Wednesday, July 22, 2015

KIMBAP DI TANAH SAKURA chapter 5: Terungkit




Kelanjutan dari sini







Tokyo, 14 Desember 2015

Gemuruh tepuk mengalir deras. Sepertinya tak sedikit yang menganggap aksi Aldo itu bagian dari sebuah acara reality show yang begitu membahana di Jepang. Padahal, oh ya ampun, andai saja mau mengamati lebih jeli, mereka akan tahu bahwa tak ada kamera tersembunyi. Walau kamera televisi memang ada beberapa. Namun tidak dalam posisi sembunyi-sembunyi juga. Pun itu selain untuk kepentingan kontes cipta lagu tersebut yang diadakan oleh TV Tokyo, mal itu memang rajin disorot kamera. Divercity kan mal yang pengunjungnya selalu membludak, apalagi menjelang Natal. Banyak selebritas Jepang mengunjungi Divercity semata-mata untuk melepas penat.




Tak hanya itu saja kejutan dari seorang Aldo. Laki-laki itu dari dulu memang selalu seperti itu. Ada-ada saja hal yang mencuat dari dirinya tersebut. Bukan hanya sekadar memanjat patung Gundam, Aldo ber-serenade di depan Thea, pula depan para pengunjung. Tak peduli betapa sumbang suaranya, Aldo dengan percaya diri menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu dari Ne-Yo, "Never Knew I Needed".

Mata Thea mulai memperlihatkan tanda-tanda akan retak menjadi bulir-bulir bening. Sepertinya tiap perempuan pasti akan seperti. Siapa yang tidak luluh jika kekasihnya berlaku abnormal di depan khalayak dan itu dilakukan demi sang perempuan. Mungkin hanya seorang perempuan berbebal hati yang bisa mengapatiskan apa yang baru saja dilakukan oleh Aldo itu.

Sebetulnya juga bukan seperti itu rencana Aldo. Rencana semula Aldo ingin mengajak Yoyogi Park, yang jika mereka datang saat musim semi, pastilah tepat sekali. Tak ayal, Kim Sarang nyaris menertawakan Aldo. Katanya: "Yang benar saja, Aldo. Kamu tahu kan, sekarang lagi winter. Jauh lebih baik menghabiskan waktu di indoor daripada outdoor. Hari ini juga rencananya mau ke Divercity Tokyo Plaza. Pacarmu itu mau ikut kontes cipta lagu. Dan kalau kamu benar-benar menyayanginya, ikuti saja rencana hari ini. Lagian mau apa sih ke sana? Aku kira wota kayak kamu enggak akan pernah tahu tempat-tempat seperti itu. Tahunya cuma AKB48 theater doang."

Andai saja diizinkan mampir sebentar, Aldo ingin menjalankan rencananya. Menurut penuturan Kiriko, tak jauh dari Yoyogi Park, ada sebuah tempat penyewaan kostum. Rencananya, Aldo mau menyewa salah satu kostum yang ada; kostum apa saja. Lalu, ia nekat berjalan-jalan di sekitar taman seolah-olah badut-badut lainnya yang biasanya suka hilir mudik di Yoyogi Park--salah satunya dekat pintu masuk. Perlahan Aldo beringsut menuju Thea. Tak sekadar mengejutkan perempuan itu, ia juga akan pura-pura menculik Thea untuk dibawa ke suatu tempat yang masih berada dalam kawasan Yoyogi Park. Mungkin awalnya Thea bakal sedikit kalut. Mungkin ia juga bakal diserang Kim Sarang dengan berpuluh-puluh tendangan, pukulan, hingga mungkin pitingan. Pasti beberapa--sebagian besar mungkin--memusatkan perhatian ke arahnya. Namun ia tak peduli. Rencana itu terus bergulir hingga di suatu tempat kosong, ia akan membuka kedok dan meyakinkan Thea bahwa dirinya hanya mencintai perempuan itu. Kalau Thea sangsi, ia bahkan siap melompat ke danau yang pasti dingin sekali. Itu semua untuk membuktikan perkataannya bahwa seorang Aldo memang mencintai Thea dengan sepenuh hati.

