Tuesday, October 4, 2016

SERIAL #GGKT : Kunci Gaib untuk Kasus Gaib



Kelanjutan dari sini




Cuplikan film "Monster House".
Sylvie terbahak. Kencang sekali suaranya. Tambah mengerikan pula, si Pria Jerman itu pun terbahak. Aku jadi canggung. Mungkin karena sudah sehati (aku dan Zafira sudah dua tahun berpacaran), Zafira bisa merasakan kekalutan. Yah walau Zafira juga sama cemasnya denganku.





"Tak usah takut, Akira, Zafira," kata Sylvie dengan nada suara yang berusaha dipelankan. "Aku teman kalian. Juga pacarku ini, yang mungkin kalian takut karena wajahnya. Haha."

Si Pria Jerman ini ikut terbahak pula. Aduh, suara parau itu. Haruskah dia tertawa juga? Ngilu aku mendengarnya.

"Hei, jangan begitu!" protes Sylvie. Mungkin Sylvie sudah bisa membaca pikiranku dari ekspresi jijikku. "Pernah dengar 'don't judge a book by its cover', kan? Pacarku ini benar-benar baik. Dulunya wajahnya juga tak seperti itu, kok. Wajahnya itu gara-gara ayahnya Anton itu. Godverdomme!"

Mungkin karena sudah menangkap aura ketidakpercayaan dariku dan Zafira, Sylvie kembali meneruskan kata-katanya setelah memeluk dan mencium erat Pria Jerman itu. Tampak Pria Jerman itu kembali tenang yang tadinya sudah sangat tersinggung sekali. Berkali-kali Sylvie berujar "verzoeken" pada si Pria Jerman.

"Terserah kalian mau percaya atau tidak, faktanya memang begitu. Pacarku berwajah seperti itu karena melindungi ayahku yang ngotot mempertahankan rumah ini dari keluarga yang tamak tersebut. Ajudan-ajudan mereka yang brengsek itu tanpa kenal ampun langsung menyirami wajahnya dengan bensin, lalu membakarnya."

Sylvie terdiam. Ganti si Pria Jerman yang menenangkannya dengan membelai lembut rambut Sylvie. Sekarang aku melihat sisi berbeda dari si Pria Jerman.

"My name is Christopher Brahm," kata Pria Jerman dengan suara parau yang berbeda; lebih lemah lembut. "Sorry for inconvenience welcome. And my girlfriend had suffered a lot for that bastard family."

"O-okay, never mind. It's just about the angle we take to see." kataku berusaha diplomatis. "Anyway, how about the case? Sorry, I'm still confused. I even thinked that all of you was never existed. Cus, yeah, you suddenly appeared. Backwards I--and my girlfriend--never knew about you and that case. Are you serious? Isn't it a delution, right?"

"Yeah, some people will think the same way. Too good to be true. Too dangerous to look so real." ujar Christoph lesu. Suara paraunya bikin aku ngilu lagi.

Christoph mulai bercerita. Kadang ia bercerita dengan bahasa Jerman, kadang dengan bahasa Indonesia. Sesekali Sylvie menyela untuk ikut menjelaskan. Ditambah dengan Sylvie, total telingaku ini sudah mendengar lima bahasa: Jerman, Belanda, Inggris, Indonesia, dan Jawa. Aku kaget Sylvie bisa bahasa Jawa pula.

Jadi ceritanya seperti ini--yang tak banyak orang tahu...

Untuk membuktikan segala ceritanya, Christoph menunjukan pada kami beberapa akta dan foto. Juga beberapa bukti SMS dan rekaman telepon. Cerita mereka begitu meyakinkan sekali. Walau tetap saja, maaf, bagiku cerita mereka bagaikan sebuah dongeng mengerikan. Adakah orang sekejam ayah Anton ini?

Awalnya rumah ini memang punya keluarga Van Huis. Hingga pada suatu hari datanglah keluarga Tjokrobukara yang seenaknya mengeksekusi rumah mewah ini menjadi rumah keluarga mereka. Sang kepala keluarga, Supandi mendekati notaris pribadi keluarga Van Huis untuk memanipulasi pembelian. Rekayasa tanda tangan ayah Sylvie mulai dilakukan. Konon pengambilalihan rumah mewah itu melibatkan pula sejumlah petinggi aparat dan militer. Yang jadi pertanyaan dan masih tak kumengerti: untuk apa Supandi itu sebegitu ngotot membeli mati-matian rumah mewah ini? Rumah mewah kan banyak. Apalagi yang bergaya Mediterania. Tapi aku memilih untuk urung bertanya dan memilih untuk terus menyimak.

