Wednesday, February 3, 2016

ONE STORY ONE PHOTO: Platonic Love



Genre: Romance



Dokumentasi pribadi.





            Kantin adalah sebuah tempat menyenangkan selepas menyelesaikan estafet panjang dua kelas perkuliahan. Sebetulnya ada perpustakaan yang begitu ademnya, apabila memperhatikan kondisi cuaca yang teriknya menusuk tulang ini. Tapi untuk orang seperti Ricky yang tak gemar membaca, perpustakaan yang penuh dengan buku jelas bukan pemandangan yang menyenangkan–apalagi untuk melepaskan kejenuhan setelah nyaris empat jam mendengarkan materi kuliah hukum dari dua dosen yang berbeda. 

            Bagi pemuda bertinggi badan sekitar 180 cm dan berkacamata minus rendah ini, kantin jelas merupakan oase. Seperti oase yang biasanya dicari-cari para musafir di gurun pasir, begitupun dengan kantin kampusnya. Selain ada atap yang menjagai kantin dari serangan matahari dan membuat hawanya jadi sejuk, pemandangannya juga lumayan indah daripada perpustakaan kampus. Untuk mahasiswa tipe playboy macam dirinya, jelas sebuah kesenangan tersendiri melihat banyak ditemukan mahasiswi-mahasiswi cantik – dan yang mungkin juga sekal. 

            Apalagi saat itu sudah jam sebelas siang. Kebanyakan fakultas di kampusnya sepakat menghentikan aktivitas perkuliahannya di jam sebelas atau dua belas. Belum lagi jam dua belas memang jam istirahat para dosen dan karyawan-karyawati kampus. Tak heran, pada jam-jam yang sudah disebutkan tadi, banyak ditemukan mahasiswi dari pelbagai fakultas atau jurusan–atau juga angkatan. Ada yang dari fakultas Ekonomi, fakultas Psikologi, Hukum, Teknik, Keguruan, hingga Bioteknologi yang banyak dijumpai mahasiswi bertampang Oriental. Ada  mahasiswi angkatan tua, juga tak sedikit pula ditemukan mahasiswi baru atau semi-baru – minimal. 

            Tak hanya itu saja. Dari segi tampang dan bodi juga beragam dan sungguh menghibur mata. Ada yang level of cuteness-nya di atas rata-rata (Mahasiswi yang seperti ini biasanya berwajah agak-agak mirip dengan Barbie doll), ada yang cantiknya kelas Miss Universe, atau ada juga yang hanya bodinya saja yang menarik perhatian. Mahasiswi seperti ini biasanya tampangnya standar, kalau tak mau dibilang pas-pasan. Ada sebuah selorohan yang ia dengar dari temannya, Wino. Temannya yang penggemar klub sepakbola, Liverpool ini pernah berseloroh seperti ini: “Cewek yang kayak gitu tuh, saat malam pertama nanti, biar lebih enak gituannya, bro, enaknya mukanya ditutupi dulu pakai kantong kresek.”

            Intinya, kantin memang oase buat mahasiswa yang tak terlalu bergairah bila membicarakan soal materi perkuliahannya. Yah macam Ricky ini. Dan di sinilah ia berada bersama tiga orang temannya, yaitu Alvin, Rintisman, dan Dandy. Mereka berempat tengah menikmati makan siang mereka sembari melihat-lihat mahasiswi-mahasiswi yang enak dipandang dan banyak beredar di kampus. 

            “Cuy, tengok arah jam sembilan deh,” desis Alvin yang bergaya rambut ala pemuda 80-an. “Wuih, gila, boi, wajahnya itu lho, gak nahan.”

            “Ah itu belum ada apa-apanya, cuy, sama yang di arah jam enamnya gue.” bantah Rintisman, mahasiswa berkulit legam yang biasanya dipanggil Maman. “Cantiknya tingkat dewa.” Rintisman berdecak sendiri, saking mengagumi seorang mahasiswi yang kecantikannya sebelas-dua belas dengan Jessica Alba. 

            “Tipikal kayak begitu biasanya matre, cuy.” kata Ricky yang mulai menghidupkan sebatang rokok. 

Ricky ini secara diam-diam menekuni profesi sebagai gigolo. Profesi satu ini tak banyak yang tahu.

