Friday, November 20, 2015

Kisah Sebuah Pernikahan yang Ternyata Memang Sangat Rumit



"Cinta itu ibarat buah-buahan yang menggelantung di dedahanan. Bila kau hanya memandanginya tanpa ada gerakan mau mengambilnya, buah itu akan tetap di situ, seolah mengacuhkanmu. Tapi bila ada gerakan, mungkin ia akan jatuh. Siapa cepat, dia dapat." Nuel Lubis, pada 21 Januari 2010. 












Yak, mari kita mundur ke dua tahun sebelumnya. Tak usah heran, si empunya blog memang seperti itu, kok. Dia ini punya kebiasaan suka berintrospeksi sebelum tidur. Sebelum jatuh ke Pulau Kapuk, dia selalu menyempatkan diri untuk melakukan introspeksi diri. Hmm, kayak memikirkan hal-hal apa saja yang sudah dia alami selama satu hari. Kadang hal sepele pun jadi bahan introspeksi dia. Contoh (yang ngibul; terserah mau percaya atau tidak): kutil di pantat udah segede apa? 

Kalau diingat lagi, tahun 2013 itu--menurutku--merupakan tahun pernikahan. Oh bukan, bukan karena banyaknya undangan pernikahan yang aku dapatkan. Melainkan  karena betapa repotnya mengurus satu pernikahan. Orang rumah sibuk mengurus persiapan nikahnya kakak nomor pertama yang jatuh pada tanggal 5 November. Yang itu semua berlangsung dari bulan Februari hingga November. 

Sebetulnya, yang aku lihat selama ini, pernikahan itu cukup sederhana. Tinggal ajak si calon mempelai ke suatu tempat romantis, sodori cincin, datangi rumahnya, lalu nikah, sudah beres. Sederhana. 

Namun prakteknya, tidak sama sekali. Terlebih di Indonesia. Di Indonesia, menikah jadi tambah ribet karena banyak hal. Seperti mempertimbangkan agamanya, sukunya, pekerjaannya, gajinya, dll, dsb. Belum lagi kalau keduanya saling sepakat, pun dengan keluarganya, bagian inilah yang paling ribet. Yak, itu adalah bagian mempersiapkan pernikahan. 

Aku ini orang Batak. Lumayan tulen. Mendiang Mami itu Batak yang bermarga Siagian. Papi juga Batak (Ya iyalah, marganya Lubis!). Sayang aku ini Batak tak tahu diri. Aku sama sekali tak bisa bahasa Batak. Sebetulnya bisa sih sedikit-sedikit bahasa Batak. Itu juga untuk yang gampang-gampang. Pun kalau ada orang yang lagi ngomong Batak, aku suka menguping dan cukup paham apa yang sedang dibicarakan. Tapi jangan diajak ngomong Batak yah. Sumpah, serius, yang ada kalian bakal kecewa. Hahaha. 

Well, karena aku ini orang Batak, pernikahan yang kulihat itu juga pernikahan secara adat Batak. Kakakku--setelah cukup lama menanti untuk bisa menikah (Bayangkan, sudah kepala 3 masih belum menikah!)--akhirnya ketemu juga jodohnya. Itu juga karena dikenalkan oleh Uda (baca: paman dalam garis keturunan Papi). Lalu Februari-nya, si calon suami (demi kerahasiaan--plus sesuai dengan kode etik IMMANUEL'S NOTES yang selalu merahasiakan persoalan dan identitas keluarga--kita sebut saja dia Drew) itu datang ke rumah. Sendiri saja. Yah sekadar untuk mengenal keluarga calon istrinya, sekaligus memperbincangkan seputar teknis pernikahan secara Batak. Berikutnya, kalau tak salah ingat, kurang lebih dua minggu kemudian, dia datang lagi bersama keluarganya, pun keluarga besar Papi. Selama acara berlangsung, sumpah membosankan. Aku kira juga sudah selesai dan berlanjut ke martumpol (baca: pertunangan) dan pernikahannya. Tapi ternyata... 

...ternyata, saudara-saudara, aku salah besar! 

Bulan Mei, ada acara lagi. Kalau tak salah yah, itu namanya martonggo raja. Keluarga Gultom datang. Kalau sebelumnya, aku diijinkan Papi untuk pergi ke jalan-jalan ke suatu tempat, kali ini tidak bisa. Mau tak mau aku harus hadir. Selama acara, sumpah bikin ngantuk. Aku memang tak terlalu suka dengan acara-acara adat Batak. Banyak tahapannya yang tak kupahami dan seringkali kuanggap harusnya bisa ditiadakan. Belum lagi, kebanyakan adat Batak itu selalu dibumbui oleh ngobrol ngalor ngidul--yang seringkali memperbincangkan sesuatu yang tak selayaknya dibicarakan. Yah begitulah orang Batak, Sob! Hobi sekali mengobrol, mengobrol, dan mengobrol--yang cenderung kelewat batas. 