Sang kepala keluarga, Arie membawa kasus itu ke pengadilan. Di pengadilan negeri, Supandi menang. Arie tak puas dan memilih banding. Lagi-lagi Supandi menang di pengadilan tinggi. Sampai ke peninjauan kembali pun, Supandi tetap menang. Arie tak menyerah begitu saja. Dengan menyewa beberapa detektif swasta, Arie mendapati adanya banyak kecurangan dalam pembelian rumah mewah ini. Rupanya Supandi mencium gelagat Arie tersebut. Sebelum bukti kebusukannya terungkap ke mana-mana, Arie dan keluarganya terus berusaha dibungkam. Diteror dengan telepon dan SMS, dikirimi santet, diikuti saat hendak bepergian, dan banyak cara untuk mengintimidasi keluarga Van Huis. Hingga akhirnya, Supandi mengeluarkan senjata pamungkas. Anak bungsu keluarga Van Huis diculik. Selama enam bulan, penculikan itu terjadi.

Karena rasa ingin berbakti itulah, Sylvie dan Christoph menyelidiki sendirian. Tambah runyam jadinya. Sylvie ikutan disekap di suatu tempat bareng adiknya. Christoph pun sama. Demi menyelamatkan Sylvie, setengah wajahnya rela dibakar.

Katanya sih, kasus itu tak pernah menguak ke khalayak karena pengaruh keluarga Tjokrobukara yang begitu kuat. Apalagi kebanyakan petinggi media juga kenal betul dengan Supandi. Media-media itu selama ini mendapatkan sokongan dana dari perusahaan-perusahaan yang dimiliki keluarga Tjokrobukara. Pun dengan beberapa petinggi aparat dan militer. Bahkan pengaruh keluarga Tjokrobukara telah sampai ke ranah pemerintahan. Pantas saja kasus itu tertutup sedemikian rapatnya.

Arie dan istrinya diam-diam dihabisi di suatu jalan yang menuju ke Puncak. Anak-anak mereka yang lainnya juga sama. Menurut pengakuan Sylvie, ada salah satu adiknya yang dijual ke Rusia sebagai pekerja seks komersial. Pacar Sylvie, Christoph juga kena imbasnya. Keluarganya juga dibungkam. Mereka dikirim ke negeri leluhur mereka.

Kasus ini terasa mistis untukku. Membingungkan pula. Sylvie mengaku pernah diculik di suatu tempat, yang melihat sendiri adiknya dibunuh secara sadis. Lalu ada Christoph yang disiksa dan dikurung sedemikian sadis juga di rumah mewah ini. Lantas sekian lama waktu bergulir, keluarga Tjokrobukara hidup dengan sejahtera di rumah mewah ini yang masih menyimpan mayat adik bungsu Sylvie, juga Christoph. Bagaimana bisa anak-anak keluarga Tjokrobukara bisa hidup bersama dengan misteri dan tragedi?

Sylvie hanya menjawab, "No need to be confused. Hal biasa, kok. Mooie gewoon, Mij Vriend. Bukankah hidup seperti itu? Selalu saja berdekatan dengan yang namanya misteri dan tragedi. Mungkin dengan cara seperti inilah, dengan banyak horor juga, keluarga Tjokrobukara dibalas Tuhan. Tragedi dibalas dengan tragedi. Horor dibalas dengan horor."

Sylvie lalu terbahak lagi dengan kekasihnya yang besar dan buruk rupa, Christoph. Bersamaan dengan itu, entah mengapa kepalaku terasa pusing. Zafira juga merasakan hal sama. Apa mungkin karena americano latte ini, sehingga kesadaran kami perlahan menipis?