 Hanya segelintir saja yang tahu soal seluk beluk gigolo. Ricky sendiri pernah secara tak terduga memberitahukan ketiga sahabatnya itu soal ‘profesi’nya itu (Kenapa diberikan tanda kutip? Karena sesusngguhnya yang namanya profesi itu haruslah yang sehat jasmani dan sehat rohani). Ia pernah menunjukan contact list di ponselnya pada mereka semua dan isinya banyak dijumpai nama-nama perempuan; baik yang kampungan seperti Siti, Aisyah, Rini, Andini, atau Tina; maupun yang berbau modern dam kekotaan seperti Sabrina, Rey, Hanna, Melissa, hingga Amanda. Perempuan-perempuan tersebut ada yang tante-tante, mahasiswi, anak SMA, bahkan anak SMP. Seperti yang sering diucapkannya pada ketiga sahabatnya itu: “Usia nggak jadi soal, yang penting kenikmatan dalam bercinta.”

“Iye, iye tahu, yang sudah expert banget soal dunia percintaan,” sindir Dandy yang sudah dikenal sebagai juragan film porno di kalangan mahasiswa-mahasiswa fakultas Hukum. 

Ricky hanya cengar-cengir saja mendengar sindiran tersebut. Di saat bersamaan, dadanya terasa geli. Ternyata ponsel cerdasnya itu bergetar hebat. Segera saja ia ambil. Yasmine, begitulah nama yang tertera di display-nya.

Yasmine, Ricky terperangah membacanya. Jarang ia temukan perempuan bernama Yasmine. Kalau Melati yang merupakan terjemahan harfiahnya sih lumayan banyak. Ada enam nama Melati di contact list ponsel cerdasnya. Seketika itu juga, ia jadi terbayang wajah seorang gadis yang nyaris satu tahun tak ia jumpai. 

Gadis bernama Yasmine adalah gadis yang berwajah Eropa dengan hidungnya yang lancip indah. Wajah Yasmine itu mengingatkannya akan Irina Shayk, kekasih dari pesepakbola tenar asal Portugal bernama Cristiano Ronaldo. Tubuh Yasmine juga lebih indah daripada gitar Spanyol–begitulah personifikasi seseorang terhadap tubuh wanita yang begitu montoknya. Tapi sayang, ada satu kekurangan Yasmine. Dia seorang lesbian. Bahkan menjalani kehidupan lesbiannya bersama rekan kerjanya di sebuah stasiun televisi selama lima tahun. 

Lantas soal Ricky yang jadi bersinggungan dengan kehidupan lesbian tersebut, itu terjadi karena profesi gigolo-nya. Secara nalar, jika kita menekuni profesi itu, pastilah hal-hal yang kita lihat adalah hal-hal yang selama ini terus berada dalam undercover. Para pelakunya terus hidup di balik sebuah tirai raksasa, dan hanya minoritas saja yang tahu soal itu semua. Salah satunya, Ricky sendiri. Karena sudah tahu isi tirai raksasa itu, Ricky khatam siapa-siapa saja yang senasib dirinya di kampus. 

            Awal keterlibatan Ricky dalam hubungan Yasmine dengan pacarnya, Dylan itu juga karena rekan seprofesinya, Dion. Dion yang berbeda kampus dengannya, memberitahukannya soal job yang menghasilkan banyak uang. Pekerjaannya itu simple, tak perlu berlelah-lelah memainkan permainan cinta di atas ranjang. Air mani atau spermanya hanya disewa oleh pasangan lesbian itu–Yasmine dan Dylan–untuk membuat Yasmine hamil. Mengapa harus Yasmine? Karena Yasmine-lah yang memegang posisi sebagai femme. Dylan yang berambut cepak berperan sebagai butchy. Pasangan itu berani membayar mahal air mani Ricky dengan harga gila-gilaan. Di atas sepuluh juta (Kapan lagi mendapatkan uang sebanyak itu tanpa harus berpeluh di atas ranjang?!). Dan cara yang ditempuh oleh pasangan lesbian yang begitu mendambakan seorang anak dalam kehidupan asmara mereka adalah dengan menggunakan teknik In Vitro Fertilization (IVF), yaitu teknik bayi tabung yang menggunakan sperma donor, lalu embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim Yasmine. Tak usah heran mengapa pasangan lesbian bisa menggunakan teknik bayi tabung di Indonesia. Karena di negara mana pun, selalu ada sisi hitam di balik segala sesuatunya. Ada dokter putih, maka ada dokter hitam. 

            “Cuy, kok bengong aje? Angkat tuh teleponnya.” ucap Dandy yang nyengir melihat Ricky yang malah begitu terpana membaca nama Yasmin di display ponsel cerdasnya itu. 

            “Jangan sok-sokan melodrama begitu, deh.” timpal Rintisman. 