Rencana tinggal rencana. Mungkin rencana Kim Sarang jauh lebih baik. Bukankah dengan menemani Thea ke kontes cipta lagu itu, Aldo sudah setengah menunjukkan rasa cintanya? Sisanya, bisa ia pikirkan dalam perjalanan menuju Divercity Tokyo Plaza. Apalagi Aldo itu seorang yang banyak ide berkubang dalam kepala. Baru sampai di halaman parkir  mal itu saja, menyaksikan betapa kokoh Gundam tersebut, ide-ide itu mulai mengusik seorang Aldo. Mereka minta segera dikeluarkan dalam bentuk aksi nyata.

Aldo terkekeh sendiri. Sempat ragu pula apakah harus menjajal rencana-rencana itu. Ia memang sudah dikenal suka nekat. Namun, ini di Tokyo, bukan di Jakarta maupun Tangerang. Resiko berbuat nekat di negara orang jauh lebih tinggi. Tak sekadar menjadi pusat perhatian, mungkin ia bisa jadi bahan omongan selama beberapa bulan ke depan. Bukan tak mungkin dirinya dan Thea akan diliput media-media lokal.

Telinga Aldo menangkap sebuah siulan. Dari seorang perempuan. Kim Sarang pastinya. Karena selain siulan, siapa lagi di mal itu yang hobi mencela.

"Aldo, harus kuakui, caramu ini--untuk menunjukkan perasaan saja--sungguh sangat berani. Terlalu frontal." ujar Kim Sarang tersenyum, yang lalu mendelik pada Thea. "Seperti ini yah kelakuan seorang Aldo?"

Thea mulas mendengarnya. "Ya gitu deh, Kim,"

"Wah pasti enggak tenang banget berpacaran dengan seorang Aldo ini. Kamu saja--dilihat dari ekspresimu--enggak bisa menebak bakal jadi seperti ini." Kim Sarang tak bisa lagi mengontrol diri untuk tidak meledak. Melihat tawa tersebut, Aldo jadi senewen.

"Berisik!" sembur Aldo. "Daripada ngurusin aku, lebih baik kamu urusi saja cowok yang fotonya ada di hape kamu itu." Aldo terbahak mendapati ekspresi Kim Sarang. Lelaki itu sepertinya makin mahir dalam membalas tiap gangguan Kim Sarang. "Ah iya, Kim. Akhirnya aku tahu juga siapa sebetulnya lelaki itu. Pacarmu kan? Dia juga abangnya Kiriko kan? Kalau enggak salah, namanya itu..." Aldo memutar bola mata. "...Hidetoshi kan?"

Kim Sarang menggerutu dalam bahasa Jepang, "Dasar Kiriko-san! Masih saja seperti yang dulu, masih suka membicarakan sesuatu yang tak seharusnya ia katakan. Nante urusai onna!"

Tengarai seorang Aldo, Kim Sarang mungkin sedang mengumpat. Namun lelaki itu kini sudah begitu lihai dalam berhadapan dengan orang macam Kim Sarang yang tiap kata-katanya selalu saja menikam ulu hati. Aldo begitu terkekeh seraya berujar, "Hati-hati, lho, Kim. Kamu memangnya enggak takut Hide bakal main mata dengan perempuan-perempuan lain? Apalagi gadis-gadis Amsterdam--yang kudengar--jauh lebih hot dan nakal daripada gadis-gadis Tokyo atau Asia. Bisa jadi dia kepincut sama salah satu dari gadis-gadis tersebut. Mungkin saja kan?!"

