mengalami hal sama. Dan, memang harus sabar untuk menghilangkannya, juga penuh perjuangan.





"Sabar saja," Dengan senyumannya itu, Sylvie berusaha menyemangatiku. "nanti juga orang yang namanya Yoga Maktiaditya Pravisnu itu juga akan pergi. Dia akan pergi selama-selamanya dari hidup kamu, dari dunia ini. Tuhan tidak akan pernah tinggal diam, Akira. Bersabarlah. Jangan terpancing emosi orang itu dan teman- temannya. Mereka memang seperti itu. Hobi memancing amarah. Dulu Christoph juga sama. Aku hanya berharap kamu jangan melakukan hal sama. Bersabarlah dan lebih mendekatkan diri ke Tuhan. Itu kuncinya."

Terkadang bicara memang lebih mudah. Saran Sylvie itu tak mudah dilakukan. Suara itu terus mengekoriku. Yang kudengar, usut punya usut, Yoga Maktiaditya Pravisnu ini orang suruhan RedemIllumination dan ternyata ada kaitan pula ke Supandi Tjokrobukara. Sepertinya semakin kedok mereka terbongkar, mereka semakin beringas saja. Gangguan mereka semakin menjadi saja. Seperti monster saja. Atau tepatnya setan berwujud manusia.

Sehari, dua hari.

Seminggu, dua minggu,

Sebulan, dua bulan kemudian.

Sylvie benar. Usahaku dalam mendekatkan diri ke Tuhan tak sia-sia. Doa terus menerus. Juga mengurapi kepalaku dengan minyak urapan dan air suci yang diberikan Christoph padaku. Kata Christoph, dua benda itu didapatnya dari Fatima, Portugal. Khasiatnya sangat luar biasa. Sakit kepala Christoph akibat serangan gelombang dari sebuah pot tanaman misterius langsung sirna. Begitu katanya--dan berefek padaku juga.

Orang itu, Yoga Maktiaditya Pravisnu, pada suatu hari, yang kudengar, mati saat tidur. Dari tubuhnya keluar busa yang sangat banyak. Ada yang bilang karena overdosis. Yoga Maktiaditya Pravisnu itu terpaksa menyiksaku dengan rajin begadang semalam suntuk. Bahkan setelah diautopsi, dari dalam tubuhnya, banyak ditemukan belatung yang entah sejak kapan masuk. Selain itu, kedoknya terbongkar. Ternyata selama ini Yoga Maktiaditya Pravisnu itu pembunuh bayaran berwujud domba putih. Dia banyak membantu orang-orang dalam mewujudkan impiannya dengan cara kotor. Pak Iman, kudengar, pernah menemuinya, agar terus tetap bertahan di posisi pemimpin redaksi.

Selain dia, pimpinannya, Markah Husni Jabarun juga turut mati. Mati tragis pula. Orang itulah yang mempengaruhi pikiran Zafira. Pantas saja Sylvie pernah bilang kalau amnesia aku dan Zafira pasti karena ada gangguan. Dan, itu benar. Kedua pelaku utamanya sudah dipanggil Tuhan dan dicampakkan ke tempat yang seharusnya. Kawah api yang menyala-nyala pastinya.

Satu hal pasti, aku tahu siapa yang menyebabkan dua orang itu mati seperti itu. Pasti sosok superhero dalam tubuhku tersebut. Lagi dan lagi, dia datang menyelamatkanku. Samar-samar, aku mengingat bayangan demi bayangan saat sosok itu menghajar dua orang tersebut dengan sadisnya. Tak hanya ditembak, juga dipanah, ditebas, serta ditusuk.

*****

Kembali aku berada di rumah Sylvie lagi, tetap bersama Zafira yang sama sepertiku sudah seratus persen pulih. Kali ini rumah ini tak terlihat angker. Bau darah sudah mulai sirna. Orang-orang sudah tahu kebenarannya. Aku, Zafira, Sylvie, dan Christoph puas dan senang sekali. Rasanya seperti tengah berpesta saja, yang disambut oleh ribuan orang sebagai pahlawan.

"Sebetulnya aku ini siapa" tanyaku sambil menyesap teh melati-ku. "Juga, kamu dan Christoph? Khususnya rumah ini rumah apa? Yang aku lihat, segala keanehan ini berpusat dari rumah ini. Kamu dan pacarmu jadi mengalami banyak penderitaan karena Supandi itu mengambil paksa rumah kamu, kan?"