Acara martonggo raja-nya itu cukup lama. Ada kali sekitar 6 jam. Untung diadakan di rumah sendiri. Jadi, yah aku bisa main-main ke luar sebentar (Hehehe, sungguh keterlaluan sekali aku ini). Dan, sepertinya juga, walau dijodohkan, kakakku dan Drew sepertinya sudah saling menemukan kecocokan. Sehingga, yo weis, berlanjut ke martumpol yang diadakan di bulan Oktober. Martumpol-nya itu diadakan di gereja di mana keluarga calon mempelai perempuan terdaftar. Baru pas pernikahan, diadakan di gereja di mana keluarga calon mempelai pria terdaftar.



Gedung resepsi yang kulupa namanya. Tapi yang mendirikan itu orang Batak. 
Nah, pas pernikahannya yang ribet banget. Merepotkan saja! Paginya, aku--bersama yang lain--langsung ke Bekasi, ke HKBP Perumnas. Itu buat melangsungkan pemberkatan nikahnya yang cukup syahdu dan hati bergetar. Lalu, sekitar jam 10, berlanjut ke resepsi dan pernikahan adat yang berlangsung 6 jam lebih!!!!!!!!! 

(Kayaknya kurang, tuh, penggunaan tanda serunya?!)






Menyebalkan. Membosankan. Bikin ngantuk. Dan, tambah menyebalkanya ketemu inang-inang Batak yang cukup rasis. Bayangkan saja, masa si inang Batak ini memiliki mulut yang minta dijahit enam jahitan. Si inang-Batak-yang-sudah-sepuh ini mengeluarkan komentar menyebalkan (untukku) pada calon istri dari abang sepupuku--yang kita panggil saja Ron. Calon istri Bang Ron ini bukan Batak. Dia Tionghoa. Walau begitu, calon istri Bang Ron tak tersinggung tampaknya. Ini yang kelihatan dongkol berat itu malah aku. Sumpah, kalau ingat lagi kata-katanya, mau kuceburkan saja ke Danau Toba si inang-Batak-yang-sudah-sepuh.


Mobil pengantin yang berada di halaman gereja HKBP Perumnas.
Walau menyebalkan dan membosankan, ada bagian harunya juga. Itu saat mendiang Mami melepas kepergian kakak nomor satu ke ribaan Keluarga Gultom. Mendiang tampak sepertinya belum siap. Memang sih, beberapa hari di rumah itu terasa berbeda saat si kakak nomor satu tak ada di rumah. Tak ada lagi yang suka bangun pagi, sarapan sebelum berangkat, dan pulang lebih akhir (yang bikin Mendiang selalu menelepon). Dari situ, aku sadar bahwa menikah itu bukan perkara mudah. Menikah bukan sekadar mempersatukan dua hati, namun juga mempersatukan dua keluarga. Selain itu, mengambil anak gadis orang itu tak segampang mengambil coki-coki dari tangan bocah TK. Aku tentu harus memperhatikan perasaan keluarganya, terlebih ibu kandungnya yang pasti sangat merasa kehilangan sekali. 

Selain itu, aku juga sadar bahwa pernikahan secara adat itu sedemikian njlimet-nya, yah karena kehidupan setelah pernikahan itu lebih njlimet lagi. Dulu, aku selalu bergidik dengan hal tersebut. Sampai sekarang pun, aku takut buat menikah. Takutnya itu aku harus tinggal serumah dan sekamar dengan seseorang yang sebelumnya tidak kukenal. Canggung banget pasti. Walau nanti calonnya itu orang yang sudah kukenal akrab, tetap saja, podo wae. Tetap sama-sama ngeri. Selain harus hidup bareng itu, aku harus terbiasa dengan keluarga calon istriku kelak. Kalau ada peristiwa-peristiwa di keluarga besar calon istriku, mau tak mau aku harus hadir. Belum lagi, dengan sifat emosionalku, rasanya aku lebih suka hidup sendiri saja. Kasihan nanti calon istriku yang harus jadi korban dari sifat emosionalku yang suka meledak-ledak ini. Plus, aku pun punya banyak sifat-sifat negatif yang keluarga intiku pun tak tahu. Makanya aku tak ingin tak seorang tahu. Alhasil, lebih baik hidup sendiri. Ke mana-mana sendiri itu juga jauh lebih menyenangkan. Bebas mau lirik sini-lirik sana. Hahaha. Oke, yang terakhir itu bercanda! 

Selain itu juga, aku belum siap dengan prinsip dengan saling berbagi. Aku lebih suka memiliki segala sesuatunya sendiri saja. Kalau ada seseorang, nanti kan bisa berkurang. Hahaha.

Yah pokoknya--kalau pun sudah mandiri secara finansial--aku memang belum siap untuk menikah. Bagiku, menikah itu bukan semudah urusan membalikkan telapak tangan seorang bayi imut-imut. Itu urusan yang merepotkan, melelahkan, menyebalkan, dan membosankan. Bagian-bagian indahnya itu hanya saat pemberkatan saja (yang selalu ditunggu oleh tiap calon). That's it. Selain keluar uang yang sudah barang tak sedikit, keluar waktu serta tenaga  pula.

Heh...

