Tuesday, July 28, 2015

KIMBAP DI TANAH SAKURA -- final chapter: The Wedding



Episode-episode sebelumnya:





Artwork by: Melisa Yulia Kristin




Jakarta, 10 Desember 2018,


Dari balik cadar itu, terlihat secercah senyuman yang sangat mengembang. Mata si gadis begitu berbinar sekali. Lamat-lamat gadis itu berjalan menyusuri jalan kecil tersebut. Sebuah jalan dengan tujuan akhir nan indah. Tak jauh lagi, seorang lelaki sudah menungguinya. Lelaki yang sangat dicintainya. 

Segera lelaki itu meraih tangan si gadis. Lelaki itu menyentuh lembut telapak tangan gadis kesayangannya. Lelaki itu memandangi si gadis dengan cengiran lebar. Tak sia-sia banyak hal sudah terjadi selama sekian tahun hubungan mereka. Hampir satu dekade hubungan mereka. Banyak pasang-surut yang terlewati. Terpaan prahara malah makin mengokohkan hubungan mereka berdua. 

"Kenapa?" desis si gadis mengikik. "Ada yang lucu? Aku terlihat cantik kan?"





Sekeras mungkin lelaki itu berusaha menahan untuk tidak tertawa. Kali ini ia mengangguk. Jawabnya: "Enggak ada kok. Dan kamu selalu terlihat cantik di mataku."

"Terus kenapa ketawa?" selidik si gadis, yang pandangannya terus diusahakan ke depan. Sesekali saja melirik ke wajah mempelai laki-lakinya.

"Aku cuma merasa enggak nyangka aja. Aku benar-benar enggak nyangka cinta pertama aku bisa jadi cinta terakhir aku. Aku kira tadinya aku masih dalam masa pencarian cinta sejati. Ternyata sampai ke Korea pun, hati ini tetap meminta kamu."

Tiap mengulang kembali, lelaki itu selalu begitu. Ia selalu terkekeh menyaksikan kejadian-kejadian konyol yang menemani hubungannya bersama gadis kesayangannya. Dimulai dari aksi gilanya menembak si gadis di lapangan sekolah. Berlanjut pada pertengkaran konyol yang nyaris berlanjut ke kata "putus" (Semua gara-gara audisi idol group tersebut). Kehebohannya sepulang dari Korea Selatan, selepas bermimpi buruk soal keberlangsungan nasib kekasihnya di idol group tersebut. Hingga yang paling konyol, demi memupus keraguan gadis kesayangannya, ia nekat memanjat patung Gundam di Tokyo!

Perut si gadis jadi mulas. "Sampai sekarang pun, aku masih belum terbiasa mendengar kata-kata seromantis itu keluar dari mulut kamu."

Si lelaki terkekeh pelan. Perlahan tangannya menggerayangi bahu si gadis. Ia mengelus-elus ujung dari rambut panjang si gadis. Terkadang ia memainkan ujung-ujung rambut yang tertutupi oleh penutup kepala.

"Kamu dari dulu suka banget mainin rambut panjang aku," 

"Memang kerasa yah?"

"Yah kerasa dong, Aldo."

Si lelaki terkekeh-kekeh.


Pada saat bagian ini dibuat, aku lagi mendengarkan "Refrain yang Penuh Harapan". Saya sadar, mungkin tokoh Alethea Anastasia ini sesungguhnya terinspirasi dari sosok Shania. :p


Kini gadis Korea itu tak lagi berambut pendek. Rambutnya sekarang panjang menyentuh punggung. Ada alasan khusus mengapa ia mati-matian memanjangkan rambutnya. Awalnya demi lelaki itu--yang berada di pandangan matanya. Sempat terbersit bahwa mungkin yang menyebabkan lelaki itu menyukai kekasihnya karena kekasihnya berambut panjang. Belum lagi ia pun teringat analisis konyolnya terhadap sang kakak. Ia pernah menengarai si lelaki menyukai kakaknya yang sama-sama berambut panjang. 

Namun ia sadar. Bukan karena rambut panjang yang disukai lelaki Indonesia tersebut. Melainkan karena memang sudah jalannya. Mungkin awalnya si lelaki tertarik karena keindahan rambut panjang yang dimiliki si perempuan yang ujung-ujung poninya selalu menyentuh-nyentuh mata kucing perempuan tersebut. Lambat laun, gadis itu sadar bahwa antara lelaki itu dengan kekasihnya memang sudah berada dalam suratan takdir. 

