Friday, October 7, 2016

SERIAL #GGKT : Masa Lalu yang Sama







      Chapter-chapter sebelumnya:





Cuplikan film "Suicide Club". 
Aku tengah berada di kamarku, tengah merenungi apa saja yang sudah alami, segala keanehan tersebut. Semuanya bermula dari ketertarikanku pada kasus rumah keluarga Supandi Tjokrobukara. Dari situ, aku tahu bahayanya RedemIllumination, hingga berkenalan dengan Sylvie Van Huis dan pacarnya, Christopher Brahm.

Sylvie Van Huis...



Perempuan keturunan Belanda ini berdarah ningrat. Ayahnya, Arie Van Huis, punya posisi cukup bergengsi di kalangan pengusaha. Saingannya itu--yang paling kuat--datang dari Supandi Tjokrobukara. Supandi ini seorang miliarder yang hobi mengoleksi barang-barang aneh nan keramat, yang salah satunya itu sangat ingin membeli rumah keluarga Van Huis. Semuanya gara-gara ruangan rahasia di rumah keluarga Van Huis. Gara-gara itulah, segala kesulitan Van Huis bermula.

Intrik politik. Persaingan bisnis. Juga soal cinta. Itulah setidaknya yang aku bisa tangkap dari apa yang menimpa Sylvie. Tak hanya soal perebutan rumah mewah nan sungguh istimewa itu saja. Bahkan di dalamnya terdapat persoalan asmara. Soal cinta segitiga antara Sylvie, Christoph, dan Bona.

Bona itu salah satu kerabat jauh Supandi Tjokrobukara. Tak banyak yang tahu memang. Karena yah itu dia, segala hal yang berhubungan dengan Supandi, seperti disegel. Hanya orang-orang tertentu yang bisa tahu.

Awalnya Bona diperkenalkan Supandi pada Sylvie. Dalam sebuah perjamuan bisnis, yang di dalamnya ada dua keluarga paling berpengaruh di negeri Khatulistiwa ini: Tjokrobukara dan Van Huis. Dari mata, turun ke hati. Bona jatuh cinta pada Sylvie. Bona amat menyukai kepribadian Sylvie yang humoris. Pendekatan demi pendekatan pun mulai dilancarkan Bona. Bona tak peduli saat banyak temannya yang bilang Sylvie sudah memiliki pasangan. Terlebih tak peduli saat Sylvie sendiri yang bilang dirinya sudah memiliki kekasih bernama Christopher Brahm. Pendekatan intens terus dilakukan. Sampai...

...suatu waktu, di waktu malam, Sylvie berdua saja dengan Bona di dalam sebuah mobil. Itu bermula saat Bona mengajak Sylvie mengobrol berdua saja di suatu kafe mentereng. Biasalah, urusan orang kaya, terkait bisnis. Oke, Sylvie mau. Perempuan itu tak keberatan diantar pulang. Saat itu sudah jam sebelas malam. Oh, sebelumnya Sylvie diajak ke sebuah klub malam dulu. Kata Bona, ada rekan bisnis yang mau bertemu Sylvie di sana. Karena dirasa menguntungkan untuk keluarga Van Huis, Sylvie tak keberatan. Dasar sial, rekan bisnis tak ketemu, diajak mabuk iya. Sepulang ke rumah, Sylvie sudah teler seteler-telernya, selain merasakan kelelahan yang amat sangat (sebab urusan bisnisnya berjalan alot sekali dan hampir seharian), Bona memanfaatkannya dengan memberikan Sylvie minuman berenergi yang sudah dicampur ramuan khusus. Ramuan itu namanya pelet.

