Saturday, July 18, 2015

KIMBAP DI TANAH SAKURA chapter 4: Kejutan Di Tengah Kontes




Kelanjutan dari sini





Tokyo, 14 Desember 2015, Pukul 12:00


"Wah, kamu betul-betul berbakat sekali dalam bermusik. Aku berani jamin kamu bakal jadi musisi sukses di masa depan, entah itu sebagai penyanyi, songwriter, konduktor, atau apa pun itu." Begitu kata salah seorang dari panitia kontes itu--yang tentu saja diterjemahkan oleh Kim Sarang. Kim Sarang memang wanita yang baik hati sekali. Seharusnya Thea tak berhak mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang Kim. Bagaimanapun Thea selalu saja berpikiran negatif soal perempuan Korea yang cukup fasih banyak bahasa tersebut.




Tapi Thea jadi ragu. Apa benar ia seberbakat itu? Masa sih dia bakal sukses berkarier di dunia musik (atau dunia hiburan pada umumnya)? Rasa-rasanya ia hanya seorang gadis biasa. Yah seorang gadis biasa yang tak ubahnya gadis-gadis lainnya yang jatuh bangun mengejar mimpi hingga akhirnya sontak tersadar satu hal: berpikir dan mencoba hidup realistis adalah dua hal yang tak boleh dilupakan di planet Bumi ini. 

Bahu Thea ditepuk. Ternyata Kim Sarang sudah menyeringainya. Thea jadi bergidik. Namun hanya sekilas. Seringaian itu berubah menjadi sebuah wajah bersahabat. Tampak pujian akan diberikan oleh Kim. 

"Kubilang juga apa kan?! Kamu itu memang berbakat. Aku yakin kamu pasti bisa memenangi kontes tersebut. Dan aku kasih tahu juga yah, selama ini nyaris jarang sekali ada orang asing--maksudku di luar yang berkewarganegaraan Jepang--yang bisa menang kontes cipta lagu tersebut. Kalau kamu bisa melakukannya, kamu bisa..." Kim Sarang terdiam, berusaha mencari kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya malah kata itu yang terpilih. "...jadi legend."

"Makasih, Kim." Thea tersenyum tipis. Ia langsung mendongak lagi menuju patung robot Gundam berukuran raksasa itu. Tempat pendaftaran kontes itu memang tak jauh dari patung robot Gundam tersebut. 

"Eh Thea, lihat tuh, cowok kamu," Kim Sarang berdecak geli. "bikin malu aja. Cowok kamu itu benar-benar enggak tahu malu. Sudah aksi wota-nya yang super duper berlebihan--yang hanya bikin malu, sekarang lihat,...." 

Thea memicingkan mata. Astaga, Kim benar. Apa pula yang dilakukan lelaki itu? Thea jadi bergeleng-geleng kepala penuh kegemasan. 

"...OMIGOSH!!!" kata Kim Sarang dengan suara naik beberapa oktaf sehingga nyaris menyerupai pekikan. "Benar-benar bikin malu. Apa Aldo itu ingin dideportasi dari Jepang? Ckckck. Di Jepang, memang otaku-nya berkelakuan aneh-aneh, harus aku akui. Tapi untuk kasus yang seperti ini, yang dilakukan Aldo--maksudku, sudah kelewatan. Berani benar dia manjat patung Gundam itu. Udah security-security-nya minta dia turun, tetap aja Aldo masih nangkring di sana."

Thea menelengkan kepala ke arah Kim Sarang. Geli rasanya dengan diksi perempuan Korea itu. Kim Sarang sungguh fasih berbahasa Indonesia. Bahkan Kim tahu soal istilah itu: nangkring. Apa lagi kata-kata Indonesia yang tak ada di KBBI, yang diketahui perempuan Korea itu.

"Apa?" Kim Sarang tersenyum, sedikit merasa terganggu. "Kenapa malah ngetawain aku sih? Kalau mau ketawa, tuh--" Kim Sarang menunjuk Aldo yang tubuhnya masih menempel di salah satu tungkai Gundam. Lelaki itu terlihat hendak mengatakan sesuatu. "--cowok kamu itu, ketawain aja dia. Dia emang layak diketawain. Kalau perlu, abis itu damprat. Bikin malu aja."

Seoul, 18 Desember 2015,

Sebetulnya Kim Min-soo tak tega menolaknya. Namun jika direspon positif, ia sungguh tak enak hati dengan mendiang adiknya. Cinta tetap cinta. Perasaan tetap perasaan. Meskipun baik cinta maupun perasaan itu terlarang sekalipun. 

Namun sepertinya lelaki itu tak gentar. Ini sudah hari ketiga. Masih saja lelaki itu terus menerus menerornya dengan berbagai pesan singkat di Line atau Kakao Talk. Kemarin saja Kim Min-soo sampai terkaget-kaget. Tahu dari mana pula lelaki itu soal kampusnya? Perempuan itu sungguh hampir meloncat bola matanya menyaksikan Go Hyun-dae duduk tersenyum di atas motor sport berwarna perak. 