Pandangannya segera beralih. Sekarang gadis itu menatap seseorang yang lain. Itu pria di hadapannya. Ah betapa aneh nan misterius jalan takdir itu. Bukankah pria itu begitu mengejar-ngejar dirinya? Sekarang sudah berdiri di samping seorang perempuan Indonesia yang hampir sebelas-dua belas dengan lelaki tersebut--yang dulu dikejar-kejarnya. Iya, dulu gadis itu ingin mengejar si lelaki hingga Tokyo. Tapi malah urung. Kalau saja malam itu sang kakak tak meneleponnya untuk memberitahukan bahwa betapa nekat si lelaki, mungkin saja ia sudah beranjak menuju Tokyo. Mungkin kunjungannya ke Tokyo akan jadi kunjungan penuh air mata. 

Seharusnya juga gadis itu tak berada di Jakarta. Namun apa boleh buat. Di Indonesia ini, ia tak sekadar bermain-main. Visanya berlaku bukan buat berlibur, melainkan bekerja. Ia kan bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Sesekali ia menyambi sebagai seorang model dan bermain di beberapa film. Di negeri khatulistiwa ini, ia sungguh dipuja. Baru kali ini ia memiliki sebuah fans club. Pula baru kali ini dirinya merasakan terus menerus diterjang berita-berita picisan, sebagaimana kebiasaan infotainment di negeri ini. Masa tiap dekat dengan lelaki selebritas mana pun, dirinya selalu digosipkan memiliki hubungan? Yang benar saja. Ditambah lagi, ia sungguh harus menjaga kelakuan. Di Seoul, mungkin sudah biasa aktris-aktris Korea memiliki kebiasaan menenggak alkohol. Di Indonesia, seorang gadis figur publik yang kepergok masuk sebuah klub malam saja, keesokan harinya si gadis harus siap meneripa citra negatif. Itulah kenyataannya--yang sekarang gadis itu sudah mulai terbiasa. 

Gadis itu ke Indonesia karena undangan lelaki itu pula. Ia ingat lelaki itu yang meminta kakaknya agar meminta dirinya tampil di sebuah music video dari seorang penyanyi Indonesia yang menyanyikan lagu baru gubahan kekasih lelaki tersebut. Entah apa yang ada di pikiran si lelaki. Kata si lelaki itu, hanya dia yang pantas berperan sebagai tokoh perempuan yang dimaksud dalam lagu tersebut. Tokoh perempuan pendiam yang terus saja memendam apa yang sudah seharusnya dikeluarkan. Tokoh perempuan pendiam yang emosinya begitu mudah terluapkan tanpa sebab-sebab yang jelas. Diri si tokoh perempuan seperti dikendalikan oleh emosi semata. 

Lagu itu langsung meledak. Banyak media lokal yang menganalisis bahwa sebab utamanya itu karena peran dirinya. Di music video tersebut, dirinya memang heroine. Tokoh perempuan itu memang tokoh utama dalam lagu tersebut. Entah apa alasan kekasih lelaki itu menciptakan lagu tersebut. Tapi setelah mengenal lebih dalam, antara dirinya dengan si kekasih lelaki itu memiliki banyak kesamaan. Mereka sama-sama pendiam. Mereka pun sama-sama suka memilih untuk membiarkan emosi mengendalikan mereka. Orang-orang seperti itu biasanya sama sekali tak bisa ditebak oleh yang lainnya. Siapa pula yang bisa menebak isi pikiran sesamanya. 

Yang jelas, gadis itu sangat berhutang budi pada lelaki itu. Kalau bukan karena lelaki itu, mungkin dirinya tidak akan pernah merasakan betapa indahnya keglamoran dunia keartisan. Itu pula yang membuat dirinya mau mendatangi acara pemberkatan pernikahan lelaki itu dengan kekasihnya. Perih memang. Tapi jauh lebih perih lagi jika dia tidak datang. Publik bisa bertanya-tanya. Dan mungkin pers akan menduga ada sesuatu yang sebelumnya terjadi antara dirinya dan lelaki itu. 

Aldo dengan Thea...

Go Hyun-dae dengan Audrey...

Kedua pasangan itu bak sudah ditakdirkan. Kisah cinta mereka bagaikan sudah diskenariokan. Terasa seperti mimpi saja. Gadis itu--Kim Min-soo--jadi menghela. Kepalanya mendongak. Lukisan Yesus Kristus dipandanginya. Gumamnya dalam bahasa Indonesia yang masih agak terbata, Yesus, ke manakah Engkau taruh dia--my soulmate? 

*****

Seoul, 18 Desember 2015,

Gadis Indonesia itu bernama Audrey. Ia tengah berada di Seoul karena menghadiri acara dari gerejanya. Gerejanya melakukan kunjungan rohani ke salah satu gereja yang ada di Seoul dan beberapa kota lainnya di Korea Selatan. Seharusnya ia kini berada gedung pertemuan yang tak jauh dari taman ini. Namun hatinya tergerak untuk pergi ke taman yang dirinya tak menyesal datang. 

