Wednesday, October 5, 2016

SERIAL #GGKT : Para Penghasut

"TEROR MENCEKAM RUMAH SEORANG MILIARDER."

Entah kenapa, baru membaca judul artikel sebuah koran, aku merasakan suatu kengerian. Artikelnya sih memang berbau horor. Tentang anak seorang pengusaha kaya raya Indonesia yang mati tragis.  Entah benar atau tidak, sebuah komputer tua yang masih berpentium satu itulah penyebabnya.

Itu baru satu berita. Berita-berita lainnya jaih lebih horor. Ada diceritakan seorang petugas kepolisian mati dengan kepala buntung. Seorang pedagang mi ayam harus mati ditabrak truk hanya karena mengambil bola sepak yang tak sengaja masuk ke halaman rumah itu. Hiiy! Benarkah seperti itu? Atau itu hanya bumbu media supaya oplahnya naik pesat? Kan sekarang banyak seperti itu. Judulnya dilebih-lebihkan, kadang tak sesuai isi, malah tak sesuai fakta, eh yang seperti itu yang dicari orang.





Kusodorkan artikel koran itu ke Zafira. Kekasihku ini memang hobi dengan hal-hal seperti ini. Katanya, justru yang lebih menyeramkanlah yang lebih menantang adrenalin. Permainan jet coaster malah tidak ada apa-apanya ketimbang membaca sebuah artikel horor picisan. Itulah Zafira-ku, yang memiliki ketertarikan berlebihan terhadap hal-hal tak kasatmata. Kata ibunya, nilai-nilai sekolah sering anjlok karena kebiasaannya tersebut.

"Artikel horor picisan?" Astaga, Zafira! Kamu benar-benar menyangka itu betul terjadi? "Jangan sembarangan, Mas, kalau ngomong. Aku rasa yang nulis juga nggak bohong. Hal-hal kayak gini kan beneran ada, Mas."

Aku berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. "Zaf, please, jangan bikin aku ketawa yah. Mana ada satu komputer pentium satu bisa bikin nyawa satu anak miliarder tewas mengenaskan."

"Tapi emang benar, kok. Temannya teman aku pernah cerita, tiap ngelewatin rumah itu, suka banyak hal anehnya. Yah kayak suka ada suara-suara nggak jelas. Kadang muncul cewek gitu. Bahkan hantu anak si miliarder tiba-tiba muncul." kata Zafira retoris.

Aku menghela napas. Kukunyah baksoku ini.

"Apa Mas juga nggak percaya sama beberapa kasus yang berhubungan sama klenik gitu? Mas udah pernah aku ceritain kan, soal papanya temanku yang disantet orang? Pas di-rontgen, dari dalam lambungnya itu banyak paku gitu." 

"Percaya sih. Aku juga udah lihat sendiri buktinya." jawabku tersenyum untuk menenangkan Zafira. Zafira memang begitu. Dia suka marah dan ngambek sendiri jika aku tak percaya dengan apa yang dibilang.

"Hati-hati, Mas. Aku cuma ngingetin doang loh. Nggak semua hal di dunia ini--yang sudah terjadi--bisa ada pembuktiannya yang bisa dipegang tangan dan dilihat mata. Yang aku sering lihat sih, kebanyakan hal di dunia lebih sering harus dirasakan oleh mata hati."

Aku hanya nyengir saja mendengarkan khotbah singkat tuan putriku di kantin sebuah kantor redaksi majalah. Gara-gara meributkan satu artikel, beberapa pengunjung jadi ikut menjulurkan telinganya ke arah kami berdua. Mata mereka bisa ke ponsel atau buku, namun telinga dan hati mereka terfokus ke arah kami berdua.

Aku sendiri masih setengah-setengah menanggapi berita kematian Anton tersebut. Satu sisi aku percaya, sisi lain diriku meragukan. Mungkin sisi yang meragukan ini (atau gabungan keduanya) yang menyebabkan aku jadi luar biasa antusias untuk mencari tahu lebih lanjut soal kematian Anton. Aku pun mulai aktif browsing sana-sini. Aktif pula aku membeli beberapa sumber yang ada kaitannya dengan kematian tragis Anton tersebut. Hingga akhirnya ulahku ini menarik perhatian teman-temanku.

