Wednesday, October 12, 2016

ANOTHER FICTION : Soniya dan Firman






Genre: Misteri







[Berdasarkan kisah nyata]






[Soniya]
Tidak!

Kenapa harus? Ini sudah ke kali kesekian aku didatangi oleh orang-orang itu. Orang-orang bertudungkan ungu. Mereka terus mengganggu hidup aku, entah secara alam sadar maupun alam bawah sadar. Mereka terus menagih janji untuk memilih 'perkumpulan' mereka. Juga, syarat lainnya: aku harus meninggalkan Mas Firman, lelaki yang sangat kucintai, walau dia masih tetap dingin, suka mengabaikanku, dan terus memaksaku. Mas Firman terlalu sibuk dengan pekerjaannya; pun terlalu sibuk untuk mengejar prestise sebagai pujangga kenamaan dengan karya yang diincar, dibeli, dibaca, dan mendapatkan ulasan dari banyak orang.

"...sudahlah, lupakan saja laki-laki itu. Dia tak pantas, tak sederajat dengan kamu. Kamu itu cantik sekali. Tubuhmu tinggi, dia tidak. Masa kamu tidak malu berpacaran dengan yang lebih pendek? Lagipula kamu sendiri yang bilang dia dingin. Itu artinya dia tak mencintaimu balik. Tinggalkan saja. Dan bergabunglah dengan kami. Di sana banyak laki-laki yang sangat pantas untuk kamu. 'Bakat'mu itu sangat cocok untuk bergabung dengan kami.."

Begitulah salah satu dari mereka memintaku bergabung selesai studi tiga tahunku nanti. Sepertinya aku benar-benar sudah dipantau mereka. Ketertarikan berlebihanku terhadap hal-hal tersebut menarik perhatian mereka. Bakatku untuk memanipulasi alam bawah sadar (bukan memanipulasi sih. Hanya saja aku bisa datang ke alam bawah sadar mereka sekadar berkunjung, bukan menghasut, apalagi mengintimidasi) menarik perhatian mereka. Mereka juga amat tidak menyukai caraku dan Mas Firman berkomunikasi. Itu yang kutangkap sih. Yah soalnya sudah hampir dua bulanan ini aku didatangi mereka. Mereka terus menerus mengganggu, menghasut, juga mengintimidasi. Manusiakah mereka?

Kurasa bukan. Manusia itu bisa diajak bicara dan kompromi. Apa mereka bisa? Yang ada, mereka selalu memaksa, lebih memaksa dari Mas Firman-ku. Mas Firman saja masih bisa diajak berkompromi. Sampai-sampai aku sering sekali menjahilinya.

Sudah beratus kali kukatakan, aku sama sekali tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Maksudku, pikiran aku dan Mas Firman jadi terhubung. Awalnya memang aku yang mendatanginya. Aku mendatangi Mas Firman supaya ingin tahu saja, benarkah Mas Firman orang yang kucari. Namun, berikutnya, segalanya itu terjadi di luar kehendakku. Berkali-kali aku coba, pikiranku dan pikiran Mas Firman tetap terhubung. Memang dikira aku mau apa melihat pikiran seorang pria yang begitu kotornya ketimbang wanita? Tidak sama sekali. Aku juga lelah mendengar isi pikirannya yang kebanyakan mengeluh. Namun apa daya, kalau Tuhan berkehendak seperti itu, aku bisa apa? Mas Firman memang orang yang kucari. Di balik banyak perbedaan yang ada, persamaannya pun lebih banyak.

Matanya juga mataku. Telinganya juga telingaku. Bibirnya juga bibirku. Hidungnya juga hidungku. Hatinya juga hatiku.

Pengalaman Mas Firman juga hampir sama denganku. Malah sekarang ini pun aku jadi mengalami apa yang dialami Mas Firman dulu. Yah Mas Firman pernah menceritakan padaku masa lalunya padaku lumayan sering tiap malam.