Sekarang pun sama saja. Kim Min-soo tak percaya jika ini kebetulan. Terlalu aneh untuk dikatakan sebagai kebetulan. Yang benar saja, Hyun dae-ssi sudah berdiri di depan convenient store sembari melemparkan sebuah senyuman yang selalu saja membuat jatungnya kembang kempis. Memang lelaki itu memperlihatkan aksi sedang menelepon; entah siapa yang diteleponnya. Namun tetap saja, satu kata langsung menyeruak di pikiran Kim Min-soo: aneh. Benar-benar aneh. 

Masih kurangkah? Ia dan Hyun dae-ssi masuk ke dalam dalam waktu nyaris bersamaan. Walaupun berbeda arah, yang mana Kim Min-soo bergerak ke arah rak makanan ringan, sementara Hyun dae-ssi menuju rak peralatan mandi, buntut-buntutnya pasti akan bertemu. Dasar cermin sialan! Jangan-jangan lelaki itu bisa tahu ke arah mana gerak kakinya karena memata-matainya lebih dahulu dari cermin-cermin tersebut? 

"Kamu saja yang duluan," Go Hyun-dae mempersilakan Kim Min-soo untuk untuk melewati antrean. 

Kim Min-soo memicingkan mata penuh risih. Perempuan ini memang memiliki kebiasaan tak begitu suka mengantre. Namun jika ada seorang pria yang membiarkannya maju beberapa langkah dalam sebuah antrean, tentu saja itu tak membuat Kim Min-soo bahagia. Apalagi dengan fakta bahwa selama dua-tiga hari ini dirinya dikuntit oleh seorang Go Hyun-dae. Tak cukupkah kata "tidak" saat di mal waktu itu? 

"Ah tidak usah. Kamu saja, aku juga tidak sedang terburu-buru." tolak Kim Min-soo tegas. 

"Tidak apa-apa," ujar Go Hyun-dae. Lagi-lagi senyuman itu; senyuman yang memesona sekaligus menyebalkan. "Aku tahu kamu kurang begitu suka mengantre kan?!"

Baru saja Kim Min-soo mendelik tajam dan akan mendamprat lelaki ini saking kurang ajarnya, seorang gadis kecil yang sepertinya beranjak remaja itu mendengus sebal, "Saekki-ya! Ppali, ppali! Kalau mau bermesraan, lebih baik di apartemen kalian saja."

Terpaksa Kim Min-soo mengalah. Bukan karena lelaki itu, namun karena... lihat saja antreannya. Ada tiga orang selain dirinya dan Go Hyun-dae. Semuanya sama-sama memberikan ekspresi kesal. Tak sabar sekali sih, gerutu Kim Min-soo. 





Sumber: Jawa Express






Tokyo, 14 Desember 2015

Tak dicegat oleh Kim Sarang pun, pasti Thea rada enggan untuk beringsut ke arah sana. Memalukan. Lebih baik anggap saja lelaki itu bukan kekasihnya. Pura-pura tidak kenal. Namun Thea tak dapat. Hati kecilnya malah begitu intens mendesaknya untuk bergerak lebih dekat. Ada benarnya juga kata hati kecilnya itu. Thea pasti akan meleleh jika mendengar lebih seksama apa yang diutarakan Aldo di tengah-tengah keramaian khayalak pengunjung. 

"THEAAAAAAAA!!! AKU SAYANG KAMUUUUUU!!! CUMA KAMU YANG ADA DI HATIKU!!! ENGGAK ADA PEREMPUAN LAIN SELAIN KAMU!!!" begitu teriak Aldo yang masih bersedekap di salah satu tungkai Gundam. Dan itu masih kurang, masih jelas terdengar di telinga Thea yang kukuh mematung di posisi semula. "AKU JUGA ENGGAK ADA PERASAAN APA-APA SAMA KIMI. AKU MURNI MENGANGGAP DIA TEMAN. C-U-M-A-T-E-M-A-N. YANG KUCINTA ITU CUMA KAMU, THEA. CUMA KAMUUUUU!!!"

Sementara beberapa security terus meminta Aldo untuk turun. Walau setelah mata mereka mengarah ke obyek yang ditunjuk oleh Aldo, mereka cengar-cengir. Mungkin satu-dua di antara mereka beranggapan bahwa Aldo ini salah satu partisipan dari sebuah reality show. Bukankah sudah dua bulan ini dunia pertelevisian Jepang tengah cukup dihebohkan oleh reality show bernama "Ai wo Oshiete Kudasai!"? Ratingnya saja begitu tinggi. Konon mengalahkan rating dari "Music Show" yang acap kali muncul AKB48 sebagai pengisi acaranya. Akibat ketenaran acara reality show berbau cinta-cintaan itu, TV Tokyo jadi kebanjiran iklan. 

