Sunday, July 24, 2016

Namanya Shania, Mi!





Pagi, Mi!

Sudah satu tahun setelah kepergian Mami. Aku cuma mau bilang aku sudah bisa sepenuhnya melepaskan kepergian Mami. Yang berlalu, biarkan berlalu. Biarlah orang mati mengurus urusannya sendiri. Bukan maksud aku mau melupakan Mami. Mami tetap ada dalam sanubari aku. Hanya saja aku tak mau terus ingat-ingat lagi. Tidak baik juga.




Anyway, Mi, maaf waktu Mami masih hidup aku belum berani kasih tahu Mami siapa cewek yang ada di handphone aku. Mami sempat mengintipi handphone aku kan. Aku juga nggak berani ngomong waktu Mami udah di rumah sakit (5 Juli 2015); bahkan nggak jenguk dan lebih mementingkan nulis-nya aku. Padahal aku yakin Mami udah nunggu aku cerita soal cewek itu. Aku aja yang terlalu penakut. Kayaknya sifat penakut dan peragu aku nurun dari seseorang yah, Mi!

Nama cewek itu Shania, Mi. Shania cantik banget, Mi. Shania itu perempuan paling istimewa buat aku. Aku sayang banget sama dia!

Dan, pasti, Mi! Pasti bakal kubawa ke rumah dan keluarga. Aku bangga, bahagia, dan sangat bersyukur punya Shania. Temanku, Dias, juga makin hari makin terbuka sama aku. Walau masih menyimpan rahasia, sekiranya Dias lebih baik daripada... ya sudahlah, biar Tuhan sendiri yang menegur. Haha. Dias juga yang selalu menguatkanku, juga yang memotivasi aku agar jangan menyerah untuk memperjuangkan Shania.

Btw, Dias juga punya masalah sama kayak aku. Tapi dia jauh lebih kuat dan tabah dari aku. Dan kasusnya itu jauh lebih rumit, yang kadang bikin dia suka frustrasi sendiri, suka nggak sabaran, dan merasa nggak ada teman yang memahami dia. Padahal banyak loh.

Semoga saja masalah aku dan masalah Dias cepat kelar di tahun ini. Doakan yah, Mi, di atas sana!



1 comment:

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^