Monday, December 28, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Tembok Pemisah Jodoh

Genre: Romance


Dokumentasi pribadi.


Gloria
Bintang ini sangat bersinar. Wajar saja, lampu Natal kunyalakan. Hei, kamu yang aku tidak tahu ada di mana, kamu masih ingat kan, iya--masih ingat kan, celotehanku waktu itu. Maksudku, Natal sebelum kelulusan SMA. Aku tanpa tedeng aling-aling berujar panjang lebar padamu. Yah soal khayalanku yang kamu bilang khayalan tingkat dewa. Aku bilang padamu, melihat bintang di puncak pohon Natal ini saja, sekonyong-konyong terbit angan ingin melihat bintang jatuh, lalu mengucapkan satu permohonan khusus. Lalu kamu tertawa penuh bahak. Aku senewen setengah mampus.
Melihat aku menekuk bibir, kamu malah makin lebar tawamu. Tambah menyebalkan lagi, seenaknya kamu berucap, "Glo, Glo,... Ada-ada saja kamu ini.--" Kamu jawir lesung pipitku. "--Kamu tahu kan, bintang jatuh itu tidak ada. Ingat kan pelajaran Fisika jaman SMP dulu? Bintang jatuh itu sebetulnya suatu pemandangan komet yang melintas di angkasa luar. Dan, kalau kamu memohonkan sesuatu, datanglah ke Tuhan. Jangan datang ke hal-hal lain."

Kamu nyengir, aku makin senewen. Dasar! Kamu selalu saja begitu. Dasar kamu perusak khayalan! Memang kamu tidak punya mimpikah? Aku berkata seperti itu, kamu jawab dengan enteng, "Punya. Tiap tidur, aku bermimpi."

"Maksudku bukan itu, Noel!!!!" ralatku nyalang. "Maksudku itu mimpi, angan-angan, sesuatu yang ingin kamu capai. Ada kan? Jangan bilang kamu nggak punya. Bohong banget kalau kamu bilang kayak begitu. Aku nggak akan percaya."

"Ada dong,--" Kamu nyengir. "--Gloria-ku yang cantik. Tapi aku nggak kayak kamu, yang seorang tukang mimpi. Tolong bedakan antara mimpi--atau angan-angan--dengan sekadar khayalan belaka. Lagian kamu itu kan juga sudah SMA, kelas 12, sebentar lagi mau lulus, jadi berhenti, deh, mengkhayal yang bukan-bukan."

Aku cemberut. Mataku nyalang yang paling nyalang. Lalu itu semua berubah menjadi sebuah air mata. Bukan air mata sebetulnya. Mungkin tepatnya setitik demi titik air mata. Aku sesenggukan. Dari nyalang jadi nanar. Mungkin mataku jadi seempuk pipiku ini yang suka kamu cubiti sekenanya. Kutatap lagi bintang itu, lalu turun ke salib perak yang di tengahnya ada stiker Tuhan Yesus. Yah aku tahu, kamu benar. Minta sesuatu itu ke Tuhan, bukan ke sebuah bintang yang pula termasuk ciptaan-Nya.

"Ya Tuhan, Noel bagaimana kabarnya yah? Sudah empat tahun tidak ada kabar darinya. Aku sebentar lagi mau lulus, Tuhan. Tapi kenapa Noel belum menghubung-hubungiku juga. Sejak pesta wisuda SMA itu, dia seenaknya berkata padaku, 'Nanti dua bulan setelah aku tiba di Rotterdam, aku pasti e-mail kamu.' Mana buktinya? Sedikit pun kamu tak ada menghubungiku. Social media kamu bagaikan kuburan. Nomor telepon-mu ganti. Sebetulnya Noel ada di mana, Tuhan? Kenapa tak sekali pun dia pulang ke Indonesia? Sudah lupakah dia dengan janji-janjinya padaku yang manis sekali, semanis permen kapas?"

Kudongakkan kepala, mata terpejam, perlahan kepala tertunduk. Dalam hati aku meraung, berengsek!

Lalu aku tertawa. Untung hanya ada aku sendiri dalam rumah. Papa-Mama pergi ke arisan keluarga. Kak Samantha jalan dengan pacarnya merayakan Natal di sebuah gereja untuk kali kesekian. Aku bebas berbuat apa saja di rumah.

Hei, namamu Noel kan? Aku pernah baca di sebuah situs, arti namamu itu 'raja agung'. 'Raja'-nya betul. 'Agung'-nya tidak. Sebab, bagiku, kamu itu raja yang seenaknya saja. Sekali lagi, aku meraung dalam hati, berengsek!