Wajah kami pun begitu mirip. Entah dari aku-nya atau dari Mas Firman-nya. Wajah kami, lekak-lekuknya, begitu mirip. Entah itu versi kecil kami, maupun versi dewasa kami. Aku pun sempat mencobanya. Mungkin saja hanya firasatku. Nyatanya, saat tengah berdiet lalu tubuhku mulai mengurus pun, kedua pipi ini tetap sama. Tetap tembam sama seperti Mas Firman. Tiap kami tersenyum, langsung terlihat kemiripannya. Mata yang langsung menyipit. Itu seolah kami sudah saling tercipta untuk masing-masing.

Tak hanya aku saja. Mas Firman pun sering mendatangiku. Yah walau dia-nya saja yang suka tak sadar dan ingat. Mas Firman selalu mengingatkanku. "Jangan begini", "Jangan begitu",... begitu terus yang dikatakannya, sehingga aku jadi jengah dan kesal pada Mas Firman. Dia suka maksa, walau maksudnya baik untuk melindungi dan menghindariku dari hal-hal buruk.

Kini, aku jadi bingung. Tawaran mereka sungguh sangat menggiurkan. Ilmunya sangat menarik perhatianku sejak aku mengenalnya dari seorang tua-tua bijak yang datang dari negeri matahari terbit. Namun aku kadung terlalu mencintai Mas Firman. Seratus persen sudah yakin Mas Firman-lah orangnya. Aku harus bagaimana?

Seperti disengat listrik, tubuhku bergerak sendiri. Aku tak tahu kenapa aku jadi harus bangkit berdiri, lalu mengambil posisi bersujud dan tangan dilipat. Kupanjatkan doa untuk meminta petunjuk-Nya. Samar-samar, selepas berdoa, sepertinya aku mendengar suara yang sangat berwibawa. Tak ada suara mana pun yang mengalahkan wibawa suara yang kudengar ini.

"Anakku yang Ku-kasihi. Janganlah takut, jangan mendua hati. Apa yang sudah ada di hadapan mata, itulah dia. Segala sesuatunya memang berat di awal, namun manis di akhir. Percayalah!"

Mendengarkan itu bagaikan meninabobokanku. Aku terlelap di atas ubin. Seperti ada sosok malaikat yang mendatangiku. Dia berujar padaku bahwa segala doaku sudah dijawab Tuhan. Segala yang kumohonkan hingga detik ini akan mendapatkan balasannya selama 2-4 bulan waktu mendatang. katanya, "DIA sendiri yang akan membuat laki-laki itu tergila-gila sama seperti mau kamu waktu itu. DIA juga yang akan menunjukan pada kamu seperti apakah wujud asli dari mereka yang berselubungkan jubah ungu tersebut. Kamu tenang saja. Bersabarlah sedikit lagi. Jangan menciptakan kecerobohan lagi."

*****

Tak sampai dua bulan, sebulan kemudian, segala hal yang dikatakan-Nya terbukti. Tiba-tiba saja Mas Firman terus menerus memberondongiku dengan gombalannya. Kenyang rasanya saat berkali-kali Mas Firman bilang sayang dan cinta padaku. 'Bebeb' adalah panggilan kesayangan Firman untukku. Rasa-rasanya aku ingin terbang ke langit ketujuh saking senangnya. Memang tak sia-sia berdoa, beriman, dan terus berharap itu.  Bahkan tak segan-segan Mas Firman bercerita padaku soal dirinya, kelemahannya, keburukannya, hal-hal yang disenanginya, keluarganya, latar belakang keluarganya, dan lain-lain sebagainya, sehingga aku hapal luar-dalam soal Mas Firman.

