Saturday, August 8, 2015

My Second Indie Novel is released NOW!!!








Akhirnya terbit juga. Setelah berpuluh kali ditolak, akhirnya sudah saatnya aku berkata, "Ini sudah saatnya," 






Sudah letih revisi berkali-kali, sudah lelah dikirim ke banyak tempat pula, aku mulai mengambil satu keputusan penting: bagaimana kalau aku kirim saja ke Raditeens lagi? Coba lagi saja, semoga kali ini bisa laku keras dan tak bernasib sama seperti yang terdahulu. Apalagi, hitung-hitung, tujuan lainnya: naskah ini kubiarkan semacam jadi semacam ucapan terimakasih ke Raditeens yang sudah memberikan kesempatan bagiku untuk menerbitkan novel walau baru secara indie (bukan major). Berharap saja laku keras, sehingga ucapan terimakasih benar-benar terasa manfaatnya. Amin. 

Masih seperti novel terdahulu, novel "Ai Shin'yuu" ini bisa terbit karena sokongan beberapa orang. Lagi-lagi, dapat pertolongan dari orang-orang tak terduga, yang aku sama sekali tak pernah menyangka sebelumnya. Lumayan kaget sih, sewaktu @cestmoiyosh, Andri Hutapea, dan Ibu Marchia Diandra mau membantu soal dananya. Semoga saja bisa laku keras supaya bisa membalas jasa-jasa mereka. Sekali lagi, thank a lot! I really owe all of you. 

Omong-omong, berikut kaver, salah satu ilustrasi dalam novel, serta sedikit cuplikan isinya. CHECK THOSE OUT!!!!!








Kaver depan dan belakang AI SHIN'YUU






Salah satu ilustrasi dalam novelnya






Cuplikan isinya:




Sketsa 8 – Berlusin-lusin mata terpaku pada sepasang remaja, dimana salah satunya menggendong orok. Mungkin mereka kira dua orang itu pasangan muda. Mereka tak salah. Buktinya cukup banyak remaja yang memutuskan menikah muda. Usia masih belasan, tapi sudah terdaftar di kantor urusan agama atau catatan sipil.  
            “Jes,” desis Elia. “Lu kenapa pakai datang ke rumah gue sih? Janjinya kan kita ketemuan di mal ini jam setengah sebelas. Mana nggak satu pun dari mereka yang datang.” Ia mendengus. Ia risih karena ditempel terus sama Jessica.
            Jessica  hari ini mengejutkan Elia. Sekitar setengah sembilan, ia sudah tiba di rumah Elia. Ada gerangan apa dia berlelah-lelah mengunjungi rumah Elia yang jauhnya itu ibarat jalan kaki dari patung Jenderal Soedirman ke Monumen Nasional.  
            “Ya kan aku kangen sama Eka, El,” jawab Jessica seraya memainkan mimik lucu di hadapan Eka.    
            “Tapi gue jadi nggak enak.” protes Elia. “Lu lihat sendiri, pengunjung mal jadi lihatin kita. Mungkin mereka kira, kita ini suami-istri.” tukas Elia gerah.
            “Berarti kalau suami-istri, harus mesra dong.” kata Jessica yang genitnya mulai kumat.
            “Ngaco lu.” sembur Elia. “Lu itu sahabat gue dari SD; bukan istri gue. Dan karena sudah sahabatan sejak kecil, lu – dan yang lainnya – sudah gue anggap kayak saudara sendiri.”
            Jessica merengut. Sepertinya ia tak terima hanya dianggap sebagai sahabat – apalagi saudara. 
            “Mulai deh ngambeknya. Udah deh nggak usah pake ngambek-ngambekan. Malu sama si Eka yang dari tadi anteng-anteng aja.” Elia menatap sinis teman perempuannya itu.
            “Jadi?” Perempuan itu kembali dengan tatapan genitnya. “Boleh nggak manggil kamu…” Di saat bersamaan, Eka bersuara, “…papa…” – seolah-olah meneruskan tuturnya itu.
             Baik Elia maupun Jessica kaget mendengarnya. Mereka tak menyangka Eka bisa berbicara. Eka memang sepertinya tak berusia dalam hitungan bulan. Mungkin ia akan berusia yang kali pertamanya. Tapi tak jadi soal berapa usianya, yang jelas Eka sungguh bayi jenius.
     “Uuuh…. Kamu udah bisa ngomong yah, Sayang?” Jessica mencubiti pipi Eka. “Coba bilang Mama, Sayang.”
Eka menuruti, Elia semakin risih. Untung saja keempat kawan lainnya itu belum datang. Apa kata mereka kalau menyaksikan peristiwa itu? Mungkinkah akan pecah Agresi Militer Belanda ketiga?
 