Tak tanggung-tanggung, mungkin demi menunjukkan jika lelaki itu sungguh kekasih yang sangat heroik, Aldo langsung loncat begitu saja. Beberapa pengunjung--termasuk para security--memasang raut cemas. Mereka takut Aldo akan mengalami cidera parah. Ketakutan mereka beralasan. Aldo tampak meringis setelah kedua kakinya mendarat lagi di tanah. Bokongnya menjerit kesakitan. Gigi-giginya bergemelutuk. Namun itu semua tak menjadi halangan bagi Aldo untuk berjalan cepat menuju Thea yang masih saja berdiri mematung. 

Aldo langsung meraih tangan Thea. Diciumnya telapak tangan kekasih itu. Matanya bersirobok dengan mata Thea yang masih bercampur antara tercenung dan jijik. Ia mengembuskan napas dulu beberapa kali sebelum mantap berkata, "Thea, aku minta maaf kalau selama ini udah bikin kamu jadi insecure. Maaf udah bikin kamu jadi cemburu buat kedekatan aku sama Kimi. Tapi jujur banget aku bilang--aku sama Kimi itu cuma teman. Aku cuma nganggep Kimi itu teman aku; enggak lebih dari itu. Yang kucinta itu cuma kamu, Thea. Murni cuma kamu yang aku cinta. Enggak ada perempuan lain yang ada di hati dan pikiranku saat ini."

Di sela-sela itu--atau mungkin tepatnya di akhir pengakuan Aldo di halaman Divercity Tokyo Plaza, Kim Sarang berseloroh, "...dan wota kita pun mulai menunjukkan sisi romantisnya..."

*****

Seoul, 18 Desember 2015,

Begitu Go Hyun-dae keluar, Kim Min-soo langsung mengadang. Kali ini perempuan itu sungguh meradang, bersiap-siap meraung-raung kencang. Tetap saja lelaki itu tak ketakutan. Okelah perempuan itu bukan sebuah harimau benggala. Wajar jika lelaki itu tak menaruh rasa takut sedikit pun. 

"Apa maumu?" gertak Kim Min-soo. "Aku kan sudah bilang, aku sama sekali tidak bisa membalas perasaanmu. Bagaimanapun menyebalkannya Kim Nami, ia tetap adikku. Walau hubungan kalian dulu terlarang, tetap saja aku tak bisa mengkhianati adikku. Aku tak mau melihat adikku kecewa padaku dari atas sana."

"Bisakah kita berbicara di tempat lain?" pinta Go Hyun-dae masih mengumbar senyuman menakutkan itu. "Tak enak rasanya diperhatikan oleh orang-orang."

"Oke, kamu mau bicara di mana?" Begitulah kata Kim Min-soo pada Go Hyun-dae sebelum mereka pindah lokasi ke sebuah taman yang tak jauh dari convenient store tersebut. Taman ini tak terlalu ramai, tapi tak terlalu sepi pula. Sungguh cocok sebagai tempat sepasang kekasih beradu mesra. Dan di taman itu, kembali Kim Min-soo dan Go Hyun-dae bersitatap untuk maksud yang berbeda-beda. 

"Sekarang jelaskan maksudmu, apa maksudmu terus menerus mengikutiku? Kamu ini stalker, hah?" dengus Kim Min-soo. 

"Mungkin kamu bisa menganggapku begitu. Tapi yang jelas aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hatimu. Aku sungguh mencintaimu, Min soo-na." Go Hyun-dae ingin merengkuh dagu itu, namun urung karena tatapan nyalang Kim Min-soo. 

Kim Min-soo menghela napas. Ia mulai frustrasi. "Jangan jadi fakir asmara begitu ah. Perempuan di Seoul ini lumayan banyak. Apalagi konon ada yang bilang antara jumlah perempuan dan laki-laki itu berskala tujuh puluh banding tiga puluh. Aku juga tidak menyukaimu, kok."

"Masa?" Sebelah alis Go Hyun-dae naik. "Aku tidak percaya. Apalagi waktu di mal itu, kamu beberapa kali melirik nakal ke arahku. Ronamu juga sering memerah. Ditambah lagi, Daebu-ssi bilang, kamu memendam rasa padaku. Ia suka memergokimu sedang memandangi foto-fotoku."

"Oh jadi karena Daebu-lah kamu tahu beberapa rahasiaku, ya kah?" Kim Min-soo berdecak. "Dasar Daebu! Brengsek!"

Go Hyun-dae nyengir; nyaris terkekeh sebetulnya. Di luar konteks Go Hyun-dae dan Kim Min-soo yang berambut pendek kaku, beberapa pengunjung--terlebih yang masih bocah--mengamati mereka berdua. Jarang-jarang--walau juga tak sering ada adegan ala Winter Sonata--di taman tersebut. 

"Sudahlah, Hyun-dae-ssi. Tinggalkan aku. Aku juga tidak mencintai kamu." Begitu melihat tatapan lelaki itu, Kim Min-soo langsung meralat. "Oke aku memang menyukaimu. Tapi aku tetap tak bisa membalas perasaanmu. Aku menaruh respek pada mendiang Kim Nami. Ia adikkuu, darah dagingku, aku tidak mau dia jadi mendendam padaku di atas sana."


2 comments:

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^