*****

"Sedikit penjelasan untukmu, Kawan. Freerth ini organisasi yang sudah berdiri sejak perang salib. Untuk cabang di Indonesia saja, Freerth dibawa oleh VOC. Di dalamnya sebetulnya banyak agen kami. Dan anda seharusnya bangga bisa bergabung ke dalamnya. Sebab seleksi Freerth sangat ketat sekali, melebihi ketatnya tes pegawai negeri sipil. Kami benar-benar mempelajari betul-betul latar belakang calon anggota."

(Selanjutnya baca: Freerth)

Apa lagi sekarang? Freerth? Perang salib? VOC? Dan sekarang aku di mana? Hah? Kenapa aku bisa berada di atas spring bed-ku yang empuk? Anehnya lagi Zafira sudah tidur seranjang denganku. Tak sekadar tidur, tapi ia tidur dengan pakaian yang begitu minim. Aku pun sama. Aku tidur bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Tidak mungkin, kan, aku dan Zafira berhubungan intim? Sampai sekarang pun, aku tetap berusaha menjaga keperawanan Zafira hingga hari pernikahan.

"Mas Kira," desah Zafira. "Mas udah bangun? Mas enak banget mainnya,"

"Hah?" Aku mengernyitkan dahi. "Kamu ngomong apaan sih? Dan sejak kapan kita bisa ada di kamar aku? Bukannya kita lagi ada di rumah tua itu?"

"Kamu ngomong apaan sih, Mas? Dari tadi kita kan di kamar kamu sehabis pulang belanja dan nonton. Rumah tua apaan lagi?" Ganti Zafira yang mengernyitkan dahi.

"Itu loh, yang ada cewek Belanda namanya Sylvie Van Huis--"

Zafira langsung galak memotong ucapanku. "Sylvie Van Huis itu siapa lagi? Dulu-dulu ada Becky, Vicky, Febe, Kristy, Linda, Ayu, Sarah, Patricia dan sekarang Sylvie. Mulai lagi kan jelalatannya. Udah susah payah nyenengin kamu, kamu malah mikirin cewek lain. Brengsek kamu, Mas!!!"

Zafira bangkit berdiri, lalu meninggalkanku yang masih terbengong-bengong. Aku bingung, dari semua yang aku alami, mana yang sungguh terjadi. Saat di bangsal, di teras rumah mewah itu, di ruang tengah rumah mewah itu, atau di kamar aku ini?

Ya Tuhan, kenapa hidupku jadi seluar-biasa aneh seperti ini? Bisakah kembali berjalan 'normal'?

*****

Aku kembali mendatangi rumah mewah itu lagi.  Kali ini sendiri saja. Zafira menolak untuk menemaniku. Tak biasanya, kekasihku itu tak menemaniku. Anehnya lagi, saat kejadian semalam--waktu berhubungan, dia tampak merasa... ah aku bingung menjelaskannya. Yang jelas Zafira-ku tidak tampak seperti Zafira biasanya. Seperti ada yang disembunyikan, seperti ada yang dirahasiakan, atau tepatnya seperti tengah dicuci otaknya. Zafira bukan Zafira yang biasanya kukenal.

Rumah itu kembali menjadi rumah yang dulu. Maksudku, kembali kusam dan kembali seperti sebuah rumah misterius yang pernah terjadi kasus paling mengerikan--paling tragis. Mataku mengedarkan pandangan ke tiap sudut rumah. Tak ada tanda-tanda ada penghuni. Kupanggil-panggil dua orang itu--Sylvie dan Christoph maksudku, hanya tiupan angin yang menjawab.

"Cari siapa, Dek?" tanya seorang tukang bakso yang kebetulan lewat rumah mewah itu. Mungkin karena aku yang agak lama menjawab, terlihat linglung, dan dirasanya agak aneh, si tukang bakso kembali berujar, "Rumah ini kosong, Dek. Udah lama nggak ada penghuninya sejak kematian anak si orang gedongan. Lagian si adek manggil siapa lagi? Mereka nggak punya anak cewek. Apalagi mereka juga bukan bule kok."

"Masa?" Aku mengernyit tidak percaya. "Tapi waktu saya ke rumah ini, ada cewek bule yang nyamperin saya, Bang. Dia juga ngejelasin ke saya soal kasus sebenarnya dari rumah ini dan keluarga itu."

