Sunday, October 2, 2016

SERIAL #GGKT : Misteri Mesin Tik Tua dan Zus Sylvie



Kelanjutan dari sini 










Dulu rumah ini ditempati oleh keluarga kaya raya. Sang kepala rumah tangga hobi berpelesiran ke beberapa tempat. Tak ada satu tempat pun yang tak dijelajahinya dari Nusantara ini. Toraja, Senggigi, Sanur, hingga Lembah Baliem, sudah dikunjungi sang kepala keluarga yang katanya seorang pebisnis yang hobi main saham.





Rumahnya indah khas rumah bergaya Mediterania dengan pilar-pilarnya yang perkasa. Andai saja rumah ini tak ditinggalkan, pasti akan jauh lebih indah. Lihat, cat-catnya mulai luntur oleh waktu. Bau tengik di mana-mana. Suara tikus bersahut-sahutan. Dan...

...hey, dengar!

Kalian dengar itu, kan? Suara pria berkepala tiga beraksen Jerman. Tidak-tidak-tidak, satu keluarga itu orang Indonesia tulen, lebih tulen daripada mereka yang sangat membanggakan keindonesiaannya sehingga menghina yang yang hobi bicara penuh keinggrisan. Hanya saja,...

...yang kudengar, sang kepala keluarga ini punya hobi aneh. Dia suka mengoleksi barang-barang yang tak seharusnya dibeli, disentuh, diraba, diciumi, hingga dijadikan azimat. Tiap berpelancong ke mana, sang kepala keluarga tak bisa menahan hasrat untuk tak mencari benda-benda unik, yang menurutnya bisa mendatangkan keberuntungan. Waktu ke Ubud, dia menyempatkan membeli satu patung ukiran Dewa Krisna dengan tampang paling bengis. Menurut penjualnya, patung itu bisa mendatangkan hoki untuk tiap transaksi bisnis yang dilakukan. Padahal aslinya, menurut masyarakat setempat (yang diabaikannya), patung itu memang mendatangkan hoki, tapi harus ada yang dikurbankan.

Itu belum saat si kepala rumah tangga ke Jepang, lalu membeli lukisan relief seorang geisha berlinangkan darah. Dia sudah diwanti-wanti seorang pendeta shinto, yang katanya patung itu bisa mendatangkan kesialan. Tapi abai lagi-lagi. Untung saja, kalau bukan kesalehan sang istri, anaknya--yang bernama Anton--sudah tewas akibat pendarahan di usus buntu.

Omong-omong soal Anton, anaknya harus tewas mengenaskan yang disertai kematian para penyelidik yang berusaha menyelidiki kematiannya. Mengenaskan bukan kata yang tepat memang. Ini gabungan antara mengenaskan, tragis, menyedihkan, memilukan, memualkan, dan... kalian pilih sendiri kata-katanya yah.

Oh iya, lupa memperkenalkan diriku. Namaku Akira. Bukan, aku bukan orang Jepang, dan tak ada turunan sama sekali. Akira itu singkatan dari nama ayah-ibuku: Agus Kencana dan Irawati Sri Rahayu. Aku lahir di Serang, kota yang percaya atau tidak, sebagian penduduknya masih suka berklenik. Pesugihan buat wajah ayu selamanya-lah, ngepet demi cari uang-lah, cari tumbal buat bisnis lancar-lah. Hahaha, tak heran aku jadi gila misteri begini.

Oh, nama lengkapku? Akira. Itu saja. Sederhana, bukan? Iya, iya, aku bohong. Akira Kencana kepanjangannya.

Anyway, well, aku bekerja sebagai seorang jurnalis lepas tentunya. Tak banyak kalian menemukan jurnalis lepas, kan? Itu ada ceritanya. Alasannya karena kedua kakiku ini--seperti huruf O. Aku tak minder, sebab IQ-ku 200. Masalahnya, oleh pimredku, baru sebulan-dua bulan ngantor, dia menyuruhku untuk bekerja di rumah, dan di mana-mana yang ada misterinya. Jadi aku ibarat lalat-nya "RedemIllumination", sebuah majalah yang aku bingung genrenya apa sebetulnya. Lifestyle iya, misteri iya, musik iya, sains iya, bahkan politik pun juga ada rubriknya.

Ah lupakan soal majalahku. Aku penasaran dengan mesin tik ini. Menurut desas-desus, mesin tik ini dibeli sang kepala rumah tangga waktu berada di Amsterdam, mengurus usaha rumah bordilnya. Lagi-lagi sang kepala rumah tangga mengabaikan imbauan seorang pengemis tua, yang berkata mesin tik itu berbahaya. Tiap kata yang tertulis, pasti akan jadi kenyataan. Tak lebih dari sedetik malah.

Begini ceritanya,

Masa sih? Masa ada benda seperti mesin tik ini? Haha, guyonan banget! Aku masih ingat cerita itu. Cerita saat si Anton mati tersebut. Begini ceritanya.

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Sekali.

"OFFENE TÜR!!!"

Dua kali.

"GOTTVERDAMMTE! OFFENE TÜR!!!"

Tiga kali.

Oke, ini jelas bukan fantasiku. Suaranya itu benar-benar ada, bukan sekedar delusi belaka. Brengsek, saat seperti ini, aku malah sendirian di rumah. Papa-Mama tengah pergi ke Bandung untuk sebuah acara pernikahan. Kedua abangku sudah lama menikah. Dan adikku tengah ikut acara perkemahan yang diadakan fakultasnya.