Yah, Sylvie terkena pelet. Sehingga mau tak mau, perempuan itu hampir saja menerima ajakan Bona untuk menikah. Hampir. Itu semua karena Christopher yang sangat mencintai Sylvie. Aku memang pernah dengar, jika kita sungguh mencintai pasangan kita, tanpa sadar kita akan langsung menyadari pasangan kita dalam bahaya; atau setidaknya tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Apalagi kalau antara kita dan pasangan kita itu sudah memiliki benang merah tak kasatmata yang saling mengaitkan hati masing-masing.

Sylvie bisa diselamatkan dari bahaya pelet. Namun segalanya terlambat. Tandatangan didapat. Sudah muncul pula bukti Sylvie dan Bona sudah menikah. Christoph geram segeram-geramnya. Selain soal rumah Sylvie yang terus dikutak-katik kepemilikannya (padahal Arie sudah pernah berkata rumah itu tak akan pernah dijual kapan pun dan untuk harga berapa pun), ada alasan kuat kenapa Christoph harus membalas dendam terhadap keluarga Tjokrobukara. Jawabannya: CINTA. Christoph tak sudi Sylvie-nya direbut dengan cara curang. Dasar laki-laki tak tahu diri, sudah tahu Sylvie sudah memiliki laki-laki, masih saja didekati, begitu kata Christoph tiap mengingat cerita itu. Pahit sekali!

Untuk Christopher Brahm sendiri...

Pacar dari Sylvie Van Huis. Pria blasteran Jerman-Jogja ini sungguh pria istimewa. Pertama, ibunya melahirkan dia nyaris tanpa ada kesakitan. Normalnya, karena kutukan Allah pada Hawa, tiap perempuan harus melahirkan seorang bayi dengan susah payah. Tak hanya itu, sosok Christoph semasa bayi sudah diterawang oleh seorang tua-tua. Kata tua-tua itu, "Bayi ini aslinya berusia lebih tua daripada usia sesungguhnya," Sepanjang hidup Christoph dilalui seperti kebanyakan anak yang sebaya dengannya. Bermain, belajar, kadang melakukan sedikit kenakalan, berpacaran ala cinta monyet, hingga iseng menggoda lawan jenis. Bedanya, Christoph lumayan sering diperlihatkan penglihatan dan mimpi. Terlalu sering malah ia melihat bayangan saat-saat dunia akan berakhir, lalu Juruselamat akan datang. Saking seringnya, saat beranjak dewasa, ibunya pernah membawa dirinya ke ahli kejiwaan. Pernah Christoph diuji dengan harus menelan pil antidepresan. Nyatanya, obat-obatan mana pun tak akan pernah bisa menahan pesan Tuhan secara utuh ke Christoph. Lalu, saat teman-temannya satu persatu menjauh dari hidupnya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan isi hati, dia tetap berdiri kokoh, sekokoh batu karang. Melihat betapa kerasnya hidup, terutama saat harus memperjuangkan cintanya mati-matian, membela luar biasa keluarga pacarnya, aku merasa seperti melihat sendiri sosok satria piningit yang ada dalam legenda.

Apalagi, fisik Christoph pun agak sedikit berbeda dari kebanyakan orang seusianya. Menyisihkan wajahnya yang terbakar akibat membela pasangannya, Christoph memiliki wajah yang awet muda. Di usianya yang sudah kepala tiga, wajahnya masih mulus. Tak ada ditemukan jenggot, kumis, atau kerutan. Dia seperti anak remaja saja. Apalagi, percaya atau tidak, dia belum pernah mimpi basah sama sekali. Cairan spermanya berbeda dari kebanyakan pria. Cairan punya dia itu encer dan bening seperti minuman air putih (yang mungkin menandakan dia begitu murni. Apalagi dia sungguh jauh dari tembakau, alkohol, apalagi obat-obatan) .Di dalam tubuhnya, terdapat satu kekuatan istimewa yang sanggup merenggut nyawa makhluk hidup, bikin cuaca, serta menciptakan musibah dan bencana alam. Kekuatan itulah yang menyebabkan dia sama sekali sulit dihilangkan nyawanya. Pernah ada kejadian dia harus masuk rumah sakit sehabis makan kurma. Darahnya sempat habis. Belum lagi ditambah dengan komplikasi penyakit demam berdarah. Karena itulah, ia jadi sungguh masuk ke alam dunia bawah. Untungnya, ada tangan tak kelihatan yang menarik dan mengembalikan nyawanya.