"Lu ngapain sih? Nggak jelas banget! Udahlah, percaya aja. Emang benar kok. Emang kayak gitu, yah gimana lagi. Hal-hal kayak gitu kan emang sering terjadi. Lagian jangan terlalu menyelidiki lebih dalam. Bahaya, Bro! Mending lu nikmatin hidup lu." saran temanku, Thomas di Whatsap.

Atau saat mengobrol dengan adik kelasku, Salvito, brengseknya ia malah mengalihkan pembicaraan, "Bang, nonton ini deh. Dada ceweknya lumayan."

Saat bicara by phone dengan Tomo, Tomo yang penuh jerawatan langsung ketawa, "Hahaha, bohong tuh media. Media itu emang banyak banget bokisnya."

Begitu terus, lagi dan lagi. Aku seperti tak pernah mendapatkan kepuasan dan jawaban yang tepat dari banyak orang yang aku tanyakan. Aku merasa mereka semua seperti coba mengalihkan perhatianku. Entah mereka sungguh tengah menyelamatkanku, entah pula ada niat terselubung yang mungkin saja bakal mencelakakanku. Itulah yang membuat rasa penasaran di dalam dada ini semakin membuncah. Insting detektif sontak berdering kencang dan memaksaku untuk menyelidiki lebih jauh. Sampai akhirnya...

Suatu hari, aku dipanggil oleh Bos-ku, Pak Iman Sucahya. Beliau mendadak menugaskanku untuk menyelidiki rumah itu, juga kematian Anton. Agak aneh juga. Terlalu kebetulan. Kenapa datang saat aku tengah aktif menyelidiki sendiri soal semua keanehan itu? Aku merasa Pak Iman dan beberapa awak RedemIllumination tengah mengawasi gerak-gerikku. Tak hanya aku saja, namun juga yang lainnya. Isunya itu aku pernah dengar. Katanya, jangan sembarangan bicara tentang RedemIllumination. Mereka punya banyak telinga di mana-mana.

Walau sudah diperingatkan oleh kekasihku, teman-temanku, dan saudara-saudaraku, aku tetap ngotot mengambil tawaran tersebut. Aku ingin menyaksikan sendiri segala pemberitaan yang pernah ditulis jurnalis-jurnalis lain. Konon, jurnalis-jurnalis yang menuliskan berita tentang rumah itu dan kematian Anton, mereka semua selalu tewas dengan cara yang sama dengan Anton meninggal. Ya Tuhan, semoga aku tidak seperti itu.

*****

Akhirnya aku telah sampai di rumah ini, sebuah runah bergaya Mediterania. Dulu rumah ini ditempati oleh keluarga kaya raya. Sang kepala rumah tangga hobi berpelesiran ke beberapa tempat. Tak ada satu tempat pun yang tak dijelajahinya dari Nusantara ini. Toraja, Senggigi, Sanur, hingga Lembah Baliem, sudah dikunjungi sang kepala keluarga yang katanya seorang pebisnis yang hobi main saham. Rumahnya indah khas rumah bergaya Mediterania dengan pilar-pilarnya yang perkasa. Andai saja rumah ini tak ditinggalkan, pasti akan jauh lebih indah. Lihat, cat-catnya mulai luntur oleh waktu. Bau tengik di mana-mana. Suara tikus bersahut-sahutan. Dan bau darahnya masih terbuka. 

Aku bisa masuk ke dalam rumah ini juga karena peran RedemIllumination. Entah bagaimana caranya RedemIllumination bisa memiliki hak eksklusif untuk memberitakan kasus tersebut, bahkan bisa mendapatkan hak istimewa dari kepolisian. Tapi sudahlah, tak usah dipikirkan dulu, lalu mulai melakukan penyelidikan. Dengan gagah berani, aku memasuki rumah itu sendirian, semata untuk menyelidikinya sendiri. 

Aku memotret beberapa bagian dari rumah tersebut. Hati-hati sekali aku mengamati sekelilingnya. Nurani ini memaksaku untuk memeriksa sendiri kebenaran dari berita-berita tersebut. Rata-rata benar sih. Di dalam rumah ini memang banyak barang mewahnya. Tapi ada satu yang menggelitikku. Tak kutemukan komputer pentium satunya. Apa tengah diselidiki polisi secara pribadi? Yang ada malah sebuah mesin tik tua yang kutemukan di ruang tengah. 