Tampang si tukang bakso berubah. Apa yah kata tepat untuk menyebutnya? Aku bingung. Tapi secara insting, aku merasa si tukang bakso percaya kata-kataku. Terlihat si tukang bakso sudah cukup lama tinggal di daerah ini. Ia pasti tahu cerita sesungguhnya. Hanya mungkin saja ia takut untuk bersaksi. Aura ketakutannya bisa kutangkap.

"Maksud adek apa? Beneran Dek, nggak ada itu yang disangka adek. Yang ada anaknya itu mati karena satu kejadian aneh bin menyeramkan. Dia mati tragis. Begitu pun dengan beberapa aparat yang bertugas menyelidiki. Ada yang bilang karena komputer tua yang dibeli Pak Supandi di Belanda."

"Hah? Komputer? Bukannya mesin tik, Bang?" Aku makin bingung jadinya. Sebetulnya ada apa ini? "Tapi benar, Bang. Ada cewek bule di rumah ini. Dan kasusnya itu nggak seperti yang ada di berita-berita."

Perlahan si tukang bakso memasang raut wajah aneh. Ketakutan, kebingungan, dan suatu keinginan untuk memperingati bercampur menjadi satu. Dia beringsut lebih dekat padaku. Dia lalu membisikan padaku.

"Adek mending jauh-jauh dari rumah ini. Nggak usah sok ikut campur. Bahaya, Dek! Yang saya dengar rumah ini selalu makan korban buat yang menyelidikinya."

"Serius, Bang?" Entah kenapa aku makin antusias untuk mengetahui lebih lanjut.

"Dua rius, Dek. Yang saya dengar lagi juga, rumah ini aura mistiknya kerasa banget. Di jam-jam tertentu, suka ada bau-bauan aneh, Dek. Bau kemenyan sih masih mending. Ini segala jenis bau ada di rumah ini, yang kalau dipikir-pikir masa ada sih bau-bauan kayak gitu di rumah. Dan mungkin apa yang adek lihat itu akibat cium bau-bauan aneh itu. Adek pasti cium bau-bauan kan? Makanya nyangka ada cewek bule di dalam rumah."

Aku memutar otak. Si tukang bakso tidak 100% berbohong. Pertama ke rumah ini, memang sempat mencium bau aneh. Seperti bau obat anti nyamuk. Aneh sih. Rumah yang sudah lama tak ditempati, siapa juga yang menyemprotkan obat anti nyamuk? Dan buat apa juga? Tak hanya bau obat nyamuk juga sih. Kadang muncul bau bunga lavender. Padahal tak ada bunga lavender di kebunnya. Muncul pula bau obat gosok. Macam-macam bau pernah kucium tiap ke rumah ini.

Dia kembali berbisik, "Lebih baik adek pulang demi keselamatan adek. Bahaya beneran!"

"Tapi saya mau cari tahu dan ada janji juga sama si cewek bule di rumah ini."

Mungkin karena dia mengira aku begitu ngotot, dia jadi membentakku, " Eh, adek ini ngeyel juga yah dibilangin. Nggak ada cewek bule, Dek. Mungkin itu cuma halusinasi adek doang."

Baru aku ingin membantahnya, dari dalam rumah terdengar suara. Seperti alunan sebuah mantra yang intens dirapalkan. Frekuensi suaranya bikin kepala agak pusing. Mendengar itu, si tukang bakso terbirit-birit mendorong gerobaknya untuk segera menjauhi rumah mewah ini seolah-olah sesuatu buruk akan terjadi. Dari jarak yang agak jauh dari jauh dariku, dia berteriak, " PERGI, DEK! BAHAYA!"

*****

Bangsat! Apalagi sekarang? Kali ini aku berada di sebuah kamar. Sepertinya sih bagian dari rumah mewah yang bermasalah itu. Soalnya kamar ini terlihat sama mewahnya. Tempat tidurnya saja pakai kerambu. Belum lagi, lihat saja, ranjangnya begitu empuk. Mesin pendingin udaranya begitu mengeluarkan hawa dingin yang hampir menyamai dinginnya kutub utara. 

KRIIEEET!!!

