Saturday, December 12, 2015

KILAS BALIK dan RESOLUSI



Tahun istimewa nan berat nan menyusahkan nan bikin frustrasi.
Tak terasa sudah Desember juga. Iya tahu, basi. Postingan awal bulan juga begitu dibilangnya. Sudah begitu si empunya juga ingkar. Mana GA-nya? Pasti begitu anggapan sebagian pembaca IMMANUEL'S NOTES.

Sebetulnya juga terlalu cepat untuk bikin satu postingan khusus yang membahas soal resolusi dan kilas balik. Biasanya aku baru bikin postingan semacam ini jelang akhir tahun juga. Namun karena ini tahun istimewa, tak ada salahnya.

Di tahun 2015, banyak kejutan terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak, malah. Walau aktivitas seorang Nuel masih tak jauh berbeda dari sebelumnya-sebelumnya. Masih menulis, menulis, dan menulis--hingga rasa bosan mencekik leher.

Mulai dari Februari silam, aku terpanggil untuk menyentuh kamera lagi. Benar-benar kamera, maksudnya. Bukan kamera ponsel dengan sensor nan buruk. Aih, rasanya sudah lama sekali tak membidik dan menekan tombol shutter. Dulu sekali, saat masih seorang bocah SD nan menggemaskan, aku sangat suka memotret dengan kamera saku. Mereknya bukan Cannon seperti sekarang; namun Akica. Pun untuk bisa memotret, perlu beli rol film dulu. Tak bisa diatur zoom in dan zoom out-nya. Tak bisa dikeker layaknya teropong. Beda dengan kamera SLR yang kupegang sekarang, yang sampai sekarang pun masih belajar; aku belum mahir. Sama seperti menulis, selama ada kamera SLR di tangan, aku merasa hidup. Bagiku, di tahun 2015 ini, laptop dan SLR sudah seperti bagian dari jiwaku. Tak bisa terlepas. Sudah satu kesatuan.

Selain soal SLR, Maret lalu, aku baru selesaikan satu naskah novel. Pun November kemarin pun sama. Total ada dua naskah novel selesai kutelurkan, yang lagi mencari jodohnya. Semoga saja dua naskah ini--pada tahun depan--berhasil dipinang oleh penerbit major. Jujur, aku lelah terus bermain di ranah indie. Bukan bermaksud meremehkan, namun jadi penulis indie itu--di Indonesia--seperti tak dianggap. Aku ingin sekali saat ada yang bertanya, "Oh kamu penulis? Terus karya-karyamu sudah diterbitkan di mana saja?", kujawab dengan mantap, "Ada tuh di media X. Novelku juga ada di toko buku Y." Sederhana, walau hingga sekarang pun hanya seperti angan-anggan.

Jadi penulis indie itu tak enak. Sebab harus mau kerja tiga kali lebih keras dari penulis yang bukunya banyak beredar di toko buku, yang tiap calon pembacanya bisa tinggal masuk ke toko buku, baca-baca, kalau tertarik, yah bawa pulang. Kalau buku indie, tidak. Harus pintar-pintar promo, pintar-pintar memperkenalkan isi buku sendiri. Buku indie hanya bisa dilihat wujud cetaknya kalau ada pemesanan dulu. Sisanya, kita tak bisa seenaknya menghakimi seenaknya jika si author-nya tak menceritakan isinya. Atau kita harus beli jika rasa penasaran terus mencekik leher. Ah, semoga saja aku sudah bisa naik kelas: jadi seorang penulis di bawah satu penerbit major, yang tiap enam bulan sekali terima 'gaji'. Amin.

Di tahun ini juga, impian jaman SMA terkabul pula. Dulu aku begitu berhasrat menjadi scriptwriter. Penulis skenario, maksudku. Aku menceburkan diri di blogsphere ini ada tujuannya. Yah biar semakin mendekatkan diri ke dunia kepenulisan skenario. Targetku begini: bloger >> cerpenis (apesnya belum ada satu pun media yang mau menerima) >> novelis (masih menunggu yang itu terbit di toko buku) >> jurnalis >> scriptwriter. September kemarin, setelah sebulan sebelumnya berguru pada Feby, aku ditelepon satu production house yang mantap gila. Sumpah, sehari sebelumnya, aku tak bisa tidur. Jelang menuju kantornya yang dekat Senayan City, aku deg-degan. Yang aku mau temui itu produser pelaksananya, yang ternyata orangnya ramah sekali. Dia banyak kasih aku beragam saran yang luar biasa bermanfaat. Akhirnya, satu sinopsis berhasil tersulapkan menjadi sebuah FTV, yang kalau tak ada aral, berjudul "Cantik-Cantik Supir Angkot". Gara-gara sinopsis itu diproduksi jadi FTV, kontrak dapat dan mulai tahun depan aku resmi berprofesi sebagai penulis ide cerita FTV.

