Sunday, October 2, 2016

SERIAL #GGKT : Antara Zafira dan Sylvie



Kelanjutan dari sini 



Jorge Lorenzo
Ah, brengsek! Apa-apaan Pak Iman ini? Menyesal aku karena menceritakan kejadian dua hari silam. Akibatnya aku harus ke rumah bermasalah itu lagi.





Omong-omong, kini aku baru percaya segala desas-desus tentang rumah tersebut. Pihak kepolisian benar. Rumah itu memang tak beres. Sampai sekarang garis kuning masih selalu ada, dan selalu ada petugas yang mengawasi (namun selalu ketakutan saat suara Pria Jerman itu muncul kembali). Pernah ada salah seorang warga sekitar yang bilang rumah itu telah dikutuk sejak kematian Anton, putra pengusaha yang punya hobi nyentrik. Katanya juga, banyak kejadian aneh. Pernah suatu ketika ada beberapa petugas keamanan datang bertandang. Salah satunya iseng menulis seperti ini: sebuah golok terbang menghantam kepala seorang polisi yang datang. Tak sampai sedetik, seorang petugas kepolisian yang ikut serta, kepalanya buntung terkena hantaman belati yang dibeli si pengusaha edan dari perkampungan Baduy. Itu baru sebagian dan aku lebih suka tak terlalu mengingat begitu detail.

Aku. Benar. Benar. Tak. Mau. Datang. Ke. Rumah. Ini. Lagi.

Titik. Tidak pakai koma.

Namun terpaksa. Dipaksa Pak Iman, yang selalu meretorikaku: "Justru ceritamu itu bagus untuk mengangkat oplah kita, Akira. Banyak orang selalu penasaran apa yang terjadi di rumah itu. Ayolah, selidiki lebih lanjut soal rumah itu. Terutama si Sylvie itu. Ambil fotonya. Kali saja bisa kugaet jadi selir kesepuluhku. Hahaha."

Hah? Gila kali. Aku saja tak mau berurusan sama rumah itu lagi. Ini dipaksa harus berhubungan dengan si Sylvie nan misterius.

Sore ini aku pergi ke rumah itu bersana pacarku, Zafira. Aku mengenakan T-Shirt bertuliskan "I'm proud to be Illuminatist" (Illuminatist itu semacam nama lain untuk tiap awak media RedemIllumination. Awak media-media lain yang memberikan ke majalah kami karena ideologi kami itu) dan celana blu jins butut. Sementara Zafira mengenakan kaus ketat merah jambu yang ditutupi kardigan berwarna biru tua. Sesekali kulirik Zafira, yang gadisku itu langsung serta merta menutupi dadanya. Ia nyalang, aku nyengir.

"Mas Kira," ucapnya, yang terdengar penuh ketakutan. Sebelum sampai, Zafira memintaku untuk keluar dari RedemIllumination. Alasannya: "Majalah tempat Mas Kira itu udah gak beres. Maa keluar aja."

Aku jawab sambil terkekeh, "Gak beres kenapa, Zaf?"

"Iya, gak beres. Aku udah pernah cerita belum, temanku ada yang pernah kerja di sana. Belum ada sebulan, dia udah disuruh ngeliput di tempat-tempat bahaya; dan gak dapet asuransi pula. Seminggu kemudian, sepulang ngeliput, dia langsung masuk ICU. Trombositnya turun mendadak."

"Ngeliput apa sih? Setahuku, RedemIllumination itu selalu peduli sama keselamatan awak medianya. Mereka selalu menjaga kode etik pers."

"Itu kan yang Mas Kira tahu. Temanku cerita juga, terserah Mas Kira mau percaya atau gak, tempat Mas kerja itu suka ngadain ritual-ritual khusus di malam-malam tertentu. Konon sih, majalah Mas itu udah jadi corong sejumlah mafia dan cukong buat melawan pemerintah."

Jujur saja, aku hampir naik pitam, lalu menampar Zafira. Tapi aku urung. Aku kelewat sayang sama Zafira. Kurasa, tak ada perempuan yang secantik, sebaik, dan secerdas Zafira. Makanya aku hanya membalasnya dengan suara kencang, "Zaf, Mas gak suka yah, kamu bicara yang gak-gak soal majalah di mana Mas kerja!!! Jangan sembarangan kalau ngomong. Mana buktinya?"

"Terserah Mas kalo gak percaya. Aku ngomong gini karena aku sayang sama Mas Kira. Aku gak mau Mas kenapa-napa."

Begitulah perdebatan sengitku dengan Zafira. Mengingat itu lagi, kutatap wajah manis Zafira yang tampak kalut. Kurangkul dia, kucium pipinya, dan membisikan sesuatu, "Zaf, Mas minta maaf yah, yang tadi. Mas lagi ada tekanan, jadi marah-marah gitu ke kamu."

"Gak papa, aku ngerti. Tapi apa gak sebaiknya kita pulang? Aura rumah ini bikin aku merinding, Mas."

"Mas-mu ini juga,"

"Balik aja yuk, Mas. Mas mendingan berhenti aja dari sana. Bahaya, Mas, kalo diterusin. Aku dengar dari Papa aku, pemerintah lagi nyelidikin soal keanehan yang terjadi di sana. Ada desas-desus yang mengatakan majalah Mas itu sering melindungi para pengemplang pajak. Bahkan jadi corong buat para kepala daerah bermasalah."