Pintu terbuka. Ternyata Sylvie. Benar kan kamar ini bagian dari rumah mewah itu. Dan Sylvie tersenyum sangat manis (juga agak terlihat nakal dan menggoda!). Pakaiannya pun sama. Masa Sylvie mengenakan oriental suit warna merah jambu yang sangat memperlihatkan buah dadanya? Walaupun demikian, dia tak bermaksud macam-macam selain duduk di sampingku. Aku dan dia bersitatap lumayan lama. Sampai akhirnya...

...tanpa kuminta, Sylvie yang berambut panjang nan berombak nan brunette ini menceritakan padaku sebuah kisah. Aku tak tahu untuk apa dia menceritakan padaku. Mungkin ada kaitannya dengan rumah mewah ini, juga segala keanehan di dalamnya. 

"Dahulu sekali, muncul sebuah organisasi. Organisasi yang cukup terlarang. Saking terlarangnya, organisasi itu terus merongrong gereja. Organisasi itu berusaha melawan otoritas Tuhan dengan dalih pencerahan. Kata organisasi itu, "Manusia harus mandiri, harus bebas dari kuasa mana pun!" Begitu lantangnya organisasi itu berkoar-koar. Mereka menarik banyak anggota dengan mempengaruhi alam bawah sadar tiap manusia. Termasuk dari ayah seorang bayi kecil. Sang istri sama sekali tidak tahu. Sebab yang ada di pikiran si wanita itu, suaminya pergi melanglang buana demi bisa menyuapi tiga mulut. Sang suami tak bilang akan ke mana dan akan bekerja apa. Si wanita itu hanya dibilang seperti ini: "I'm going, Honey. For you and our  sweet baby. The job in that city has the most-prospect future. I do really need the money."  

Lalu, selama satu tahun, si wanita dan bayinya rutin mendapatkan uang bulanan dari seorang kurir. Pernah si wanita bertanya pada kurir dari manakah asal uang itu. Si kurir hanya bergeming. Sebab kurir hanya kurir. Mereka hanya mengemban tugas demi sebuah bayaran. Oleh sebab itu kurir itu masa bodoh dengan barang yang diantarkan--seberapa bahayakah barang kiriman tersebut? Nyatanya, selidik demi selidik, ternyata sang suami mengambil pekerjaan paling berbahaya: antek-antek dari bos sebuah organisasi terlarang. Dia hanya disuruh meneliti, mengamati, dan membeberkan segala opininya yang organisasi itu sangat suka. Katanya, "That's such illuminated!" Segala pemikiran dari sang suami menjadi penyulut dari pemberontakan terhadap otoritas gereja. Organisasi itu jadi makin berani menanamkan teori-teori gilanya. Tak tanggung-tanggung mempraktekan sihir pula. Organisasi itu sungguh mengancam eksistensi Tuhan.

Well, seharusnya gereja tak boleh mengumbar kebencian. Bukankah Yesus Kristus mengajarkan tiap insan untuk mengasihi musuh? Namun dengan jalan apa menyadarkan organisasi yang tiap pengikutnya itu sudah memiliki jalan pikiran yang luar biasa keliru? Tak ada toleransi. Persekutuan para gereja sepakat untuk me-black list organisasi itu. Mereka berusaha agar umat jangan sampai jatuh ke dalam organisasi terlarang tersebut.

Anyway, organisasi itu terlihat baik. Bagus sekali tampilannya. Mereka mengusung jargon "ilmu pengetahuan itu segalanya". Mereka membuka banyak hal yang sudah selayaknya ditutup. Sehingga keberadaan Tuhan pun mereka tampikkan. Di situlah letak utama kesalahan organisasi tersebut. Lainnya, mereka mulai tak menganggap tabu beberapa perilaku. Ambil contoh, hubungan sesama jenis. Dalih mereka, "Siapa pun berhak mencintai siapa pun tanpa pandang bulu."

(Selanjutnya baca: "Ayah, Anak, dan Organisasi Terlarang")

Sylvie lalu berhenti bicara. Kami kembali bersitatap. Aku jadi canggung ditatap sedemikian rupa oleh lawan jenis, apalagi yang tengah mengenakan pakaian seksi yang menonjolkan buah dada. Aku harus bisa tahan. Ingat, aku sudah punya Zafira. Aku harus bisa menjaga perasaan Zafira. Tapi Sylvie juga sepertinya tak ada niat untuk berbuat lebih. Dia terlihat seperti seseorang yang tengah menunggu untuk ditanya. Matanya menyiratkan itu. 

