Wednesday, March 9, 2016

ONE STORY ONE PHOTO: Lagak Seorang Penulis






Genre: Romance











            Pelangi. Ada mitos yang mengatakan, jika kau bisa menemukan ujung pelangi, cinta sejati akan didapatkan. Tak tahu benar atau tidak. Namun lumayan banyak orang termakan.
            Begitu juga dengan Wawan. Seusai hujan reda, tergesa-gesa ia keluar rumah. Hanya dengan  kaos oblong dan celana pendek menyerupai boxer. Tak peduli bagaimana seringaian orang, ia rela memutari komplek tujuh kali. Hanya demi menemukan ujung pelangi. Pencarian baru berakhir, saat ia bersua dengan seorang gadis. Ada sesuatu dalam iris si gadis yang membuat ia berhenti. Pelangi. Beranjak ia beringsut pinggirkan sepeda motornya.
            Gadis itu… Berambut panjang, tirus, mata menyipit, dan tingginya khas perempuan Indonesia. Juga dengan warna kulitnya, sawo matang yang eksotis. Cukup sepadan dengan seragam safari ala pegawai kantor pemerintahan yang dikenakannya. Gadis itu terkejut, saat dihampiri oleh seorang pemuda asing. Sebab tak sedikit pun ia mengenali siapakah pria itu. Risih juga, walau dari posturnya, ia tahu pria itu sebaya dengannya.
            “Ada perlu apa, yah, Mas?” Tampak kerutan di jidat gadis itu.
            “Tidak apa-apa,” jawab Wawan “Tapi pernahkah engkau dengar, mitos soal pelangi?”
            “Oh, mitos pelangi?” Kepalanya berjengit pelan. “Banyak yang bilang, siapa yang bisa menemukan ujung pelangi, ia akan bisa menemukan cinta sejatinya.”
            “Baru saja saya menemukan ujungnya.”
            “Bukankah itu hanya mitos?” Disangkanya ucapan Wawan terakhir tadi hanya kelakar – atau mungkin gombalan belaka. “Tak ada yang namanya ujung pelangi. Pelangi itu fenomena alam, bukan sebuah benda yang jelas tiap sudutnya.”
            Wawan bersikukuh dengan opininya. “Serius, aku baru saja menemukan ujung pelangi. Dan ujung itu ada di sana.” Ia mengarahkan jari telunjuknya pada sebelah mata si gadis. Si gadis memerah kedua pipinya laksana warna buah jambu yang baru saja matang.
            Ia menggamit lengan si gadis mendekati spion sepeda motornya. Si gadis berontak, tapi menurut saja dan menatapi parasnya di cermin. Alangkah kaget nian gadis tersebut. Ada pelangi tampak di bola matanya. Wawan jadi cengar-cengir tak jelas.
            “Nah sekarang terbukti sudah kebenaran mitos tersebut. Lagipula selalu ada pepatah yang berkata, ‘ada asap ada api’. Kalau boleh tahu, siapakah nama anda?”
            Masih menatap cermin, ia menjawab, “Wati.”
             Ganti Wawan yang kaget. Apakah ia berjodoh dengan gadis ini? Inisial gadis ini dan inisialnya sama: W. Hmmm…



Dokumentasi pribadi.


