Friday, January 29, 2016

ANOTHER FICTION: 16 Tahun, 2 Dekade



Kelanjutan dari sini


Artwork by: Melisa Yulia Kristin





Genre: Romance


Aku setengah terperanjat. Terperanjat dalam hening. Mataku terbelalak pada seseorang yang tidur di sampingku. Gadis ini. Si gadis berlesung pipit dengan kibaran rambut panjangnya yang menawan. Aku tak menyangka. Sejak kapan? 

Rasa-rasanya aku tak percaya akan terjadi seperti ini. Aku memang mencintai gadis ini dengan sepenuh hatiku. Hanya gadis ini yang sangat kusayangi. Namun aku tak akan seperti ini juga--yang mengambil apa yang sangat berharga untuk dia. Harta berharganya telah kurenggut dalam permainan satu malam. 

Berkali-kali aku meneguk air liur. Gadis ini luar biasa. Yah, luar biasa cantiknya, luar biasa sempurna tubuhnya. Sudah sejak lama aku memantau perkembangannya. Waktu dia masih merayakan perayaan sweet seventeen, dia memang tak sama dengan gadis-gadis seusianya kebanyakan. Aku rasa dia mengalami sindrom gigantisme. Itu sebuah sindrom di mana seseorang tumbuh lebih cepat secara fisik dari kebanyakan orang-orang sebaya. Lihat saja, tubuhnya sangat sempurna layaknya sudah seperempat abad menjalani hidup. Padahal usianya akan beranjak 21 tahun pada Juni nanti. 

Kugerakkan tanganku menuju rambut panjang itu. Kubelai-belai rambutnya. Sebetulnya sejak dia terlahir ke dunia ini, aku beberapa kali membelainya. Walaupun beberapa saat kemudian, setahun setelahnya tepatnya, aku harus meninggalkan dia. Aku harus berangkat ke sebuah negeri demi sebuah gelar. Sepuluh tahun kutinggalkan, yang saat balik ke Indonesia, tahu-tahu dia sudah akil balig saja. Sekarang ini,  membelainya saat dia berusia 20 tahun, rasanya sangat luar biasa. Apalagi setelah permainan satu malam tersebut. 

Aku terus menerus menggeleng-gelengkan kepala. Kali ini senyuman kuterbitkan. Ah, sungguh wajahnya seperti wajah seorang bidadari. Begitu cantiknya. Rasa-rasanya aku tak akan pernah bosan memandangi wajahnya. Dia sungguh cantik sekali. Perempuan mana yang secantik dirinya? Kupikir tidak ada. Hanya dia yang paling indah. 

Dari rambut turun ke kedua pipinya yang agak tembam. Lalu kuremas sedikit hidung mancungnya. Aku sangat sayang sekali sama kamu. Aku hanya ingin kamu. Aku menghela napas lumayan panjang. Pelan-pelan wajahku kudekatkan ke wajahnya dengan dagu agak menirus itu. Jantungku berdebar-debar. Mungkin inilah saatnya. Yah inilah saatnya bibir mungil itu kukecup sangat mesra. Hanya tinggal sejengkal jaraknya. Rasanya aku tak sabar untuk mengambil ciuman pertamanya. 

Tapi tunggu... barusan aku melakukan itu dengannya, kan? Pasti bermula dari sebuah kecupan. Tidak mungkin tidak. Ciuman pertama itu sudah kuambil--aku menengok jam dinding yang ada di kamar--sekitar dua-tiga jam lalu. Pasti seperti itu. Tidak salah lagi. 

Biarlah. Mungkin saat itu aku tak sadar. Jujur saja aku sendiri kaget. Bangun-bangun dirinya sudah terlelap di sampingku dengan manis sekali. Kira-kira kejadian awalnya seperti apa? Aku sungguh penasaran. Sebab aku ingat bagaimana dia begitu acuh tak acuh dengan perasaanku. Aku masih ingat kejadian tersebut. Di dalam mobilku, sehabis menjemputnya dari kampusnya. 
"Om," kata Felicia menelengkan wajah sembari tersenyum padaku. Yah namanya Felicia. Lengkapnya Felicia Lovinia Junardo. "terimakasih yah, sudah mau menjemput aku. Om Juan baik banget, deh, sama aku." 

"Enggak apa-apa, kok, Fel. Om senang bisa jemput kamu. Lagian, Papi kamu, kan, juga abang dari sahabat Om. Kita kenal juga sudah lama. Enggak enak kalau anaknya malah enggak dibantu, sementara Om sudah cukup sering terima bantuan dari Papi kamu itu." jawabku panjang lebar, pun balas tersenyum.

Felicia terkikik. Lalu ia kembali sibuk mengutak-atik ponsel cerdasnya, yang setelah sekian menit kembali berujar, "Om," 

"Yah," ujarku balik. Lagi-lagi membalas pula senyumannya itu.

"Aku boleh tanya sesuatu sama Om, enggak?"

"Tanya apa?"

Tampak Felicia ragu.