"O-o-oke," Sylvie cekikikan mendengar kegugupanku. "Itu sebuah kisah yang sangat bagus. Aku pernah dengar juga sewaktu masih remaja. Tapi untuk apa kamu menceritakannya padaku. Apa ada hubungannya dengan rumah mewah beserta segala keanehan di dalamnya? Dan apa sebetulnya mesin tik--" Aku segera meralat, begitu ingat kata-kata si tukang bakso. "--eh maksudku komputer deh,"

Sylvie tertawa agak lebar. "Dua-duanya sama-sama betul. Apalagi di dunia ini selalu terdapat dua versi, malah banyak versi. Yang bisa jadi semuanya benar. Semuanya tergantung bagaimana kita melihat suatu hal."

"Haha. Kamu lucu, Sylvie. Masa komputer bisa jadi mesin tik?"

"Kan tidak ada yang mustahil. Kamu sudah melihat, merasakan, dan mengalaminya sendiri, kan?"

"Iya sih. Mendadak aku seperti lompat-lompat dari satu kejadian ke kejadian lain. Aku seperti tidak pernah mengenal waktu lagi. Aku seperti lepas dari waktu itu sendiri."

"Sebaiknya kamu jaga iman kamu itu. Karena terkadang kunci untuk memecahkan suatu permasalahan adalah iman." 

Aku terpana. Sekarang yang ada di depanku sungguh Sylvie yang berbeda. Bukan Sylvie yang nakal dan menggoda, namun Sylvie yang begitu bijaksana. Sirna sudah nafsu birahiku terhadap dirinya yang sangat begitu menantang iman. 

"Barusan aku baru saja menceritakan soal bagaimana keanehan ini bisa terjadi. Memang harus dari sana. Yah karena rumah keluargaku ini sangat berkaitan dengan organisasi terlarang itu, juga dengan Pak Supandi Tjokrobukara yang seenaknya mengambil alih rumah ini demi kepentingannya dan kelompoknya."

Jeda lagi. Mungkin Sylvie ingin memberikanku kesempatan untuk meresapi tiap kata-katanya. 

"Segala keanehan yang kamu lihat itu karena rumah ini."

Aku agak terperanjat. "Kok bisa? Apa hubungannya rumah ini sama organisasi terlarang itu, Vie?"

Sylvie terlihat sangat senang dengan responku. "Jelas ada, Akira." Perlahan dia lebih beringsut ke arahku. Ini yang aku takuti. Saat-saat di mana aku akan menyalahgunakan kepercayaan Zafira. Namun aku ternyata salah. Sylvie juga tidak terlihat ingin mengkhianati Christoph. Sylvie hanya membisikan sesuatu padaku. Bisiknya: "...ada suatu ruangan di dalam ruangan ini yang memiliki akses ke rahasia alam semesta, yang salah satunya itu soal star gate. Di dalam ruangan itulah, kamu bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Itulah sebabnya Pak Supandi begitu ngotot ingin membeli rumah ini dengan beragam cara..."

Rahasia alam semesta? Tuhan? Organisasi terlarang? Aku spontan berdiri saking kagetnya. Sylvie pun sama. Hanya saja perempuan blasteran itu berdiri sambil nyengir lebar. Dia berkata untuk kali terakhir sebelum aku berpindah latar dan waktu lagi. 

"Aku tahu kamu masih penasaran denganku, kan? Kamu pasti mengira aku benar-benar tokoh fiksi; tidak benar-benar ada. Sebetulnya aku dan pacarku benar-benar nyata. Kasus itu juga tidak aku buat-buat. Kalau kamu ingin pembuktian, mungkin ada baiknya biarkan waktu yang akan menjawab. Nanti kamu juga akan mengerti sendiri."

Aku jadi semakin bingung. Perlahan kepalaku kembali terasa sakit sekali. Kesadaranku pun menghilang. Sebelum kesadaranku menghilang, Sylvie kembali beringsut dan berkata, "Aku akan menceritakan padamu lebih lanjut soal aku, keluargaku, juga pacarku itu--yang sangat istimewa."


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^