Alena, bere-ku yang imut sekali! 
Kalau mengenang saat-saat melelahkan dan menyebalkan dua tahun lalu itu, tak terasa si kakak nomor satu dan Bang Drew sudah menikah selama dua tahun. Bahkan mereka baru saja dikaruniakan seorang bayi perempuan nan menggemaskan bernama Alena pada 13 November kemarin. Dua tahun itu bukan waktu yang lama, pun bukan waktu yang singkat. Tak menyangka si kakak nomor satu sudah memiliki momongan. Padahal tiga tahun silam, masih seorang--maaf--perawan tua yang selalu saja disodori oleh pertanyaan "Kapan nikah?" sama Mendiang Mami. Eh tahu-tahu, bulan Februari aku kaget saja si kakak datang ke rumah bareng Bang Drew, yang suka pergi ke rumah sakit. Awalnya sempat curiga kenapa si kakak cukup lama tinggal di rumah. Dan, setelah tiga bulan, ketahuanlah sudah ternyata si kakak lagi mengandung. Sumpah yah, perempuan yang hamil muda itu tak kelihatan dari luar. Hahaha.







Hmmm, rasa-rasanya baru kemarin saja si kakak nomor satu masih tinggal di rumah. Kemudian datang Bang Drew yang ingin mempersuntingnya. Segala tetek bengek bernama pernikahan dilangsungkan. Lalu dia pergi bersama suaminya. Mami pun sudah pergi. Lantas, Alena lahir, yang membuatku menjadi seorang tulang. Entah apa yang terjadi di masa depan?

Mungkin giliran si kakak nomor dua yang dicekoki dengan aneka pertanyaan: "Mana jodohnya?", "Kapan nikah?", "Kok sendiri aja?". Yang mungkin, kita juga tak bisa menebak, bisa saja si kakak nomor dua tahun depan sudah dilamar. Terus, datanglah masa-masa menyebalkan itu padaku. Aku sudah menyiapkan jawaban demi jawabannya.


P1: Kapan nikah?
Aku: Nggak mau nikah, kok. Enakan sendiri aja.  
P2: Kok sendiri aja?
Aku: Kan nggak mau nikah. Lagian lebih enak sendiri. Bebas mau ngapain aja. Hahaha. 

P3: Jodohnya mana?
Aku: Apaan sih? Orang nggak mau nikah. Kan udah dibilang, saya nggak mau menikah. Lebih enak sendiri saja. Bebas mau berbuat apa saja. Saya masih lebih suka lirak-lirik bodi, kok. Hahaha. Lagian saya juga nggak tahu jodoh saya berada di jaman apa juga.  



Mungkin suatu saat ada sanak atau keluarga yang baca, mungkin pula adik sendiri baca lalu kecewa sama abangnya sambil berkata, "Bang, lu kok nyebelin banget? Kalau lu nggak nikah-nikah, kapan gue bisa nikahnya? Masa iya lu itu gue langkahin? Gue masih punya hati nurani-lah. Udah deh, mending gue kenalin aja, yah, sama temen kuliah gue dulu. Orangnya cakep, seiman, dan nggak brengsek, kok. Tenang aja, selow!"

Aku lalu tertunduk, mengangkat kepala lagi, dan berteriak sambil mengacung, "KENAPA HARUS ADA YANG NAMANYA PERNIKAHAN?"

Anyway, masih di tahun yang sama, di tahun 2013 maksudnya, hanya beda tanggal dan bulan, Bang Ron juga melangsungkan pernikahan. Kali ini lebih sederhana dan singkat. Juga berlangsung tak jauh dari rumah, hanya setengah jam waktu tempuh.



Konsep pernikahan yang cukup memorable, dan masih terngiang-ngiang di benakku sampai sekarang. 






"Ada banyak cara untuk mengambil buah yang menggelantung di atas pohon. Kalian bisa memanjatnya langsung, menggunakan galah, menyuruh seseorang, atau hanya menunggu angin menjatuhkannya." -  Nuel Lubis, pada lima tahun mendatang semenjak quote pertama tercetus. 

5 comments:

  1. tapi emang kebanyakan acara nikah itu ribet banget nuel kalo pake adat
    untungnya dulu waktu aku nikah, nikahnya pake cara Islam aja, ga pake adat
    nikahnya simpel, ijab qobul jam 7, itupun aku telat datang soalnya ada masalah di jalan :D
    baru ijab qobul jam 8 pagi, setelah itu tamu disuruh menikmati hidangan
    jam 10 pagi ada ceramah dari ustadz sampe jam 11, setelah itu makan2 lagi :D
    sholat dhuhur, selesai :D
    cuma berjalan 4 jam, lalu selesai
    #malahcurhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah kenapa gue seneng banget kalau ada yang curcol di sini. Gue selalu demen dengerin curhatan orang lho. Haha

      Delete
  2. haha. Nuel, aku juga takut nikah, tapi ada temen yang bilang kalau punya trauma tentang seseorang yang nanti bakal menghambat proses, mending dihilangkan dulu. kalau takut berbagi kayaknya itu terlalu gimana ya... mungkin perlu dibiasakan untuk memberi lebih banyak pada orang sekitar, biar terbiasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kali ya, harus coba dihilangkan dan dibiasakan dulu. Makasih nasehatnya, La.

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^