Tak hanya itu saja. Christoph tetap bertahan saat antek-antek Supandi terus menerus mengganggu dirinya dan keluarganya. Pernah suatu kali rumahnya kedatangan sebuah pot misterius. Christoph tak tahu kapan datangnya dan dari mana. Tahu-tahu sudah ada saja. Pot dan tanaman yang cukup aneh itu menyebabkan pikiran Christoph terganggu. Alhasil Christoph jadi sering sakit kepala dan marah-marah. Untung ada temannya bernama Harrys yang menyadari dan langsung meminta Christoph untuk membuangnya. Selain disuruh buang, Harrys menyuruh Christoph untuk lebih sering bersih-bersih diri dan rajin keramas semata agar pengaruh tanaman aneh dan musik-musik aneh itu lepas dari otak Christoph. Konon, keluarga Tjokrobukara begitu menyiksa Christoph karena Supandi tahu siapa sebenarnya Christoph. Jadi tak sekadar soal intrik bisnis, politik, cinta, apalagi perebutan satu rumah misterius. 

Omong-omong, keduanya awalnya kuanggap tokoh fiksi, tak betulan ada. Apalagi aku selalu berhubungan dengan Sylvie dengan cara aneh. Aku selalu harus berpusing ria, baru bisa tiba di rumahnya, lalu bercakap-cakap dengannya. Zafira pun awalnya tak ingat siapa Sylvie. Meskipun pertemuan pertamanya itu aku yang menemani. Aku ingat pertemuan pertama kami berempat. Sylvie keluar rumah dengan pakaian seksi dan menggodaku. Zafira cemburu berat, walau akhirnya cemburu itu sirna saat aku dan dia berada di dalam rumah. Itulah saat Sylvie mulai menceritakan pada aku dan Christoph bagaimana kasusnya bermula. 

Hmm...

Perlahan aku mulai menegakan badan. Aku bangkit berdiri dan mulai melakukan peregangan tubuh. Lalu aku kembali untuk duduk di atas tempat tidurku. Aku mulai merenung lagi, kembali berpikir. Yah memikirkan semuanya. Yah soal Sylvie, yah soal Christoph, yah soal rumah itu, juga soal aku dan Zafira.

Kalau dipikir-pikir, kami berempat memiliki kesamaan masa lalu. Kami sama-sama pernah diganggu dunia perklenikan. Sylvie pernah jatuh ke dalam pelet. Christoph pernah beberapa kali mendapat santet; dan itu cukup sering dialaminya. Aku pun sama. Apalagi semenjak aku kali pertama tertarik dengan kasus mati misteriusnya Anton Tjokrobukara. Berkali-kali aku dikirimi santet. Entah dalam bentuk lemparan batu, muncul kaki seribu di dalam kamar mandi (yang selalu dalam posisi mencurigakan), tubuhku dimasuki benda-benda misterius (semisal sebuah kawat kecil), hingga ada beberapa orang yang terus menerus menggangguku, sehingga hubunganku dan Zafira terganggu.