Tak seperti tokoh Ryan yang kugambarkan sebagai seorang penakut, aku memberanikan diri untuk membalas kata-kata orang itu. Sahutku: "HEY, SIAPA DI ATAS SANA? ANYBODY'S THERE? CAN YOU SPEAK ENGLISH?"

Orang mencurigakan itu tertawa lumayan keras. Aku semakin bergidik. Ia memekikan lagi sebuah kata-kata: "Meine Güte, ist jemand hier. Ich denke, niemand in dem haus." Sebetulnya bukan sebuah pekikan juga. Karena situasinya benar-benar hening, sudah jam sepuluh malam juga, aku tetap bisa mendengar suaranya dengan volume normal.

"HEY, I CAN'T SPEAK GERMAN. PLEASE, SPEAK ENGLISH! COME ON!" Aku nekat saja membalas kata-katanya barusan.

Ia tergelak lagi. Lagi-lagi lumayan keras. "Okay, ich werde nicht sprechen Deutsch. I will speak English for you. And, please, open the door! Please, little boy!"

Tragis, bukan?

Karena aku manusia, tergeraklah untuk menguji kebenaran isu tersebut. Aku kan jurnalis, kerja berdasarkan fakta. Apalagi majalahku ini mengusung ideologi: "Cerahkan Pikiran Manusia Dari Takhayul". Tak heran ada kata 'illumination' yang artinya pencerahan. Mulai aku ketik satu paragraf.

Suatu ketika, di malam yang dinginnya sampai tulang sumsum, tokoh utama kita, Yudistira tengah duduk menanti kekasihnya, Srikandi. Mereka janjian di halte yang berada depan rumah peninggalan seorang meneer Belanda. Kusamnya kelihatan. Ah, Yudistira mulai jengah. Ke mana Srikandi-nya? Lama nian tak muncul-muncul. Yang muncul malah seorang nona-nona bule dengan rambut pirang dan berombak. Pakaian si nona... khas bangsawan Eropa saat menghadiri sebuah ballroom. Anggun sekali si nona, begitu pikir Bima. Andai saja Bima tak memiliki Srikandi, sudah ia embat si nona bule.

"Malam," ujar si nona bule yang bikin Bima pangling. Bima pikir ia harus berkata-kata dalam bahasa Inggris. Nyatanya bisa bahasa Indonesia. Indo toh?

Cukup. Mari lihat hasilnya. Semenit, dua menit, hampir tiga puluh menit, tak ada apa-apa. Bullshit! Aku menendang kaki sofa saking kesalnya. Sudah kuduga hanya isapan jempol. Saking kesalnya, aku jadi mengantuk. Mataku sekonyong-konyong mengerjap. Kubuka lagi.

Astaganaga! Perempuan ini datang dari mana? Cantik pula--dan lebih cantik dari pacarku, Zafira. Wajahnya Indo. Itu terlihat dari rambut pirang dan berombaknya, serta matanya yang kalau tersenyum itu segaris. Si perempuan lalu menjulurkan tangan dan berkata, "Perkenalkan nama saya Sylvie Van Huis,"

"A-a-akira Ke-ke-kencana," Aku gugup, dia tertawa jahil. "Zus datang dari mana?" 'Zus' berasal dari kata zuster. Bagaimanapun Sylvie ini lebih muda dariku kelihatannya. Pakaiannya sungguh tak lazim. Masa dia berpakaian seperti hendak ke ballroom--mengenakan gaun terusan warna putih dan ada corak batiknya? Lagipula di jaman sekarang masih adakah pesta ballroom dengan dress code seperti ini? Kuno sekali pakaiannya. Waktu prom dulu saja, Zafira-ku mengenakan sackdress warna ungu (Sampai ia dijuluki teman-temannya 'janda kembang') dengan belahan dadanya terlihat samar-samar.

"Biasa saja lagi. Aku bisa berbahasa Indonesia karena ibuku yang asli Semarang. Kalau Daddy sih dari Belanda. Dia peranakan Belanda-Jerman-Perancis-Italia soalnya."

"Oh," Buat apa sih, dia memperkenalkan kedua orang tuanya? Memang perlu aku tahu? Hei, aku sudah punya pacar! Tampang Asia jauh lebih baik daripada tampang Eropa. Hidung khas penari striptis Arab jauh lebih cantik ketimbang hidung ala Kaukasoid.

Sylvie ini mengikik lagi. Tawanya renyah. Tapi sebentar,... astaga, kenapa baru sadar sekarang? Sylvie ini sangat mirip dengan apa yang kutulis. Lalu, di tengah kagetku, Sylvie beringsut, mencium lembut bibirku, dan membisikan sesuatu.

"...aku adalah tokoh ciptaanmu, hai Tuan Jurnalis yang Tampan Rupawan..."

Kedua kakiku lemas. Lutut-lututku bergemelutuk mengikuti irama gigi-gigiku yang sudah lebih dahulu. Bukannya menopang, Sylvie malah menjauh dan membiarkanku jatuh pingsan. Bangun-bangun cahaya matahari sudah menggelitik bulu hidungku. Astaga, sudah pagi? Si Sylvie ke mana? Yang ada hanya secarik tulisan berbunyi: Morgen, Mij Zon? How about your sleep? Enakkah? If you want to know me very far, create a lot of stories you want. Just simple, as simple as my desire to you. Liefde jij so lot!

Aku bingung, aku bergidik. Haruskah kuceritakan ini ke Pak Iman, pimredku ini?