Tak hanya itu saja. Soal mereka berselubungkan jubah ungu itu pun sama. Lambat laun aku mulai paham kenapa Mas Firman terus menerus melarangku. Awalnya aku kira Mas Firman melarangku tanpa alasan. Namun sekarang aku tahu dia melarangku dengan cinta. Dia tahu apa yang terbaik untukku. Dia juga menjauhiku dari hal-hal yang akan mengancamku, apalagi mengancam hubungan kami berdua. Karena Mas Firman juga, aku jadi tahu sungguh-sungguh apa itu cinta. Cinta memang seperti ini. Keras dan sulit di awal. Terkadang itu terasa kejam, memaksa, dan tak berperikemanusiaan. Tapi di dalamnya terdapat banyak inti cinta, yaitu kasih. Berikutnya, akan terasa mudah dan manis. Itulah cinta yang kupelajari dari sosok Mas Firman yang dingin.

Sepuluh kali sudah aku gagal dalam ujian. Padahal aku merasa sudah belajar keras. Namun ada saja Yang di Atas menegurku untuk jangan. Banyak sekali DIA membikin aku teledor dan menciptakan banyak kesalahan yang aku rasa tak perlu. Seperti mendadak aku mulas parah saat tes wawancara. Mau tak mau aku harus pulang. Atau saat datang nyaris empat puluh menit setelah ujian. Alhasil pengawasnya melarangku ikut ujian. Hal itu terjadi tidak hanya sekali, namun sampai tiga kali, seperti salah satu murid-Nya menyangkali-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Dan, hanya dua-tiga kali aku berhasil. Itu pun tak ada kaitannya dengan mereka berjubah ungu. Sepertinya DIA ingin aku mengasah segala talenta yang sudah disisipkan-Nya dalam segenap tubuh dan jiwaku.

Oh, soal mereka yang berjubah ungu itu pun, tiap kali aku mengamati gerak-gerik orang-orang yang kutemui pada saat tes, aku merasa aneh saja. Aneh bukan kata yang tepat. Agak munafik juga. Mereka sama denganku. Mereka mengalami hal yang sama pula. Namun saat kuajak mengobrol topik yang mungkin aku duga sama-sama kami senangi, aku merasa bibir mereka seperti sudah dilem saja. Tak hanya dilem, bibir mereka seperti digembok. Padahal kalau aku bicara hal-hal seperti ini dengan rekan-rekan sebayaku, tak terasa obrolan itu bisa berlangsung selama empat jam lebih. Kami saling menunjukan apa yang kami miliki dan kuasai. Padahal aku sudah menggunakan banyak cara yang aku tahu pasti bisa. Tapi sia-sia saja. Samar-samar kudengar suara itu menggertakku: "Kamu jangan macam-macam! Kamu dan keluargamu akan kami apa-apakan!" Sepintas aku takut. Namun Bunda menasehatiku untuk tidak takut, apalagi kalau kita merasa apa yang kita lakukan itu benar, terutama benar di mata Tuhan.

Tak hanya sampai di situ saja, para jubah ungu itu masih terus menggangguku. Atau, kata 'meneror' jauh lebih tepat. Mereka terus menerus menggangguku dan menghasutku soal Mas Firman. Ada-ada saja macam cara yang mereka gunakan untuk menjauhiku dari Mas Firman. Seperti isu ayahnya koruptor sadis-lah, Mas Firman seorang penyuka sesama jenis-lah, Mas Firman penyiksa binatang-lah, dan keluarganya yang melakukan sesembahan ke ratu pantai selatan di tiap akhir bulan. Sebagian benar, namun sebagian besarnya terbukti hanya hasutan. Karena banyak gangguan itulah, aku lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Aku jadi makin sering pergi ke gereja. Malah dalam satu minggu, aku bisa tiga-empat kali pergi ke sana. Hasilnya,  salah seorang pemimpinnya memberitahukan padaku untuk jangan dianggap remeh suara malaikat-Nya yang datang padaku; juga kata-kata Mas Firman. Segalanya itu benar adanya. Mungkin memang jalan Tuhan seperti itu. Rencana-Nya memang jauh lebih indah daripada mimpi-mimpi kita. Ke depannya, kalau bukan karena pertolongan Tuhan, aku bakal menyusahkan Mas Firman, juga mungkin citranya di hadapan keluarganya.

