Tuesday, October 4, 2016

SERIAL #GGKT : Keadilan Tuhan Sedang Bekerja










Cuplikan dari film "Suicide Club".
Perlahan demi perlahan, walau bagiku masih terasa aneh dan tak logis, apa yang disampaikan oleh Sylvie lambat laun menjadi nyata. Bukan oleh RedemIlumination atau media-media lainnya, namun ada satu media yang berani mengupas lebih dalam soal kasus rumah mewah itu dan keanehan yang terjadi. Tak hanya itu saja, yang kudengar beberapa anggota keluarga Supandi mati misterius dan tragis. Bahkan ada antek-antek mereka yang mengalami nasib sama seperti Christoph.





Kini aku berada di sebuah foodcourt. Bersama Zafira. Ia sudah tak marah lagi. Walau bagiku, ini terasa aneh. Kenapa Zafira hanya bisa mengingat saat aku koma dan saat kami berdua tengah berhubungan intim? Kenapa dirinya sama sekali tak ingat soal Sylvie? Pura-pura lupakah? Atau sungguh tak ingat? Ia bahkan tak bisa ingat sama sekali aku dan dia pernah ke rumah mewah itu, lalu berjumpa dengan Christoph dan Sylvie. Aneh.

Keanehan lainnya: soal hubungan ala suami-istri itu. Kalau benar-benar terjadi, kenapa aku tak bisa ingat saat memulainya? Bahkan aku sama sekali tak merasakan betapa enaknya (kata teman-temanku yang pernah loh!) berhubungan intim dengan perempuan yang sangat kucintai.

"Kita benar-benar ngelakuin, kok. Apalagi Mas keluarnya banyak banget. Sampai aku takut kalau betulan sampai hamil gimana." Begitu Zafira terus berkata untuk meyakinkan. Saat kusinggung soal Sylvie, dia langsung marah. Padahal sudah kubilang Sylvie sudah punya pacar bernama Christoph.

Omong-omong, aku menuruti saran terdahulu Zafira. Dengan dibantu ayahku (apalagi keluargaku sering diteror), aku memilih untuk mengundurkan diri dari RedemIllumination. Kini aku hanya bersabar menunggu Zafira mencarikanku pekerjaan yang jauh lebih baik dan aman. Aku percaya sama Zafira; sama seperti dirinya yang selalu berusaha percaya padaku. Dan, sembari menunggu, aku tetap menyelidiki soal rumah mewah itu, juga Sylvie Van Huis serta pacarnya, Christopher Brahm.

Gara-gara itulah, aku sadar bahwa ternyata mengundurkan diri juga bukan perkara mudah. Tetap saja teror terus berlanjut. Sudah beberapa hari ini, rumahku kedatangan banyak tamu tak diundang. Ada-ada saja ulah orang-orang RedemIllumination untuk mengawasi gerak-gerikku. Dari mana aku tahu itu dari mereka? Oh,  ya Tuhan, aku tahu kali. Aku sudah lama di sana. Sudah hampir delapan tahun sejak magang kali pertama. Tak hanya dari mereka, ada juga beberapa orang mencurigakan yang lalu lalang di depan rumahku. Terlebih ada beberapa anak kecil yang dipandu oleh pemuda kurus dan berambut cepak menyebalkan yang duduk di selokan air yang ada di rumah seberang rumahku. Gelagatnya sih tengah mencari ikan. Tapi setelah aku sadar itu bukan. Beberapa hari kemudian Sylvie menghubungiku bahwa mereka tak sedang mencari ikan; yang ada mereka sedang mengirimi rumahku 'sesuatu'. 'Sesuatu' itu apa? Buat kalian yang terbiasa dengan dunia perklenikan pasti tahu. Apalagi saat kuperiksa, memang benar. Di dalam selokan itu terdapat banyak ikan aneh yang belum pernah kulihat. Bahkan ada kaki seribu dan kecoa yang kuamati tengah bergerak masuk menuju rumahku. 

Sylvie bilang bersabar saja. Cepat atau lambat, mereka akan kena hukuman dari Sang Pencipta. Sylvie selalu berusaha meyakinkan keadilan Tuhan itu ada, walau mungkin datangnya sedikit terlambat. 

"Hah? Tetap bersabar? Bersabar bagaimana, Vie? Aku harus bersabar melihat begitu banyaknya kaki seribu dan kecoa masuk ke dalam rumah dengan sangat aneh, tidak logis dan mencurigakan? Belum lagi bau-bauan itu. Juga suara-suara mantra aneh itu."