Sylvie tak menjawab, hanya tersenyum nakal seperti pembawaannya. Tapi beberapa menit setelahnya, "Nanti kamu juga akan tahu. Tunggu saatnya. Yang jelas, seperti kubilang, Christoph-ku ini bukan orang sembarangan. Kamu juga. Rumahku apalagi."

Aku keki. Kesal sekali. Kenapa harus menunggu lagi? Aku ingin tahu kedalaman kasusnya seperti apa. Eh malah disuruh menunggu. Namun aku setidaknya harus patut bersyukur. Para pengganggu itu satu persatu pergi dari hidupku.

Sylvie hanya cerita padaku, Christoph ini bukan manusia sembarangan. Pria Jerman itu punya kekuatan tersembunyi dalam tubuhnya. Kekuatan itulah yang sudah meluluhlantakan beberapa wilayah di dunia. Petir di Kalkuta. Gempa di Peru. Banjir besar di beberapa negara Eropa. Tornado dahsyat di Amerika. Hingga tanah longsor di Nigeria. Bahkan sama sepertiku, kekuatan tersembunyi dalam tubuh Christoph itu mampu merenggut nyawa. Ada pemimpin negara yang kolaps saat pidato, contohnya. Atau beberapa perwira tinggi dan dukun paling sakti tewas karena gagal jantung di tangan pedang sakti Christoph. Belum lagi peristiwa sejumlah ponsel meledak saat pemakaian. Padahal sebelumnya, ponsel-ponsel itu sudah lolos uji pemeriksaan berkali-kali. Luar biasa pacar Sylvie ini! Juga siapa pula Christopher Brahm itu? Kuduga, dia memang bukan manusia sembarangan jika bisa merenggut nyawa orang layaknya malaikat pencabut nyawa, juga bisa mendatangkan bencana alam. 

*****

Aku kembali meloncati waktu. Aku tak tahu ini kapan dan di mana. Yang jelas, aku hanya bisa melihat beberapa orang yang aku duga teman-temannya di perkumpulan. Zafira-ku memang cukup aktif di perkuliahannya. Dia aktivis kampus terhebat yang pernah kulihat. Juga Zafira sering menjadi duta bangsa lewat suatu perkumpulannya yang sering aktif membawakan lagu-lagu berbahasa nasional. Bukan perkumpulan sih kalau mau dibilang. Semacam grup musik--atau kalian bisa menyebutnya vocal group. Dan, Zafira ini berniat keluar, namun terus dihalang-halangi. Itu kata Sylvie yang kudengar. Well, perempuan memang gampang terbuka jika bersama sesamanya. 

Zafira terus dihalang-halangi buat keluar dengan cara diiming-imingi segala kenikmatan duniawi. Semisal mendadak ia diangkat menjadi wakil pemimpin di vocal group tersebut. Berikutnya, Zafira pernah tergoda saat vocal group mengeluarkan album di mana Zafira yang menjadi leader-nya. Beberapa kali, sudah setahunan terakhir, sepertinya orang-orang di vocal group itu tak suka akan hubungan aku dan Zafira. Zafira terus dipisahkan dariku dengan cara vocal group itu harus tur ke beberapa wilayah dan negara. Semisal waktu koma, masa Zafira harus mau ikut ke Jepang, saat aku tengah koma di rumah sakit? Kelewatan sekali! Sekarang pun, dijanjikan bisa keluar, namun Zafira sudah kadung tak percaya. Sylvie bilang banyak berdoa dan biarkan sosok superhero itu yang melakukannya. 

Dan, benar! Lima tembakan mengenai lima orang yang menjadi pengelola vocal group tersebut. Kabarnya, yang kudengar pula, salah satu koma selama sebulan lebih. Kali ini entah mereka mau tepat janji atau tidak. Sylvie dan Christoph terus meyakinkan untuk tetap optimis. Tidak ada sesuatu yang buruk menimpa Zafira-ku. Sylvie juga menyampaikan pesan Christoph agar jangan terlalu mendengarkan hasutan-hasutan soal Zafira. Zafira pun diminta hal sama.

