Sunday, July 5, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Jodoh Bermulut Harimau


Genre: Romance





Mungkin memang seperti itulah manusia. Punya hobi membicarakan orang lain. Entah laki-laki, entah perempuan. Tua-muda, tak jadi soal. Siapa pun suka sekali membicarakan orang lain. Mau yang dibicarakan itu yang baik-baik, yah tetap saja. Sekali bergosip tetap bergosip. Namun itulah juga yang bikin hubungan antar manusia jadi semakin menarik, alih-alih mempererat tali silahturahmi.

Hal yang sama berlaku untuk Nia. Saking kesalnya, jus alpukat itu tergesa-gesa ia sesap. Matanya masih melotot. Dengusannya masih terasa. Rahangnya masih kaku. Teman-temannya berusaha menenangkan seorang Nia.





Kantin kampus yang sudah semakin panas--akibat suhu siang ini yang gila-gilaan--jadi semakin panas saja. Kombinasi sengatan matahari dan uap mendidih yang keluar dari kepala Nia sungguh luar biasa. Teman-temannya sibuk mengipas-ipasi diri mereka masing-masing.

"Itu yah--" tukas Nia. "--si Toro tuh... kebangetan banget pelitnya. Perhitungan banget. Ada yah orang kayak Paman Gober gitu?!"

"Yang sabar, Nia," sela Laura tersenyum.

"Ini untuk kepentingan amal aja, dia masih hitung-hitungan. Tadi lu denger sendiri kan, Na?"

Belum sempat Marina menjawab, Nia sudah berceloteh, "Ck, gue masih ingat kata-katanya itu. Kelewatan dah. Enggak mikirin perasaan orang lain. Main ceplas-ceplos aja. Seenaknya aja bilang, 'Bukannya pelit, tapi gue kan perlu tahu dulu duit sumbangan gue itu lari ke mana. Lah kalian sendiri juga masih abu-abu begini, belum pasti mau sumbang ke yayasan mana. Kan gue ragu'. Dih! Dia kayak nuduh organisasi kita ini mau nilep duit mahasiswa aja. Kayak pernah aja FAS (singkatan dari Fondasi Anak dan Sosial) itu korup."

Tak peduli semeradang apa Nia, Laura tanpa tedeng aling-aling berkata, "Tapi aku setuju sama Toro. Kalau jadi dia, aku juga pasti bertanya seperti itu. Proposal kita pun tak detail perinciannya. Yang mau menyumbang juga jadi bertanya-tanya."

"Lu belain siapa sih, Ra? FAS atau Toro?" Nia makin meradang. Mungkin perempuan itu siap mencakar-cakar temannya yang bercuping hidung lebar tersebut.

"Aku enggak belain siapa-siapa kok. Aku cuma bicara fakta."

"Tapi gue setuju sama Nia," sela yang lainnya. Kali ini Vero. "Harusnya kalau ikhlas mau nyumbang sih, yah nyumbang aja. Apalagi dia tahu sendiri FAS itu memang sering mengadakan acara-acara sosial. Mana pernahlah FAS menyalahgunakan kepercayaan donaturnya."

"Benar juga sih. Nyumbang yah nyumbang aja. Perkara yang disumbangin itu bermasalah, gue rasa itu urusan si penerima sumbangan sama Pencipta-nya. Yah prinsip gue sih begitu. Lagian mau ditipu juga, buat gue sih enggak masalah. Toh gue melakukan kebaikan itu buat Tuhan. Gue menyumbang itu kan buat Tuhan, bukan buat manusia." imbuh panjang lebar Dian.

"Nah itu!" seru Nia berbinar-binar. "Dasar Toro aja yang pelitnya itu menyaingi Paman Gober. Pake alasan abu-abu segala. Dia kali yang abu-abu. Wajahnya abstrak gitu. Udah jelek, kurus kerempeng, bulukan, pelit pula. Gue rasa cowok kayak gitu tuh enggak ada cewek yang demen."

"Masa sih, Nia?" kata Tabitha cengar-cengir. "Bukannya Toro itu tipe cowok yang lu pengin sejak SD dulu yah?"