"Iya, kamu hanya perlu bersabar saja. Dulu aku dan keluargaku jauh lebih parah. Rumah Christoph pernah kemasukan siluman naga malah. Dan siluman naga itu hampir membunuh Christoph yang tengah berdoa dan bermeditasi. Tapi aku dan keluargaku--juga Christoph--tetap bersabar. Dan lihat hasilnya, keadilan Tuhan datang, bukan? Anton, anaknya, mati tragis. Ada kutukan buat yang menyelidiki soal rumahku. Banyak pemberitaannya di media, kan. Makanya kamu hanya perlu bersabar. Cepat atau lambat, keadilan Tuhan akan datang menindak mereka yang mengganggu kamu, keluargamu, dan pacar kamu."

Aku hanya bisa mengatakan "amin" untuk khotbah singkatnya itu. 

Oh iya, aku berhubungan dengan Sylvie dan Christoph dengan cara aneh. Sulit kujelaskan. Karena memang tiap pertemuan aku dan mereka berdua memang berlangsung mendadak dan tak pernah direncanakan. Tiba-tiba kepalaku pusing dan sudah ada Sylvie beserta kekasihnya, Christoph yang bertubuh besar. Yang tiap akhir pertemuan juga selalu diakhiri dengan pusing kepala--lantas keadaan sekitarku berubah total.

"Mas," kata Zafira sehabis mengunyah pancake-nya. "Sebetulnya Sylvie itu siapa sih? Kok Mas sering bawa-bawa nama Sylvie? Kamu nggak lagi menyelingkuhi aku, kan?"

"Ya nggak-lah, Zaf. Mas-mu ini kelewat sayang sama kamu. Lagian Mas kan sudah pernah bilang Sylvie itu sudah punya pacar. Namanya Christoph Brahm. Kamu kan pernah ketemu." jawabku yang kembali menyantap spaghetti.

"Hah? Masa sih? Emang kapan?" Zafira semakin mengerutkan dahinya sampai berlipat-lipat.

"Itu loh waktu kita ke rumah tua itu. Yang kata habis itu, aku langsung koma."

"Iya, aku ingat kita pernah ke rumah itu buat kepentingan pekerjaan Mas itu. Tapi kan waktu itu nggak ada siapa-siapa di rumah itu. Itu kan cuma rumah tua yang mewah sekaligus menyeramkan. Emang beneran ada cewek bule yah di sana? Apa jangan-jangan..."

"Dia masih manusia, kok. Haha..."

"Apaan sih? Tapi Mas nggak bohong, kan?"

Aku langsung mengelus-elus rambut panjang Zafira, serta menarik-nariknya. "Iya, beneran kok. Kamu itu sekarang cepat pikun yah. Nggak hanya soal pertemuan sama Sylvie itu, kamu malah lupa sama saat-saat istimewa kita."

"Apaan sih? Kamu juga tuh, Mas. Masa lupa juga kita lumayan sering berhubungan?"

Aku langsung membeku. Memang Zafira tidak salah. Ada beberapa memori kami yang Zafira ingat, namun aku lupa. Zafira pun sama. Ia bahkan tidak bisa mengingat beberapa memori aku yang ada dia-nya. Aneh--seaneh rumah mewah itu, Sylvie, juga Christoph.

*****

DOR!

DOR!

DOR!

Terdengar tiga kali bunyi letusan pistol. Aku sendiri yang melakukannya layaknya seorang penembak jitu di dunia wild west. Padahal sebelumnya aku belum pernah mengokang pistol. Tapi kini aku sudah tiga kali menghabisi tiga nyawa manusia, yang kesemuanya awak RedemIllumination. Bahkan salah satunya itu bosku sendiri, Pak Iman Sucahya. 

Seharusnya aku merasa berdosa. Anehnya, seperti ada suatu kebanggaan dalam dada karena bisa menghabisi tiga nyawa manusia. Kata Sylvie, "Jangan terlalu merendahkan diri sendiri. Kan seperti kubilang ada sosok superhero di dalam tubuh kamu. Dan sosok superhero itulah yang melakukan penembakan tersebut. Kamu juga tidak perlu takut atau merasa bersalah. Anggap saja keadilan Tuhan sedang datang pada kamu lewat sosok si Kamen Rider itu. Dulu Christoph-ku juga sama, kok. Bedanya dia jauh lebih berani ketimbang kamu."