Audrey terkekeh. Tadinya ia kira tengah menyaksikan sebuah syuting drama atau film Korea. Kan kalau dugaannya benar, dirinya bisa meminta tanda tangan dari salah satu pemain. Sedikit-sedikit ia mengerti bahasa Korea. Walau pasti aktor-aktris itu pun pasti ada yang fasih berbahasa Inggris. Mereka juga pasti punya manager, bukan? 

Ternyata bukan. Saat dirinya beringsut, sama sekali tak ada kamera. Baik itu yang tersembunyi maupun yang tidak. Apa yang dilihatnya bukan bagian dari sebuah skenario. Murni pengalaman hidup seorang lelaki yang begitu kokoh rahang maupun fisiknya. 

"Are you f*****g stupid?" dengus si lelaki yang ternyata bisa berbahasa Inggris. "Kau bisa lihat sendiri kan. Tak ada kamera. Dasar turis!" Lelaki itu masih mengelus-elus pipinya yang ditampar oleh gadis yang melengos begitu saja. 

Ia ingat--setelah lelaki itu mendampratnya, dirinya langsung berujar seraya menundukkan kepala, "Mianhae. Aku sama sekali tak tahu. Dan sekali lagi aku minta maaf kalau jadi penasaran. Memangnya kamu dengan gadis itu ada masalah apa?"

Lelaki itu menggeleng mantap. "Tidak ada apa-apa. Bukan urusanmu juga."

Audrey tersenyum, mengangguk. "Aku minta maaf, benar-benar minta maaf." 

Kemudian, Audrey berjalan untuk meninggalkan si lelaki. Namun saat beberapa langkah, dirinya terhenti. Suara lelaki itu penyebabnya. Heran, mengapa lelaki itu memanggilnya kembali? Apa ia menjatuhkan sesuatu? Dan mengapa pula jantungnya berdebar-debar? Konyol namanya. Selama ini dirinya bukan tipe perempuan pemuja prinsip 'love at first sight'. Ia akui lelaki itu memang cukup sempurna. Tapi tetap saja itu tak jadi alasan untuk membuatnya bisa jatuh cinta. Selama ini pula dirinya tipe perempuan yang sulit jatuh cinta. 

Ia balik arah, bergerak kembali menuju lelaki tersebut. Tak dilihatnya alasan lelaki itu memanggilnya. Lelaki itu tak memegang sesuatu yang membuatnya harus menerima angsuran tangan lelaki tersebut. 

"Oh iya, kamu turis kan?"

Audrey mengangguk. 

"Dari mana?" Mungkin karena dirinya termangu, lelaki itu langsung berkata lagi untuk memperjelas. "Where do you come from?"

"I-i-indonesia."

Lelaki itu bergeming sejenak. Jantung Audrey makin berdetak tak keruan. Itu bikin Audrey jadi bertanya-tanya. Ada apa sebetulnya? 

"You guide, right? Kamu di Indonesia itu berprofesi sebagai pemandu wisata kan?"

Hah? Dari mana lelaki itu tahu? Di Indonesia, dia memang tengah kuliah di sebuah akademi pariwisata. Jadi pemandu wisata adalah obsesinya sedari kecil. Apalagi ia juga pernah magang sebentar di sebuah agen perjalanan. 

"Tak usah bingung begitu." Lelaki itu terkekeh. "Aku bisa tahu dari topimu itu. Di situ tertera jelas, 'i'm guide, and i'm proud'. 

Ya ampun, kedua pipinya jadi memerah. Ia baru ingat sejak tiba kali pertama di Seoul, dirinya sudah sering sekali mengenakan topi merah kebanggaannya. Kata-kata dalam topi itu memang sengaja tertulis sesuai kehendak hatinya. 

"Aku tahun depan bakal ke Indonesia. Daripada nanti bingung cari pemandunya, kamu mau kan jadi pemanduku saat di Jakarta nanti? Boleh aku tahu kontak pribadi?"

Sekonyong-konyong Audrey mengangguk. Saat itu, selepas memberitahukan kontak pribadinya tanpa bisa dicegah--dan saat si lelaki sudah melengos jauh, ia tersentak. Mengapa dirinya memberitahukan kontak pribadinya? Apa mungkin ini jawaban dari Tuhan atas permohonannya? Sudah lama sekali ia ingin bisa memandu wisata seorang pemuda Korea yang tampan dan mungkin berkocek tebal.  

...eh lelaki itu cukup kaya kan?


5 comments:

  1. sudah jalannya bertemu seperti itu, untung aja ngasih nomor telponnya ya

    ReplyDelete
  2. menikah itu takdir
    yang diusahakan

    ReplyDelete
  3. belum sempat baca semua, nanti balik lagi deh...
    penasaran

    ReplyDelete
  4. Thank you for all of you who already read this. ^_^

    I do really appreciate these all.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^