Sketsa 19 – Tirta tak menyadari Grace berada di dekatnya. Maklum saja, kantin Unpad cukup ramai. Sudah siang pula; matahari sudah berada di atas persis kepala. Grace yang tak sengaja menguping pembicaraan Tirta dengan tiga orang teman kuliahnya itu terbelalak matanya. Ia tak salah dengar, nih? Tirta punya rasa dengannya? Dan rasa itu muncul sejak SMA.
Karena penasaran, Grace menggeser helai-helai rambut yang menutupi kedua kupingnya. Ia penasaran sekali. Walaupun suasananya begitu hiruknya, sistem pendengarannya hanya terfokus ke satu hal: dialog tersebut.
“Jadi gimana lu bisa suka sama adik kelas lu itu?” tanya teman Tirta yang berambut cepak dan berkacamata. Namanya Almon.
“Gue inget banget,” Tirta mulai bercerita. “Waktu itu, gue sama dia berada dalam satu kepanitiaan. Kita sama-sama sibuk mengurus acara natal. Kebetulannya lagi, kita sama-sama dalam satu seksi – seksi perlengkapan. Saat itulah, gue punya pandangan lain sama dia. Gue jadi nggak nganggep dia sebagai sahabat gue  lagi. Dan jantung gue selalu kumat kalau ada dia.”
Teman Tirta yang lain, terkekeh-kekeh – menyusul yang lain. Yang tertawa pertama itu Nugroho yang kribo. Panggilannya Nunu; dan dirinya berseloroh, “Wah CBSA nih? Cinta bersemi sesama aktivis.”
“Sialan.” sembur Tirta.
“Terus kelanjutannya gimana?” tanya yang lainnya. Yang ini namanya Joni. Orangnya tinggi jangkis.
Friendzone.” jawab Tirta. “Terhalang tembok persahabatan yang begitu tebalnya. Kalau gue pedekatein, gue ingat persahabatan gue sama dia – dan yang lainnya. Kan sayang banget, persahabatan yang sudah dipupuk sejak kecil harus hancur begitu saja.”
“Ya elah,” ejek Almond. “Cinta dan persahabatan itu bisa berjalan beriringan kali. Buktinya, gue dan pacar gue sekarang. Pacar gue bisa akrab teman-teman gue; begitu juga sebaliknya. Gue juga bisa akrab sama teman-temannya.”
“Ini kasusnya beda.” interupsi Tirta. “Gue suka sama sahabat gue sendiri.”
“Gue sama pacar gue dulunya sahabatan dari SMP. Dan teman-teman yang lainnya nggak ada yang risih tuh. Fine-fine aja malah.” sela Nunu. 
“Jadi gue harus gimana?” tanya Tirta mengerutkan kening.
“Pedekatein dong.” saran Nunu. “Kalau segan sama anak-anak geng lu itu, yah pacaran secara backstreet aja.”
Backstreet?” Tirta tampak ragu-ragu. Khususnya saat ia sadar juga ada Grace di dekatnya. Wajahnya jadi tak beraturan.
Saat Tirta hendak mendekatinya, Grace tergesa-gesa menghindar lebih dahulu. Dirinya juga kini bingung harus berbuat apa, kalau seandainya Tirta menembaknya. Diterima, tapi dia hanya menganggap Tirta sebagai kakak – selain sebagai sahabat. Apalagi dirinya tak memiliki perasaan juga. Ia menyukai pria lain di Ekateng.



