Wednesday, October 5, 2016

SERIAL #GGKT : Kelahiran Seorang Satria






Bima Satria Garuda
[Akira]

Kembali lagi aku berada di rumah Sylvie. Kali ini bersama Zafira. Perlahan Zafira mulai ingat apa yang terjadi. Namun tetap saja, tiap melihat Sylvie, Zafira seperti kesal. Entah itu karena cemburu, entah karena sebab lain. Hati perempuan memang susah ditebak; seperti dalamnya samudra.



"Gimana, Zaf?" tanyaku memasang mimik jahil. "Kamu sudah ingat? Kamu pernah ke sini, kok. Sylvie ini tinggal di sini, dan itu pacarnya. Namanya Christoph."

Zafira memasang tampang seseorang amnesia yang tengah berusaha mengingat masa lalunya. Sylvie berusaha menahan tawa. Christoph juga. Agak aneh bin ngeri juga mendapati Pria Jerman itu menahan tawa.

"Masuk saja, yuk, ke dalam," ujar Sylvie. "Aku kasih tahu apa yang terjadi sama kalian berdua--kenapa kalian berdua sama-sama saling amnesia terhadap kenangan kalian berdua."

Aku dan Zafira masuk mengikuti Sylvie dan Christoph. Baru kusadari, di pintu masuknya terdapat tulisan 'house of peace' dan ada gambar malaikat di bawahnya. Kalau kupikir-pikir, mungkin gara-gara hiasan pintu itulah, yang menyebabkan keanehan di rumah ini.

Oh, aku ke rumah Sylvie dengan jalur 'normal'. Maksudnya, tidak meloncati waktu dengan berpusing ria. Aku dan Zafira ke sana dengan Nissan Hitam-ku. Awalnya Zafira enggan. Katanya, dia masih trauma dengan kejadian yang dia alami. Setelah kubujuk untuk membuktikan ke dia kalau aku dan Sylvie tak ada hubungan istimewa--juga kalau Christoph betulan ada, Zafira luluh juga. Zafira memang harus dipaksa sih (juga digombali).

"Sudah lihat, kan, hiasan pintu itu? Itu keluargaku yang pasang. Dan Pak Supandi sama sekali tidak bisa mencopot mau seperti apa cara mencopotnya." kata Sylvie setelah kami duduk di sofa ala kesultanan.

Aku hanya mengangguk. Begitu pun dengan Zafira yang agak bergidik tiap melihat Christoph. Aku dan Sylvie agak menahan tawa. Christoph agak tersinggung sebelum ditenangkan oleh ciuman Sylvie.

"Aku rasa kalian berdua tengah diganggu. Sama seperti aku dan Christoph dulu. Dan aku lihat-lihat kalian berdua bukan tipe orang religius yah. Pasti doanya suka bolong-bolong; juga suka bolong-bolong ke tempat ibadahnya."

Mungkin kami sepasang soulmate, jadi kami berdua sama-sama bersemu merah.

"Hahaha... benar dugaanku. Terlihat kok, dari cara kalian melihat masalahku. Juga cara kalian bertutur dan bersikap. Apalagi cara kalian menyikapi masalah. Kekurangan kalian hanya satu, kurang mendekatkan diri ke Tuhan. Tapi maaf loh, kalau aku bicaranya seperti ini."

"Yah kalau aku, harus kuakui, benar. Akhir-akhir ini begitu sibuk mengejar karir di dunia kepenulisan." jawabku dengan ekspresi maling kepergok.

"Kalau kamu, Zaf?" tanya Sylvie dengan tatapan iseng. Sylvie memang senang menggodai Zafira yang agak emosian dan lumayan tertutup.

"Sama kayak dia," Zafira menunjukiku. "Aku sibuk sama kuliahku."

"Tapi kalian sama-sama rajin berkomunikasi, kan?"

Aku dan Zafira bersitatap, lalu perlahan mengangguk. Hanya saja Zafira yang menjawab, "Tapi aku suka dicuekin dan nggak didengerin kalau ngomong sama dia. Apalagi dia juga suka malu-malu, terutama saat mau ngenalin dia ke teman-temanku. Sama kakakku aja, dia malu-malu. Padahal aku sama sekali nggak pernah enggan saat dia bawa aku ke teman-temannya; ataupun malu-malu saat dikenalin ke keluarganya. Aku juga--sejak awal jadian--selalu ngomongin dia ke keluarga aku, juga ke teman-teman dekat aku."

Sylvie tertawa. Christoph juga--setelah diterjemahkan oleh Sylvie. "Sudah kuduga, masalahnya itu. Kalian masih bangun tembok di antara kalian. Masih ada keengganan dan keegoisan. Sama satu lagi, aku rasa kalian berdua lagi dipengaruhi. Itu yang bikin kalian sering amnesia. Ada yang mempengaruhi kalian berdua. Apalagi kalau kulihat, kalian berdua punya banyak waktu sendiri. Mungkin banyak yang tidak suka sama hubungan kalian berdua."

Aku dan Zafira sama-sama tertegun.