"Jangan sok tahu!" semprot Kim Sarang, yang berubah menjadi kekehan. "Aku percaya sama Hide. Seratus persen aku percaya sama kesetiaannya Hide. Memang dia enggak kayak kamu yang banyak tingkah. Tapi seorang Hide selalu bisa bikin aku selalu merasa setenang air sungai. Dan dia jauh lebih ganteng dari kamu, Aldo-kun."

Aldo kembali terbahak. "Masa sih?"

Baik Kim Sarang, Thea, maupun Aldo benar-benar tak sadar tengah berada dalam sorot mata khalayak. Oke ralat, tampaknya Thea mulai sadar. Muka perempuan itu jadi semerah kuncup bunga sakura. Perempuan itu memberingsut lebih dekat pada Aldo maupun Kim Sarang. Thea membisikkan sesuatu, "Udah, udah, enggak usah ribut begitu. Enggak enak tahu dilihatin banyak orang begini."

Aldo memalingkan pandangan, yang diikuti oleh Kim Sarang. Thea benar. Tiap orang begitu asyik sekali memperhatikan percakapan mengarah ke pertengkaran antara Aldo dan Kim Sarang. Walhasil baik Aldo maupun Kim Sarang sama-sama berona merah, sama seperti Thea yang sudah lebih dahulu.

Tak hanya itu, salah seorang pengunjung mal menghampiri mereka bertiga. Seorang pemuda yang tampak berusia beberapa tahun lebih tua dari Aldo namun masih lebih muda dari Kim itu langsung mencerocos, "Hey, I knew exactly that girl. Ex-member, right? Errr.. what name is the idol group?"

Thea berubah pasi. Siapa pun pasti tak begitu suka masa lalunya terkorek kembali, apalagi yang buruk-buruk. Tak ada yang mau. Padahal ia juga hanya seorang trainee; seorang kenkyuusei dalam bahasa Jepang-nya. Tapi masih saja ada yang mengenalnya di Tokyo ini. Dilihat dari tampang dan cara bicara, pemuda ini pasti warga Tokyo, bukan seorang ekspatriat.

Pemuda itu langsung mencerocos ke segenap pengunjung; kali ini dalam bahasa Jepang. Serta merta suasana mal jadi heboh. Tak terlalu heboh. Mungkin lebih mirip tiupan angin kencang yang mengacak-acak dedaunan di salah satu pohon. Bising sekali. Mengganggu gendang telinga saja.

Baik Aldo maupun Thea tak terlalu fasih bahasa Jepang. Kim Sarang pun tak menerjemahkan tiap kata. Perempuan itu tahu--jika ia terjemahkan, pasti akan merusak suasana hati Thea. Rusak sudah liburan di Jepang kali ini.

Namun pemuda itu sepertinya tak sepaham dengan Kim Sarang. Mulut pemuda itu sungguh ingin disumbat dengan sesuatu yang begitu besar sekali. Kalau bisa, Kim Sarang ingin menyumpalkan robot Gundam itu ke mulut si pemuda yang cukup lebar dan lentur bibirnya.

"Ah, I remember. JKT48, right? You--ex-member of that, aren't you? Please, do not lie to me."

Bukan Thea yang membalas walau ingin. Aldo-lah yang merespon. Matanya nyalang. Dengan tegas, ia membela kekasihnya itu, "No, no, no,... you're totally wrong. She's a different girl. She's just an ordinary girl."

Pemuda itu tergelak. "Are you kidding me? Please, don't, I wish. I'm 100% percent sure she is. I always kept my eyes to every their performances. E-V-E-R-Y."

Tergesa-gesa Aldo meraup sebelah tangan Thea. Lelaki itu berkata pada Kim Sarang dengan begitu deras sekali, "Kimi, kita pergi aja yuk. Di sini mulai enggak enak suasananya. Menyebalkan!"