Bulan Maret lalu, maaf buat para pembaca yang kangen tulisan-tulisanku yang seperti ini lagi. Dari Maret hingga Mei, aku terlalu aktif menulis cerpen di IMMANUEL'S NOTES. Iya, aku tahu, tak sedikit yang kurang menyukai cerpen-cerpen buatanku. Bisa terlihat, kok, dari trafiknya. Walau sepertinya kemampuan bikin cerpen aku sudah mengalami peningkatan. Mulai banyak dapat komentar-komentar pujian. Hingga di tahun ini pula, aku sepertinya mulai lihai bikin cerita dengan berlandaskan pada gambar ilustrasi seseorang. Sudah empat orang yang gambar ilustrasi buatannya kubikinkan cerpen: Felix, Melisa, TK, dan Mbak Gustyanita. Eh, kalau ada yang mau gambar ilustrasinya kubikinkan cerpen, hubungi aku saja di: immanuel.lubis@gmail.com yah. Gratis, tak dipungut bayaran.

Hmm, apa lagi yah? Oh, di tahun ini juga, aku kehilangan seseorang yang sangat kucintai, Mendiang Mami (yang 2-3 tahun terakhir selalu bertengkar dengannya). Plus, akhirnya aku jadi seorang Tulang juga dengan kehadiran seorang Alena. Di tahun ini pula, aku memiliki masalah dengan beberapa orang, lagi dan lagi. Yang, maaf, rasanya tak etis jika diumbar di sini. Yang jelas aku dengan beberapa orang itu masih menunggu jalan penyelesaian terbaiknya. Ah, lagi-lagi harus menunggu. Kalian tahu, menunggu itu jadi sesuatu yang sangat menyebalkan untuk aku pribadi.

Di tahun ini pula, kembali aku merasakan jadi tukang jualan online. Aku bantu-bantu teman bloger yang lagi berjualan pempek. Sayang, sepertinya aku kurang berbakat jadi pedagang. Cocoknya jadi penggoda daun muda. Ha-ha-ha. Bercanda yang terakhir, jangan dianggap serius.

Pun, akhirnya mimpi lainnya tercapai. IMMANUEL'S NOTES ber-dot com pula. Alhasil, tahun ini aku mengelola dua blog ber-dot com.  Semoga domain ini bisa semakin mendekatkan si empunya ke banyak rejeki.

Oh, bicara soal resolusi, sepertinya sudah teergenapi beberapa. Kemampuan berbahasa Jepang sudah lumayan peningkatan, walau masih kesulitan baca hiragana, katakana, dan kanji. Akhirnya terjun juga di dunia kepenulisan skenario secara langsung dan aktif. Walau ada beberapa resolusi yang belum bisa terwujud, yang sepertinya aku sadar, itu mimpi dan bukan resolusi. Masih menunggu supaya bisa bikin satu biografi dari kehidupan pribadi seseorang (Eh sebentar naskah terakhir juga 75% terinspirasi dari pengalaman beberapa orang terdekat. Jadi, tak sekadar fiksi). Masih menunggu pula si 'itu' muncul, dan bisa kupromosikan dengan sangat berapi-api. Lalu, kurasakan pula menjadi seorang pembicara di acara diskusi buku atau booksigning. Meskipun, yah aku tahu aku masih memiliki kelemahan berbicara secara lisan.

Buat resolusi di tahun 2016 mendatang, aku ingin buru-buru menyelesaikan mandat dari PH itu, yaitu 52 ide cerita FTV. Terus ingin lebih mengasah lagi kemampuan bahasa Jepang aku. Terus semoga kesampaian keinginan mau kopi darat dengan beberapa kenalan di dunia maya. Semoga bisa segera aktif mempromosikan si 'itu' ke mana-mana. Ingin bisa pula foto-foto jepretanku dikenal tak hanya di segala akun media sosial aku--juga blog. Pengin coba ikut kontes fotografi lagi. Semoga pula sudah bisa pula menggandeng seseorang yang bersedia kisah hidupnya kujadikan biografi. Berharap pula cerpen-cerpenku bisa majang di banyak media.

Oh, satu lagi. Tiba-tiba aku terobsesi menjadi penulis lagu. Berhubung aku tuli nada, tak bisa baca solmisasi, aku pengin menggandeng seorang arranger. Dia yang bikin solmisasi-nya, aku yang bikin liriknya.

Tapi ada satu resolusi yang mau kuwujudkan langsung, yaitu kembali memperbanyak postingan-postingan berbahasa Inggris. Jadi, dimulai dari sekarang, mungkin aku bakal aktif kembali menulis dengan bahasa Inggris yah.

At last, aku jadi tak sabar menunggu 2016. Entah kejutan apa lagi yang menungguku di depan. Tahun ini saja sudah penuh dengan kejutan, baik yang positif maupun negatif.

Stay tune on IMMANUEL'S NOTES!

7 comments:

  1. Wah selamat ya buat buku-buku yang baru aja kelar. Semoga bisa cepet keterima di penerbit. Banyak juga kok penulis yang nggak langsung di terbitin naskahnya. Fighting! :)

    ReplyDelete
  2. Thank for both of the compliments and wishes. Amen!

    ReplyDelete
  3. "Cantik-Cantik Supir Angkot" itu bikinanmu?
    aku pernah lihat loh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius? Tayang kapan? Kok aku ga dikasi tau ya? •_•

      Delete
    2. Belum. Masih harus ngurus beberapa hal lagi.

      Delete
  4. Buset, 52 ide cerita untuk ftv? Baru tahu kalau kamu juga nulis skrip untuk ftv. Mudah2an ftv tambah bagus (ga punya tv, jadi ga tahu acara tv sekarang bagaimana)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^