Thursday, November 5, 2015

ANOTHER FICTION: Kisah Abu Karim

                                                  


Dokumentasi pribadi.






            Dahulu kala, hiduplah seorang musafir. Musafir ini hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Ia tak pernah menetap di suatu daerah untuk jangka waktu yang lama. Kali ini, ia sudah berada di sebuah kota kecil di daerah Persia.
Kota yang ia datangi itu benar-benar kecil. Tak banyak orang yang mengetahui keberadaan kota ini. Hanya segelintir orang saja yang tahu. Itupun kebanyakan merupakan para buronan atau mantan penjahat. Yah kota itu masih bisa bertahan, salah satunya karena itu. Perdagangan yang dilakukan juga perdagangan gelap.
Karena lelah setelah seharian mengembara di gurun pasir, si musafir itu masuk ke sebuah kedai. Saat berada di dalamnya ia harus mengernyitkan hidungnya, karena bau di dalamnya sungguh tak sedap di hidung. Situasinya juga lumayan ramai. Segera saja, ia hampiri pelayannya dan memesan minuman.
Minumannya pun datang. Ia langsung menyeruput minumannya, yaitu segelas anggur. Sambil minum anggur tersebut, ia melihat ke sekelilingnya. Sepertinya nyaris semua yang ada di dalam kafe itu merupakan para penjahat. Kebanyakan dari  para pengunjung bertampang sangar. Hal itu bisa dilihat dari bekas luka yang ada di muka atau anggota tubuh mereka.
Dari rata-rata pengunjung yang ia temui, ada satu pengunjung yang menarik perhatiannya. Pengunjung ini  masih bocah. Ia bisa memperkirakan usia bocah itu masih di bawah sebelas tahun. Mengapa bocah itu bisa berada di tempat seperti ini? Sambil minum anggur pula.
Karena penasaran, ia datangi meja bocah itu. Kebetulan bocah itu sedang duduk sendirian. Saat ia hampiri, wajah bocah itu datar.
“Hei, Nak!” sapa Sang Musafir tersenyum.
Bocah itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum.
“Siapa namamu? Dan mengapa kamu bisa ada di tempat ini?” tanya Sang Musafir.  "Tempat ini bukan tempat yang baik untuk anak seusiamu.”
“Nama saya Abu Hisyam, Tuanku. Dan saya rasa, tempat saya ini memang di sini. Saya sama seperti orang-orang ini. Saya seorang penjahat.” jawab anak itu tersenyum. Bukan senyum kebanggaan, tapi senyum pasrah.
Sang Musafir kaget. “Atas dasar apakah, kamu berkata seperti itu?”
“Sekitar setahun lalu, saya ketahuan mencuri buah di sebuah pasar di kota Baghdad. Saya langsung dijebloskan ke dalam penjara, dan saat mendengar kabar saya dipenjara, seluruh keluarga saya tak lagi mau mengakui saya sebagai bagian dari mereka. Mereka tak sudi menerima anak yang masa depannya jadi penjahat. Dan jadi seorang pencuri buah merupakan cikal bakal jadi seorang penjahat. Begitu kata mereka, Tuan.” cerita Abu Hisyam pada Sang Musafir.
“Karena itulah, saya selepas bebas dua bulan lalu, saya memutuskan pergi ke kota ini, berdasarkan nasehat para narapidana di penjara.”
Sang Musafir tersenyum. “Anakku, kamu perlu tahu satu hal. Tak akan pernah ada orang yang bisa tahu masa depan, termasuk aku sendiri. Dulu waktu aku sekecil kamu, aku pernah bercita-cita menjadi seorang pedagang sukses seperti ayahku. Tapi apa daya, saat kedua orangtuaku mati karena wabah penyakit di kota asalku, aku memilih keluar kota dan hidup mengembara. Tak pernah aku terpikir untuk hidup jadi seorang musafir.”
“Jadi maksud Tuan?” tanya Abu Hisyam penasaran.
“Maksudku, kamu jangan langsung terpengaruh begitu saja  terhadap kata-kata keluarga besarmu itu. Aku sendiri juga tak yakin dengan apa yang mereka ucapkan. Apalagi kamu terlalu muda untuk memulai karier jadi seorang penjahat.” jawab Sang Musafir.
“Oh iya berapakah usiamu, Nak?” giliran Sang Musafir yang bertanya.
“Tahun ini aku berusia sepuluh tahun, Tuan.” jawab Abu Hisyam.
“Usiamu masih muda. Perjalanan hidupmu juga masih panjang. Jadi aku berharap, kamu bisa menciptakan masa depanmu sendiri tanpa harus mendengar apa kata-kata orang terhadapmu. Kamu masih punya banyak waktu untuk menciptakan masa depan yang cerah untuk hidupmu sendiri.”