Aku selalu berharap semoga Zafira cepat terbebas dari belenggu (Aku pun berharap sama pada diriku!). Kasihan Zafira yang terus mengeluh bagaimana beberapa orang di vocal group itu suka menyiksanya secara psikis. Mereka terlihat baik di awal, namun seterusnya tidak. Apa yah sebutan untuk orang-orang seperti itu? 

*****

Aku tengah tidur siang. Mendadak aku terbangun karena bunyi ponsel. E-mail masuk. Dari Christoph. Pria Jerman itu memberikanku daftar nama para penulis bermasalah. Sebelumnya Sylvie dan Christoph sudah mewanti-wantiku bahwa kelak aku akan jadi penulis agung. Kehadiranku sudah ditunggu banyak penulis. Mereka beranggapan kalau karya-karya penulis agung ini menjadi semacam angin segar, sehingga mereka tak perlu takut untuk menuliskan apa pun sesuai dorongan hati nurani mereka. Namun, Christoph mewanti-wanti kelak ada beberapa penulis yang akan menjegalku, menghasutku, menjadi lawanku terus-menerus. Aku diminta bersabar menghadapi penulis-penulis yang namanya masuk daftar. Aku pun diminta lebih mewaspadai penulis-penulis seperti itu. Christoph memberikanku karakter, kebiasaan menulis, gaya hidup, gaya menulis, pokoknya segala hal yang harus kuwaspadai. 

Aku hanya tertawa saja membaca daftar itu. Toh aku kan belum punya karya yang masuk toko buku. Tapi Christoph memintaku jangan dianggap remeh. Lima nama pertama (Devi Masbari, Rakesh Dicko, Bendi Barantabata, Hudi Mashuda, dan Ganjar Abdillah--yang kudengar lima orang itu sering melakukan hal-hal aneh agar bukunya laris manis) wajib diwaspadai. Mereka sangat bahaya dengan 'racun-racun' mereka. Banyak pembaca yang terkecoh dengan karya-karya mereka. Seperti sebuah nabi yang muncul dadakan, lalu menawarkan ajaran baru tanpa menunjukan seberapa hebat dirinya dan apakah benar mendapatkan wahyu Tuhan. 

Hingga...

...ramalan Christoph terbukti. Novelku keluar. Novel itu sempat disindir-sindir oleh Yoga Maktiaditya Pravisnu di satu acara kondangan yang ada di lingkunganku tinggal. Katanya, novel ini menentang ajaran Yang Maha Kuasa. Waktu aku curhat ke Sylvie, baik Sylvie maupun pacarnya tergelak selebar-lebarnya. Kata Sylvie, "Sok tahu orang itu! Gaya hidupnya seperti apa juga, belum lagi orang itu diam-diam suka bikin aji pengasihan, plus suka bikin tuyul dan tiap malam suka ngepet, eh ini malah sok bilang seperti itu." Sementara Christoph berkata, "Well, my words came true, right? So be careful, lot of people dislike the material of the novel. They think that the novel was such dangerous." Christoph juga tetap mewanti-wantiku untuk mewaspadai penulis-penulis yang namanya dia sebut waktu itu. 

Lalu, selang beberapa saat kemudian, sosok superhero itu kembali beraksi. Tiga penulis tewas di tangannya. Matinya selalu begitu. Berbeda dengan saat eksekusinya. Satu karena stroke, satu lagi karena serangan jantung saat tengah launching buku, dan yang terakhir lumpuh tangan kanannya (padahal dia bukan kidal, Kebayang bagaimana dia begitu menderita jadi tidak bisa menulis sama sekali!) sehingga lambat laun dia jadi frustrasi dan mati karena overdosis.

Dan, itu terus berlanjut. Sosok superhero itu sepertinya hobi melakukan pembersihan. Mana-mana saja yang sudah seharusnya dibasmi, pasti langsung dibasmi tanpa kenal ampun. Dia datang begitu saja tanpa diundang, tanpa melakukan peringatan. Jadi, sama sekali tidak ada yang tahu kapan, termasuk aku sendiri yang masih suka terkaget-kaget jika saatnya datang. Mau dihalangi seperti apa pun, sosok superhero itu sama sekali tak bisa dibendung dengan kekuatan dan sihir apa pun. 

"Kamu jangan takut yah," kata Sylvie menguatkan mentalku. "Biarkan saja semuanya. Mungkin itu artinya keadilan Tuhan sedang bermain dalam sosok superhero itu. Aku sudah pernah bilang kan."




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^