            “Iya, iya, gue angkat. Gak usah bawel juga, kan?!” balas Ricky nyengir. Langsung Ricky letakan ponsel cerdasnya itu di telinganya, setelah ia terima panggilan dari Yasmine tersebut. “Halo?”

            Morning, Honey,” sapa Yasmine di ujung sana, entah dimana.

            Honey? sejak kapan ia jadian dengan lesbian macam Yasmine. Bukankah Yasmine lebih tertarik dengan perempuan daripada laki-laki? Ah, mungkin ini hanya semacam guyonan saja.
       
            Ho-honey?” respon Ricky bingung. 

            “Anak kita sudah lahir kemarin, Ricky-Honey.” kata Yasmine.

            “Anak?” tanya Ricky masih memasang roman wajah bingung. 

“Oh aku mengerti maksudmu. Maksudmu, anak hasil inseminasi buatan di prakteknya Dokter Nugraha Adi, kan? Wow cepat juga, yah, hasilnya keluar?! Anaknya sehat, kan?” ucap Ricky lagi setelah akhirnya menangkap maksud kata-kata Yasmine barusan. 

“Sehat, dong, sama kayak ayahnya yang gagah perkasa.” jawab Yasmine. 

“Ayah? Maksudmu, Dylan?” ujar Ricky yang lagi-lagi mengernyitkan dahinya yang cukup menonjol.

“Yah, kamu-lah. Kan kamu ayah biologisnya. Dia kan anak hasil spermamu yang ada di rahimku waktu itu. Gak mungkin kan ovum ketemu ovum bisa menghasilkan anak.” tutur Yasmine. 

“Ta-tapi ki-kita kan nggak menikah?!” 

“Karena itulah, aku pengin memintamu melamarku.”

Melamar? Ricky semakin mengernyitkan dahinya.

“Nggak tahu kenapa juga, tiap kali melihat Ricky Junior,” Yasmine berhenti sejenak. “…gak papa, kan aku menamainya dengan namamu?”

“Te-terserah kamu aja,”

“Tiap kali melihat Ricky Junior ini, aku selalu terbayang dirimu, Rick. Perasaan ini jauh melebihi perasaanku ke Dylan. Dan sewaktu aku menceritakannya ke Dylan, ia marah sekali, dan… kami akhirnya putus, Rick.”

“Pu-putus?”

“Iya, putus. Kamu mau kan jadi ayah untuk Ricky Junior, dan jadi suami untukku?” pinta Yasmine. “Kini aku baru mengerti betapa luar biasanya jadi seorang istri betulan dari seorang suami pria. Sungguh dahsyat rasanya melahirkan itu. Menyenangkan rasanya melihat anak dari hasil hubungan dengan seorang pria. Rasanya itu… tak terkira dan tak bisa dianalogikan dengan apapun juga.”

“Jadi… kamu mau kan jadi ayah dan suami?” ulang Yasmine permintaannya tadi.

“Kasih aku waktu buat berpikir. Nanti malam aku telepon kamu, yah?!” jawab Ricky setelah berulang kali memgambil dan membuang napas. 

            “Baiklah, aku tunggu jawaban kamu nanti malam.” 

            Berakhirlah sudah percakapan via telepon antara dirinya dengan Yasmine. Kini ia tertegun di pandangan mata ketiga sahabatnya yang jadi mengernyitkan dahi masing-masing.

            Ricky benar-benar tak menyangka kejadian seperti barusan. Seiring dengan lahirnya Ricky Junior, timbullah pula perasaan cinta terhadap dirinya dalam diri Yasmine. Jujur ia memang sempat mengagumi kecantikan maha dahsyat yang dimiliki Yasmine, walaupun tak berani membelokannya menjadi cinta karena diri Yasmine yang seorang lesbian. Tapi kini, doanya sepertinya terkabul. Wanita secantik Yasmine jadi menyukai dirinya dan sedikit lagi akan ia rengkuh jadi pasangan hidupnya. Dalam sekejap, terbitlah sebuah senyuman di bibirnya dan tahu harus berkata seperti apa pada Yasmine–pastinya bukan penolakan. 

            “Cuy,” Alvin menggerak-gerakan tangannya di hadapan wajah Ricky. “Sadar, cuy, sadar.”

            Ricky tak merespon apa-apa, selain mendesiskan pelan sebuah kalimat, “This is the sweet of platonic love, guys.

            Platonic love adalah hubungan asmara yang tak mesra, di mana tak ada rangkulan, belaian, pelukan, ciuman di kening, kata-kata mesra di masing-masing pihak, dan mungkin tak ada ciuman bibir. Atau dalam bahasa lain, platonic love is spiritual love without any means of physical sense.  


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^