"Kalau Akira, aku tahu siapa orangnya. Orang-orang media tersebut, pastinya. Sudah sejak lama aku anti sama majalah itu. Kamu bebas mau percaya atau tidak, masuk ke majalah itu sama saja dengan masuk ke lingkaran setan. Tapi kalau  Zafira, aku kurang begitu tahu. Atau mungkin orangnya sama yang mempengaruhi Zafira juga. Mungkin itu bukti bahwa kalian memang berjodoh. Biasanya yang memang berjodoh, memang suka banyak ada yang menghalangi mereka bersatu. Cobaan dan godaannya jauh lebih banyak. Dan kalian berdua itu--kalau dilihat-lihat--seperti orang yang kena jampi-jampi. Ada beberapa sikap dan cara bicara kalian yang ke arah sana. Itu juga yang menyebabkan terjadi miskomunikasi. Ada 'gangguan'. Coba masing-masing saling mendekatkan diri ke Tuhan kalau 'gangguan' itu mau seratus persen hilang. Juga, kalian harus sama-sama saling terbuka satu sama lain. Kayaknya sih masing-masing masih suka saling rahasia-rahasiaan."

Skak mat.

Aku dan Zafira sama-sama tertohok. Kami berdua sama-sama sulit menjawab atau membantah. Mungkin kata 'gangguan' itulah yang bikin aku mati kutu. Entah dengan Zafira.

*****

Suatu malam, saat hendak tidur, sontak aku kaget melihat bayanganku sendiri. Bentuknya aneh. Sosok itu lebih tinggi dariku. Dia bersuara berat dan berkata padaku, "Jangan takut. Kalau kamu membiarkan aku mengambil alih dirimu, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Justru mereka takut padamu karena ada aku. Akulah dirimu sebenarnya. Walau sebetulnya kamu masih butuh beberapa kepingan untuk melengkapi wujud kamu yang seutuhnya."

Setelah itu, kembali kepalaku pusing hebat. Aku mulai loncat ke suatu peristiwa. Aku pergi ke masa lalu. Bukan, bukan masa laluku. Tapi masa lalu orang itu. Christopher Brahm. Segalanya sesuai dengan yang dikatakan Sylvie.

Christopher Brahm memang bukan orang sembarangan. Ibunya melahirkan dia nyaris tanpa ada kesakitan. Normalnya, karena kutukan Allah pada Hawa, tiap perempuan harus melahirkan seorang bayi dengan susah payah. Tak hanya itu, sosok Christoph semasa bayi sudah diterawang oleh seorang tua-tua. Kata tua-tua itu, "Bayi ini aslinya berusia lebih tua daripada usia sesungguhnya,"

Sepanjang hidup Christoph dilalui seperti kebanyakan anak yang sebaya dengannya. Bermain, belajar, kadang melakukan sedikit kenakalan, berpacaran ala cinta monyet, hingga iseng menggoda lawan jenis. Bedanya, Christoph lumayan sering diperlihatkan penglihatan dan mimpi. Terlalu sering malah ia melihat bayangan saat-saat dunia akan berakhir. Dan Juruselamat akan datang. Saking seringnya, saat beranjak dewasa, ibunya pernah membawa dirinya ke ahli kejiwaan. Pernah Christoph diuji dengan harus menelan pil antidepresan. Nyatanya, obat-obatan mana pun tak akan pernah bisa menahan pesan Tuhan secara utuh ke Christoph. Seharusnya, menurutku, Christoph harusnya yakin saja, lalu mengalihkannya ke kegiatan lain. Jangan terlalu dipikirkan dengan serius sekali.

Mungkin Christoph belum siap dengan tanggung jawab yang luar biasa besar dari Tuhan. Melihat perjalanan hidupnya, aku saja... apa yah, aku sulit mendeskripsikan dengan kata-kata. Kasihan iya. Salut iya. Empati pun iya. Segala emosiku padanya itu campur aduk. Tapi harus kubilang, Christoph memang manusia tertangguh di muka bumi ini. Dibakar sedemikian rupa, dirinya masih bisa bertahan. Saat teman-temannya satu persatu menjauh dari hidupnya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan isi hati, dia tetap berdiri kokoh, sekokoh batu karang. Melihat betapa kerasnya hidup, terutama saat harus memperjuangkan cintanya mati-matian, membela luar biasa keluarga pacarnya, aku merasa seperti melihat sendiri sosok satria. Apa mungkin dia satria piningit-nya?

Kekurangannya hanya satu. Christoph cenderung egois. Mungkin karena berdarah biru, dia cenderung hanya mau didengar. Punya rasa pride yang cukup tinggi. Dia merasa hanya dia satu-satunya yang sering sekali mendapatkan pesan Tuhan. Padahal ada jutaan orang yang sama seringnya dengan Christoph yang mendapatkan pesan Tuhan. Bedanya, kebanyakan dari mereka itu lebih sering menyembunyikannya dengan banyak alasan, selain karena alasan utamanya itu ragu-ragu bahwa pesan itu murni dari Tuhan. Christoph juga memiliki satu sifat buruk. Sepertinya dia hobi melihat seseorang bergantung pada dirinya. Juga masih Christoph bermasalah dengan pengendalian diri.