"Yang benar kamu?"

"Aku tanya sama kamu, bagaimana dengan situasi sekitar kamu saat penembakan?"

"Entahlah. Yang jelas sebelumnya kepalaku terasa pusing sekali. Sehabis menembak, kembali terasa pusing. Dan lingkunganku langsung berubah."

"Aku rasa kamu pun sudah tahu jawabannya. Jangan takut, jangan meragu. Yakin pada diri sendiri saja. Keadilan Tuhan sedang bekerja. Percaya sama aku. Dulu aku pun sama. Memang terlihat jahat dan sadis. Aku sempat trauma dan membenci diriku sendiri saat kejadian aneh itu muncul. Tapi lambat laun aku mulai terbiasa dan--yah kamu lihat sendiri kan, keadilan Tuhan sedang bekerja. Aku memang teman kamu, yang tengah berusaha melindungi dan menyelamatkan kamu, keluarga kamu, juga pacarmu serta keluarganya. Yang aku bilang juga benar kan, soal keluarga Supandi Tjokrobukara itu?"

Aku hanya mengangguk. 

*****

Terdengar lagi. Bukan suara tembakan, namun suara suling sunda yang bernuansa horor. Alunan suling itu menjadi latar belakang atas tindakan sosok superhero dalam ragaku. Bukan dengan pistol lagi. Kali ini dengan panah. Aku seperti sedang memanah seorang gadis yang pernah tampil dalam sebuah variety show. Sebulan-dua bulan kemudian, yang kudengar gadis itu mati dengan banyaknya selang melilit tubuh. 

Tak hanya itu saja. Si Kamen Rider juga menebas banyak orang dengan pedangnya. Ada seorang penyanyi, penulis, tokoh keagamaan, hingga beberapa petinggi militer. Semuanya tewas di tanganku. Matinya beragam. Ada yang mati kena serangan jantung, mati karena stroke, mati karena kanker, ada juga yang mati saat tengah sembahyang. Aneh, sungguh aneh. Kenapa matinya berbeda dengan saat dilakukannya? Perasaan sosok itu membunuhnya dengan cara ditembak, dipanah, ditebas, ditusuk, dan dibakar. Tapi kenapa mati dengan cara-cara yang seperti kusebutkan? 

Rata-rata mereka semua mati, yah mungkin benar kata Sylvie: keadilan Tuhan sedang bekerja. Mungkin ada banyak yang aku tidak tahu, namun si Kamen Rider itu lebih mengetahui. 

"Yang jelas, kamu tidak boleh takut. Biarkan sosok superhero itu yang mengambil alih hidup kamu. Seperti yang pernah kubilang kan, keadilan Tuhan akan datang. Oh iya, ada satu yang lupa kubilang ke kamu, saat kamu sama pacar kamu datang ke rumahku, cuacanya langsung berubah jadi mau hujan kan. Sebetulnya sosok superhero itulah yang bikin, juga yang berkali-kali menurunkan petir."

"Tapi pembunuhan tetap pembunuhan, Vie,"

"Memang kamu kira saat Paus membunuh banyak ksatria templar yang melakukan bid'ah, Paus dan Gereja Katolik tidak mengalami apa yang kamu alami. Sama, Akira. Bahkan beberapa peristiwa pembunuhan yang dilakukan raja-raja Israel atas perintah Tuhan juga terkesan kejam buat yang tidak mengerti. Makanya kamu tidak boleh takut. Tidak akan ada yang bisa mengganggu dan menyakiti kamu, keluargamu, pacarmu, juga keluarganya. Percaya sama aku!"

Mungkin karena Sylvie melihat aku masih takut dan linglung, Sylvie tertawa dan berujar, "Jangan takut. Jangan bingung juga. Biarkan saja seperti itu. Keadilan Tuhan sedang bekerja. Dan cepat atau lambat, sosok superhero itu bisa melakukan lebih dari sekadar pembunuhan. Mungkin sosok superhero itu bisa bikin kebakaran, tanah longsor, atau mendatangkan tsunami. Yang kamu bisa lakukan sekarang hanyalah percayakan diri kamu pada sosok superhero itu. Maka kamu tidak akan kenapa-napa; tidak akan pernah ada yang mengganggu dan menyakitimu. Selalu ingat juga yang aku bilang, 'keadilan Tuhan sedang bekerja, bahkan tengah bekerja di dalam sosok superhero tersebut'." 





No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^