Zafira pun sama. Selain diganggu dengan santet, Zafira-ku pernah mengalami yang dialami oleh Sylvie. Sama-sama kena pelet. Sebelum jadian denganku, karena hobi Zafira yang suka main-main dengan hal-hal tak kasatmata sejak kecil, juga suka dengan segala hal berbau ramal-meramal (karena sejak kecil, dirinya sering ditampakan penglihatan akan gambaran bayangan calon suaminya di masa depan), Zafira sempat salah mengenaliku. Dia sempat berpacaran dengan laki-laki lain, yang ia kira laki-laki itu diriku. Saat sudah sadar kalau ia salah pilih laki-laki, laki-laki itu tak terima. Permainan dukun bermain. Zafira dipelet lewat minuman, foto, serta suara (aku baru tahu kalau lewat foto dan suara itu namanya pelet putih). Sehingga Zafira seperti sebuah robot yang terus menerus mengikuti mau laki-laki brengsek itu. Untung saja, karena Zafira memiliki banyak teman dekat yang sangat peduli padanya--juga keluarganya yang sangat cinta (apalagi mama-nya yang begitu protektif pada Zafira), Zafira bisa diselamatkan sebelum semuanya terlambat. Dengan segala usaha pencucian diri yang lumayan menyiksa, Zafira pun terlepas dari pelet.

Hingga akhirnya, selang tiga tahun kemudian, aku dan Zafira berjumpa di sebuah upacara wisuda. Aku saat itu tengah berada ke sana karena seniorku yang amat kusegani diwisuda. Sementara Zafira berada di sana karena vocal group itu. Aku begitu terkesima dengan olah musik yang dibawakan oleh vocal group tersebut. Sampai akhirnya, mataku tertumbuk pada satu gadis yang luar biasa menawan. Dia itu Zafira. Samar-samar sesuatu dalam diriku pernah berkata aku dan Zafira pernah bertemu sebelumnya; walau aku tahu itu pertemuan pertama aku dan Zafira. Selepas acara, aku malu-malu mendekati Zafira yang tengah sendiri tanpa ditemani teman-temannya. Dari sanalah, aku mendapatkan nomor teleponnya. Berikutnya, Zafira meng-add akun Line punyaku. Katanya, ia iseng saja mencari akun Line @KiraKencana setelah mem-follow terlebih dahulu akun Twitter punyaku yang kebetulan bernama sama. Haha, tahu saja kalau akun Line dan Twitter aku bernama sama.

Haha, aku masih tertawa sendirian dalam kamar. Pelan-pelan saja tertawanya. Takut menarik perhatian keluargaku. Aku makin tak bisa menahan diri untuk tergelak lebar saat tahu betapa kami berempat memiliki kesamaan. Aku dan Christoph sama-sama gampang marah, sama-sama cenderung didengar, sama-sama pernah disantet, sama-sama memiliki kekuatan tersembunyi, dan memiliki kisah cinta yang hampir mirip. Zafira dan Sylvie sama-sama humoris, sama-sama punya sifat penggoda, sama-sama pernah jatuh ke dalam pelet, hingga pertemuan awal dengan pasangan yang hampir mirip. Bahka  yang kudengar dari Sylvie, yah Sylvie pernah berkata padaku, "Pacar kamu itu sebetulnya sama denganmu. Ada satu sosok dengan kekuatan besar, bahkan lebih besar darimu, yang ada di dalam tubuhnya. My feeling, dia sudah tahu dan memiliki pengendalian diri yang luar biasa."

Omong-omong, sebetulnya siapa sebetulnya kami berempat? Kenapa aku, Zafira, Christoph, serta Sylvie memiliki cukup banyak persamaan? Samar-samar kudengar Christoph seperti membisikan sesuatu ke telingaku. Atau tepatnya, kepalaku kembali pusing dan kembali ke ruang tengah rumah Van Huis. Kali ini hanya ada Christoph dan dia berkata dengan agak terbata-bata dalam bahasa Indonesia, "Nan-ti ka-mu ju-ga a-kan ta-hu sen-di-ri," Berikutnya, ia tersenyum sama nakalnya saat Sylvie tengah menggodaiku. 

Lalu sebelum akhirnya aku meninggalkan rumah itu, Christoph beringsut, menjabat tanganku, dan berkata, "Thank you, for believing me and my girlfriend till this day. Trust me, we will see our rainbow ourselves each other. Some day, you are going to get the answers by yourself."