Namun di luar itu semua, aku menyaksikan sendiri bagaimana Christoph ini mau berubah. Dia punya kemauan kuat untuk mengikis segala sifat negatifnya sebelum akhirnya benar-benar jadi seorang satria yang mungkin sudah ditunggu oleh banyak orang.

Satu lagi, fisik Christoph agak sedikit berbeda dari kebanyakan orang seusianya. Menyisihkan wajahnya yang terbakar akibat membela pasangannya, Christoph memiliki wajah yang awet muda. Di usianya yang sudah kepala tiga, wajahnya masih mulus. Tak ada ditemukan jenggot, kumis, atau kerutan. Dia seperti anak remaja saja. Apalagi, percaya atau tidak, dia belum pernah mimpi basah sama sekali. Cairan spermanya berbeda dari kebanyakan pria. Cairan punya dia itu encer dan bening seperti minuman air putih (yang mungkin menandakan dia begitu murni. Apalagi dia sungguh jauh dari tembakau, alkohol, apalagi obat-obatan) . Juga, dia sama sekali sulit dihilangkan nyawanya. Pernah ada kejadian dia harus masuk rumah sakit sehabis makan kurma. Darahnya sempat habis. Belum lagi ditambah dengan komplikasi penyakit demam berdarah. Karena itulah, ia jadi sungguh masuk ke alam dunia bawah. Tapi ada tangan tak kelihatan yang menarik dan mengembalikan nyawanya. Wow, aku sendiri yang menyaksikannya takjub. Too good to be true.  Luar biasa, bukan?

Benar yang dikatakan Sylvie, Christoph sungguh laki-laki istimewa.

*****

[Christoph]

Tiba-tiba saja aku berada di sebuah dataran tinggi. Ah mungkin ini sebuah bukit. Atau pegunungan. Yang jelas aku bisa menyaksikan keindahan alam yang luar biasa indah. Tanah Bavaria sungguh indah dari atas sini. Bau embun yang sangat harum--lebih harum dari mana pun. Sejenak aku merenung.

Hening.

Hening

Hening

Kedua mata aku tutup rapat-rapat. Aku menengadahkan kepala ke cakrawala. Pelan-pelan aku turunkan kepala ini. Kedua mata beredar ke seluruh penjuru; tidak ada yang lepas dari pengamatanku. Ah lihat itu, brocken spectre. Masa aku melihat bayangan seorang bidadari berambut panjang yang berjalan di atas kabut? Masa bodoh-lah. Aku terlalu terbuai dengan pemandangan yang ada di depan mataku.

Tapi sulit. Semakin kuabaikan, semakin bidadari terus menerus melambai-lambaikan tangan padaku, seolah dia ingin aku menghampirinya. Samar-samar telingaku mendengar dirinya berteriak lumayan kencang, "Hei, sie kommen!!! Meinz prinz, lassen sie uns zu mir kommen!!!" Langsung aku jawab, "Aber ich kann nicht fliegen!!! Später konnte ich fallen!!!" Begitu terus aku dan dia bersapa-sapaan. Terkadang aku mendengarnya berkata-kata dalam bahasa dari negeri tetangga. Aku memang tidak tahu artinya. Namun temanku, Henk, yang dari Den Haag, pernah mengucapkan kata tersebut. Itu: "Wees niet bang". 

Terus menerus seperti itu. Aku dan dia saling bersahut-sahutan seolah-olah tebing ini milik kami berdua. Entah halusinasiku atau bukan, perlahan dia seperti beringsut makin dekat. Bulu kuduk mulai merinding. Saat kakinya hampir menyentuh permukaan tebing, bukannya ketakutan, aku malah semakin bingung. Ada suara jeritan minta tolong. Suara perempuan dan agak mirip suara bidadari itu. Naluriku mendorong ke arah asal suara. 

Ya ampun, ada seorang perempuan hampir mau jatuh. Dia bergelantungan agar tidak jatuh. Katanya terengah-engah dengan logat Belanda, "Du bist zu spät. Ich bin fast bald sterben. Aku sudah hampir jatuh, nih!" Sepintas aku terkesima dengan wajah perempuan yang berjuang agar tidak jatuh ini. Begitu mirip dengan bidadari tersebut. Keanehan lainnya, aku sama sekali tidak pernah mengenalnya. Baik di Mainz, Berlin, Dortmund, Muenchen, hingga Sleman pun, baru kali ini kulihat dia. Namun dia berkata dan menatap padaku seolah kami ini sudah lama saling jumpa dan kenal. Keanehan yang lainnya lagi, ada sesuatu dalam dada ini yang membuatku merasa aku pernah berjumpa perempuan ini. Tapi di mana dan kapan?





Catatan kaki:
Sie kommen: Ayo datang!
Meinz prinz: Pangeranku.

Lassen sie uns zu mir kommen: Ayo datang ke saya!
Aber ich kann nicht fliegen: Tapi aku tidak bisa terbang.

Später konnte ich fallen: Saya bisa jatuh nanti.
Wees niet bang: Jangan takut!
Du bist zu spät: Kamu lama sekali.
Ich bin fast bald sterben: Aku hampir mati.


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^