"Iya, sih. Sempat Mas pikir-pikir, kamu benar juga, Zaf. Pernah pas lagi ngeliput, Mas dengar hal-hal itu juga. Tapi kalo Mas keluar, cari kerja kan gak gampang. Apalagi buat yang kakinya kayak Mas ini." Mataku menatap pada kedua kaki O-ku ini. Pandangan Zafira pun sama.

"Gak usah minder gitu. Mas-ku ini kan jurnalis paling cerdas se-Indonesia. Kalo gak ada yang nerima, bikin media sendiri aja, yang gak aneh-aneh. Gak susah, kok. Apalagi Papa punya kenalan yang bisa mengurus perijinannya."

Aku tersenyum--hampir mau lepas tawaku. Zafira sudah terkekeh. Cukup sudah obrolannya, setelah kudesak beberapa kali, Zafira mau juga masuk untuk menemaniku menyelidiki rumah ini. Sekonyong-konyong pintu depan terbuka. Astaga, yang keluar ternyata Sylvie. Kali ini busananya bukan busana ala abad pertengahan. Ia berpakaian trendi, sama seperti Zafira, namun lebih seksi. Di saat seperti inilah, iman seorang pria diuji; dan kesetiaannya diuji--apakah mereka benar-benar mencintai pasangannya?

"Mij Liefde, morgen (baca: pagi, cintaku!). How are you? I have waited for you so long time. Miss you so much, Mij Liefde." kata Sylvie dengan suara yang kuyakin pasti pria mana pun akan langsung tergoda. Apalagi diucapkan seraya berpakaian yang begitu menggoda.

Kulirik Zafira yang langsung terbakar api kecemburuan. Ia sewot banget. Buru-buru aku langsung berujar, "Sumpah, Zaf. Aku gak kenal-kenal amat sama cewek ini. Cuma ketemu sekali waktu kunjungan pertama. Udah gitu dia langsung ngilang abis--"

Ups, aku keceplosan. Zafira makin sewot. Lirihnya, "Abis ngapain ayo? Kamu gak lagi ngapa-ngapain, kan?"

"Be--"

Sylvie terkekeh penuh kemenangan. Langkahnya dipercepat menuju diriku dan Zafira. Ia tersenyum dan mengerling nakal. Bibirnya menyentuh bibirku--yang bikin mata Zafira langsung mengeluarkan api nyala. Sylvie makin memanas-manasi Zafira, "Honey, you're great that day. I do really-really love you. Mooie voldaan--sangat puaaas..."

"Brengsek! Kita kan waktu itu gak ngapa-ngapain. Jangan ngomong yang gak-gak!" bentakku, agar emosi Zafira mereda.

"You forgot, honey? I mean, quickie. Oh, how very sweet quickie. Lekker--enaknya..."

Kulihat lagi wajah pacarku. Zafira mulai makin merah wajahnya. Ini perempuan Belanda ini apaan sih? Kita kenal baru waktu itu, kok sudah main bilang aku dan dia sudah berhubungan intim secara kilat? Malah dia yang kurang ajar, sudah meninggalkanku begitu saja. Walau, yah jujur saja, aku pria tulen. Digoda begitu, ada suatu perasaan lain dalam dada yang kalau kuberitahukan ke Zafira, dia pasti cemberut parah.

"Mas benar kan, gak ngapa-ngapain sama cewek bule ini?" tanyanya sangsi.

Aku bikin tanda V. "Serius, Mas gak bohong! Mas gak ngapa-ngapain sama cewek bule ini. Mas cuma sayang sama kamu doang, Zaf. Percaya sama Mas, yah."

"Oh, Honey," Ia mengecup bibirku lagi. "Please, don't forget that day. And you should leave that woman. Jij tahu, perempuan itu terlalu kurus buat kamu yang begitu perkasa. Jij lebih cocok sama eik. Am I sexy, Honey? Sexy girl meets sexy boy... oh, you've really been created for me, Honey!"

"Nona Sylvie yang terhormat,..." Oh aku salah. Harusnya kan, "<i>My</i> very beloved Sylvie, please don't make ambiguous issue. I don't like that. It hurted my girlfriend's heart."

Sylvie terkikik. Zafira makin sebal. Aku salah tingkah. Berani sumpah, aku tidak mengapa-apakan Sylvie Van Huis ini. Aku terlalu menjaga perasaan Zafira Jupriantono. Di saat itu, oh sialan, saat Zafira-ku yang berambut panjang nan lurus ini hendak meninggalkanku (saking kesalnya), akhirnya suara pria Jerman itu muncul juga. Suaranya sama, kata-katanya sama, aku--dan juga Zafira--jadi bergidik hebat.

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Sekonyong-konyong Sylvie langsung balas teriak, "Honey, please, don't go mad. Verzoeken--tenang, Honey, I didn't do anything with that man."

Hah? Aku bingung yang bercampur ketakutan. Mungkin Zafira merasakan hal sama. Begitu melihat kondisi langit yang gelap tak wajar, juga suhunya yang dingin kelewatan, dan ranting-ranting yang saling bertabrakan, dedaunan yang berjatuhan dahsyat (bak diserang topan), suara gemuruh yang tiada henti, hingga pagarnya yang buka-tutup berkali-kali (suara decitannya itu bikin ngilu, pun ngeri), aku teringat akan tulisanku di mesin tik sebelum aku pergi. Tulisan sebanyak sepuluh paragraf. Semuanya menjadi nyata.

Yup, semuanya. Langitnya, suhunya, kondisi lingkungannya, pakaian si Sylvie-nya, dialog si Sylvie,... semuanya menjadi nyata.

Bulu kudukku berdiri serentak.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^