Thursday, July 30, 2015

SERIAL ALTK - final chapter: Aku Ikhlas Melepasmu

“Aku berterimakasih karena kamu akhirnya malah menyimpan dan memecahkan kode yang kubikin bertahun-tahun silam itu. Tapi…”

Sekali lagi, dari arah yang cukup jauh, Kezia balik badan. Ia melihat kembali rumah itu. Sebetulnya yang dirinya lihat bukan rumah itu, tapi keluarga kecil yang ada di garasi itu. Tampak dua bocah kecil lincah loncat ke dalam sedan tua itu. Sepertinya pria itu akan membawa mereka jalan-jalan. Apalagi hari ini memang hari minggu.

Yang Kezia tak pernah sangka itu istri dari pria itu. Siapa sangka istrinya itu sahabatnya sewaktu SMA. Wanita itu bahkan tak pernah sebersit pun memberikan semacam kode bahwa dia menyukai pula pria itu. Padahal bukankah Kezia dan wanita itu lumayan akrab waktu SMA?

Kezia serasa ditikam. Namun ia sadar wanita itu juga bukan tipe perempuan yang suka menusuk temannya di belakang. Amanda sungguh dulu seorang remaja putri yang pendiam dan terabaikan. Ia dulu satu-satunya teman terdekat Amanda di sekolah hingga komplek perumahan. Toh, selain itu, bukankah Kezia pun terlalu kejam pada pria itu dulu? Kata-katanya waktu itu sungguh menyakitkan.

"Orang aneh! Gaje! Apa lagi maksudnya kirimin gue surat dengan isi kayak gitu? Gak jelas banget!"

Kezia tersenyum. Ia dari dulu selalu seperti itu, selalu menyukai pemandangan sebuah keluarga dengan satu-dua anak kecil yang akan bersiap pergi tamasya entah ke mana. Pemandangan itu selalu saja menyeretnya ke masa lalu. Dulu dirinya seperti dua anak kecil itu. Ia ingat ayahnya selalu rutin mengajaknya jalan-jalan tiap akhir pekan. Bisa ke mal, taman hiburan, atau tempat-tempat rekreasi lainnya. Ah, sungguh masa yang indah!

Sorot matanya beralih pada ayah dua anak itu. Si pria maksudnya, Samuel Bramanto.

Mata Kezia mengerjap. Senyum mulai pudar. Siap-tak siap, ia harus siap. Apa lagi alasan untuk Kak Samuel menungguinya? Bukankah kata-kata itu sudah menyakitkan untuk Kak Samuel? Belum lagi Kak Samuel dulu semasa SMA dikenal sebagai senior yang lumayan pendiam. Tak sedikit orang pendiam yang bisa memendam satu perasaan dalam jangka waktu cukup lama. Itu termasuk untuk perasaan mendendam. Bagi Kezia, kata-kata itu pasti menyakitkan hati seorang lelaki pendiam macam Kak Samuel. Selain itu, Kak Samuel kan dulu tergolong murid cerdas. Dengan segala kedinginan hatinya, Kak Samuel pasti langsung berpikir realistis. Untuk apa terus memendam rasa ke seorang perempuan tak tahu diri yang tak mencintai balik?

Kezia berlirih seraya menahan isak, “Kak, happy long-last. Pilihan Kakak tidak salah. Amanda memang perempuan paling tepat. Aku minta maaf pula untuk perlakuanku dulu. Sebetulnya…”
Bergeming sejenak.

“…aku dulu naksir sama Kakak. Dulu seharusnya… tapi yah sudahlah, aku ikhlas melepasmu, Kak. Biarlah ini jadi pelajaran untukku.”

Kezia lalu berjalan menjauh. Berjalan selangkah demi selangkah. Berhenti. Lanjut berjalan. Berhenti lagi. Terus berjalan. Kembali berhenti. Kembali pula menengok ke arah rumah itu, keluarga itu. Kali ini ia benar-benar berhenti. Walau sudah cukup jauh, atap rumah tingkat dua itu masih tetap terlihat. Bayangan keluarga kecil itu muncul kembali. Terlebih bayangan si pria bersama sahabat yang sudah lumayan lama dirinya lupakan.

Betapa bodoh dirinya. Kalau saja dirinya bisa mengontrol apa yang keluar dari mulutnya, pasti hasilnya jadi lain. Mungkin dirinyalah ibu dari dua anak yang lucu tersebut.





Jumlah kata: 500 kata

 

8 comments:

  1. Kezia pun menyesal di akhir ya nuel...memang biasanya klo nolakin orang, nyeselny di akhir kali ya abis liat orang ntu bahagia dengan yg lain hihihi

    ReplyDelete
  2. wuaaah, mas iman lagi aktif bikin cerpen ya? potongan ceritanya keren mas.
    tapi kalo saran dari aku sih, kebanyakan kata "itu" atau memang disengaja ya?
    maaf, kalo menyinggung yaa, sekedar saran koook

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks.

      Wah ga nyangka ya, kamu beneran suka baca ampe tau detailnya. Ampe segitunya. Astaga!!

      Pelajaran nih buat aku, buat merhatiin baik-baik diksinya. Thanks a lot!

      Delete
  3. Nasi udah jadi bubur ayam (kesukaanku!)
    Sesal kemudian tiada berguna

    Ini pengalaman pribadi yang ditulis versi inverse nya apa gimana bang?
    :p

    P.S.
    Untuk yang kali ini gue suka sm artwork nya! biasanya nggak terlalu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Errrr.. gimana yah? Maybe yes, maybe no. Hahaha

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^