Sunday, October 9, 2016

SERIAL #GGKT : Akhir Bahagia Nan Sungguh Manis Sekali [FINAL CHAPTER]




Chapter-chapter sebelumnya:





[Berdasarkan kisah nyata]





[Akira]
Aku menyimak berita televisi. Sudah seminggu ini banyak sekali bencana alam terjadi. Gempa di Korea-lah. Banjir besar di India-lah.  Tornado di Amerika-lah. Hingga beberapa daerah di Indonesia ditimpa tanah longsor dan kekeringan. Tak hanya itu saja. Makin sering terjadi kematian beberapa tokoh, yang kebanyakan ada hubungan dengan Supandi dan antek-anteknya, serta anggota Freerth dan Illuminatist. Seperti ada jenderal bintang dua yang tiba-tiba ambruk saat memimpin apel pagi.




Melihat itu semua, aku geli membayangkan ekspresi si Pria Jerman tersebut. Aku makin percaya dialah dalang dibalik peristiwa-peristiwa tersebut. Christoph, sang satria piningit yang ditunggu satu umat manusia. Kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya itulah yang menyebabkan semua itu. Hanya dengan bermeditasi, ia bisa bikin satu gedung tertinggi di dunia runtuh. Kemunculannya, menurut mitos, ada kaitannya dengan akhir jaman, kiamat, Yesus datang, Imam Mahdi muncul, atau apa pun yang berkaitan dengan saat di mana bumi akan mengakhiri usianya. Bahkan Sylvie juga pernah bercerita ibu Christoph yang asli Jogja itu juga orang spesial, sama spesialnya dengan Christoph. Mereka sama-sama menyimpan kekuatan tersembunyi dalam raga mereka. Sylvie menengarai bahwa ibu Christoph itulah ratu adil-nya.

Zafira pun makin lama makin terbebas dari amnesianya. Belenggu yang mengikatnya makin terbuka lebar. Aku pun sama. Perlahan-lahan ingatan kami berdua makin pulih. Aku dan dia makin jarang bertengkar. Kami makin mesra saja. Masing-masing dari kami selalu coba untuk memahami situasi dan kondisi masing-masing. Benar kata Sylvie, jangan terlalu perfeksionis. Tiap kesalahan pasti ada alasannya. Tiap orang pernah bikin salah atau kekeliruan juga.

Hingga suatu kali, Supandi nekat muncul di televisi. Ekspresinya sangat ketakutan. Dia tampil di sebuah acara untuk menemani keponakan jauhnya, Bona. Terlihat sekali, walau sudah di-briefing, mereka  masih begitu menyimpan ketakutan dan tertindas. Yah sebab satu persatu orang-orang yang bisa mereka percayakan dan andalkan, perlahan mati.

Haha. Pasti Christoph sangat senang sekali. Memang sangat bahagia sekali bisa bersama dengan orang yang sangat kita cintai, apalagi kalau harus terpisahkan begitu lama dan terus terbelenggu oleh para setan berwujud manusia.

Yang kudengar, katanya Christoph dan Sylvie tengah bersiap melangsungkan pernikahan yang tertunda sekian tahun. Ah, mendengar kata 'pernikahan', rasanya aku juga ingin mengajak hal yang sama dengan Zafira. Sayangnya, Zafira-ku belum mau. Katanya, dirinya masih ingin terus berpacaran denganku. Banyak momen yang hilang dalam hubungan kami karena banyak gangguan. Zafira ingin mendapatkan kembali momen-momen itu bersamaku. Apalagi Zafira masih menyimpan trauma karena anak pertama (yah kami khilaf melakukan hubungan intim sebelum waktunya) aku dan dia itu harus keguguran saat tengah mengecek di dokter (Biasalah, human error). Lagipula Zafira juga ingin menyaksikan sendiri proses jalannya pernikahan seperti apa dari Christoph-Sylvie. Biar tidak terlalu deg-degan, tidak kikuk, dan tahu harus bagaimana. Haha, ada-ada saja Zafira-ku!

