Thursday, February 18, 2016

ONE STORY ONE PHOTO: Diary of Kataomoi





Genre: Romance


Kataomoi (bahasa Jepang), red) itu saat di mana kita hanya menyukai seseorang secara sepihak, yang mana lawannya itu sama sekali tak mencintai kita balik.

 
Dokumentasi pribadi.




SD
Pertemuan pertama kita…
Aku baru saja pindah sekolah dari Bali ke Tangerang. Aku masuk ke dalam ruang kelas 2B. Kuingat, saat banyak murid yang menertawakan logat Bali-ku, kamu tidak. Kamu jua lah yang berinisiatif pertama kali untuk menawari tempat duduk; tempat duduk yang satu-satunya kosong, entah disengaja, entah tidak.

“Namaku Steffy,” begitu kamu memperkenalkan diriku, sambil menjabat tanganku dengan lembutnya. Lalu, kujawab saja, “Namaku Malvin.” Selanjutnya, kita jadi teman. Teman yang lumayan akrab, bahkan terlalu akrab. Bisa dibilang, kita berdua adalah sahabat.

Kita belajar bersama. Kita mengerjakan tugas prakarya bersama. Kita pulang bersama (Kebetulan rumahmu dan rumahku hanya berbeda dua rumah). Kita bermain bersama. Bahkan, kita sama-sama punya hobi yang sama. Kita berdua sama-sama suka menulis surat pena dan mengoleksi perangko.

Kamu ingat, kan, waktu kamu menunjukan padaku surat dari sahabat penamu di Singapura. Seorang laki-laki. “Aku iri banget sama kamu,”. Itu karena kamu punya satu-dua sahabat pena dari luar negeri. Padahal, kamu tahu, sahabat penaku hanyalah orang Indonesia. Kemudian, kamu malah dengan baik hatinya memperkenalkan diriku dengan sahabat dari Singapura-mu padaku. Kamu malah mengajariku berbahasa Inggris juga. Berkat kamulah juga, nilai bahasa Inggrisku jadi naik.

SMP
Sayang, aku dan kamu harus berpisah, sejak lulus SD. Di saat aku memilih SMP yang masih satu yayasan dengan SD kita, kamu memilih melanjutkan sekolah ke SMP lain, yang letaknya cukup jauh. Saking jauhnya, aku hanya bisa bertemu kamu di pangkalan ojek. Saat itu kamu hendak pergi ke sekolahmu. Kamu tersenyum dan melambai padaku – yang entah kenapa juga, itu membuat jantungku berdebar-debar.

Meskipun kita sudah berbeda sekolah, aku dan kamu tetap bersahabat. Kamu malah yang terlebih dahulu meneleponku. Kamu bilang di telepon, kalau kamu ingin aku datang ke rumahmu. Buat belajar bersama. Padahal kita sudah berbeda sekolah, dan kamu juga sudah punya teman-teman baru. Waktu aku menanyakanmu, kamu hanya bilang, “Rumah teman-teman SMP-ku jauh-jauh semua, sih. Apalagi nggak enak belajar sendiri, dan kamu masih sahabatku, kan? Jauh lebih enak belajar bersama, terutama sama sahabat sendiri.” Aku tersenyum mendengarnya, dan lagi-lagi jantungku berdebar-debar lagi.

Kusangka, aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dengan sahabatku sendiri. Rasa sukaku berubah. Dari suka sebagai teman, menjadi suka sebagai… Entahlah, aku tak bisa bilang itu cinta sebagai seorang kekasih. Karena dari awal kita hanya berteman, dan aku juga tak paham sama sekali urusan cinta-cintaan.  Kalau benar aku jatuh cintamu, aku juga tak tahu kenapa bisa muncul dalam hubungan pertemanan kita. Apa cinta itu datangnya tiba-tiba?

Saat kutanyakan itu pada teman SMP-ku, dia bilang, “Lu lagi jatuh cinta.” Bahkan temanku itu lalu mengajariku cara-cara mendekati seorang perempuan dan menyatakan perasaan kita padanya. Aku, dengan bodohnya, malah terbius ajakannya. Hingga satu buah surat cinta pun terlahir, karena ajarannya. Surat cinta yang siap kuberikan padamu, saat kita belajar bersama lagi.

Hanya saja, itu tak kulakukan. Sebabnya, saat kita sedang belajar bersama, kamu mendadak berceloteh padaku soal laki-laki yang kamu sukai di sekolahmu itu. Telingaku panas mendengarnya, namun sukses kututupi dengan sebuah senyuman dan kesabaran mendengarkan kamu curhat. Aku semakin panas dan malah berapi-api, saat kamu bertanya padaku tentang bagaimana mendekati seorang laki-laki. Mungkin karena memang cemburu, kujawab, “Aku nggak ngerti soal cinta-cintaan. Mendingan kamu tanya teman perempuanmu saja di sekolah.”

Kalau kamu perhatikan baik-baik, nada suaraku itu terdengar seperti nada kekecewaan. Kecewa karena gadis yang dicintai, malah mencintai orang lain. Tak jadi lah, aku menyerahkan surat-hasil-berguru-pada-teman kepadamu langsung. Surat itu hanya terus berada di kantong saku seragam SMP-ku, setelah pulang nanti, kuletakan di laci meja belajarku.