Memang ada desas-desus yang mengatakan soal mesin tik ini. Katanya, mesin tik ini dibeli sang kepala rumah tangga waktu berada di Amsterdam, mengurus usaha rumah bordilnya. Namun berita awalnya kan, yang ditulis itu komputer pentium satu. Kesamaannya hanya satu. Yaitu: tiap kata yang tertulis, pasti akan jadi kenyataan. Tak lebih dari sedetik malah. 

Gosip itu benar. Itulah yang mengantarkanku pada pertemuan dengan Sylvie Van Huis, yang saat kuceritakan, nyaris tak ada satu pun dari rekan-rekan jurnalisku yang percaya. Di luar RedemIllumination pun sama. Mereka menganggap aku hanya berkelakar. Bahkan satu-dua dari mereka bilang aku ini sudah sakit jiwa. Itulah kenapa awalnya aku beranggapan Sylvie Van Huis dan Christopher Brahm itu fiktif. Malah aku sempat mengira keduanya itu makhluk jadi-jadian. Bagaimana aku tidak beranggapan seperti itu, selain Sylvie dan pacarnya itu selalu muncul misterius, sepertinya ada yang mencoba menutupi kebenaran sesungguhnya dengan menciptakan banyak kebenaran picisan. 

Yah walau kenyataannya terbukti. Yang dikatakan Zafira benar, khususnya soal RedemIllumination. Sylvie pun benar soal segala kisah itu. Segalanya mulai terkuak. Memang rumah dan keluarga itu bermasalah. Pengadilan duniawi tak bisa mengadili mereka. Namun pengadilan surgawi tidak akan pernah tinggal diam. Keadilan Tuhan benar-benar datang. Aku sudah menyaksikannya sendiri. 

Walaupun demikian, tetapa saja, para penghasut masih berkeliaran di sekitarku. Mereka selalu berusaha menggangguku untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya. Ada-ada saja ulah mereka. Zafira pernah dikatakan sebagai tukang selingkuh, cewek matre, pemalas, dan murahan. Christoph dituduh sebagai cowok psikopat, sehingga harus dipasung di dalam ruangan rahasia saking bahayanya. Atau Sylvie yang dicurigai sering menggunakan cara-cara supranatural agar mendapatkan kembali rumahnya. Mereka selalu berusaha membalikan segala ceritaku, cerita Sylvie dan Christoph, dan cerita Zafira. Aku pun pernah dituduh sebagai simpanan tante-tante. Astaga! 

Haha. Ada-ada saja. Kenyataan, satu persatu hasutan tak terbukti sama sekali. Ada saja cara Tuhan untuk membalikannya. Mau tertawa aku jadinya. Namun aku jauh lebih menertawakan bagaimana awalnya aku bisa terlibat pada kasus yang luar biasa rumit ini. Mendadak berita kematian Anton Tjokrobukara  muncul. Sylvie Van Huis datang menggodaiku; katanya, dirinya tokoh ciptaannya (Nyatanya bukan!). Christopher Brahm yang berbadan bak raksasa, namun hatinya begitu sensitif. Semuanya muncul begitu saja ke dalam kehidupanku, tanpa kuminta, tanpa sengaja, tanpa direncanakan, dan pastinya mereka seolah ingin memaksaku turut serta dalam sebuah babak drama yang aku tak tahu kapan kunjung selesainya.

Oh jangan lupakan pula soal sosok superhero dalam tubuhku. Dia kadang suka beraksi tanpa aku minta. Namun karena itulah, aku merasa terlindungi. Tak hanya aku saja yang ia lindungi, Zafira, keluarga Zafira, serta keluargaku juga dilindunginya.

Tiba-tiba, setelah terbangun dari tidur, lalu merenungi apa saja yang telah terjadi, ada secarik kertas misterius di sampingku. 

Morgen, Mij Zon? How about your sleep? Enakkah? If you want to know me very far, create a lot of stories you want. Just simple, as simple as my desire to you. Liefde jij so lot!

Sejak kapan kertas ini ada di sini? Isinya sama persis dengan yang dituliskan Sylvie waktu itu. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering. Nomor asing, tapi aku tahu siapa orangnya. Sebabnya isinya seperti ini: Hey Kamen Rider, Enakkah tidurnya semalam? Walau kamu sudah tahu yang sebenarnya soal rumahku, aku, dan pacarku, tetap ingat kata-kataku waktu itu yah. Just remember, keep writing, key of your problems is on the your stories! Ik en Christoph heb je hulp nodig. Really need your help!!!


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^