Pelan-pelan, lambat laun, mereka berhenti mengganggu dan mengintimidasi aku dan keluargaku. Itu semuanya bermula sejak aku mulai mendekatkan diri ke Sang Pencipta. Samar-samar pula aku melihat ada semacam tameng yang menjagai rumah dan keluargaku. Bahkan sesekali telingaku bisa menangkap suara raungan kesakitan. Kukira, itu suara mereka yang masih berniat mengganggu dan mengintimidasiku.

Aku pun  berharap hal yang sama terjadi pula ke Mas Firman. Sebab aku tahu dia pun diganggu dan dihasut. Aku takut itu akan mengganggu jiwanya. Sebab selain seorang pemalu yang keyakinannya begitu lemah (makanya sering plin-plan), Mas Firman itu tipe orang yang suka meledak-ledak.  Semoga saja mereka yang mengganggu aku dan Mas Firman--juga keluarga kami masing-masing--mendapatkan balasannya.


Suatu hari, temannya Mas Firman, Didi meneleponku. Ia lalu mengajakku untuk ketemuan di sebuah restoran elit. Di sanalah, aku dibukakan apa yang selama ini aku tak tahu.

Katanya, jaman dulu sekali, semasa perang salib, para ksatria templar melakukan tindakan keji di hadapan Tuhan. Diam-diam mereka mempelajari, menekuni, juga mempraktekan ilmu kabalistik. Itu adalah bagian dari kepercayaan Yahudi yang lebih menitikberatkan pada sihir dan hal-hal tak kasatmata. Kebanyakan hal yang ditentang Sang Maha Kuasa ada di sana. Pihak gereja sudah berusaha menutupinya agar umat tidak mengetahuinya. Yah demi alasan yang bagus juga. Sebab banyak ajaran mereka yang salah, bahkan bertentangan dengan yang Tuhan Yesus ajarkan. Salah satunya, soal berhubungan dengan orang mati. Raja Saul pernah mengeluarkan satu larangan yang melarang masyarakatnya memanggil arwah.  Tuhan Yesus pernah berujar, "Biarlah orang mati mengurus urusannya sendiri,"

Begitulah yang terjadi pada saat itu. Hingga akhirnya, tak pernah ada sejarah yang menyebutkannya juga, semuanya tersembunyi dalam bentuk mitos dan legenda, dunia berubah pada jaman itu. Sihir dipraktekan secara blak-blakan. Bahkan anak kecil pun bisa. Sampai-sampai kuasa menciptakan mimpi tak hanya dimiliki Tuhan dan para malaikat-Nya. Manusia yang paling hina pun bisa. Awalnya pihak gereja tak menentang. Para pemimpin gereja menolerirnya, bahkan coba memadukan hal-hal tersebut dengan nilai-nilai gerejawi, kata-kata Alkitab dan ajaran Tuhan Yesus. Segalanya berlangsung baik-saja setelah gereja mengijinkan. Nyatanya, masih bisa diatasi dan kebenaran Allah masih tetap terdengar.

Namun, tiba saatnya, saat keputusan gereja itu seperti bumerang saja. Makin lama makin terasa keputusan itu salah. Manusia jadi makin menjauh hatinya dari Allah sendiri. Mereka malah makin senang mempelajari hal-hal tak kasatmata dan supranatural. Sampai makin lama suara Allah dan malaikat-Nya jadi sulit terdengar. Itulah yang memicu pihak gereja memburu para penyihir yang bermasalah. Mereka yang dianggap sangat berbahaya untuk ajaran gereja, lantas diburu, ditangkap, dan disalibkan sambil dibakar hidup-hidup pada hari jumat tanggal 13. Tak hanya ajaran mereka saja yang menyesatkan, mereka juga--orang-orang itu (aku tak mengerti maksud orang-orang itu. Mas Didi tak menjelaskannya selain hanya senyum-senyum saja padaku)--sering merugikan sesamanya. Praktek sihir mereka jelas-jelas mengganggu, baik di alam sadar maupun alam bawah sadar. Manusia jadi makin sulit mendapatkan hidayah Allah. Penglihatan dari Allah sendiri jadi makin tersamarkan karena ulah sekelompok orang tak bermoral. Itulah sebabnya, pihak gereja melarangnya.