SMA
Ini fase terburuk dalam hidupku, mungkin. Walau aku bisa kembali satu sekolah denganmu lagi, tetap saja aku kecewa. Sebabnya, akhirnya statusmu telah berubah menjadi ‘in relationship’ dengan seorang lelaki, yang dulu pernah kamu ceritakan itu. Lelaki yang menjadi cinta pertamamu itu.

Rasa-rasanya percuma saja aku mati-matian ikut tes masuk sekolah di SMA ini. Mungkin ada baiknya, kalau aku melanjutkan sekolah di SMA, yang masih satu yayasan dengan SMP-ku. Bukannya malah pindah ke sekolah yang cukup jauh dari rumah hanya untuk kembali dekat dengan kamu. Waktu itu, kusangka kamu dan dia belum berpacaran. Jadi, terbersit di pikiranku, untuk bisa satu sekolah lagi denganmu. Kalau bisa satu sekolah lagi, terasa mudah untuk membuatmu terpesona denganku, sehingga bisa kuserahkan surat yang ada di laciku itu.

Tiga bulan menjadi pasukan putih abu-abu, kamu  dan dia masih sebagai teman. Namun semester kedua, entah kenapa, si brengsek itu mendadak menembakmu saat pulang sekolah. Dari areal parkir motor, aku melihat kamu diantar pulang olehnya. Mungkin saat itulah, hatimu kegirangan, akibat ditembak oleh laki-laki yang jadi cinta pertamamu itu. Karena besoknya, terdengar kabar bahwa kalian sudah jadian. Bahkan kamu sendiri yang bilang padaku lewat SMS, malamnya, kalau kamu jadian juga dengan laki-laki itu.

Kamu benar-benar tak tahu, yah, betapa sakitnya hatiku membacanya. Tapi bagaimana kamu mau tahu juga? Aku kan belum pernah menyampaikan perasaanku padamu. Surat itu juga masih ada di laciku. Surat penuh gombalan ala anak SMP, yang kurasa, itu akan menjadi suatu hal yang sia-sia saja. Buat apa kuberikan, kalau gadis yang kucintai malah mencintai orang lain?

Tapi, ya sudahlah. Mungkin persahabatan jauh lebih bermakna ketimbang cinta. Asal kamu bahagia, aku juga bahagia.

PERGURUAN TINGGI
Masa-masa mimpi burukku telah berakhir. Berakhirnya itu tepat pada saat kalian putus. Aku tak tahu apa penyebab pastinya hubungan kalian kandas. Kuduga, mungkin karena salah satu tak siap dengan kenyataan long-distance relationship. Kamu kuliah di Jakarta – sama sepertiku, dia kuliah di China. Sudah pasti kan hubungan kalian long-distance relationship. China dan Indonesia yang dipisahkan oleh lautan luas dan pepulauan itulah penyebabnya. Tapi itu hanya asumsiku saja.

Aku tak berani bertanya langsung padamu soal apa penyebabnya. Kamu juga sulit kuhubungi dan kutemui semenjak putus dengannya. Saat aku ke rumahmu, pembantumu bilang kamu tidak ada di rumah. Sebagai seorang sahabat, aku ingin sekali menghiburmu. Karena aku ingin menjadi sahabat sejati yang ada juga di saat sukar.

Namun sebagai seorang gebetan, hatiku melambung-lambung ke udara. Akhirnya surat di laciku itu bisa juga tersampaikan padamu. Satu bulan, dua bulan, hingga empat bulan telah menjadi mahasiswa, aku memberanikan diri menyampaikan surat itu padamu.  Tanpa perlu peramal, aku sudah tahu hasilnya. Kamu menolaknya, dengan alasan kamu hanya menganggapku sahabat.

I’m broken-heart. Dan cinta sudah membuatku gelap mata. Secara sepihak, aku memutuskan tali persahabatan yang telah kita jalin semenjak SD. Jangankan ngobrol denganmu, bersua denganmu pun, aku buang muka.

Tapi setelah lewat satu semester, aku tersadar. Rasanya, aku jadi seorang yang egois. Itu ibarat seorang kurir pos yang meminta uang tip langsung pada penerimanya, padahal jelas-jelas dia sudah dibayar perusahaannya. Karena itulah, akupun kembali lagi menyapamu, walau sedikit canggung.

Bagiku persahabatan jauh lebih bermakna. Lagipula, kalau Tuhan berkenan, Ia pasti bisa mengubah hubungan pertemanan ini menjadi hubungan percintaan. Kalau tidak, aku yakin Tuhan pasti sedang menyiapkan jodoh lain, selain Stefany Nirmala, sahabatku dari SD itu.

Di diary ini, kutuliskanlah kisah cinta tak terbalasku ini. Tak ada penyesalan, aku hanya bisa menjadi sahabatmu. Tak ada dendam, karena kamu pernah menolakku. Setidaknya, aku bangga bisa merasakan apa itu cinta, baik itu sukanya, maupun dukanya. Bukankah sahabat jauh lebih bermakna daripada cinta?


Tangerang, 12 Mei 2008

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^