Sketsa 33 – Bulan Januari. Hari terakhir tahun baru. Pukul sembilan malam. Bersalju. Udara yang menggelitiki kulitnya mendorong Jessica memasukan kedua kakinya masuk ke meja penghangat. Sementara kedua kakinya menghangatkan diri – walau sudah dilapisi kaos kaki, kedua tangannya lincah di atas keyboard laptopnya. Di layar sudah muncul beberapa kotak dialog: browser Mozilla, browser Mozilla lagi dan lagi, baru seterusnya, Yahoo Messenger dan Line. Tiba-tiba mendadak tampak ‘PING’ di Yahoo Messenger-nya. Dari Elia. Itu bikin Jessica nyengir-nyengir sendiri. Untung saat itu, Sonoko yang usil tak berada di apartemennya.
            Ia baca: “Hai Jes… Gimana kuliah? Eh nyalain dong webcam-nya. Ada yang mau gue bicarain ke lu.” Membacanya saja sudah memaksa jantungnya bekerja ekstra keras. Sejak ia di Tokyo, baru kali ini Elia mengontaknya langsung. Selama ini, hanya Grace yang rutin menghubunginya via Line. 
            Saking senangnya, ia langsung menyalakan webcam. Sekarang di layarnya, telah tampak lelaki tembem dan seorang bayi menggemaskan. Elia dan Eka. Dua orang yang dirindukannya, selain kedua orangtuanya.
            Elia sibuk memainkan kedua tangan Eka seraya berkata, “Itu Mama, Sayang…”
            Jessica agak melongo. Mimpi apa dia semalam – Elia berkata seperti itu? Jantungnya berdegup kencang.
            Elia terkekeh.
            “Biasa aja lagi, Jes. Gue cuma becanda. Lagian selama ini Eka selalu anggap lu itu ibunya. Padahal di depan ibu kandungnya aja, dia malah nangis-nangis. Aneh yah?”
            “Ibu kandungnya sudah ketahuan?”
            Elia mengangguk. Jessica yang sensitif, pasti tahu ada yang tak beres dengannya.
            “Kamu kenapa, El?”
Jessica ini aneh. Selain Elia, kepada anak-anak Ekateng lainnya, dia menggunakan gaya bahasa ‘gue-lu’. Itu terjadi sejak masih pelajar putih-merah. Awalnya sih, masih wajar. Namun saat sudah remaja,  salah satu anak Ekateng – yaitu Grace – mulai penasaran. Dan Grace akhirnya tahu. Jessica menyukai Elia yang waktu itu merupakan murid pindahan di SD Tarakanita – kelas  empat. Ia jujur – pada teman tomboynya itu – menyukai Elia karena terkesan dengan pembawaannya yang humoris, periang, dan berbakat olahraga, khususnya sepakbola.
“Nggak kenapa-napa.” Elia menggeleng.
“Nggak, El,” kata Jessica was-was. “Kamu itu nggak baik-baik saja. Kamu pasti ada masalah. Ada apa?”
Elia terkekeh-kekeh. “Dari dulu, selain Grace, lu peduli banget sama gue. Gue curiga…”
Jessica sigap mengganti topik.  “Eh… Memangnya siapa ibu kandungnya Eka?”
Elia terkekeh-kekeh lagi. Lalu segera ia jadi menarik napas. Sulit untuknya mengatakannya. Itu terasa pahit sekali. Namun harus diucapkan. Nuraninya berkata, Jessica wajib tahu.
“Ibu kandungnya itu…. cinta pertama gue..” ucapnya dengan bibir terasa kelu.
            Jessica terpana. Hatinya seperti disayat saat mendengar fakta soal perasaan Elia. Sekarang ia tahu siapa perempuan yang disukai Elia. Ternyata memang bukan dia; Elia benar-benar menganggapnya sebagai sahabat dan saudara. Juga bukan Grace yang awalnya sempat dicurigainya punya perasaan pada Elia.






Eh, soal give-away-nya, nanti yah. Aku bakal adakan give-away pas bulan Oktober atau November. Sekaligus untuk memperingati ulang tahun IMMANUEL'S NOTES yang keenam. Jadi, yang mau gratisannya, tunggu saja sampai akhir tahun. Yang sudah penasaran mau baca, YAH BELI DONG!!! ^_^



14 comments:

  1. Eh, udah mau ultah yang ke-enam aja Nuel? Awet, ya!

    Semoga laris deh novelnya.

    ReplyDelete
  2. Selamat ya Nuel, semoga laris bukunya. Kali ini covernya imut banget deh, jauh lebih keren daripada buku pertamanya. Tetap semangat yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, beli dong. Itu jadi moodbooster gue yang paling dahsyat buat bikin karya-karya lainnya yang lebih dahsyat, hehe..

      Delete
  3. Congratulations yaa :) akhirnya penantianmu terbayar juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih. Tapi bukan yang ini sih. Penantianku bukan buat yang ini, haha

      Delete
  4. share dong pengalaman proses pembuatan novelnya
    biar ke share perjuangannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank sarannya. Nanti aku share deh perjalanan naskah ini. Eh tapi nanti beli juga ya novel ini. Ayolah, hehe.

      Delete
  5. Congrats ya bang nuellll!

    Kalau menurut gue lo gigih banget. you deserve this released-book!

    Kalau gue yang nasib nya punya naskah ditolak sana-sini mungkin bakal milih mundur dan pergi liburan
    wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah jangan patah semangat gitu dong, hehehe

      Delete
  6. Selamat ya novelnya sudah terbit, nanti aku pesen deh kalau bacaanku yang ini sudah selesai dibaca :)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^