Tapi itu dia. Namanya manusia selalu begitu. Makin dilarang, makin menjadi. Banyak saja cara mereka untuk menyelundupkan ajaran, teori, paham, hingga kepercayaan mereka ke dalam banyak bidang. Cara perekrutan anggotanya pun juga sama--yang sama seperti yang aku alami. Tak terdeteksi ke permukaan. Permainan mereka di bawah tanah sungguh rapi sekali. Tak sedikit sesama dari mereka yang dirugikan. Stereotipe dan stigma yang melecehkan mulai bermunculan. Pengkotak-kotakan makin sering terjadi. Sepertinya antara manusia satu dan manusia lainnya itu tak boleh berbeda. Pokoknya semua manusia itu harus sama. Yang berbeda, dikucilkan.

Saat yang terakhir diucapkan Mas Didi, sepertinya aku bisa menangkap suatu kekesalannya yang sudah lama dipendam. Terlihat sekali juga Mas Didi memang berkata yang sebenarnya. Tak ada tanda-tanda ia merekayasa ceritanya. Ekspresi dan sorot matanya terlihat sangat meyakinkan. Bahkan saat aku meragukan kata-katanya, Mas Didi dengan lantang berani bersumpah.

Iya, iya, aku percaya. Bahkan salah satu pemimpin di gerejaku pun mengatakan hal yang sama, kok.

*****

[Firman]
Lambat laun, makin hari aku merasa aku makin disayang dan diperhatikan oleh Soniya. Dia jadi makin terbuka padaku. Makin sering pula ia cerita padaku soal masa lalunya, juga soal beberapa hal yang ia senangi dan benci. Ternyata aku jadi tahu kenapa ia seperti terobsesi dengan hal-hal tak kasatmata. Ketertarikannya itu sudah sangat berlebihan dan bisa membahayakan hidupnya. Dan, itu semua karena semasa kecil dirinya lumayan sering dapat penglihatan. Dalam tiap mimpinya, ia berkali-kali ditampakan sosok dari Yang Maha Kudus. Hanya saja, yah namanya juga anak kecil. Mereka belum bisa membedakan. Melihat yang seperti itu, wajar saja heboh dan ketakutan. Mereka juga sangat terganggu. Mana kedua orangtuanya lebih sering mengabaikan, meremehkan, bahkan mengarahkannya ke arah yang keliru. Hanya sesekali didengar curahan hatinya. Tak heran dia memilih untuk mencari sesamanya yang mengalami nasib serupa. Itulah yang menyebabkan dia berubah menjadi sosok Alice di Negeri Ajaib, yang sering melihat banyak hal aneh dan terkadang menyeramkan.

Perlahan, tiap kudengar, selalu ada lantunan doa kudus yang diperdengarkan Soniya hanya untukku. Sesekali namaku terdengar dalam tiap doanya. Dia juga yang selalu mengingatkanku untuk rutin berdoa dan bersyukur. Perhatiannya padaku membuatku merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti dirinya. Sudah cantik, cerdas, baik, perhatian pula sama aku. Berkali-kali pula ia sering menyelamatkanku dari situasi-situasi berbahaya. Tak terhitung pula berapa kali sudah aku dan Soniya saling bertukar pikiran, ide, dan pengalaman. Masing-masing dari kami saling menasehati dan mendengarkan.

Oh, terimakasih Tuhan. Perempuan yang Engkau pilihkan untukku itu sungguh perempuan spesial. Dia sangat cantik sekali. Laksana bidadari saja. Maafkan juga karena aku sering meragukan segala tanda dari-Mu bahwa doaku sudah Engkau kabulkan. Kini aku berharap bisa terus bersama-sama dengan Soniya-ku selama-lamanya.