Selain yang lain jadi berdiri daun telinganya, Nia jadi memerah mukanya. Oh Tabitha ini sahabat masa kecil Nia. Alhasil tahu pasti mengenai hal yang satu itu. Apalagi, jauh sekali, saat keduanya sibuk menempuh ujian nasional tingkat SD, Tabitha itu saksi matanya. Satu-satunya saksi mata atas permohonan doa Nia yang rada absurd.





Dokumentasi pribadi.







Delapan tahun yang lalu,

Nia bersama Tabitha memasuki gereja itu. Dua gadis yang akan memasuki fase akil balig itu terus berjalan hingga bangku terdepan, nyaris mendekati altar gereja. Memang sekeyakinan, namun kali ini Nia hanya menemani temannya saja. Tak ayal Nia tak ikut berdoa, hanya menonton Tabitha yang komat-kamit.

Ah seandainya keberadaan Tuhan Yesus itu terlihat, mungkin DIA sudah menegur keras Nia. Bagaimana tidak, gadis itu malah sibuk baca komik, sementara Tabitha sibuk melantunkan doa agar lulus ujian nasional lalu diterima di sebuah SMP favorit.

Sepertinya Tabitha begitu khusyuk berdoa. Kebiasaan baca Nia yang bergumam cukup keras hingga gendang telinganya itu tak terlalu mengganggu. Pasti Tabitha ingin sekali bisa masuk SMP tersebut. Sebab SMP itu juga kemauan ayahnya. Kalau bisa masuk sana, jalannya berkuliah di Australia nanti semakin mudah. Lagi-lagi seperti mau ayahnya. Tabitha sungguh anak yang patuh.

"Ta," ujar Nia yang mengalihkan sebentar dari komik yang ia baca.

Tabitha hanya menggumam.

"Kayaknya enak juga yah, punya pacar kayak Paman Gober ini. Kayanya enggak ketulungan. Gue pengin deh."

Tabitha menghentikan doanya. Ia tatap temannya tersebut. "Tapi pelit. Gue sih ogah punya pacar yang pelit. Punya pacar perhitungan itu enggak enak, tahu. Ntar pas nge-date,  yang ada juga makan hati. Gue semua yang bayarin."

"Tapi kayanya itu, Ta. Gue sih enggak masalah." Nia lalu menengadahkan kepalanya, mendesah. Wajah Tuhan Yesus yang terukir di dinding ditatapnya. Spontan saja ia lantunkan sebuah doa, "Ya Tuhan Yesus, aku pengin deh bisa punya pacar kayak Paman Gober. Pelit enggak masalah, tampang juga, fisik apalagi. Yang penting sekaya Paman Gober."

Tabitha cekikikan. "Hati-hati, lho. Banyak yang bilang kata-kata itu doa. Apalagi lu memohon kayak gitu di rumah Tuhan. Kalau terkabul gimana?"

"Memang bisa?" kata Nia nyengir tak percaya. "Lagian doa kan harus diakhiri dengan kata amin. Dan gue enggak bilang amin ya."

"Tetep aja Nia," Tabitha masih terus mengingatkan. "Tapi terserah lu sih. Lu ini yang nanggung akibatnya. Gue udah ngingetin lho."

*****

Dalamnya hati orang siapa yang tahu. Di saat Nia masih terus menyangkali kaul yang terucap secara tak sengaja itu, ada seseorang yang memendam rasa padanya. Orang itu orang yang ia sebalkan. Siapa lagi kalau bukan Toro.

Toro sudah lama mengagumi Nia. Kalau boleh ditelusuri, ospek kampus itulah awal lelaki itu jatuh cinta. Bukan karena fisiknya Nia yang Toro harus akui lumayan cantik. Melainkan sesuatu dari dalam diri Nia yang tak dapat dicerna oleh sebagian besar manusia. Namun bukankah perkara cinta itu memang seringkali irasional?

Pertama menatap Nia, Toro terkesiap. Ia mendadak serasa ada yang mengingatkan kaulnya ke Tuhan bertahun-tahun silam. Kejadiannya setahun setelah ibunya meninggal, beberapa bulan sebelum ujian nasional SMP berlangsung.