Setelah berucap seperti itu pada anak itu, ia bangkit berdiri. Ia pamit dan memohon pada anak itu untuk meninggalkan kota kecil tersebut. Segera ia keluar dari kedai itu dan melanjutkan perjalanannya Tapi sebelum itu, ia terlebih dahulu membayar minumannnya, juga minuman anak itu.
Dari satu kota ke kota lain. Begitulah terus hidup musafir tersebut. Karena hari sudah gelap, ia memilih menginap di sebuah penginapan di kota lainnya. Saat ia sedang berada di depan pintu kamarnya, ia melihat suatu peristiwa menarik.
Peristiwa menarik itu adalah seorang anak yang sedang digendong oleh seorang bapak yang pastilah ayah dari anak tersebut. Anak itu digendong mengitari lorong di lantai dua dari penginapan tersebut. Apa maksud dari perbuatan bapak tersebut? Karena penasaran, ia hampiri bapak itu.
“Permisi, Tuan. Apakah Tuan ayah dari anak ini?” tanya Sang Musafir.
“Iya, saya ayahnya.” jawab bapak itu.
“Mengapakah Bapak menggendong anak Bapak berjalan ke sana ke mari? Apakah Bapak tidak capai?” tanya Sang Musafir lagi.
“Anak saya ini memperoleh nilai bagus di sekolah. Karena itulah, sebagai janji saya padanya, saya menggendongnya ke sana ke mari. Besok juga rencananya saya akan membelikannya jubah yang super indah. Itu juga bagian dari janji saya padanya.”
“Apakah anda tidak terlalu memanjakannya?”
“Tidak juga. Ini wajar malah, menurut saya. Dia cerdas dan pastilah masa depannya sangat cerah. Asal anda tahu saja, anakku ini baru-baru ini mendapatkan beasiswa dari kerajaan. Jika anda ke balai kota, anda pasti tahu nama anak saya, sebab hanya dia saja yang mewakili kota ini ke Baghdad. Yah nama anak saya ini Karim. Rencananya juga,  minggu depan Karim akan pindah sekolah ke Baghdad, di mana anak-anak para bangsawan belajar. Saya menduga, ia pasti akan jadi pejabat kerajaan.” kata bapak itu sambil memindahkan gendongannya terhadap anak itu ke bagian dadanya. Ia lalu mengusap-usap kepala anaknya itu.
Sang Musafir itu tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya.
Dua puluh tahun telah terlewati. Dan musafir itu masih terus mengembara dari suatu daerah ke daerah lain. Kini ia sudah berada di kota Baghdad. Ini merupakan kunjungannya yang ke sekian  di kota besar di negeri Persia tersebut. Situasi di sana tetap tak berubah, selalu ramai.
Saat ia sedang berjalan di sebuah pasar, ia dibuat kaget oleh sebuah selebaran yang ditempelkan di dinding. Sebuah poster buronan yang sedang dicari pihak kepolisian. Tertulis namanya Karim. Membaca nama itu, ia jadi teringat Karim kecil yang dimanja ayahnya dengan cara digendong ke sana ke mari silam.
Tanpa ia harus bertanya ke seseorang yang berada di dekatnya, seorang penjual buah yang berkata padanya:
“Namanya Karim, Tuan. Ia jadi buronan karena merampok seorang saudagar bernama Abu Hisyam. Karim ini dulu merupakan anak dari teman saya. Saya sendiri merupakan sahabat pertama dari teman saya itu di kota ini, Tuan. Dan teman saya itu pindah ke Baghdad, karena anaknya dapat beasiswa dari kerajaan. Siapa sangka sekarang, Karim yang cerdas dan membanggakan itu malah jadi seorang penyamun. Ceritanya itu sungguh panjang dan rumit untuk diceritakan kembali.”
Mendengar itu semua, Sang Penyamun jadi tertegun. Ia tiba-tiba teringat kata-kata ayahnya dulu sebelum meninggal. Ayahnya pernah berkata, “Masa depan tak bisa ditebak, Nak. Jadi mulailah dari sekarang ini merancang masa depanmu.”
Sang penjual buah jadi bingung melihat Sang Penyamun yang begitu lama melamun di depan poster si Karim. Ia bertanya, “Tuanku, mengapakah tuan melamun? Apakah tuan mengenal si Karim yang malang ini? Saya sungguh prihatin dengan nasibnya sekarang ini.”
Sang Penyamun tersenyum dan menjawab, “Saya hanya teringat ucapan almarhum ayah saya dulu. Beliau benar, masa depan memang benar-benar tak bisa ditebak sama sekali.”

Lalu Sang Penyamun meninggalkan si penjual buah yang masih terbengong-bengong mendengar jawabannya barusan. 



2 comments:

  1. Nuel, ada yang aneh. Menjelang ending, yang nanya ke tukang buah itu sang musafir. Tapi, pas ending, yang lagi ngomong sama tukang buah sang penyamun.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^