Omong-omong, Zafira dan Sylvie itu kulihat-lihat makin akrab. Dulu saja mereka berdua seperti anjing dan kucing. Zafira sering mencemburui Sylvie. Dasar perempuan! Kadang pikiran mereka susah ditebak.


*****

[Zafira]
Perlahan-lahan aku mulai ingat. Segalanya bermula sejak di kantin redaksi itu. Kantor Mas Kira sebelumnya. Saat kasus itu kali pertama menyeruak dengan berita kematian anak Supandi yang mati secara horor. Mas Kira mulai tertarik yang berlebihan terhadap satu kasus. Tak biasanya. Aku merasa mungkin sudah garis hidupnya seperti itu, harus berkenalan dengan pasangan bule tersebut.

Saat itu, aku menentang Mas Kira mengambil tawaran untuk meliput dan menyelidiki lebih lanjut. Intuisiku mengatakan ada begitu banyak bahaya di dalam rumah itu. Aku lebih suka pasanganku yang sangat kucintai itu mengambil jalan yang aman-aman saja. Tak perlu harus melewati hal-hal mengerikan, menyeramkan, memacu adrenalin, bahkan hingga harus mencelakakan diri sendiri. Aku sudah kapok dengan hal-hal seperti itu. Tak mau Mas Kira mengalami hal sama denganku.

Yah walau Mas Kira itu keras orangnya, susah dibilangin sih. Dalam hal ini, aku  merasa dia itu bagaikan replika aku versi kecil. Melihat kenekatannya, membangkitkan kembali kenangan masa kecil aku. Aku yang dulu seperti itu. Tak kenal takut. Tanpa pertimbangan. Ceplas-ceplos. Tidak banyak berpikir pula. Beda dengan aku sekarang yang makin penakut, makin penuh pertimbangan, suka gegabah, dan kebanyakan berpikirnya. Mungkin anggap saja diriku yang sekarang ini merupakan karma dari apa yang sudah aku lakukan dulu.

Tapi yah sudahlah. Tak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Biarkan jadi pengalaman saja. Toh sudah terlanjur juga. Mas Kira sudah datang, sudah menyelidiki, bahkan sudah berkenalan hingga akrab pula dengan Sylvie dan Christoph. Mas Kira juga terbukti lebih sering melakukan yang benar. Segala malapetaka itu muncul sebagai konsekuensi dari tiap tindak-tanduknya. Ada sebab, ada akibat kan. Untung terbukanya ke hal-hal yang terbukti benar; dan bukan membuka ke hal-hal buruk yang makin memperburuk aku, Mas Kira, dan hubungan kami berdua.

Christoph benar. Sylvie juga benar. Keadilan Tuhan sudah datang. Yang munafik, yang semena-mena,... mendapatkan ganjarannya. Apalagi yang suka menciptakan horor, baik secara fisik maupun psikis, entah secara alam sadar maupun alam bawah sadar, terhadap sesamanya. Semuanya mendapatkan ganjaran.

Kini aku tengah berada di sebuah butik. Aku tengah menemani Sylvie memilih gaun pengantin. Sebelumnya aku menemaninya untuk memilih kateringnya. Sembari menunggu Sylvie mencobai satu persatu, kulihat berita di televisi.

Satu persatu saham perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh orang-orangnya Supandi mulai jatuh di pasar saham; begitu pun dengan antek-antek turunannya. Dan, yang kudengar keluarga Bona nyaris jatuh bangkrut dan harus mengais-ais rejeki di emperan kaki lima.

Pacar Sylvie itu memang istimewa. Intuisiku benar kan. Memang Christoph bukan orang sebenarnya. Di dalamnya memang terdapat kekuatan tersembunyi yang mengerikan untuk melihatnya, apalagi untuk beberapa orang tertentu yang punya niat jahat. Namun untuk beberapa orang, bagi mereka yang tertindas, kekuatan itu justru bagaikan angin segar. Aura biru muda dalam tubuh Christoph sungguh seperti sebuah saviour.