"Eeee..."

"Udah, diomongin aja, Om enggak bakal marah kok," Kata-kata berikutnya bikin dadaku ngilu. Bagaimanapun aku masih berharap lebih. "Kamu itu sudah Om anggap seperti anak Om sendiri. Yah walau Om kan masih belum menikah." Aku tertawa getir yang paling lebar.

Felicia kembali bergumam. "Justru itu... justru itu yang mau kutanya..."

"Memangnya mau tanya apa?"

"Kan Om belum menikah-menikah dari aku masih SD hingga sekarang. Aku juga belum melihat Om lagi dekat sama perempuan manapun."

Kami saling bersitatap--yang kuingat saat mengingat peristiwa itu.

"Eh, usia Om berapa sih? Tiga puluh sembilan kan?" 

"Om belum setua itu juga kok, Fel,"

"Terus, usianya berapa?" 

Aku bergumam, memutar bola mata. "Tiga tahun lebih rendah dari dugaan kamu itu."

"Maksudnya, tiga puluh enam?"

Aku mengangguk.

Felicia terkekeh. "Aku baru tahu, ternyata beda usia kita enam belas tahun. Kukira, antara aku sama Om itu berbeda usia dua puluh tahun. Ternyata cuma enam belas tahun."

Aku balas terkekeh. "Iya, cuma enam belas tahun,--" 

"--memangnya Om enggak berniat untuk menikah apa? Kan Om juga lumayan ganteng, cerdas pula, yah walau perut Om sedikit buncit." Felicia mencubit-cubiti perutku yang sebetulnya sudah lumayan agak mengecil. Aku pura-pura meringis. Begitulah kejadiannya yang selalu kuingat persis. Saat-saat di mana aku dan gadis bernama Felicia terlibat dalam obrolan intens yang cukup lama. Jarang sekali aku bisa bercakap-cakap dalam rentang waktu lumayan lama dengannya.

"Sakit, Fel!" raungku pelan. 

Felicia malah nyengir lebar. "Om ini masih normal kan?"

Aku tergelak. "Ya iyalah, Fel. Om ini masih normal, masih suka perempuan kok."

"Terus kenapa belum menikah juga? Bahkan sekarang pun, aku belum pernah melihat Om Juan tengah dekat dengan perempuan manapun."

"Hmm, kenapa yah?" tanyaku balik, nyengir.

"Memangnya kriteria perempuan yang Om suka itu seperti apa?"

Saat itu aku bingung untuk menjawabnya. Takut pula dengan reaksinya saat kuutarakan perasaanku. Bisakah ia menerima cinta yang abnormal seperti ini. Aku takut dia akan perlahan menjauh. 

"...yang kayak kamu, Fel..." Kata-kata itu deras begitu saja keluar dari otakku.

Felica terbahak. Aku pun sama. Pula suara-suara di radio.

"Om bercanda kan? Enggak serius? Om enggak betulan naksir sama aku kan?" Felicia berusaha mengonfirmasi tiga kataku barusan. "Aku sih berharap Om cuma bercanda. Soalnya aku itu sudah menganggap Om seperti Om-Om aku lainnya dalam silsilah keluarga. Om itu sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga besar aku." 

Aku tercekat. Saat itu aku sangat kecewa. Aku takut dirinya akan membenci dan meninggalkannya, dan aku harus melupakan Felicia. Saat itu pula, seharusnya aku menyadari bahwa tak mungkin Felicia akan memilih pria yang beda usia enam belas tahun darinya. Seyogyanya aku sadar diri. Namun terkadang mulut tak sinkron dengan hati.

"Iya, Om juga serius," Aku memasang tampang serius yang aku bisa. "Om betulan suka sama kamu. Malah Om sudah suka sejak kamu masih bayi. Om sendiri juga enggak tahu kenapa bisa punya perasaan cinta yang seperti ini." 

Felicia jadi melongo. Obrolan kami jadi terhenti. Kami diam-diaman dalam waktu cukup lama. Yah setidaknya sampai aku berhasil mengantarkannya sampai rumahnya dengan selamat. Ia pun berkata lagi sembari tersenyum yang sangat manis sekali, "Om, makasih yah,"

Saat itu aku bingung dirinya berterimakasih untuk apa. Namun senyuman lebarnya yang selalu terlihat manis itu membuatku lupa dengan kebingungan itu. Waktu itu ingin rasanya aku segera memeluk dan mencium bibirnya sekadar untuk membuktikan keseriusan cintaku padanya. Tapi aku tak berani. Aku tahu aku memang pengecut. Padahal kesempatan emas berada di depan mata, malah kubuang begitu saja. 

Kini aku tak mau membuang kesempatan itu. Kudekatkan sekali wajahku dengan wajahnya. Kurapatkan bibirku dan bibirnya. Manis sekali rasa kecupan itu. Aku harus selalu mengingat rasa bibirnya yang mungil itu.  