Yang namanya kehilangan itu memang perih. Terutama jika yang pergi itu seseorang yang membawa kita ke dalam dunia. Walau orang itu dulu sering bikin jengkel, tetap saja Toro amat sangat kehilangan. Bagaimanapun Toro dan adik-adiknya lebih sering menemui sang ibunda ketimbang ayahandanya yang amat sibuk mengurus beragam proyek bernilai puluhan juta rupiah. Toro menyesal mengapa di saat ibunya masih ada, selalu ia sepelekan. Ia selalu menghindari ibunya hanya demi menjaga telinga dari mulut bawel sang ibunda.

Kehilangan ibu sungguh menyebabkan Toro gamang. Hilang sudah konsentrasinya belajar menyambut ujian nasional. Ia sering melamun. Sorot mata tak pernah fokus. Pikiran selalu melantur ke mana-mana. Saking melayang ke mana-mana, muncul pemikiran gila yang Tuhan anggap sebagai suatu doa.

"Tuhan Yesus, kelak aku pengin calon istriku itu seperti Mama yang bawel, ceriwis, dan kalau bicara itu seolah enggak pernah mikirin perasaan orang lain. Aku beneran kangen banget sama Mama. Kalau nemu perempuan kayak begitu, aku enggak bakal menyia-nyiakannya."

Butuh waktu lama untuk Toro menyadari bahwa permintaannya sudah terwujud dalam diri seorang Nia. Yang ia tahu, mengapa tiba-tiba jantungnya berdebur-debur tiap menatap paras Nia? Selalu seperti itu hingga hatinya memohon pada Tuhan kembali: Tuhan, apa ini yang namanya jatuh cinta? Apa aku betulan suka sama perempuan bernama Nia itu?

Selanjutnya, entah apa yang terjadi, kepala Toro terasa berat sekali. Selima detik kemudian dirinya serasa tertidur di dalam sedan tua peninggalan almarhum kakeknya. Lalu Tuhan menampakkan kembali kejadian itu. Yah, itu kejadian saat Toro asal saja memohon soal jodohnya. Begitu bangun, Toro hanya cengar-cengir seolah menyesali perbuatan konyol jaman SMP dulu.

Hanya saja, walau hati kecilnya selalu berkata Nia itu memang jodohnya, Toro masih menyangsikannya. Ia kan belum tahu perasaan Nia yang sesungguhnya. Jangan-jangan seperti perempuan-perempuan lain yang menolaknya dulu? Pula ia sadar diri. Siapa juga yang mau mencintai seorang pria kurus yang berkulit hitam. 

Well, mungkin ada yang mau. Bagaimanapun Toro anak orang kaya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Ke kampus saja selalu membawa sedan itu--yang secara mode sudah ketinggalan jaman. Namun bukan itu yang diinginkan Toro. Lelaki itu menginginkan cinta yang seputih kertas putih tak bergaris; seputih langit lepas tanpa awan, spektrum warna biru, dan cakrawala. Itu yang paling diinginkan oleh seorang Vincentius Toro Hundores.  

Itulah mengapa Toro masih ragu-ragu untuk mendekati Nia. Ia ingin memantau situasinya dulu. Ia ingin mengamati segala gerak-gerik Nia. Kalau misalnya muncul sinyal positif yang sangat kuat dalam diri gadis berambut panjang tersebut, Toro akan maju. Akan ia daraskan tiada henti kata-kata  "aku cinta kamu" yang tiada hentinya pada Sylvania Theresia. 

Namun...

...Toro sepertinya sadar setelah kejadian tadi siang di kampusnya itu. Mungkin Nia tidak mencintainya. Mungkin Nia pun bukan jodohnya. Apa ia harus berpikir realistis? Apa Toro harus melupakan sang perempuan yang bermulut harimau tersebut? Yah, sudah banyak teman di kampusnya yang mengenali Nia sebagai seorang perempuan yang memiliki cara bicara yang menusuk jantung. Itulah pula alasan lainnya mengapa muncul di pikiran Toro bahwa mungkin Nia itu jodohnya. 

Sekarang Toro ini harus bagaimana? Maju? Atau mulai mencoba mengikis bayang-bayang wajah Nia dari benaknya? 

Ya Tuhan, berikanlah hamba-Mu ini jalan keluar terbaik, Toro pun mulai melantunkan kembali doanya pada Sang Maha Esa. 






Jumlah kata: 1500 kata