Aku sama sekali tak menyangka ibu Christoph pun sama istimewanya dengan dirinya. Waktu itu, aku kali pertama berkunjung ke rumah Christoph, lalu berjumpa dengan ibunya. Wajah ibunya itu terasa berbeda. Seperti seorang kanjeng ratu saja. Sontak aku jadi teringat pelajaran Sejarah jaman sekolah dulu. Ibunya itu seperti Ratu Shima dari kerajaan Kalingga itu. Ratu Shima sudah lama sekali dikenal sebagai gambaran seorang ratu adil. Sampai sekarang pun, yang kudengar, masih banyak yang meragukan Ratu Shima pernah hidup di muka bumi ini. Ketegasannya, kewibawaannya, dan rasa keadilannya itu sungguh luar biasa. Apa yang diperintahkannya sungguh didengar oleh rakyatnya. Pernah ada raja seberang yang menguji kebenaran isu tersebut dengan meletakan sekantong emas di jalan. Terbukti selama berbulan-bulan tak ada yang berani menyentuh kantong emas tersebut. Mungkinkah ibunya itu reinkarnasi sosok Ratu Shima itu?

Kalau benar, sungguh ibu dan anak yang kehadirannya sudah ditunggu dunia. Ibu dan anak yang mungkin tengah mempersiapkan sesuatu untuk mengubah dunia kurasa.

*****

[Christoph]
Aku tak menyangka makin lama aku makin kuat saja. Semenjak kejadian saat aku dikurung mereka, semenjak itulah kekuatanku terus bertambah. Kekuatan tersembunyi itu terus menerus memakan korban. Cara-caranya pun makin mengerikan saja.

Yang aku bingung, sampai sekarang pun aku masih tidak ingat, bagaimana cara aku terlepas saat itu. Akira pernah ada sesosok bersayap yang membebaskanku. Hmm, benarkah itu?  Yang bisa kuingat, yang bisa kurasakan, aku merasakan diriku tengah dipeluk oleh Sang Pencipta. Terasa hangat sekali, lebih hangat dari pelukan ibuku. Pelukan itu membuatku merasakan apa itu kedamaian sejati. Hilang sudah kekesalanku; juga rasa kecewa dan amarahku.

Kalau saat pertempuran itu, saat di langit ada sebuah bintang Daud yang bersinar cukup terang, aku selalu ingat. Aku-lah malah yang mengkomandoi serangan-serangan tersebut terhadap para setan berwujud manusia itu. Teriakanku begitu membahana sekali, seolah-olah satu alam semesta harus tahu kemarahan seorang satria piningit yang seorang utusan Sang Pencipta. Biar seluruh umat manusia tahu bahwa betapa mengerikannya antek-antek Tjokrobukara, Freerth, dan Illuminatist tersebut. Orang-orang seperti itu memang tak bisa diampuni. Hanya api pencucian dari Sang Pencipta yang bisa membersihkan segala dosa mereka menjadi seperti bulu domba yang putih.

Yang jelas, benar kata Sylvie, keadilan Tuhan pasti akan datang. Dan itu sudah datang. Semuanya hanya perlu waktu. Dibutuhkan kesabaran ekstra tinggi. Sekarang sepertinya waktu penuaian itu. Tak sia-sia menabur benih kesabaran itu juga. Haha.

Danke, Gott! Matur nuwun, Gusti!

Anyway, well, sudah kuduga, sejak pemuda bernama Akira itu datang, aku sudah merasakan dia bukan pemuda sembarangan. Dari awal aku tahu dia orang baik yang suka salah ambil langkah. Sorot matanya menyorotkan sorot mata seorang satria juga, seorang superhero. Pun seperti ada magnet dalam tubuhnya yang menarik aku masuk ke dalam hidupnya, lalu menceritakan semuanya (nyaris sebetulnya) padanya tanpa ragu. Pacarnya itu pun sama. Yah perempuan itu seistimewa dirinya. Bisa dibilang, Akira dan Zafira itu seperti sepasang Arjuna-Srikandi, tokoh-tokoh dalam pewayangan (semasa kecil aku dulu begitu menyukai cerita-cerita wayang) yang masing-masing saling berjuang dalam membongkar kebusukan yang ada. Sepasang Arjuna-Srikandi itulah yang akhirnya banyak membantu aku dan Sylvie dalam melawan keluarga Tjokrobukara. Matur nuwun, Akira dan Zafira!