"Om,"

Aku meneguk air liur lagi. Aku seperti seorang maling yang tengah kepergok. Walau aku sendiri tak tahu bagaimana bermulanya kejadiannya. Sumpah, aku tak ingat sama sekali. Tahu-tahu aku sudah berada di kamar tidurku dan dirinya terbaring nyenyak di sampingku. 

Tergesa-gesa aku segera mengambil jarak. Aku pasi sambil merapatkan punggungku ke kepala tempat tidur. Aku menenggak air liur beberapa kali lagi. Jantungku terus berdentum. Semoga Felicia tak marah. Aku sendiri bingung harus berkata seperti apa. Sebab aku sama sekali tak ingat bagaimana bermulanya kejadian itu persisnya. 

Felicia menatap wajah bingungku agak lama. Ia lalu melihat sekujur tubuhnya. Dibukanya selimut yang menutupi tubuhnya. Ah, sungguh sempurna tubuhnya. Apa tadi aku sempat meremas buah dada itu? Aku rasanya sepertinya iya. Pasti secara naluriah aku meremasnya dalam permainan satu malam tadi. 

Kembali Felicia menatapku. Kedua matanya dipicingkan. Dari bibirnya, tampak dirinya begitu kalut dan mungkin kecewa padaku. Kata-kata itu lalu keluar begitu saja: "Om, tadi ngapain aku?"

Aku gelagapan, berkali-kali menggelengkan kepala. "O-o-o-om ng-ng-nggak tahu juga, Fel. Tahu-tahu pas bangun Om udah melihat kamu ada di samping Om, lagi tidur tanpa mengenakan pakaian."

Ah, sekarang aku ingat kejadiannya. Felicia semenjak aku menjemputnya seperti biasa, memintaku untuk membawanya ke rumahku, ke kamarku. Katanya, ia ingin meminjam beberapa buku untuk kepentingan tugas kuliahnya. Ya sudah, sudah sejak lama, aku sulit sekali mengabaikannya. Kubawa dia ke rumah dan kamarku. Saat itu hanya kami berdua di dalamnya. Lama sekali dirinya mengutak-atik rak bukuku, hingga aku dan dia sudah berada di atas tempat tidur. Awalnya berbincang-bincang saja sampai--yah aku ingat, kami saling mengecup dan terjadilah permainan satu malam itu.

*****

Tiga bulan kemudian,

Tak kusangka harus seperti ini jadinya. Gila. Aku memang mencintai Felicia. Namun aku tak ingin menikahinya dengan cara seperti ini. Cara ini selalu kotor menurutku, bahkan sejak aku masih seorang remaja berseragam putih-biru. Aku ingin melakukannya dengan cara benar. Berusaha mengambil hati Felicia, sehingga dirinya jadi mencintaiku balik.

Mencintai balik? Aku nyengir dalam menanggapi pikiranku barusan. Bukankah setelah mengantarnya ke rumah, beberapa hari kemudian, atau tepatnya dua bulan setelahnya, Felicia sendiri yang mengatakan padaku bahwa dirinya menyukaiku? Aku ingat saat dia bilang padaku bahwa dirinya sangat merasa nyaman dan terlindungi saat berada di dekatku. Felicia juga bilang, wajahku lumayan tampan dan itu membuat hidungku kembang kempis. 

Setelah itu, setelah aku menjemputnya dari kampus pastinya, Felicia dan aku semakin sering terlibat obrolan intens. Awalnya gara-gara kata-katanya: 'Aku sih berharap Om cuma bercanda. Soalnya aku itu sudah menganggap Om seperti Om-Om aku lainnya dalam silsilah keluarga. Om itu sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga besar aku' waktu itu, aku takut dia jadi membenciku. Nyatanya dugaan awalku salah. Felicia sendiri yang bilang bahwa dirinya saat itu hanya sedang menjahiliku semata. Dirinya sudah tahu bahwa aku ternyata memendam rasa padanya. Katanya, 'Aku sering lihat Om mandangin aku lama banget. Dan pandangan itu bikin aku gelisah dan entah kenapa jantungku berdebar-debar'. Hanya saja karena perbedaan usia kami yang enam belas tahun itulah yang membuatnya enggan untuk blak-blakan bertanya soal perasaanku padanya. Saat itu dia 17, aku 33. Makanya Felicia hanya memilih untuk terus memantau perkembangannya sama seperti aku dulu memantau perkembangannya. Dirinya ingin tahu secara pasti bagaimana perasaanku padanya sebelum dia sendiri yang bilang 'I love you'. Dia ingin mengujiku lewat serangkaian tes yang aku sama sekali tak tahu bahwa sebetulnya itu tes. 

Kini gadis yang sewaktu dirinya masih orok itu sudah membuatku merasa berdosa sekali, menggenggam erat tanganku. Masa bodoh apa kata orang. Karena bagiku, yang penting aku dan Felicia saling mencintai, yang sekarang bersiap menerima peneguhan dari sang gembala Tuhan. Itulah yang terutama, aku dan Felicia bisa bersatu, hidup bersama, dan tak akan pernah terpisahkan.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^