Thursday, November 12, 2015

Berjanji pada Tuhan




"Bukan nolak rezeki, tapi Tuhan pasti maunya setia pada yang lebih kecil dulu. Rejeki Tuhan tak ke mana, pasti akan datang sendirinya." - Niecke Laura


Dokumentasi pribadi.





Aku punya teman. Dia cerita padaku bahwa dua tahun lalu, dia mengikrarkan janji pada Tuhan. Janjinya: "Tuhan, saya ikhlas kalau kamu mau pakai saya untuk kepentingan-Mu," Sekarang, dia datang padaku dan mengeluh seolah-olah aku ini Tuhan saja. Dia mengeluhkan betapa beratnya tugas yang Tuhan berikan padanya. Cobaan demi cobaan terus datang padanya. Dari luar maupun dalam keluarganya. Belum lagi himpitan finansial yang makin mengekangnya. Intinya, temanku ini sangat frustrasi. Dia sudah tak kuat lagi. Namun dia tahu dia sudah janji pada Tuhan bahwa dia mau tetap setia memegang janjinya.


Aku salut. Sangat salut betapa dia masih memegang teguh janjinya pada Tuhan. Walaupun, yah aku tahu, ujian Tuhan padanya sangat berat sekali. Temanku ini sampai kehilangan senyumnya, sebuah senyum yang tulus dari hati. Aku pun, kuakui, belum tentu seberani dirinya yang berani menjanjikan hal seperti itu pada Tuhan. Teman yang sangat luar biasa berani.


Dia lalu minta saran padaku, apa yang harus dia lakukan. Kujawab saja, "Penuhi janjimu pada Tuhan. Laki-laki harus bisa dipegang omongannya. Lagipula tak hanya lelaki pun, yang perempuan kalau sudah berjanji, yah tepati. Kamu janji ke Tuhan, bukan ke manusia."


Kalau menurut teman-teman sekalian, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia sangat frustrasi sekali.

6 comments:

  1. Yah, kalo dari aku tetep pegang janjinya juga sih. Berdo'a juga, diberi kemudahan untuk menghadapi semuanya. Lagian, gak ada masalah tanpa penyelesaiannya kok. :)

    ReplyDelete
  2. Tetapi janjinya pada tuhan dan yakin bahwa tuhan tidak akan memberikan masalah/cobaan pada umatnya melebihi batas kemampuannya. Manusia hanya bisa bersabar, tawakal dan berusaha untuk bangkit :) ada masalah pasti ada jalan keluarnya.

    ReplyDelete
  3. Ke psikolog sajalah. Supaya akar masalahnya jelas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ah. Rada berisiko juga. Cuz, hal-hal kayak gini selalu bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Pernah dengar, orang-orang kayak aku gini sering dianggap gila atau delusional sama orang-orang kejiwaan.

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^