            “Hmmm….” Seorang wanita berprofesi redaktur sebuah harian ibukota bergumam, persis di depan seorang penulis yang rambutnya acak-acakan. Redaktur itu baru membaa halaman pertama dari salinan naskah si penulis. 
            “Seperti biasa, Erland, karyamu itu begitu manis kesannya. Cerpen-cerpenmu selalu dipenuhi dengan unsur romantisme. Gara-gara kamu kotak surat elektronik kami jadi kebanjiran pesan. Semuanya berisi pujian untukmu; dan menurut penelitian kami, tiap kali cerpenmu kami muat, oplah langsung naik. Padahal harian ini bukanlah harian sastrawi, ini kan harian umum.”
            Erland sumringah.
            “Jadi naskah saya dimuat, dong, Bu?” Seharusnya ia tak perlu menanyakannya, jika mendengarkan kata-kata redaktur itu. Tapi sebagai seorang manusia, ia butuh sebuah kepastian; bukan kata-kata gombal yang ia perlukan.
            “Pasti-lah, tapi tidak untuk nomor depan. Mungkin untuk dua nomor lagi. Untuk nomor depan, jatahnya sudah diambil. Tidak apa-apa, kan?” ujar redaktur itu tersenyum.
            “Tak masalah.” balas Erland tersenyum.
            “Oh iya, honornya mau kamu terima langsung?”
            “Tak usah repot-repot, nanti saja setelah karya saya dimuat.”
            “Anda ini kaku sekali, yah?” Redaktur itu terkikik. “Santai saja-lah. Lagipula dengan pemberian honor di muka, ini memastikan kalau naskah itu tak dikirim lagi ke media lain. Rugi kami, kalau sampai kehilangan keuntungan yang besar.”
            “Kalau anda tak keberatan saya sungguh tak menolak.”
            Redaktur itu tergelak. “Anda ini sungguh punya selera humor. Yah tidaklah, saya tak keberatan sama sekali. Masakan saya keberatan memberikan honor di muka untuk seorang penulis yang sudah memberikan keuntungan lumayan besar bagi harian ini?”
            “Oooh…” Hanya itu yang keluar dari mulut Erland.
            “Oh iya, ada satu hal yang saya mau tanyakan,” kata redaktur itu setelah tawanya mereda. “Ini menyangkut naskah-naskah anda. Apakah anda punya seorang kekasih?”
            Redaktur itu tahu pertanyaan itu terlalu privasi. Karena itulah, ia segera menerangkan apa maksudnya, “Jangan tersinggung dulu. Saya tak bermaksud mengobok-obok privasi anda, hanya saja telah banyak orang yang bertanya pada kami apakah penulisnya sudah punya kekasih atau tidak. Bahkan ada yang begitu apriorinya mengatakan anda pasti memiliki pengalaman bercinta yang dahsyat. Benarkah demikian?”
            Erland menggeleng. Mungkin saking terlalu seringnya cerpen-cerpennya dimuat, ia jadi terbawa suasana yang menyebabkannya menjawab, “Berpacaran saja saya belum pernah.” Untung saja, ia hanya berdua saja dengan si redaktur di ruangan redaktur itu sendiri. Sehingga, rahasia kecilnya itu kemungkinan hanya diketahui redaktur itu saja. Begitu pendeknya pikiran si penulis.
            Mata redaktur menyipit ke arahnya, seolah tak percaya dengan yang didengarnya.
            “Demi apa? Anda belum pernah menjalin hubungan asmara sedikit pun? Padahal anda ini, saya lihat, tampan dan memiliki raga yang lumayan perkasa. Pasti banyak wanita yang melirik, saat anda berjalan melewati mereka. Anda ini masih ‘normal’, kan?”
            Penulis itu hanya nyengir. Di kalangan komunitas sastra, ia memang terkenal supel. Jarang sekali terlihat emosinya membuncah. Mungkin ia lebih suka melampiaskan emosinya ke dalam sebuah tulisan.
            “Saya justru masih mengenangkannya dalam diri saya. Namun sepertinya, ia tak tahu kalau ia punya pengagum rahasia.”
            Mengertilah redaktur itu soal masalahnya. “Ternyata jatuh cinta diam-diam… Anda tipe pemalu, rupanya.”
            Seperti tak terima, ia protes. “Bukan pemalu juga, hanya saja saya enggan untuk menyatakannya; lagipula saya juga bukan tipe orang yang langsung klop dengan seseorang. Saya enggan, karena cinta saya cinta pada pandangan pertama.”
            Bukan maksudnya memotong, hanya saja mungkin karena terlalu antusias. “Mengapa enggan? Dan memang dimana anda bertemu dengannya?”
            “Di bimbingan belajar semasa SMA dulu.” jawab Erland. “Ingin saya dekati, tapi saya teringat bahwa perempuan itu tak terlalu menyukai laki-laki yang suka tebar pesona atau pun bergombal ria. Saya juga tak ingin dibilang aneh, kalau saya jujur bilang jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Sebab banyak yang bilang, cinta pada pandangan pertama itu omong kosong; itu nafsu, bukan cinta.
            Redaktur itu berusaha menahan tawa.
            “Lalu bagaimana dengan gadis itu?”
            “Entahlah,” Erland mengedikan bahu. “ Menurut gosip yang saya dengar, dia sudah punya kekasih yang merupakan temannya semasa kuliah.”
            “Apa dia tahu soal perasaan anda?”
            Ia menggeleng.
            “Apapun statusnya, anda sebaiknya tetap memberitahukan soal perasaan anda. Jangan biarkan dia memiliki delusi dirinya punya penggemar rahasia. Dan satu lagi, mungkin sebaiknya anda perlu mencari seorang kekasih. Ini demi cerita anda agar terkesan alami.”
            “Apakah seorang penulis cerita misteri, harus jadi detektif atau kriminal dulu agar ceritanya alami?” tantang balik Erland.
            “Jangan marah dulu,” Redaktur itu berusaha mengondusifkan keadaan. “Ini juga demi kepentingan anda. Karena menurut saya, anda berhak juga mendapatkan akhir bahagia seperti kebanyakan cerita yang sudah anda buat. Bukankah akan jadi seimbang jikalau antara fakta dan fiksi berada dalam suatu garis lurus?”
            Tutur kata terakhir sang redaktur membuatnya terpekur. Tak hanya terpekur, namun itu juga terus terngiang-ngiang di telinganya, bahkan saat ia sudah berada di kamar apartemennya. Ia renungkan baik-baik, ucapan tersebut benar adanya. Ia berhak juga merasakan indahnya keindahan berasmara seperti layaknya tokoh-tokoh rekaan yang ia buat. Apalagi memang sudah saatnya ia memikirkan urusan hati. Karir menulisnya juga sudah aman. Ia sudah bisa hidup dari menulis. Dalam benaknya, mulai besok, ia harus lebih menyeriusi kehidupan asmaranya. Ditambah lagi, bukankah mereka sering bilang ‘di balik kesuksesan pria, ada seorang wanita hebat’?