Lelaki ini selalu seperti itu. Hobi sekali mengangkatku setinggi-tingginya, lalu membantingku ke Bumi dengan sakit sekali. Gemar sekali dirinya membangun tembok sehingga aku sulit menjangkau isi hatinya yang paling dalam. Seperti sekarang ini, ia membangun tembok bernama 'Belanda' demi mimpinya menjadi seorang ahli hukum kenamaan. Bagaimana kami berdua bisa saling memahami dengan benar jika dirinya pergi ke Negeri Kincir Angin tanpa sebersit pun memberikan kabar padaku.

Entah sadar, entah tengah mengkhayal (yang ingin aku ledeki), kamu pernah berseloroh, "Glo, kalau lihat wajah kamu ini, aku sering merasa kita ini berjodoh, sepasang belahan jiwa,"
 

Noel
Seharusnya aku senang bisa pulang lagi ke tanah air. Bukannya malah kedinginan (padahal seharusnya aku sudah terbiasa dengan udara dingin; suhu Rotterdam saat musim dingin jauh lebih dingin dari suhu pesawat), sekaligus garuk-garuk daun telinga. Aduh, bersin melulu. Pasti tengah ada yang sedang asyik menggosipkanku. Pasti Marie. Cewek keriting itu kan sudah dikenal sebagai biang gosip di kampus.

Mataku terpejam. Kupijat-pijat pelupuk mata. Sekarang aku malah mengantuk. Sepertinya penghuni alam semesta tak suka aku pulang kampung. Aku buang napas, mata nyalang, dan baru aku sadari sesuatu bahwa kata-kataku barusan mirip dengan seseorang. Siapa yah?

Pandanganku teralih ke jendela pesawat. Birunya langit sangat luar biasa, walau aku lebih suka warna hijau. Ah, bukankah biru itu warna kesayangan dia? Iya, orang itu, perempuan itu, si Bawel, si Tukang Khayal, si Kepala Batu, Si Ceroboh, dan beragam julukan yang kusematkan padanya. Jangan salahkan aku. Sebab kelakuan perempuan itu sungguh absurd. Aku tak pernah mengerti apa isi kepalanya.

Kepalaku berjengit berkali-kali. Aku berdecak-decak pula. Hanya demi mengingat-ingat nama Si Tukang Bawel, perempuanku yang paling cantik sedunia dengan senyuman menawan dan lesung pipit serta kerlingan mata menawan.

Ha-ha-ha. Perempuanku? Lucu. Tapi tidak lucu juga sebetulnya. Kuakui, aku memang belum pernah bilang diriku mengatakan mencintainya. Apa istilahnya? Ah iya, nembak. Aku hanya suka berada di dekatnya, menggodanya, mencubit pipi dan hidungnya, memainkan ujung-ujung rambutnya, serta selalu menyemangatinya. Kalau dia sih, dia pernah kepergok tengah mencurahkan isi hati pada sahabatnya yang juga sahabat aku. Pada Merry, dia bilang dirinya menyukaiku. Seharusnya aku bilang saja aku juga memiliki perasaan yang sama.

Iya, aku tahu aku bodoh. Mengapa susah sekali mengatakan kata itu? Aku boleh memiliki otak brilian dan wawasan yang seluas Samudera Pasifik. Namun soal kata itu, aku bak seorang amatiran. Aku payah!
 
Padahal, terkadang tiap menatap wajahnya, aku selalu merasa diriku dan dirinya berjodoh. Belum lagi kesamaan tanggal lahir, bulan, dan tahun. Kami sama-sama lahir saat Valentine 1994. Saat di mana masing-masing pasangan saling memberikan pujian mesra. Oh iya, aku baru ingat, namanya itu Gloria kan? Gloria dari kata 'glory' yang artinya kemuliaan. Sama seperti hari Valentine itu, yang mana tiap pasangan memuliakan calon pasangan hidupnya dengan semulia mungkin.

Hei, Gloria! Apa kabar kamu? Maaf aku belum bisa menghubungi kamu. Di Rotterdam, aku punya banyak masalah yang bikin aku nyaris gila. Aku bahkan sempat luntang-lantung jadi pengamen. Sekali lagi, aku minta maaf sekali atas segala perlakuan tak enakku padamu. Jujur, sudah lama sekali, aku ingin mengutarakan ini: aku sayang sekali sama kamu!


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^