Kim Sarang hanya mengangguk, mengekor begitu saja mengikut sepasang kekasih itu mulai bergerak menjauhi lokasi yang mulai menjadi semacam neraka dunia. Saat ketiganya sudah begitu jauh, pemuda itu meneriakkan sesuatu entah apa maksudnya. Mungkin hanya untuk cari perhatian. Mungkin hanya untuk memanas-manasi pula. Siapa tahu pemuda itu seorang hater. Bukankah seorang hater selalu seperti itu? Walau kasus sudah selesai, tetap saja akan selalu diungkit dan diungkit sampai kapan pun.

"Hey, that idol group is really always like a *****. They don't really deserve to end up the part of 48 Group. You know, right now, they're on the biggest tempest. Scandal, scandal, scandal."






Artwork by: Melisa Yulia Kristin







Seoul, 18 Desember 2015,

Go Hyun-dae menghela napas. Ia memaksakan diri untuk tersenyum. Tampak lelaki itu tak mudah untuk menerima penolakan begitu saja. Seperti sebuah gunung berapi yang terus menerus menahan sekumpulan magma untuk diledakkan sewaktu-waktu, seperti itulah perasaan Go Hyun-dae. Kali ini dirinya tak mau mengulang kesalahan sama untuk kali kedua. Ia sudah merasakan betapa getirnya menahan perasaan itu. Ia begitu letih terus mengenakan topeng.

"Tapi Kim Nami sudah lama tiada bertahun-tahun yang lalu. Ayolah, kumohon, jangan terlalu sentimentil begitu. Dan, mungkin di alam sana, Kim Nami sudah sadar akan kekeliruan dalam hidupnya. Kita kan tidak tahu juga."

Seketika itu juga, Kim Min-soo jadi berang. Langsung saja didampratnya lelaki itu, "Kamu ini seenaknya sekali bicara. Bagaikan tak punya rem saja. Ckckck!"

Go Hyun-dae menatap lekat-lekat perempuan itu dengan penuh kesungguhan hati. Saat akan memegang tangannya, perempuan itu langsung menepis. "Mohon mengerti aku juga, Aku begini juga karena sudah tidak tahan lagi hanya menahan-nahan sesuatu yang sudah sejak lama ingin aku utarakan. Kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan bermain api. Lebih baik waktu itu aku jujur pada Nami-ssi bahwa aku masih straight, dan lebih menyukai kakaknya, yaitu kamu."

Sebab sudah naik di ubun-ubun, maka dari itu Kim Min-soo tak peduli betapa sakitnya hati dan raga (terutama pipi) dari seorang Go Hyun-dae. Sungguh kurang ajar sekali pria itu! Beda halnya dengan pemuda Indonesia tersebut.

Eh siapa nama pemuda Indonesia tersebut? Selama di perjalanan pulang, masih dalam kondisi mendongkol, Kim Min-soo berusaha mengingat-ingat. Bukankah kakaknya tengah bersama pemuda itu di Tokyo sekarang ini? Apa ia menyusul saja ke sana? Tapi buat apa? Kata kakaknya, pemuda itu sudah memiliki kekasih. Kalau menyusul ke sana dan coba mengungkapkan perasaannya, bukankah dirinya sama saja dengan Go Hyun-dae yang brengsek itu?

Kim Min-soo menengadahkan kepala. Embusan napas keluar dari lubang hidungnya. Perasaan bimbang, bahagia mendadak, kecewa mendadak, dan kesal mendadak kompak menyerangnya saat itu juga, sore itu juga.






Bersambung. Untuk chapter berikutnya, ending dari KIMBAP DI TANAH SAKURA. 
Be prepared! ^_^





PS: 
Nante urusai onna: Dasar perempuan bawel!


3 comments:

  1. Kerennnnn

    ini bau penulisannya mirip-mirip aliran Ilana Tan yang empat musim deh kayaknya...
    Am I rong?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. Masa sih? Padahal baca karya beliau itu cuma satu buku. Tapi mungkin saking terpengaruhnya, ya gitu deh, kebawa saat nulis. Haha

      Delete
  2. izin nyimak mas, lagi gaa fokus :)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^