*****

[Akira]
Ternyata aku baru tahu keluarga ibundanya Christoph--selain keturunan keluarga keraton--banyak memiliki posisi penting di dunia spionase. Christoph memiliki Om yang seorang intel. Aku kira dia hanya bercanda atau berkelakar. Namun Sylvie bilang itu tak bohong. Christoph pun pernah berhasil membuktikan padaku mengenai hal tersebut. Pernah sesekali aku dibawanya ke suatu kafe tenda di daerah Bekasi. Ternyata di sana, sudah duduk anteng salah satu Om-nya yang bekerja di divisi intelijen. Posisinya sangat penting pula, saat Om-nya yang bernama Bambang, menunjukan padaku secara hati-hati kartu identitasnya. Berikutnya, Christoph menaruh telunjuknya di depan bibir dan berbisik padaku, "Just a secret between you and I, yea?! I know you're a kind of skeptical guy. You can believe in, if you can see the proof. And, I don't want to judge as a liar, Bro. So, you can see that I'm not a damn liar, am I?"

Waktu itu, obrolan antara aku, Christoph, dan Om Bambang itu berlangsung cukup lama. Mungkin nyaris seharian. Secara hati-hati--yang lebih seringnya pakai bahasa kode dan isyarat, mereka berdua cerita bahwa keluarga Brahm memang cukup memiliki orang-orang berpengaruh. Tak hanya dari pihak ibu, juga dari pihak ayahnya. Ada beberapa dari pihak ayah Christoph yang seorang mata-mata. Satu-dua di antaranya bahkan tengah dan pernah bekerja di divisi intelijen Jerman. Karena faktor itulah, Christoph bisa berkenalan dengan Sylvie, juga keluarga Van Huis. Rumah Sylvie pun ternyata setelah diusut berasal dari leluhur keluarga ibundanya Christoph yang berasal dari keluarga keraton. Dan, keluarga Tjokrobukara benci semua hal itu. Terutama Supandi lebih membenci fakta bahwa baik Christoph maupun Sylvie memang banyak dikaruniai keistimewaan dari Sang Pencipta. Entah itu rumah yang memang berhubungan dengan Sang Pencipta, darah keraton di dalam tubuh ibundanya Christoph, hingga jiwa seorang satria piningit dalam raga Christoph--yang ibundanya pun sama, memiliki jiwa seorang ratu adil yang ditunggu umat manusia. Semua hal itu sudah bukan rahasia umum lagi di kalangan intelijen, khususnya intel-intel dengan bakat spesial. Mereka sudah bisa menebak, sehingga terus mati-matian melindungi ibundanya Christoph beserta keluarga besarnya. Sebelum diapa-apakan oleh antek-anteknya Supandi, keluarga besar ibundanya Christoph--terutama ibundanya sendiri--sudah diselamatkan dan diasingkan ke suatu tempat.Pun, sudah banyak intelijen yang amat membenci keluarga Tjokrobukara serta antek-anteknya. Mereka tahu keluarga itu seperti godfather saja. Pengaruhnya sangat kuat di segala bidang. Semuanya berharap keluarga itu jatuh. Atau minimal merasakan getah akibat aksi-aksi busuk mereka yang nyaris tak terlihat di permukaan.

Hingga akhirnya, walau Christoph harus menerima beban tak terkirakan, penantiannya tak sia-sia. Gedung resepsi pernikahan yang serba luks inilah buktinya. Christoph mengenakan setelan serba putih, yang mungkin melambangkan hati, jiwa, tubuh, dan pikirannya yang masih suci. Dan, Christoph tengah menunggu mempelai wanitanya. Siapa lagi kalau bukan Sylvie Van Huis.

Lalu aku melirik Zafira-ku sembari tersenyum nakal, "Kamu kalau pakai gaun pengantin itu cantik juga, Zaf,"

Zafira tak menjawab, selain tersenyum dan bersemu merah.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^